Yoora duduk di ruang kerjanya yang luas, tapi keheningan di ruangan itu kini terasa seperti jeruji besi. Setiap detik bergema oleh satu kenyataan yang menyesakkan — Jesslyn masih belum ditemukan. Sudah lebih dari seminggu, dan Christian, putranya, nyaris kehilangan akal. Laporan dari anak buah datang silih berganti, tapi semuanya nihil. Tidak ada jejak, tidak ada saksi, tidak ada tanda kehidupan. Seolah gadis itu ditelan bumi. Yoora menatap foto Christian dan Jesslyn yang masih tersimpan di meja kerjanya. Ia ingat betul — hari itu Christian tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama kehilangan arah. Di sampingnya, Jesslyn tertawa ringan, polos, tanpa sadar bahwa senyum itu telah mengubah seluruh hidup putranya. Dan kini, senyum itu hilang… bersama harapan yang dulu dia pandang

