Tambahan Cerita Suram

430 Kata
Arfa menggenggam tangan ibunya yang nampak gelisah melihat konfrontasi yang dilakukan Anin ,” Dia marah.” gumannya mendengar suara Anin begitu dingin. “ Apa maksudmu aku laki laki ?” “ Laki laki dilihat dari tanggung jawabnya, kalau berani buka itu … baca sampai selesai. Saya tunggu jawabannya.” Anin meraih tangan Andro, memaksanya menerima dua amplop itu ,” Sudah lebih dari empat tahun, dan kelihatannya kakak sudah tidak semuda dan senaif seperti yang ada di dalam sana.” dihembuskannya nafas dan bicara dengan lebih lembut ,” Saya tidak melihat istri kakak disini, jadi tolong pertimbangkan rumah tangga kalian dalam mengambil keputusan nantinya.” Leny menatap Arfa, mengerutkan kening saat menyadari lelaki itu jauh lebih tenang dari biasanya saat diingatkan tentang istri Andro. Digamitnya lengan Anin mengajaknya duduk di sofa. Andro berdiri bingung, menatap keluarganya ,” Ada apa ini ? Mengapa aku merasa ada yang lain kali ini.” “ Bacalah itu nak.” ujar Tn Rahardi ,” Duduklah dulu.” ditunjuknya sofa tunggal yang tadi ditempati Andro. Andro menatap Anin dengan pandangan menuduh, mengerutkan kening saat melihat ada sedih dan marah di mata coklat yang berbalik menatapnya itu. Dihempaskannya tubuh disofa. “ Bacalah yang amplop kecil dulu.” ujar Anin Andro mendengus, membuka amplop kecil itu ….. Anin menatap perubahan ekspresi Andro, menangkap rasa sedih rasa bersalah dan kemarahan campur aduk disana. Dilihatnya lelaki itu tergesa membuka amplop selanjutnya, memperhatikan sekilas dan tertunduk. “ Arrrgh …..” Arfa melompat memeluk tubuh adiknya yang menunjukkan tanda tanda akan mengamuk. Memeluknya erat sampai akhirnya Andro menangis sesenggukan. Menuruti hatinya, Leny mendekat dan mengusap kepala Andro mendekap ke dadanya. Arfa sudah menceritakan tentang Tania dan Tara … dan ia sangat memahami apa yang dirasakan lelaki yang memeluk erat pinggangnya saat ini. “ Permisi, kami boleh gabung ? Boss …..” dua sosok tubuh terdiam melihat pemandangan didepan mereka. Arfa memberi tanda untuk diam. “ Anin ?” Anin mengalihkan pandangan dari Andro dan Leny, wajahnya memucat sejenak ,” Apa kabar ?” tanyanya memasang tampang datar. “ Kalian kenal ?” tanya Ny Rahadi. “ Kami …...” “ Dino dan Tia teman sekelas dulu di SMA bu.” kembali ditatapnya Andro yang masih tenggelam dalam pelukan Leny ,” Saya permisi, kalau Kak Andro sudah mengambil keputusan tolong beritahu saya.” mengangguk singkat pada Tn dan Ny Rahadi. “ Aku akan mengantarmu.” Arfa berdiri. “ Terima kasih dok, saya bisa sendiri. Permisi.” tanpa menoleh ia keluar ruangan, memaksakan diri terlihat tenang sambil berdoa semoga bisa mencapai lift dengan selamat. Ditekannya tombol berkali kali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN