Prolog
Suara hujan mengguyur atap gudang tua itu tanpa henti.
Jam digital di pergelangan tangan pria itu menunjukkan pukul 23.47.
Tangannya gemetar, bukan karena dingin.
Melainkan karena ketakutan.
Ia menoleh ke arah perempuan yang berdiri beberapa meter di belakangnya. Perempuan itu sedang hamil besar. Napasnya memburu. Wajahnya dipenuhi air mata.
"Ratna... dengarkan aku baik-baik." Ratna menggeleng kuat.
"Aku tidak mau! Kita pulang! Tolong... kita pulang...." Pria itu menggenggam kedua bahu Ratna.
"Dengar!" Ratna terdiam.
"Kalau mereka menemukan kita malam ini... jangan pernah cari aku."
"Jangan bicara seperti itu...."
"Janji padaku." Air mata Ratna jatuh tanpa suara.
Pria itu mengeluarkan sebuah kalung berbentuk kura-kura kecil dari dalam sakunya. Kalung itu tampak sederhana.
Tidak mahal. Namun cara ia menggenggamnya membuat benda kecil itu terlihat lebih berharga daripada apa pun. Ia meletakkan kalung itu ke telapak tangan Ratna.
"Kalau suatu hari nanti..."
"...dia sudah cukup kuat..."
"...berikan ini padanya." Ratna menatap kalung itu dengan bingung.
"Kenapa?" Pria itu tersenyum tipis.
"Karena saat hari itu tiba..."
"...dia berhak mengetahui siapa dirinya." Ratna semakin tidak mengerti.
"Dia masih belum lahir...."
Pria itu mengusap perlahan perut Ratna. Bayi di dalam kandungan itu bergerak pelan. Senyumnya perlahan berubah sendu.
"Kalau dia lahir nanti..."
"...katakan kalau Ayah sangat mencintainya." Air mata Ratna kembali jatuh.
"Tidak... kamu sendiri yang harus mengatakannya."
Pria itu tidak menjawab.
Di kejauhan terdengar suara beberapa mobil berhenti.
Lampu sorot menyapu pepohonan di sekitar gudang.
Mereka sudah datang. Wajah pria itu berubah pucat.
Ia menoleh ke arah pintu gudang.
"Ratna."
"Ya?"
"Apa pun yang terjadi nanti..."
"...jangan pernah percaya pada siapa pun."
BRAAK!
Pintu gudang dihantam dari luar. Suara langkah kaki semakin mendekat. Ratna spontan memegang perutnya. Tangisnya pecah. Pria itu mengusap wajah Ratna untuk terakhir kalinya. Kemudian mengecup keningnya pelan.
"Aku mencintai kalian." Lalu ia mendorong tubuh Ratna menuju pintu belakang gudang.
"Lari!"
"Tapi-"
"LARI!" Ratna berlari. Tidak berani menoleh, tidak berani berhenti, dan Suara hujan semakin deras.
Lalu...
Dor!
Suara tembakan memecah malam. Ratna menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Ia terus berlari.
Memeluk perutnya erat. Air matanya bercampur dengan hujan.
Malam itu, ia kehilangan seseorang yang paling dicintainya. Dan tanpa pernah ia sadari, malam itu pula, takdir anak yang masih berada di dalam kandungannya berubah untuk selamanya.
Dua puluh tahun kemudian...
Jari Raina berhenti tepat di atas sebuah kalung berbentuk kura-kura yang tergeletak di atas meja.
Benda itu tampak biasa.
Namun entah mengapa, dadanya berdebar saat menyentuhnya. Di hadapannya, sebuah laptop sudah menyala. Layar hitam itu hanya menampilkan satu jendela kecil. Di tengah layar, terdapat sebuah nama file.
UNTUK ANAKKU
Raina menarik napas panjang. Lalu menggerakkan kursor perlahan.
"Apa kamu yakin ingin membuka file ini?"