6 | Etalase

4735 Kata
“Kau mau melanjutkan kemana nanti?” tanya Budi kepada Galuh secara tiba-tiba di sela-sela jam pelajaran. “Entahlah, kalau orangtuaku masih mampu biayain kuliah ya kuliah aja,” jawab Galuh sambil nyengir. “Kau sendiri punya rencana kemana?” “Aku juga tak tahu,” jawab Budi. “Enakan kamu, Gal. Pasti jalanmu mulus. Mau masuk ke universitas mana aja pasti keterima,” ujar Cindy. “Yah, nggak gitu juga kale. Kalian juga pasti bisa kok,” hibur Galuh yang tak ingin teman-temannya terlalu memujinya. Galuh tak suka pujian seperti itu. “Kalau kamu bagaimana, Sam?” tanya Bella kepada Samudra. Melihat tangan Samudra dibalut Galuh berpikiran yang aneh-aneh ketika Samudra berada di kamar mandi kemarin. Katanya ia jatuh dan tangannya terkilir. Tapi kenapa sampai dibalut segala? Bahkan katanya Samudra kesakitan kalau menulis pakai tangan kanannya. Samudra menoleh ke arah Bella. “Oh, kalau soal itu. Aku tak begitu mempermasalahkan mau kuliah di mana. Apapun kampusnya sama saja,” ucapnya. “Sama aja gimana? Kampus juga penting dong. Masa’ kamu mau kuliah di kampus yang tidak terkenal? Bagaimana dengan fasilitas kampusnya? Apa kamu mau kuliah di kampus yang fasilitasnya tidak baik?” protes Cindy. Samudra mengangkat bahunya. “Kalau memang itu yang sudah menjadi nasibku, yah aku terima saja.” “Aneh,” ucap Cindy. “Sekarang gini saja. Apakah kalian punya cita-cita kuliah di kampus tertentu?” tanya Samudra balik kepada mereka. Bella langsung menjawab. “Iya dong, aku kepengen kuliah di UI.” “Aku sih, ingin kuliah di Udayana,” lanjut Cindy. “Aku ingin kuliah di IPB,” sambung Galuh. “Aku ingin kuliah di UGM,” ucap Budi. “Kalian punya cita-cita untuk kuliah di perguruan tinggi yang kalian inginkan. Itu bagus. Tetapi ada hal yang harus kalian pikirkan, yaitu apa yang kalian lakukan setelah kuliah? Apa yang kalian kehendaki setelah kuliah? Apakah jurusan yang kalian tempuh sesuai dengan cita-cita kalian setelah kuliah? Coba kalian pikirkan lagi,” ujar Samudra. Galuh mencerna kata-kata Samudra. “Maksudmu dimana pun kami kuliah paling tidak itu harus sesuai dengan cita-cita kami?” “Iya. Coba kalian pikirkan. Mau jadi apa kalian? Galuh, kau mau jadi apa?” tanya Samudra. “Aku? Aku...aku ingin menjadi bisa memakmurkan negeri. Aku ingin menemukan cara untuk membuat ketahanan pangan kita kuat,” jawab Galuh. Budi, Bella dan Cindy tertawa mendengarnya. “Kata-katamu itu seperti seorang politikus yang melakukan kampanye,” ujar Budi. “Oh ya?” tanya Galuh. “Tapi itu cita-cita dan realistis bukan? Sekarang ini lahan makin menyempit. Dan orang-orang menganggap menjadi petani adalah pekerjaan yang hina. Padahal tidak seperti itu. Justru kalau tidak ada petani bagaimana kita bisa makan? Sekarang ini terjadi paradigma aneh di mana menjadi petani dianggap orang itu berada di bawah garis kemiskinan. Aku ingin menyingkirkan paradigma ini.” Samudra manggut-manggut. “Boleh juga. Masuk akal. Memang apa yang dipikirkan Galuh ada benarnya juga. Jaman sekarang ini orang-orang terpengaruh oleh bisikan-bisikan yang tidak benar. Adanya acara-acara sinetron di televisi yang menggambarkan setiap petani pasti orang miskin, bertampang ndeso, berpakaian tidak keren dan selalu membawa cangkul, ditambah lagi dengan caping, baju lusuh, bertelanjang kaki membuat stigma petani adalah pekerja rendahan semakin melekat. Padahal tidak juga. Di negara-negara maju para petani mereka kaya-kaya. Mereka bahkan bisa membiayai anak-anak mereka yang kuliah di kota-kota besar. Para petani itu juga terlihat necis dengan baju mereka, peralatan mereka pun canggih-canggih. Bahkan paradigma petani itu miskin tak ada pada diri mereka. Orang terkadang melihat pekerjaan yang menghasilkan uang dengan cepat, padahal yang perlu dilihat bukan uang yang dihasilkan melainkan nilai dari pekerjaannya. Kalau dikatakan yang menghasilkan uang lebih cepat adalah pekerjaan yang lebih baik maka merampok, mencuri, korupsi, menipu, money laundry adalah pekerjaan-pekerjaan yang cepat menghasilkan uang. Tapi sama sekali tidak barokah. Tidak ada nilai yang baik pada pekerjaan-pekerjaan seperti itu.” Galuh dan kawan-kawannya termangu mendengar penjelasan Samudra. Entah