Sore itu, Yoora menunggu Christian di ruang baca rumah keluarga Miller. Aroma teh melati memenuhi ruangan, tapi wajah Yoora serius, tak ada sisa senyum ramah yang biasa ditunjukkan di depan orang luar. Christian masuk, menanggalkan jasnya, lalu mendapati ibunya sudah duduk menunggunya dengan ekspresi penuh arti.
Pagi tadi dengan sengaja Yoora datang ke kantor. Dia mendengar banyak berita jika pria itu jarang dikantor, dan lebih memilih pergi ke kantor Sabian. Yoora jelas tahu alasannya apa, dan kenapa Christian lebih sering ke kantor Sabian ketimbang kantor sendiri. Dan hal itu mampu membuat Yoora berpikir panjang. Bagaimana jika keluarga Hanna mendengar semua ini? Makanya, sebelum hal itu terjadi Yoora ingin meminta Christian untuk sedikit memberi jarak pada Jesslyn agar tidak menimbulkan masalah besar.
Yoora tenang, nadanya penuh tekanan halus. “Aku mendengar kabar yang kurang menyenangkan. Katanya… kamu semakin jarang di kantor. Bahkan lebih sering ke tempat Sabian.”
Christian melirik, dia tahu arah ucapan ibunya ini. Beberapa hari lalu sudah, dan sekarang lagi.
Christian menarik napas, mencoba mengelak. “Itu urusan pekerjaan, Mom.”
Yoora menyipitkan mata, sorotnya tajam. Seulas senyum tipis terukir di wajah Yoora. “Pekerjaan? Atau Jesslyn?”
Christian terdiam. tubuhnya menengah, sorot matanya tak bisa ditutupi jika dia tidak suka pembahasan kali ini. Apalagi yang ibunya inginkan dari dirinya dan juga Jesslyn?
“Christian, ingat statusmu. Kamu adalah tunangan Hanna. Keluarganya sudah menaruh kepercayaan besar pada kita. Kalau mereka tahu kamu… sibuk dengan perempuan lain di belakang Hanna, bagaimana menurutmu kehormatanku? Nama baik keluarga ini?”
Rahang Christian mengeras, dia sangat tidak suka dengan hal ini. Kenapa jika Christian dekat kembali dengan Jesslyn? Bukannya ibunya itu tahu sejak awal jika Christian begitu mencintai Jesslyn. Tapi karena alasan keluarga, dan keluarga Hanna yang tidak mau rugi banyak membuat pertunangan sialan ini terjadi. Jika saja tidak, mungkin hal ini tidak akan terjadi diantara mereka.
“Jesslyn tidak ada hubungannya dengan kehormatan keluarga ini.” seru Christian, mengingatkan jika hal ini tidak ada hubungannya apapun dengan Jesslyn.
Yoora menepuk meja ringan, nadanya tegas. “Justru ada, Tian. Segalanya ada hubungannya. Keluarga Hanna bukan keluarga sembarangan. Aliansi ini penting. Dan Jesslyn—” menahan sejenak, senyum sinis tipis. “—Dia tidak sepadan denganmu. Tidak dari segi status, tidak dari segi apa pun.”
Christian mengepalkan tangannya, menahan amarah. Yoora mencondongkan tubuh sedikit, kini nadanya seperti perintah.
“Kalau kamu memang tidak bisa mencintai Hanna sepenuhnya, setidaknya hargai pertunangan ini. Fokuslah pada Hanna sebelum keluarganya tahu kelakuanmu. Aku tidak akan membiarkan satu gadis… merusak semuanya.”
Christian terdiam, hatinya bergejolak. Ia ingin membantah, ingin berteriak bahwa hanya Jesslyn yang dia cintai. Tapi tatapan Yoora terlalu tajam—tatapan seorang ibu sekaligus wanita bangsawan yang terbiasa mengendalikan keadaan. Mungkin jika itu orang lain Christian akan lebih dulu menghantam wajah orang itu hingga babak belur. Tapi ini … kenapa keputusan itu seolah Christian tidak bisa membantah?
***
Sore itu, Hanna datang ke rumah keluarga Miller. Yoora sudah menunggu di ruang tamu dengan ekspresi anggun namun dingin. Tatapan matanya membuat Hanna tahu, ini bukan sekadar obrolan basa-basi.
Yoora menatap Hanna, nada tegas namun tersenyum tipis. “Hanna, kamu tahu kan… Christian itu bukan pria yang mudah diarahkan. Dia keras kepala, dan kadang… lengah.”
Hanna menunduk sopan, berusaha tersenyum meskipun dia tidak tahu arah ucapan calon mertuanya itu. “Iya, tante. Aku mengerti.”
