“ Tunggu.” seseorang menahan pintu lift yang nyaris tertutup ,” Kamu tidak kelihatan baik baik saja.”
Anin menggeleng, menengadah menahan tangis. Berdiri diam mengabaikan Arfa dan bergegas keluar begitu pintu lift terbuka di basement. Dilangkahkannya kaki ke salah satu sudut parkiran, menyembunyikan diri dibelakang mobil dan jongkok menyembunyikan wajah dikedua lututnya.
#Flashback...Pintu lift terbuka dan sesosok gadis masuk dengan tampang dingin.
“ Tunggu …" seseorang menahan pintu
“ Pergilah, Lanjutkan apa yang sudah kamu lakukan bersamanya.”
“ Aku …"
“ Dia membutuhkanmu, kamu sudah mengatakan itu. Aku percaya dan aku mengerti. Pergilah, semua sudah selesai, dan ada yang harus kamu pertanggungjawabkan disana.” matanya menyorot tajam, membuat lelaki itu melepaskan tangannya, dan pintu tertutup. Ditekannya tombol B.
Arfa menatap diam pada gadis yang menengadah menahan tangis sambil menggenggam tali tasnya sampai buku buku jarinya memutih. Tanpa sadar diikutinya saat gadis itu keluar, melihatnya dari jarak aman saat ia menuju belakang mobil yang terpakir. Jongkok disana menyembunyikan wajahnya diantara lutut dengan punggung bergetar. Gadis itu menangis tanpa suara …. flashback off #
Arfa menyodorkan saputangan ketika Anin mengangkat wajahnya.
“ Dok …" Anin menggeleng, mengambil tissue basah dari tas dan membersihkan wajahnya.
“ Aku antar ke penginapan, kamu tidak terlihat baik baik saja.”
Anin menggeleng ,” Saya butuh waktu untuk sendiri. Tolong beritahu saya kalau kak Andro sudah mengambil keputusan. Permisi, dok … terima kasih.”
“ Dino yang membuatmu menangis di basement Hotel Mahkota beberapa tahun lalu ?”
Anin memutar tubuhnya., menatap Arfa dengan kening berkerut.
Arfa melangkah mendekat ,” Aku merasa pernah melihatmu saat kita bertemu di rumah sakit waktu itu, tapi aku lupa kapan dan dimana.” dimasukkannya tangan ke dalam saku ,” Tapi hari ini … kamu melakukan hal yang sama, menahan diri didepan Dino menguatkan diri di lift dan menangis di tempat parkir. Persis waktu itu .”
Anin menghela nafas ,” Kalaupun mau melihat Tara, pastikan Kak Andro dalam kondisi stabil. Saya tidak akan mengijinkan seseorang menemui Tara dengan emosi seperti itu.” Anin memilih mengabaikan ucapan Arfa tentang pertemuan pertama mereka.
“ Karena itu kamu selalu berusaha tenang ?”
“ Kalau saya tidak tenang bagaimana Tara bisa ? Kehilangan ibunya membuat dia hanya bergantung pada saya.”
“ Bagaimana kalau Andro berniat merawat Tara ?”
Bahu Anin merosot ,” Kalau kondisi Kak Andro dan keluarganya memungkinkan … itu yang diinginkan Kak Tania. Tara bukan yatim piatu seperti kami. Tara berhak mendapatkan keluarga.” ditariknya nafas dan menegakkan bahu ,” Kalaupun tidak, saya tidak akan membiarkan Tara tanpa keluarga. Dia selalu punya saya.” dibalikkannya tubuh dan melangkah cepat.
Arfa menghela nafas dan menekan tombol lift.