bagaimana kata-kata seperti itu bisa terucap dari mulut seorang Teuku Samudra yang notabenenya masih duduk di bangku SMA. Di sini bisa dibuktikan bahwa Teuku Samudra bukanlah anak biasa. Dia bukan seorang anak kemarin sore yang tiba-tiba saja datang ke sekolah ini. Dia lain daripada yang lain. Galuh bisa merasakan bahwa murid yang satu ini punya keistimewaan yang tidak dimiliki oleh murid-murid lainnya. Samudra menoleh ke jendela melihat pemandangan di luar. Dari tempatnya duduk ia bisa melihat bagaimana suasana halaman sekolah yang sedang dipakai oleh murid-murid yang sedang mengikuti pelajaran olahraga. Samudra kembali menoleh ke teman-temannya. Melihat teman-temannya termangu melihat dirinya ia pun tertawa geli. “Kalian kenapa?” tanya Samudra. “Kata-katamu itu, kok aku malah menebak kamu ini bukan seorang pelajar yah?” ucap Galuh. “Kamu yang pantes jadi politikus, bukan aku.” “Hahahaha, masa’ sih?” tanya Samudra keheranan. Ia tak pernah merasa cocok untuk bisa berceramah sepanjang itu tadi. “Ngomong-ngomong, aku setuju. Petani memang tidak harus identik dengan miskin. Buktinya di Indonesia ini saja petani-petani banyak juga kok yang kaya,” ujar Cindy. “Kau ternyata cukup pintar juga yah?” puji Bella kepada Samudra. “Memangnya kalian menganggap aku selama ini bagaimana?” tanya Samudra. “Yah, aku kira kamu ini sama seperti si Jimmy itu. Urakan, keras kepala, suka berkelahi. Macem-macem,” ucap Bella jujur. “Ngomong-ngomong kamu ikut ekstrakurikuler apa?” tanya Galuh. Samudra mengernyit. “Oh iya. Aku lupa kalau harus ikut ekstrakurikuler yah? Hmm... enaknya ikut apa yah?” “Mau ikut KIR bersamaku?” Ajak Galuh. “KIR kekurangan anggota nih, kalau kamu ikut maka kami akan menerima dengan tangan terbuka.” “Apa itu KIR?” tanya Samudra. “Karya Ilmiah Remaja. Jadi kita nanti akan mencoba membuat karya ilmiah. Siapa tahu nanti bisa kita patenkan hasil temuan kita nantinya,” jawab Galuh. “Memangnya kegiatannya apa saja?” “Macem-macem. Kita mempelajari hal baru, riset, kemudian hasilnya kita umumkan. Setiap tahun kita pasti membuat sesuatu yang tidak biasa. Contoh tahun lalu aku dengan anggota KIR membuat bahan bakar dari kulit pisang,” jelas Galuh. “Jadi ternyata kulit pisang juga bisa diolah menjadi sumber energi alternatif loh. Riset kami ini kemudian kami publish di mading dan beberapa surat kabar. Bahkan salah satu stasiun televisi juga meliput kami dalam program khususnya.” Samudra mengangguk-angguk sambil memegangi dagunya. “Boleh juga. Permasalahannya adalah aku tak suka kalau terus-terusan belajar seperti itu.” “Kamu jangan khawatir, justru kami sangat santai kok orangnya. Tidak melulu kami riset, tidak melulu kami belajar, yang ada kita belajar bersama dan saling menyemangati satu sama lain. Kita juga makin banyak relasi dengan lembaga lain, sekolah lain, teman-teman lain di luar sana. Apalagi kalau kita sampai masuk ke olimpiade nasional atau internasional. Kan keren tuh?” ujar Galuh. “Oh, begitu. Boleh juga,” ucap Samudra. “Tunggu!” celetuk seseorang. Galuh, Bella, Cindy dan Budi langsung menoleh ke arah suara. Dia adalah Jimmy. “Samudra tak boleh ikut ekstrakurikuler kalian. Dia ikut gue!” “Yee, sembarangan. Dia ikut kita kok. Ya nggak?” ucap Galuh sambil menoleh ke arah Samudra. Alis matanya sampai digerak-gerakkan. Samudra cuma nyengir. Bingung mau bilang apa. Jimmy tampak bersemangat sekali. Dia langsung mendatangi meja Samudra kemudian menyerahkan selembar kertas ke atas meja cowok itu. Semuanya melihat isi dari kertas yang ternyata adalah form pendaftaran ikut klub karate. “Ha...ha...ha...ha,” Samudra tertawa dengan suara datar seperti robot. “Yang bener aja” Samudra melirik ke meja tempat Windi berada. Cewek itu memberi isyarat kepada Samudra agar mengikuti dia. Samudra lalu menatap ke wajah teman-temannya yang sekarang sedang menunggu jawaban. Dia nyengir lagi. “Aku biar sholat istikaroh dulu ya,” ujar Samudra. Dia lalu beranjak dari tempat duduknya untuk bisa lari. “Lho? Woi! Mau kemana lo!?” tanya Jimmy yang tak berhasil menangkap Samudra. “Sial, cepet banget gerakannya. Dia harus ikut ekstrakurikuler karate. Dia soalnya sangat berbakat.” “Kamu nggak tau