Percival berjalan membawa nampan makan siangnya yang telah dia beli. Ia memerhatikan sekeliling mencari meja kosong. Royce sedang ada kelas, padahal dia adalah satu-satunya orang yang biasa menghabiskan makan di cafeteria dengannya. Percival tidak suka dangan perbedaan jadwal yang begitu mencolok antaranya dengan Royce, karena dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk memberi makan cacing-cacing di perutnya. Royce dan Percival seperti anak kembar yang ke mana-mana selalu ebrsama, kenyataan ya—mereka memang kakak adik, tetapi juga seperti teman seumuran yang begitu akraqb. Keduanya selalu begitu. Matanya menangkap hal-hal yang tidak akan menjadi tempatnya makan, mahasiswi yang tersenyum layaknya ingin memakan dirinya. Ponsel Percival berbunyi dan dia melihat siapa panggilan di layar