Yoora menghela nafasnya, sekarang meskipun dia yakin jika Hanna tidak sepenuhnya bisa menghandle Christian, setidaknya dengan kehadiran Hanna, Christian dan Jesslyn bisa jaga jarak.
“Belakangan, aku melihat dia tidak terlalu fokus. Ada hal-hal… atau orang… yang bisa mengganggu konsentrasinya. Itu hal yang tidak boleh terjadi. Apalagi sekarang dia sudah punya kamu.”
Hanna membeku, dadanya sesak. Dia tidak tahu arah pembicaraan itu, meski Yoora tidak pernah menyebut nama siapa pun. Setahu Hanna tidak ada satu orang pun yang mendekati Christian, atau mungkin dia akan bertanya langsung pada pria itu apa mungkin dia dekat dengan wanita lain selain dirinya? Kalaupun ada kenapa Hanna tidak tahu?
“Siapa Tante?” Tanya Hanna heran, untuk saat ini Hanna begitu penasaran dengan siapa Christian dekat.
Yoora memiringkan kepalanya menatap calon menantunya dengan tatapan bingung. “Kamu akan tahu setelah ini. Jika kami tidak menjaga Christian dengan benar, maka sesuatu akan mengambilnya darimu secara paksa.”
“Aku akan menjaga dia, tante. Aku pastikan tidak ada yang bisa mengganggu kami.” ucap Hanna sungguh-sungguh. Meskipun tidak tahu, tapi dia akan mencari tahu setelah ini. Apa yang Christian lakukan selama ini.
Yoora mengangguk puas. “Itu yang ingin kudengar. Kamu harus lebih ekstra menjaga Christian. Ingat, pertunangan ini bukan hanya tentang perasaan. Tapi tentang kehormatan keluarga kita juga. Jangan beri celah sedikit pun.”
Hanna menggenggam tangannya erat-erat. Kata-kata Yoora menusuk telinganya, membuatnya semakin yakin—Christian harus selalu berada di sisinya. Ia tidak akan membiarkan siapapun merenggut posisi yang sudah ia perjuangkan. Sejauh ini hanya Hanna yang pantas bersanding dengan Christian. Dan kalaupun ada wanita mana yang mampu menarik perhatian Christian? Siapa wanita itu? Apa dia tidak tahu pria yang sedang didekati sudah memiliki calon istri?
***
Hanna mengundang Christian untuk datang ke sebuah coffee shop. Tapi yang terjadi Hanna malah bertemu dengan Jesslyn dan juga Elina ditempat ini. Wanita itu awalnya duduk beda meja. Tapi karena Hanna sudah menunggu hampir satu jam, dan Christian tak kunjung datang akhirnya wanita itu memutuskan untuk bergabung dengan Elina dan juga Jesslyn. Setidaknya dia tidak seperti orang bodoh yang duduk sendirian dengan penuh harapan.
“Mungkin Tian lagi sibuk Han makanya dia nggak bisa datang.” jelas Elina sambil melirik Jesslyn yang tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wanita itu hanya sibuk dengan ponselnya disana, entah untuk mengirim pesan pada Christian atau ada hal lain yang memungkinkan Jesslyn harus memegang ponselnya.
“Gue juga mikirnya gitu, tapi kayak masa sih setiap hari sibuk terus sampai gak ada waktu buat gue. Belum lagi tadi mamanya manggil gue untuk datang ke rumah.”
Jesslyn menghentikan aktivitasnya, dia melirik Elina yang diam saja di hadapannya. Tapi detik berikutnya dia mencoba untuk menyambungkan kata agar bisa nyambung dengan obrolan mereka.
“Ada masalah?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Elina.
Bukan masalah lagi, ini sebuah bencana bagi Hanna. “Christian kayaknya lagi Deket sama seseorang deh. Tadi tanya Yoora bilang gue diminta jaga Christian terus, akhir-akhir ini dia gak ada dikantor dan sering ke kantor Sabian.” Hanna menghentikan ucapannya menimang. Lali detik berikutnya mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Elina dan juga Jesslyn. “Lo berdua tau gak sih wanita mana yang bisa menarik perhatian Tian sampai dia nggak mau balik ke kantornya sendiri?”
Sunyi. Elina dan Jesslyn saling pandang. Wanita itu sampai menahan nafasnya sesak mendengar hal itu. Berita ini sudah terdengar oleh ibu Christian, itu tandanya hidup Jesslyn sudah mulai tidak tenang. Dia gelisah.
“Hmm … atau nggak, Lo berdua mau nggak bantu gue cari tahu siapa yang sekarang dekat sama Christian? Kalau dapat infonya gue traktir kalian tas branded.”
Jantung Jesslyn berdebar kencang, apa-apaan ini!! Kenapa harus begini!!!
****