ya, Jim?” tanya Budi. “Tahu apa?” tanya Jimmy kepada Budi. “Samudra kan memang jago pencak silat. Dia kemarin mewakili kejuaraan nasional pencak silat, bukan?” ujar Budi. “Beritanya ada kok.” Jimmy menatap Budi. “Tahu dari mana lo?” “Lha? Beritanya ada di mana-mana dulu. Sebentar!” Budi mengambil ponselnya kemudian browsing di google untuk mencari berita tentang Samudra. “Noh! Lihat, ini fotonya siapa?” Budi menunjukkan layar ponselnya. Di sana ada wajah Samudra yang menggigit medali. “Anjiiiiiirrrr!!!” pekik Jimmy. “Serius nih?” “Wow!” Galuh mengangkat alisnya. “Aku baru tahu nih.” “Aku baru tahu kemarin ketika iseng saja browsing namanya, muncul deh foto itu. Nggak kusangka ternyata dia jagoan. Diem-diem dia ternyata hebat. Aku jadi tak heran kalau kemarin dia bisa melompat sejauh itu. Biasanya kan memang orang-orang yang bisa jago beladiri bisa melompat sejauh itu bukan?” tanya Budi. Jimmy menggaruk-garuk rambutnya. “Eh...i-iya juga sih. Sialan. Dia ternyata hebat juga. Kemana anak itu pergi? Sam!” Jimmy pun akhirnya meninggalkan Galuh dan kawan-kawannya untuk mencari Samudra. Sementara itu Samudra mencoba menjauh sebentar. Ia tak mau dipaksa untuk mengikuti ekstrakurikuler manapun sebenarnya. Ia juga tak ingin menjadi orang yang mencolok. Bagi dia masa-masa untuk membuat perkara di sekolahan sudah selesai. Ia malas kalau hanya demi mengikuti idealisme di dalam dirinya malah membuat kedua orangtuanya sengsara lagi. Saat Samudra yakin sudah jauh dari kelasnya ia lalu menuju ke belakang sekolah. Di sini ada sebuah tempat yang sepi yang mana isinya hanya rerumputan dan pepohonan. Samudra tak pernah menyangka ada juga tempat seperti ini di sekolahnya. Begitu Samudra sampai di tempat ini ia mengambil napas sejenak. Tak mudah bagi dirinya untuk bisa lepas dari berbagai masalah yang ada di depannya sekarang. Dia hanya ingin low profile, itu saja. Apa itu salah? “Di sini kau rupanya,” celetuk seseorang tiba-tiba dari belakangnya. Samudra langsung berbalik dan mendapati Windi ada di belakangnya. “Kau?” “Bagaimana tanganmu?” tanya Windi. Samudra menunjukkan tangannya yang sedang dibalut gips. “Tak apa-apa, dua minggu lagi mungkin sembuh.” “Aku lihat kau menulis dengan tangan kiri. Apa itu sakit?” ucap Windi menunjukkan rasa khawatirnya. “Ya sakit. Lagian kenapa kau pakai memegang kerah bajuku?” tanya Samudra. “Kau bisa bertanya baik-baik bukan?” “Itu memang salah gue. Berapa pun biaya yang elo keluarin kemarin gue akan ganti,” ucap Windi. “Kasih saja kwitansinya.” “Nggak perlu. Aku sudah punya asuransi dari ayahku, jadi aku tak mengeluarkan sepeser pun uang,” kata Samudra. “Oh, begitu.” Windi menghela napas. “Kalau gitu aku minta maaf atas perlakuanku. Apa kau bercerita kepada yang lainnya?” “Sebenarnya mau sih cerita biar geger satu sekolahan. Hehehe,” canda Samudra. “Kau? Awas kalau sampai orang-orang tahu apa yang terjadi ama kita!” ancam Windi. “Tenang aja, aku cuma bercanda kok. Lagian, kalau itu sampai tahu juga reputasiku bisa gawat. Intinya selama sekolah di sini aku tak mau terlibat dengan hal-hal yang aneh. Cukup yang terakhir kali saja aku terlibat, setelahnya aku tak mau lagi membuat orangtuaku bersedih,” jelas Samudra. “Sekarang gue mau menagih jawaban dari pertanyaan lo kemarin,” ucap Windi. “Punya hubungan apa lo ama Pak Daniel? Di mana Pak Daniel sekarang?” Apa yang bisa Samudra jawab? Dia tak bisa menjawab apapun. Dia tak boleh memberitahu kepada siapapun tentang keberadaann Pak Daniel. Selain itu akan membahayakan Pak Daniel juga akan membahayakan orang lain yang berhubungan dengan Pak Daniel. “Please, aku mohon! Kamu pasti tahu keberadaannya bukan?” tanya Windi sambil memohon. Samudra menggeleng. “Maaf Win, aku tak tahu yang kamu maksudkan itu siapa. Kalau yang kamu maksudkan orang yang ada di foto ini....” Samudra menyerahkan foto yang kemarin dia terima dari Windi. “Aku tak tahu.” “Kenapa kau berbohong kepadaku? Ada apa? Ada alasan apa kamu berbohong kepadaku?” tanya Windi. “Win, kamu boleh percaya kalau aku berbohong. Tapi sebaiknya kamu tak usah bertanya kepadaku lagi. Apapun pertanyaanmu jawabanku tetap sama. Aku tidak tahu,” jelas Samudra. Mata Windi berkaca-kaca. Dia tak pernah mengerti kenapa Samudra menyembunyikan keberadaan Pak Daniel. Kenapa juga guru itu tiba-tiba saja pergi tanpa jejak, tanpa kabar dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Bahkan setiap pihak yang bertanya tentang diri Pak Daniel serasa dibungkam. “Kenapa setiap kali aku sudah dekat dengan Pak Daniel selalu ada orang yang menghalang-halangi? Kenapa selalu ada orang yang menyembunyikan hal ini? Semua teman-temanku tak tahu, semua kenalannya tak tahu, bahkan ketika aku mendapatkan kabar tentang keberadaannya pun sekarang buntu. Foto ini adalah kabar terbaru dari dia yang aku terima,” jelas Windi. “Memangnya ada masalah apa sebenarnya kalau aku boleh tahu? Kau boleh cerita kepadaku kalau kamu mau. Aku tak tahu seberapa penting orang yang ada di foto itu, tapi aku akan mau mendengar semua ceritamu,” ujar Samudra. Windi berbalik. “Tak ada yang perlu diceritakan. Kau jahat! Kalian semua jahat!” “Win!” Samudra mencoba memanggil Windi tapi dia sudah keburu pergi. Samudra mengangkat bahunya. Dia melakukan hal yang semestinya. Setidaknya ada sebuah rahasianya yang aman. * * * Sebenarnya bertemu relasi itu bukanlah perkara yang susah. Namun berbeda jika alasannya adalah untuk maksud tertentu. Di dalam percaturan dunia perpolitikan banyak hal dilakukan untuk mencapai tujuan dan terkadang tujuan itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang Windi sekarang terjebak di dalam gerombolan bapak-bapak yang sedang berbicara ngalor ngidul tak tahu arah. Dari sejak pertama kali Windi duduk di meja makan memang ia berada di tempat yang aman, lebih tepatnya berada di meja terpisah dari ayahnya. Sengaja ia memilih tempat itu karena tak mungkin anak seperti dia harus berada satu meja dengan bapak-bapak. Seperti kontras. Akhirnya ia berada satu meja dengan orang-orang yang lebih muda. Ada Ratna Briliani, Sasha Fernando dan satu orang yang sangat dia benci yaitu Gagah Prambudi. Windi merasa tak masuk akal harus satu meja dengan si b******k playboy pitecantropus erectus javanicus kue kukus satu ini. Apakah lingkaran kosmos sedang mengaturnya agar bisa dekat dengan lelaki paling menjijikkan yang pernah ia kenal? Gagah Prambudi seorang yang sangat necis. Dia selalu rapi kemana-mana. Dunianya terkenal gelamor. Hampir setiap malam orang-orang bisa menemuinya di discotique atau night club. Memang dia terkadang berada di kantor milik ayahnya yang usahanya di bidang property. Wajahnya nggak jelek-jelek amat, buktinya banyak cewek-cewek yang suka kepadanya. Memang sih bisa dibilang hartanya yang membuat mereka terjerat, tapi secara facelook boleh dibilang ia masih OK dibandingkan para konglomerat yang sudah bangkotan. Gagah Prambudi juga menjaga fisiknya agar tetap vit dengan rutin berolahraga. Jadi selain dia memang konglomerat, playboy, pylanthropus, narsiscus, dia juga seseorang yang gemar menjaga kesehatannya. Ratna duduk di sebelah Windi. Windi sama sekali tak menyentuh makanan yang ada di meja, hanya sibuk dengan ponselnya saja. Sedangkan Ratna sudah ngobrol ngalor ngidul bersama Gagah. Mereka bercerita tentang liburan, Eropa, Dubai, dan banyak hal tentang hobi Gagah yang suka berselancar dan balapan. Windi merasa muak mendengar pembicaraan mereka. “Orang tidak dianggap berlibur kalau mereka belum pernah berkunjung di Dubai. Di sana sangat luar biasa, hotelnya sangat mewah dan wahana airnya sungguh luar biasa. Di sana ada kolam yang sangat luas. Aku sempat heran bagaimana orang-orang arab itu bisa mendatangkan air sedemikian banyak padahal daratan di tempat mereka kering dan tandus,” kelakar Gagah. “Wow, keren!” ucap Ratna. Windi mengawasi papanya yang sedang berbincang-bincang. Sesekali para orang tua itu tertawa. Apa mereka tak tahu kalau ada seorang anak gadis yang tidak suka dengan gaya mereka yang sok parlente, sok penting dan sok-sok yang lain. Windi terus tak menghiraukan mereka. Matanya sudah tertuju ke layar ponsel, seolah-olah dunianya hanya selebar layar ponselnya saja. “Windi, kau diam saja dari tadi. Ada masalah?” tanya Ratna. “Masalahnya adalah kalian,” jawab Windi ketus. Mendengar kata-kata itu Ratna merasa tidak enak. Memang sudah dimaklumi