“ Kamu tidak mengantarnya ?” tanya Leny saat melihat Arfa kembali.
“ Dia bisa sendiri, dia butuh waktu untuk sendiri.” dibukanya botol air dan meneguk isinya sampai tandas. Melihat seorang gadis kecil berusaha tenang dan kuat beberapa tahun lalu seakan menyadarkan dirinya yang terpuruk saat itu. Rasa malu karena begitu emosional menyikapi peristiwa yang dipikir hampir sama menjadi pemicu semangatnya untuk bangkit. Dan gadis kecil itu hadir lagi sekarang, tidak marah tapi masih memendam luka. Itu yang dilihatnya saat Anin menyapa Dino dan Tia tadi ,” Dia gadis yang kuat.” ujarnya tanpa menyadari ucapannya sedikit tajam.
“ Dia pulang ke penginapan ?”
“ Entahlah …. dia akan menemui Tara setelah dirinya tenang. Dia tidak akan membiarkan Tara melihatnya sedih atau marah, dia harus kuat dan ceria untuk Tara, seperti selama ini.” ditatapnya Andro yang masih terpekur, membiarkan dirinya bersandar pada Leny ,” Andro …"
“ Apa aku masih pantas …? Aku membuangnya …" gumannya dengan tatapan mata kosong.
“ Tenangkan dirimu. Baik Tania maupun Anin, tidak ingin Tara menjadi yatim piatu seperti mereka dulu... kalau tidak memikirkan hak Tara untuk mendapatkan keluarga, mereka akan tetap menyembunyikan ini dari kita.”
“ Mereka Yatim Piatu ?” tanya Tn Rahadi.
“ Ya … mereka berdua bertemu di panti asuhan, dan setelah umur enambelas dan empatbelas mereka mulai bisa menghidupi diri sendiri, mereka keluar dari panti untuk memberikan tempat bagi anak yatim piatu lain.”
“ Darimana kamu tahu ?”
“ Aku mengunjungi ibu panti mereka dulu, minggu lalu saat mengabarkan hasil tes DNA. Dan walaupun tidak banyak, Tania dan Anin selalu berusaha membantu panti, mempekerjakan anak panti yang sudah agak besar agar bisa menghidupi dirinya sendiri … seperti mereka dulu.”
“ Kalian disekolah yang sama ?” tanya Tn Rahadi pada Dino dan Tia.
Arfa menarik sudut bibirnya melihat mereka berdua sedikit gelisah saat mengangguk.
“ Kalian mengenal Tania ?”
“ Tahu. Kak Tania dan Anin menyewa kamar bersama di dekat sekolah.” sahut Dino, bersyukur mereka fokus pada Tania.
“ Gak pernah komunikasi lagi ?”
“ Mereka pindah keluar kota. Ehm …. kami permisi dulu.”
Yang lain mengangguk, membiarkan asisten kepercayaan Andro itu meninggalkan ruangan bersama istrinya.
“ Ada apa, Arfa ?” tanya Ny Rahadi melihat Arfa megikuti kepergian Dino dan Tia dengan pandangannya,” Kamu seperti tahu sesuatu tentang mereka.”
“ Aku ingat kapan aku pernah bertemu Anin sebelumnya. Ingat waktu di Rumah Sakit aku pernah bilang kan Ma ?”
“ Ya … jadi dimana ?”
“ Di sebuah hotel sekitar lima tahun yang lalu. Aku hampir yakin saat itu dia memergoki Dino dengan Tia disana. Mama ingat bagaimana mereka menikah kan ?”
Ny Rahadi menutup mulutnya ,” Anin pacarnya Dino waktu itu ? Gadis yang menahanmu untuk memukul Dino dan Tia waktu itu …" ujarnya mengingatkan suaminya ,” Mama gak mengenalinya, Kamu yakin, Arfa ?”
Arfa mengangkat bahu ,” Aku hanya mendapati adegan yang sama barusan. Gadis kecil itu memasang tampang datar, bicara tenang dan dingin, menengadah menahan tangis saat pintu lift tertutup, meremas tali tasnya sampai buku tangannya memutih.” disimpannya bagian Anin terduduk menangis dibelakang mobil ,” Dan tidakkah mama menyadari Dino dan Tia terlihat gelisah dan tidak banyak bicara seperti biasanya ?”
Perhatian Andro sedikit teralihkan ,” Fa … apakah ini akan mempengaruhinya ? Yang dia tahu aku membuang Tara dan menyingkirkan Tania, Lalu Dino dan Tia adalah orang terdekatku saat ini … Apakah ini akan mengurangi kepercayaannya ?”
“ Aku gak tahu. Berusahalah untuk meyakinkannya. Tadi dia berpesan, jangan sampai kamu menemui Tara dalam kondisi tidak stabil.” dibukanya pintu ketika mendengar ada yang mengetuk, Terima kasih.”
“ Apa itu ?”
Arfa meletakkan kantong plastik ,” Nasi kuning, bagaimanapun ini ulang tahun kalian.”
“ Terima kasih ,” Leny membantu Arfa.
“ Masih berminat merayakannya ?”