Arkanza menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal. Dia terus menundukkan wajahnya dalam-dalam, karena tak berani menatap tiga orang di depannya. Mereka terus mengintrogasi dirinya yang telah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Sekarang, dia menyesal. Entah, apa hukuman yang akan didapatinya. "Arkanza, jawab pertanyaan Bunda. Jangan diem aja!" pekik Heni yang sudah habis kesabaran. Sejak tadi dia dan suaminya bertanya, tetapi Arkanza hanya terdiam. Sama sekali tak menjawabnya. "Em... I...itu..." Hardi menghela napas. "Ngomong yang jelas!" sentak Hardi padanya. "Lo lagi marahan sama Meisya ya, Za? Makanya lo melampiaskan kemarahan lo dengan ngebut?" terkanya. Heni menatap putra dan putrinya bergantian. Begitu pula dengan Hardi. Dia tak tahu gadis bernama Meisya itu dan