kalau kata-kata Windi cenderung kasar. Ratna tahu itu, demikian juga Gagah. Tapi mereka berdua mencoba menahan diri karena ada ayah-ayah mereka di meja seberang. “Windi, kenapa kau tak tertarik dengan obrolan kita? Ayolah, kau pasti suka bukan dengan liburan, jalan-jalan? Atau kau mau ikut liburan bersamaku? Aku bisa membawa kalian dengan pesawat pribadiku di Pulau Cinta. Kau tahu pulau yang berbentuk hati yang ada di Lombok?” tawar Gagah Prambudi. Windi semakin jijik. “Terima kasih, tapi aku juga bisa berlibur sendiri. Tak perlu kau ajak.” “Kau sama sekali tidak asyik, Win. Sampai kapan kamu menutup diri seperti itu? Dengarlah Ratna dan teman-temannya saja biasa berlibur denganku. Masih banyak tempat-tempat yang belum kita jelajahi di dunia ini,” ujar Gagah. Windi sedang chatting dengan teman-temannya di group chat. Tentu saja yang dibahas adalah Gagah Prambudi. Hesti JK: Waduh, padahal dia tampan lho ya? Windi: Tampan dari Hong Kong? Dia itu playboy pitecantropus erectus javanicus kue kukus! Ratri Indah K: Wkwkwkwkwk Lia: Buset. Wkwkwkwkwk! Rona TY: Anjrit! Itu sebutan buatnnya? Wkwwkwkwk Windi: Dia itu orangnya playboy banget. Tahu nggak? Dalam sebulan dia pernah macarin enam cewek sekaligus. Nggak edan itu namanya? Rona TY: Lo tahu dari mana? Windi: Dia sendiri yang cerita. Dengan bangganya ia ngobrol begitu di depan gue. Apa nggak eneg itu namanya? Dia juga selfi sambil ciuman ama cewek-ceweknya dan update di instagramnya. Bego banget sih itu orang? Trus lucunya lagi girls, itu semua cewek ya nggak ada kapok-kapoknya. Santai aja gitu sekalipun si anak konglomerat ini jalan dengan siapa saja, ciuman ama siapa saja. Idihhh najis!   Windi menurunkan ponselnya kemudian kembali menatap Gagah. Kali ini dia sedikit tersenyum manis. “Hmm, ternyata banyak banget yah yang suka kamu ajak liburan?” “Tentu saja. Aku punya duit. Kalau punya duit tapi tidak dibuat liburan untuk apa?” ucap Gagah sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. “Yah, orang tajir sepertimu memang punya uang tak terbatas untuk liburan. Orang kecil sepertiku punya uang yang terbatas. Aku memang sampai tak mengerti kenapa kamu lebih banyak berfoya-foya seperti itu,” ujar Windi sambil tersenyum. “Ayolah Win, aku sudah usia dua puluh lima. Aku sudah lulus kuliah dan sekarang menikmati hasil jerih payahku. Masa-masa seperti ini memang masa-masa yang harus digunakan untuk berfoya-foya. Bukan begitu? Kamu itu terlalu kolot jadi orang, sesekali kau harus melihat bagaimana pemandangan Raja Ampat. Sungguh luar biasa!” kelakar Gagah. “Iya, aku tahu. Kau tak perlu menjadi promosi begitu,” ujar Windi. “Ngomong-ngomong kenapa kau begitu berkeras untuk mengajakku makan malam? Apakah kau mulai mengincarku?” Mendengar itu Gagah tertawa. Ratna tak mengerti maksud Windi. Dia cuma tersenyum kecil. Windi sudah panas tetapi dia tetap menampilkan wajah yang tenang. “Maksudnya mengincar bagaimana?” tanya Gagah. “Aku bukan setipe dengan enam cewek yang kamu pakai secara bersamaan. Hargaku mahal, lagipula kau tahu bahwa aku bisa bersikap mengerikan kalau sampai kamu berbuat macam-macam denganku,” jawab Windi. “Hahahaha. Tenang nona manis, aku tidak pernah punya niat jelek kepadamu,” ujar Gagah. “Yakin?” tanya Windi dengan senyuman. “Yah, ada sih dikit-dikit,” jawab Gagah disertai dengan tawanya yang khas. “Ayolah, jangan begitu. Siapa di ruangan ini yang tidak tahu sepak terjangmu? Kau bisa membuat teman sekelasmu bunuh diri itu suatu prestasi bukan?” Windi tersenyum sampai giginya terlihat. “Iya, itu bisa terjadi juga kepadamu kalau kau macam-macam denganku, Pram.” “Wow! Wow! Wow! Aku tak berniat seperti itu, lagipula aku di sini hanya ingin makan malam denganmu, Win. Tak ada maksud lain,” ucap Gagah sambil mengangkat tangannya. “Maksud lainnya sebenarnya sudah jelas. Kau ingin mengajakku berlibur bersama teman-teman wanitamu kemudian kamu menggunakan taktik murahan seperti yang kau gunakan untuk menjerat enam wanita itu. Itu sudah kuno. Trik yang sudah aku ketahui, kau kira selama ini kenapa aku sangat membencimu? Salah satunya karena sifatmu yang playboy yang suka meniduri wanita-wanita di luar sana. Siapa yang sudah kau tiduri? Para bintang film? Artis? Penyanyi? Ah, atau para cabe-cabean yang buta ketika naik mobil Ferrari warna merah milikmu? Maaf, tapi kalau aku. Aku lebih suka orang yang tak punya apa-apa tapi dia punya idealisme tinggi,” ujar Windi. Semuanya terdiam. Kata-kata Windi sangat menusuk Gagah. Ratna sampai ternganga mendengar kata-kata gadis itu. Dia mulai meletakkan pisau dan garpu yang tadi dipegangnya untuk menyantap steak tenderloin yang ada di atas piringnya. “Hahahahahaha,” tawa Gagah memecah suasana. “Bravo Win! Bravo! Kau hebat.” Tanpa mengubah ekspresi Windi tersenyum manis sambil berkata, “Oh, tentu saja. Windi Aulanara Nugraha, anak seorang gubernur. Dia bisa melakukan apa saja yang dia mau.” “Kau tahu? Aku pasti akan mendapatkanmu,” ancam Gagah sambil tersenyum. “Aku akan tundukkan sifat sombongmu itu.” “Ckckckck, rupanya sudah ketahuan tanduknya. Si iblis pun menunjukkan jati dirinya,” sindir Windi. “Berbuatlah sesukamu. Aku pasti akan menenggelamkanmu, Win. Sampai waktu itu tiba sebaiknya kau siapkan mentalmu!” ujar Gagah. “Terbalik!” bantah Windi. Dia mengambil pisau yang ada di meja. Ia menancapkan pisau itu tepat di tengah daging tebal yang ada di atas piring. “Siapkan mentalmu untuk malu. Karena obat malu itu tidak ada di apotek, hanya kekuatan hati yang bisa mengobati rasa malu.” Gagah terdiam. Darahnya benar-benar mendidih mendengar kata-kata Windi. Semua isi hatinya dia sembunyikan dengan senyuman lebar kepada Windi. Ratna mencium gelagat yang tidak sehat antara kedua orang yang ada di depannya sekarang. Windi juga tersenyum lebar. “Anak-anak? Kalian baik-baik saja?” tanya Ronald Wisnu Nugraha dari meja lain. Suaranya langsung membuat Windi, Gagah dan Ratna menoleh kepada Gubernur DKI Jakarta tersebut. “Kami baik-baik saja kok pa. Bahkan kami sangat akrab. Bukan begitu Ratna?” ujar Windi sambil menoleh kepada Ratna. Ratna menelan ludah. Ia bahkan tak berani bicara sekarang. Adalah mimpi buruk baginya ketika berada di tengah dua orang gila ini. Ia berharap makan malam ini adalah makan malam yang menyenangkan dengan Gagah Prambudi yang memang terkenal tampan dan konglomerat, tapi rupanya adalah mimpi buruk ketika Windi Aulanara Nugraha juga ikut bersama mereka. “Oh. Ya sudah kalau begitu. Sepertinya kita sudah sepakat bukan tuan Prambudi?” ucap Ronald kepada salah seorang yang ada di mejanya. “Iya, tentu saja,” ucap orang tersebut. Dia adalah ayahnya Gagah yang juga sahabat karib dari Ronald. Setiawan Prambudi. Windi melihat sangat berbeda sekali ayah dan anak. Ayahnya adalah seorang bussiness-man, sedangkan anaknya lebih banyak menghabiskan uang. Entah karena dimanja atau bagaimana. Windi sendiri yakin kalau Gagah Prambudi hanya akan mampu menjalankan perusahaan yang diberikan oleh ayahnya beberapa tahun saja setelah itu kolaps. “Windi, ayo kita pergi!” ajak Ronald. “Iya pa,” jawab Windi. Dia segera bangkit dari tempat duduknya. Makanannya sama sekali tidak disentuh. Bahkan minuman yang ada di mejanya juga tidak tersentuh. Windi benar-benar muak berada di acara makan malam itu. Dia melenggang pergi dengan meninggalkan pisau potongnya menancap di atas daging steak. Gagah Prambudi hanya menyaksikan kepergian ayah dan anak itu menjauh dari tempatnya duduk. Dia mengepalkan tangannya. Rasanya ia ingin sekali meninju Windi hari itu, tetapi kalau misalnlya ia meninju Windi maka itu akan merendahkan martabatnya sebagai seorang lelaki. Gagah Prambudi memang punya urusan yang belum selesai dengan Windi. Dia masih ingat peristiwa yang terjadi beberapa bulan yang lalu yang membuat ia sangat malu yaitu ketika Windi memanggil semua pacar-pacarnya ketika Gagah Prambudi sedang berkencan dengan salah satu pacarnya. Alhasil Gagah Prambudi menjadi bulan-bulanan wanita-wanita itu. Mulai dari itulah Gagah Prambudi mulai menyukai Windi. Windi bukan cewek biasa yang bisa ditaklukkan begitu saja. “Gue bersumpah akan dapatin elo, Win. Bagaimana pun caranya,” gumam Gagah Prambudi. Sementara itu Windi sudah berada di mobil bersama orangtuanya. Windi menghadap kaca mobil melihat pemandangan di jalanan yang pergi meninggalkannya seiring mobilnya melaju di jalanan. Lampu-lampu kota berkelap-kelip mengusir kegelapan malam. Beberapa pedagang kaki lima yang berjualan di malam hari mulai membuka lapak mereka. Beberapa orang-orang yang suka keluar malam pun mulai memenuhi jalanan baik dengan jalan kaki maupun dengan kendaraan-kendaraan mereka. Windi penasaran dengan urusan papanya. Urusan politik apa yang sampai menarik dirinya ke dalam acara makan malam itu? Dia ingin menanyakannya langsung kepada papanya. “Sebenarnya apa sih yang papa bicarakan di acara makan malam itu? Kenapa aku harus ikut. Dan kalau ikut kenapa harus berbeda meja dengan papa?” tanya Windi. Ronald tersenyum. “Yah, urusan para pengembang. Papa butuh mereka dan mereka butuh papa seperti itu. Kenapa? Aneh dengan hal itu?” “Aneh sekali. Apa urusannya denganku?” tanya Windi. “Selama ini papa tidak pernah memberitahuku kenapa harus bertemu orang-orang seperti mereka. Kenapa juga aku harus ikut?” “Windi anakku. Di dalam dunia perpolitikan terkadang sesuatu itu harus dilakukan tidak sesuai dengan keadaan yang kita inginkan,” ucap papanya. “What? Aku tak mengerti maksud papa,” ujar Windi. “Suatu saat nanti kau akan mengerti. Papa hanya akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kau lakukan itu saja. Sisanya kalau nanti sudah saatnya papa akan cerita,” ujar Ronald. Windi mengernyit. Dia sebal sekali kalau papanya berkata seperti itu. Seolah-olah ia masih kecil dan tak perlu tahu urusan orang dewasa. Papanya tidak tahu kalau usia Windi sudah lebih dari tujuh belas dan sebentar lagi juga dia lulus dari SMA dan duduk di bangku kuliah. Bahkan papanya apa tidak sadar kalau dirinya adalah penyumbang suara apabila papanya maju kepada pilpres tahun depan. “Pa, Windi ini sudah besar. Tahun depan saja Windi bisa ikut coblosan. Jadi Windi sudah bisa dan berhak tahu apa yang papa lakukan. Manuver politik apa yang papa lakukan sampai melibatkan aku segala?” Windi bersikeras ingin tahu apa yang dilakukan papanya. Ronald menoleh ke arah Genta yang sedang menyetir mobil mereka. Ronald menggaruk-garuk kepalanya. Dia lalu menoleh ke arah Windi. “Baiklah. Kau memang seharusnya sudah harus mengetahui manuver-manuver yang papa lakukan.” Ronald berdehem membersihkan tenggorokannya. “Papa sangat peduli tentang Jakarta Win. Kau tahu sendiri bahwa kualitas flora dan fauna di ekosistem teluk Jakarta telah memburuk. Orang-orang melakukan penangkapan ikan dengan cara yang tidak wajar. Setiap hari sebanyak lebih dari satu ton limbah dibuang ke laut. Ikan-ikan terkontaminasi limbah dan zat beracun. Kwalitas ikan di laut Jawa benar-benar dalam kadar yang memprihatinkan. Maka dari itu papa kemudian mengambil program untuk menjadikan laut Jakarta kembali menjadi indah dan bisa dihuni oleh biota laut lagi. Program pelestarian terumbu karang, pelestarian ikan-ikan, menjaga air laut agar tidak terjadi abrasi sehingga ekosistem akan kembali lagi asri. Permasalahannya adalah untuk melakukan hal itu tidaklah mudah. Papa perlu orang-orang yang memang faham tentang permasalahan ini. Maka dari itulah salah satu pengembang yang telah membuat reklamasi di Belanda, Itali dan Singapura papa tarik. Dia adalah Setiawan Prambudi. “Setiawan Prambudi telah menghasilkan mega proyek yang sudah bisa dinikmati oleh negara-negara itu. Dia bisa mengembalikan ekosistem yang ada di Teluk Jakarta. Dari track record-nya tentu saja papa tahu kemampuannya. Maka dari itulah mega proyek ini harus bisa diselesaikan agar semua orang bisa merasakan manfaatnya. Tapi untuk bisa melaksanakan mega proyek ini papa perlu memberikan beberapa hal yang diminta oleh Setiawan Prambudi,” jelas Ronald. “Salah satunya aku?” tanya Windi. “Tunggu dulu. Sebenarnya juga tidak seperti itu,” jawab Ronald. “Lalu apa maksud papa?” tanya Windi. “Setiawan Prambudi menginginkan dia bisa masuk ke dalam infrastruktur pemerintah. Dia ingin bisa membeli beberapa saham BUMN. Dan untuk bisa ke sana satu-satunya yang bisa melakukannya adalah papa. Jadi papa yang akan memberikan dia akses untuk ke sana setelah itu dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, mega proyek ini bisa selesai dan tentu saja kita bisa hidup bahagia selamanya. Lalu untuk persoalan kamu. Sebenarnya secara tidak kau sadari selama ini kau menjadi pusat perhatian orang-orang. Elektibitas papa naik karena kamu. Kamu sebagai putri seorang gubernur telah menyentuh hati orang-orang. Kau sangat mencintai mamamu, maka dari itulah orang-orang menjadi simpati kepada papa ketika mengajakmu turut serta bersama papa dalam berbagai kesempatan. Mereka bahkan dengan sukarela memberikan apapun yang papa mau ketika engkau bersama papa. “Kau bagaikan seorang dewi keberuntungan bagi papa. Kamu bisa lihat bagaimana Setiawan Prambudi tadi menginginkan makan malam bersamamu? Itu tidak lain adalah mamamu dulu adalah sahabat dari istri beliau. Maka dari itu, ketika dia melihatmu bersama papa malam ini membuat ia bernostalgia lagi tentang istrinya. Bahkan ia bergurau kalau seandainya Gagah Prambudi bisa mempersunting dirimu,” jelas Ronald. “Pa, ini gila! Papa secara tidak langsung telah menjodohkan aku dengannya!” ucap Windi dengan suara meninggi. “Hei, jangan salah faham. Papa sama sekali tak bermaksud mengarahkannya ke sana,” kilah Ronald. “Tapi itu tadi apa kalau tidak? Papa benar-benar sudah gila kekuasaan. Sampai hati papa mau mengorbankan putrinya sendiri,” ucap Windi. “Asal tahu saja pa. Gagah Prambudi itu pemuda busuk, playboy dan kelakuannya sangat buruk.” “Papa tahu itu,” ujar Ronald. “Lalu kenapa papa sampai hati melakukan hal itu?” tanya Windi. “Windi tidak terima. Asal tahu saja ya pa. Kalau sampai papa menjodohkanku dengan si b******k itu maka aku akan membunuhnya dengan tanganku.” “Windi, kau gila?” “Iya. Papa sudah dibutakan oleh kekuasaan sampai mau menjual putrinya demi sebuah kekuasaan. Gila mana dengan itu pa?” “Windi, kau berpikir terlalu jauh. Papa sama sekali tidak berpikir seperti itu. Kau itu kesayangan papa dan papa akan melakukan apapun demi kamu!” “Kalau begitu jangan pernah sekali lagi papa menemui si b******k itu. Kalau papa memaksaku maka aku akan pergi!” ancam Windi. “Jangan harap Windi sudi lagi menuruti keinginan papa.” “Baik, baik!” ujar Ronald sambil mengangkat tangannya. “Kau menang. Papa tak akan mengajakmu menemui orang itu lagi.” Windi menghela napasnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalau papa ambisius seperti ini papa bisa menghancurkan orang-orang terdekat papa.” Ronald tidak membantah Windi. Dia terdiam sambil menatap lurus ke depan. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Suasana di dalam mobil serasa panas. Windi mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia tahu ia sangat keterlaluan bersuara tinggi di hadapan papanya. Tapi hal itu wajar dilakukan karena apa yang dilakukan papanya sangatlah keterlaluan. Biasanya kalau saat-saat seperti ini, Windi selalu memeluk mamanya dan memang mamanya bisa menenangkan dirinya. Tapi sekarang tidak ada lagi. Bagaimana pun juga Windi rindu sekali dengan belaian mamanya. Rambutnya biasanya diusap-usap wanita yang sangat penyabar itu. “Papa tak pernah lagi menjenguk mama,” celetuk Windi tiba-tiba. Ronald menghirup napas dalam-dalam. Dia menyadari perkataan putrinya itu membuat ia teringat dengan istrinya yang sudah pergi beberapa waktu yang lalu. “Iya, papa sudah lama tidak ke sana,” ujar Ronald. “Besok papa akan menjenguknya.” Windi terdiam. Dia benar-benar merindukan mamanya sekarang ini. Genta melirik ke kaca spion untuk melihat ekspresi ayah dan anak yang duduk di kursi belakang. Keduanya membisu. Ternyata pembahasan seorang wanita bisa membuat wajah keduanya menjadi berduka. Windi dan papanya sangat kehilangan seorang wanita dan itu adalah Tanti Nugraha. Genta sangat tahu bagaimana almarhumah majikannya itu dulu memperlakukannya dengan sangat baik. Windi juga menurun sifat Tanti dulu, tapi semenjak Tanti pergi sifatnya berubah. Ronald sangat kehilangan istrinya. Rasa berdukanya sebenarnya belum hilang. Walaupun ada tawaran untuk menikah lagi, tapi dia masih tak bisa menyingkirkan bayangan istrinya dari benaknya. Windi sekarang ini ibarat sebuah etalase yang dipanjang di depan toko. Dia adalah barang dagang politik papanya. Tanpa dirinya papanya hanyalah seorang biasa yang tidak akan dianggap oleh banyak orang. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN