7 | Ikatan yang Sama

4638 Kata
“Hari ini kita ada ulangan. Harap semua buku dimasukkan ke tas dan tak ada yang mencontek!” ucap Bu Sulis yang tiba-tiba ketika masuk ke dalam kelas. Bu Sulis adalah guru matematika. Semua murid langsung memasukkan buku-buku mereka ke dalam tas. Sebagian lagi yang sibuk ngobrol dengan temannya langsung kembali ke bangkunya. Sebagian lagi dengan malas menggeliat. “Yaaahh,” murid-murid mengeluh panjang. Samudra langsung mengangkat tangannya. “Ini nggak ada soal uraian kan bu?” tanya Samudra. “Ada dong. Ini kan hanya nulis angka tak ada nulis macam mengarang indah pelajaran bahasa Indonesia. Jadi kamu tak perlu khawatir,” jawab Bu Sulis. Kacamatanya yang sedikit turun dinaikkan. Samudra hanya bisa menelan ludah. Guru itu lalu membagikan lembaran-lembaran soal. Satu persatu dibagikan secara estafet dari depan ke belakang hingga semuanya pun kebagian. Samudra melihat ke pertanyaan-pertanyaan yang ada di lembaran soal itu. Galuh memperhatikan guru matematika yang sekarang sedang mengawasi seluruh murid yang sedang sibuk memeriksa soal-soal yang ada di lembaran sambil membagikan lembar jawaban yang sudah disediakan oleh guru tersebut. Gadis itu kemudian memperhatikan soalnya juga. Sepertinya susah, batinnya. “Sampai jam istirahat yah, mulai dari sekarang!” ucap Bu Sulis. Segera saja seluruh murid langsung mengambil pensil dan penghapus mereka. Semuanya membaca satu per satu nomor yang ada di lembaran soal. Samudra sedang terdiam. Dia belum mengambil pensilnya hanya membaca soalnya satu per satu. Budi melirik Samudra. Melihat Samudra belum mengambil pensilnya ia berpikir mungkin anak itu belum belajar. Lagipula ulangan dadakan seperti ini biasa digelar oleh Bu Sulis. Satu per satu soal dibaca oleh Samudra hingga ke lembar soal di belakangnya. Dia mengangguk-angguk. Budi sempat berpikir kalau Samudra ini memang tidak belajar sehingga agak kesusahan mengerjakan soal tersebut, ternyata tidak juga. Samudra mengambil pensilnya dan mulai mengerjakan. Galuh mengerjakan soal dengan teliti. Dia membaca kalimat per kalimat lalu menulis jawabannya pada lembar jawaban. Satu selesai, lalu berikutnya. Dia juga menghitung, memasangkan rumus, lalu akhirnya menuliskan jawaban. Dia sesaat melirik ke bangku tempat Windi berada. Windi juga tampaknya serius membaca lembaran soal. Dia tak ada kesulitan dalam mengerjakannya. Galuh berpikir bahwa Windi pasti bisa, sebab soal-soal yang sedang dikerjakannya sekarang ini sudah pernah dibahas oleh Pak Daniel dulu ketika mereka sedang belajar bersama. Bu Sulis berjalan mengitari kelas. Galuh mencoba melirik ke belakang tempat di mana Samudra duduk. Samudra juga sepertinya tak menyiratkan kesulitan mengerjakan soal. Pemuda ini.... tersenyum! What? Kenapa tersenyum? Apakah soalnya mudah sampai dia tersenyum? Galuh heran. Ulangan hari itu berlangsung dengan tertib, meskipun ada beberapa murid yang mencontek dan tidak ketahuan. Mereka saling melempar jawaban. Orang yang paling sering ditanyai adalah kelompok orang-orang aneh. Biarpun semua orang tahu bahwa Windi juga termasuk anak yang cerdas dan pintar bukan berarti ia mau juga memberikan jawabannya kepada teman-temannya yang lain. Mereka tidak berani bertanya kepadanya. Ini sudah menjadi suratan takdir yang terjadi di dalam lingkaran kosmos. Serat-serat nebula yang berserakan di ruang galaksi telah menyiratkan bagaimana ketiga manusia yang ada di dalam kelas tersebut menuliskan cara yang sama dalam mengerjakan soal. Samudra, Galuh dan Windi mengerjakan soal-soal uraian dan mereka menggunakan cara yang sama. Cara khusus yang hanya diajarkan oleh seorang guru yang sampai sekarang dicari-cari oleh Windi. Kenapa dan bagaimana ketiga remaja ini menggunakan cara yang sama? Pertama karena Samudra tak tahu cara lain cara mengerjakan soal tersebut sebab dia baru saja pindah sekolah. Kedua karena Galuh dan Windi dulu pernah dekat dengan guru yang sama. Mereka pernah belajar bersama. Namun seiring perjalanan waktu sebuah peristiwa telah memisahkan mereka. Bel istirahat pun berbunyi. Samudra menutup penanya lalu menumpuk jawaban dan lembar soalnya. “Waktu selesai. Semuanya harap dikumpulkan. Yang tidak mengumpulkan akan saya tinggal!” ucap Bu Sulis. Seketika itu pula murid-murid berebut untuk mengumpulkannya di meja guru. Samudra kemudian beranjak dari bangkunya untuk berjalan ke meja guru, diikuti oleh Galuh dan teman-temannya yang lain. Windi sempat berpapasan dengan Galuh. Namun keduanya kemudian berlalu begitu saja. Samudra kemudian duduk kembali ke bangkunya. Maksud hati ia ingin mengambil dompet yang ada di tasnya. Tiba-tiba ia menepuk jidatnya sendiri. “Oh iya, aku lupa bawa dompet!” gerutu Samudra. Samudra menoleh ke sana-kemari. Pandangannya pun tertuju kepada Windi. Boleh nggak sih uang pertanggung jawabannya dialihkan ke traktiran? Toh Windi juga yang bersalah kan? Ini bukan memeras kan? Ah, ini pemerasan namanya. Tapi apa boleh buat? “Sam, kamu nggak istirahat?” tanya Galuh sambil menenteng bekalnya. “Oh, iya. Silakan saja duluan!” ucap Samudra. Bu Sulis sudah menumpuk semua lembar soal dan jawaban. Kemudian ia pun berdiri dari tempat duduknya. “Terima kasih anak-anak. Sampai besok dan Selamat siang!” ucapnya sebelum meninggalkan kelas. “Siang bu!” sahut seluruh murid. Setelah guru matematika itu pergi murid-murid mengeluh. Jimmy tampak menggaruk-garuk rambutnya bahkan mengacak-acaknya. Dia tampaknya yang paling frustasi mengerjakan soal ulangan tadi. “Buset dah. Padahal soal uraian tadi pernah diajarkan cara penyelesaiannya oleh Pak Daniel,” gerutu Jimmy. “Beliau paling enak kalau ngajarin matematika. Kalau Bu Sulis mah, malah bikin stress. Lupa aku caranya, mana nggak nyatet pula.” “Eh iya, kau benar!” sahut anak yang lain. Windi dan teman-temannya tampak sedang ngerumpi juga. Mereka tampaknya sedang bersepakat untuk pergi ke kantin. Saat itulah Samudra langsung mendekati Windi. “Hei Win!?” sapanya. Seketika itu Hesti, Rona, Lia dan Ratri cukup terkejut ketika Samudra menyapa bos mereka. Samudra nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya. Windi menoleh ke arahnya. Tiba-tiba di kepalanya terlintas lagi bagaimana kejadian memalukan di kamar mandi dulu. Kenapa setiap melihat Samudra yang terlintas di benaknya adalah hal itu? Memalukan. “Aku boleh minta ditraktir?” tanya Samudra. Windi menatap Samudra dengan pandangan tidak suka. Hesti, Ratri, Rona dan Lia menutup mulut mereka. Meminta ditraktir oleh Windi adalah salah satu bentuk penghinaan yang mana teman-teman satu kelas mereka tak ada yang berani meminta hal tersebut apalagi Samudra adalah seorang cowok. Satu-satunya yang berani meminta ditraktir itu cuma gerombolan geng mereka. Jimmy saja yang terus berusaha mendekati Windi tidak pernah berhasil meskipun dengan rayuan macam apapun. Samudra memijat-mijat pergelangan tangan kanannya yang sakit. Windi merasa Samudra sedang memberikan kode. Kode ancaman. Pemerasan! Windi mengernyit sambil bergumam, “b******k!” “Hah? Apa?” tanya Samudra. “Oh, nggak apa-apa. Kamu mau ke kantin? Bareng kita sekalian,” jawab Windi dengan manis. Sekali lagi Hesti, Ratri, Rona dan Lia terkejut. Kenapa perlakuan Windi sangat manis kepada Samudra? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan mereka? Jangan-jangan? Berbagai pertanyaan timbul di benak mereka sekarang. Sebentar lagi pasti bisa jadi bahan gosip. “Jangan salah sangka. Aku ketinggalan dompetku, kalau kau tak mau juga tak apa-apa. Aku mengerti kok,” ucap Samudra. “Oh tidak apa-apa. Aku akan traktir kamu makan siang di kantin,” ucap Windi. “Yakin?” tanya Samudra. “Iya, tak apa-apa,” jawab Windi sambil tersenyum. Samudra merasa tak enak. Tapi apa boleh buat. “Besok aku ganti kalau begitu.” “Tak usah, tak perlu. Ayo!” ajak Windi. * * * Jadi beginilah yang terjadi. Dalam sejarah telah tercatat satu-satunya cowok yang minta ditraktir oleh Windi hanya Samudra. Satu-satunya orang yang dengan hangat disambut oleh Windi hanya Samudra. Bagaimana juga hubungan mereka bisa sedekat itu? Sangat tidak masuk akal. Hesti, Ratri, Rona dan Lia termangu menatap Samudra yang sedang makan nasi rawon dengan minumannya es teh. Windi juga ikut makan bersama Samudra. Kedua orang ini menempati meja sendiri dengan teman-teman geng Windi ada di meja yang lain. “Perasaan gue nggak enak deh. Windi kok bisa deket gitu ama Samudra?” tanya Hesti. “Iya nih. Kok bisa? Apa jangan-jangan mereka udah jadian?” tanya Ratri. “Wah, kalau jadian kok nggak ngomong-ngomong?” tanya Rona. “Ampun. Apa Windi sedang tebar pesona ke Samudra ya? Emangnya siapa yang nembak duluan kalau kalian lihat?” lanjut Lia. “Wah, benar juga. Windi sering ditembak ama cowok-cowok tapi semuanya mental. Nggak ada satu pun yang diterima. Kalau dilihat-lihat Samudra tak pernah ada gelagat menembak si Windi. Jangan-jangan....” Hesti berhipotesa sekarang. “Windi yang mulai duluan!” ucap mereka berempat secara serempak. Mereka lalu manggut-manggut. Tepat sudah apa tebakan mereka. Windi sedang mencoba mendekati Samudra. Itu kesimpulan dari hipotesa geng sosialita sekarang ini. Sebenarnya tak hanya mereka yang heran melihat Windi bisa duduk satu meja dengan Samudra, tapi juga murid-murid lain yang melihat dua orang lain jenis itu makan bersama dalam satu meja. “Makasih makanannya,” ucap Samudra. “Besok aku akan balikin deh uangnya.” “Bukan masalah uang. Tak masalah. Lagipula aku punya salah kepadamu kemarin, jadi sudah sepantasnya aku berbuat baik. Asal... kamu nggak memanfaatkan keadaan saja,” ucap Windi. “Terus terang, aku tak berani melakukannya,” ujar Samudra. “Aku bukan orang seperti itu.” “Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Windi. “Yah, sebagaimana yang sudah kamu ketahui,” jawab Samudra sambil mengangkat tangan kanannya. “Semoga lekas sembuh,” harap Windi. “Makasih,” ujar Samudra. Dia lalu melihat ke sekeliling. Ada yang aneh menurutnya. Semuanya terasa janggal bagi Samudra karena semua orang memperhatikan dirinya yang sedang duduk bersama Windi. Kenapa bisa seperti itu? Dia jadi tidak enak sendiri ketika semua orang memperhatikannya, berikut juga para geng sosialita yang duduk di meja yang lain. Windi selesai makan. Dia lalu memperhatikan Samudra. “Kenapa?” “Kau tak perhatikan kalau semua orang sedang memperhatikan kau dan aku?” tanya Samudra. Windi menoleh ke orang-orang yang dimaksud. Segera mereka membuang muka pura-pura tidak melihat dirinya dan Samudra. Windi menghela napas. “Yah, maklum saja selebritis.” Samudra nyengir dengan tertawa datar. Dia lupa kalau Windi adalah seorang selebritis jadi makan bersama di kantin bisa jadi adalah hal yang perlu diperhatikan. Sebab seorang selebritis makan dengan siapa saja bisa menjadi gosip hangat. “Menurutmu apa yang bakal terjadi ketika orang-orang melihat aku dan kamu duduk berdua seperti ini padahal aku tidak pernah diketahui dekat dengan siapapun?” tanya Windi. “Hmm... bakal jadi gosip nih,” ucap Samudra. “Nah, kamu tahu gitu,” kata Windi. “Maksudnya?” “Maksudnya, kamu kan tidak suka kalau terlibat dalam urusan-urusan yang bisa menghambat sekolah bukan? Contohnya dengan aku duduk berdua denganku begini bisa timbul gosip yang tidak-tidak. Apa yang terjadi apabila dengan cepat berita ini menyebar keluar? Ingat aku adalah seorang selebritis dan kamu cuma keluarga seorang polisi biasa. Tentunya kamu akan dikejar-kejar wartawan dengan pertanyaan serupa. Punya hubungan apa dengan diriku?” Samudra mengangguk-angguk. “Oh, jadi di sini maksudnya kamu ingin memberikan ultimatum agar tidak macam-macam ke kamu? Begitu ya?” “Iya. Kamu tentunya tak ingin bukan hal itu sampai tersebar dan membuat reputasi keluargamu buruk. Terlebih bagaimana kalau wartawan mengetahui kenapa kamu sampai keluar dari sekolahmu yang lama?” lanjut Windi. Samudra nyengir. “Baiklah apa yang kamu inginkan?” “Katakan kepadaku di mana Pak Daniel berada, agar aku bisa membersihkan nama baikmu sebelum semuanya terlambat!” ancam Windi. Samudra terdiam. Dia menundukkan wajahnya. Rasanya susah kali ini ia ingin berkelit. Windi punya banyak jurus yang akan memaksa dia memberitahukan di mana persembunyian Pak Daniel berada. Tapi bukan Samudra namanya kalau tidak punya akal. Dia berpikir sejenak sementara Windi tersenyum penuh kemenangan. Windi berpikir setidaknya ia punya kartu truf agar Samudra tak macam-macam dengannya. “Baiklah. Sebenarnya pula siapa yang takut dengan gosip seperti itu,” kata Samudra sambil nyengir. “Tapi aku salut Win dengan usahamu. Baiklah, aku nyerah.” Windi tersenyum puas. Akhirnya ia bisa mengetahui sekarang dimana keberadaan Pak Daniel. “Jadi di mana Pak Daniel?” tanya Windi. Samudra mengangkat bahunya. “Aku tak tahu. Suwer!” Samudra mengangkat dua jarinya. Windi memutar kedua bola matanya. “Kau ini..!!!” Windi gemas sekali mengacak-acak rambut Samudra yang ada di depannya. Samudra tertawa melihat ekspresi Windi. “Suwer Win, aku tak tahu. Kalau aku tahu aku akan katakan yang sebenarnya kepadamu. Kemarin itu cuma kebetulan saja aku dan orang itu berada di sana. Sekali lagi aku tak tahu.” Windi menghela napas. “Kalau begitu, biarkan saja gosip menyebar kau dekat denganku.” “OK, aku akan menerimanya. Lagipula siapa yang tidak suka digosipkan dekat denganmu?” tanya Samudra yang artinya dia menantang Windi untuk menyebarkan gosip itu. Windi menggebrak meja sambil meletakkan satu lembar uang lima puluh ribu rupiah. Dia kemudian beranjak pergi dengan perasaan mendongkol. Dia masih belum bisa mengetahui di mana tempat Pak Daniel berada. Samudra juga tidak berkata jujur kepadanya. Ada apa sebenarnya? Kenapa tidak ada orang yang bisa membantunya untuk mengetahui keberadaan Pak Daniel? Samudra ikut menghela napas. Dia tak tahu kapan bisa bertahan lagi menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Dia kemudian berdiri sambil menyambar uang yang Windi tinggalkan untuk dibayarkan kepada kasir. Selama berjalan menuju ke kelas, Samudra selalu diperhatikan oleh murid-murid yang melewatinya. Dia tak pernah peduli dengan hal itu. Baginya gosip seperti itu lebih membuat Windi yang lebih rugi daripada Samudra. Saat Samudra berjalan menuju kembali ke kelas dia mengamati bagian dari sekolah yang tidak asing baginya. Bagian itu adalah sanggar-sanggar tempat ekstrakurikuler-ekstrakurikuler yang ada di sekolah ini berada. Dari mulai pramuka, beladiri, tari, group musik, pecinta alam dan lain sebagainya. Dia berbelok untuk melihat sebentar sanggar-sanggar tersebut yang mana sekarang ini banyak yang sedang berkunjung ke tempat tersebut. Biasanya murid-murid yang berhubungan langsung dengan ekstrakurikuler tersebut yang berada di sini. Tampak tulisan-tulisan pengumuman menerima anggota baru ekstrakurikuler terpampang di pintu-pintu. Samudra bingung sekarang ia harus memilih ikut yang mana. Dia memang mengikuti ekstrakurikuler beladiri di sekolah sebelumnya yaitu pencak silat. Bahkan dengan ekstrakurikuler itu dia sampai ikut kejuaran nasional pencak silat hingga mendapatkan medali emas. Apakah ia harus ikut juga di sekolah ini? “SAM!?” panggil seseorang yang suaranya sangat dikenal oleh Samudra. Jimmy. “Woy!” sahut Samudra. Jimmy langsung buru-buru merangkul leher Samudra. “Gimana bro? Mau ikut klub karate? Oh, karena dasar kamu pencak silat kamu bisa ikut klub silat. Kami berbagi sanggar kok bro. Terkadang anak-anak karate ikut anak-anak pencak silat dan sebaliknya. Bahkan kalau ada kejuaraan kami juga berbagi tempat untuk ikut. Kalau lo nggak keberatan ikut saja. Lo ini kan orangnya cukup berbakat, sia-sia sekali kalau harus mengikuti ekstrakurikuler KIR atau yang lain. Ikut aja ke kami, bakal terpendam lo bisa membuat nama sekolah ini harum.” “Siapa dia, Jim?” tanya salah seorang yang saat itu melintas di sanggar beladiri. “Ini Samudra yang aku maksud tadi. Dia ini pemenang kejuaraan pencak silat nasional. Dia memenangkan PON kemarin dan menyabet medali emas. Hebat bukan?” cerita Jimmy. “Wow! Benarkah? Hebat-hebat! Ikut kami aja, lo belum ikut ekstrakurikuler bukan?” tanya siswa tersebut. “Nama gue Hendri. Gue ketua klub pencak silat Taring Harimau di sini. Ikut saja ya?!” “Oh, Taring Harimau? Sabuk apa? tingkat berapa?” tanya Samudra yang terkejut dengan pernyataan Hendri. “Sabuk hijau tingkat empat,” jawab Hendri. “Oh, luar biasa. Aku baru kali ini bertemu langsung dengan orang sabuk hijau tingkat empat,” ujar Samudra. “Memangnya lo sabuk apa tingkat berapa?” tanya Hendri. “Terakhir aku berguru kepada Tuan Datuk Syah Hasan berada di sabuk merah tingkat tujuh,” jawab Samudra. “T-tuan Datuk Syah Hasan?” Hendri tampaknya terkejut. Matanya berbinar-binar. “Berguru langsung kepada beliau?” “Iya,” jawab Samudra. Tiba-tiba Hendri membungkuk memberi hormat. Jimmy sampai terkejut melihat sikap Hendri. Kalau Samudra dihormati seperti itu artinya orang yang sekarang ini dirangkulnya bukan orang biasa. Jimmy melepaskan rangkulannya kemudian nyengir. Sekarang ini suasanya sedikit tidak enak kalau ia berbuat yang aneh-aneh kepada Samudra. “Sudahlah, tak perlu formal begitu. Di sini aku orang biasa. Kita sama-sama belajar,” ucap Samudra sambil menepuk bahu Hendri. “Sabuk merah itu maksudnya bagaimana?” tanya Jimmy. “Tingkatannya bagaimana sih?” “Di pencak silat Taring Harimau ada 5 sabuk. Yaitu sabuk putih, sabuk kuning, sabuk hijau, sabuk biru dan sabuk merah. Dan setelah lebih dari itu ada tingkatan jubah. Orang yang sudah memakai jubah ia disebut sebagai Tuan Datuk dalam perguruan kami. Dan Tuan Datuk itu orangnya cuma sedikit dan mendapatkan langsung secara turun-temurun ilmu dari guru sebelumnya. Orang yang bisa sampai ke sabuk merah cuma sedikit di Indonesia ini. Apalagi sampai tingkat tujuh,” jelas Hendri. “Wah, berarti lo ini termasuk orang langka dong?” ujar Jimmy kepada Samudra. “Setara sabuk coklat kalau di karate! Kereeeen!” “Baiklah, aku ikut ekstrakurikuler pencak silat. Tapi tak menutup kemungkinan aku ikut yang lainnya bukan?” kata Samudra. “Iya, tak apa-apa. Tak ada larangan untuk itu,” ujar Hendri. “Baiklah. Dimana aku harus mendaftar?” tanya Samudra. Jimmy kemudian berseru, “YESS!!” * * * Kepingan-kepingan takdir kini mulai bertemu. Gumpalan-gumpalan kabut nebula mulai tersibak oleh kepingan-kepingan kosmik yang berterbangan di antariksa. Sementara itu lapisan lempengan bumi di Eurasia sedang bergerak sedikit demi sedikit. Getaran-getaran kecil gempa terjadi, hanya hewan-hwan tertentu saja yang bisa merasakan getarannya. Sang Surya tak pernah lelah menyinari bumi, memberikan racun yang disebut cahaya ultraviolet tanpa henti. Sinar itu pun kemudian terkurung di dalam atmosfir bumi dan tak bisa kembali lagi ke luar angkasa. Diserap oleh makhluk hidup. Sebagian digunakan untuk mengolah makanan, sebagian lainnya digunakan untuk proses pembakaran zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh. Efek rumah kaca pun turut membantu perputaran siklus panas bumi yang sekarang mulai membara. Gesekan-gesekan angin menyetir air laut untuk membentuk deburan-deburan ombak yang menyapu pantai. Ketika benang-benang takdir tersebut mulai mengikat satu demi satu pada lembaran-lembaran soal yang ada di meja guru matematika itu, seolah-olah memang menggambarkan bahwa tak ada hal yang bisa mencegah mereka untuk bertemu. Lembaran-lembaran jawaban ulangan dadakan tadi dikoreksi oleh Bu Sulis sang guru matematika. Beberapa lembar jawaban yang telah dikoreksi ditumpuk. Guru ini dengan mudah mengoreksi hasil ulangan murid-murid. Mencontreng yang salah, memparaf yang benar. Nilai ulangan dadakan ini cukup memuaskan. Tak ada yang mendapatkan nilai di bawah 60. Bahkan ada yang mempunyai nilai sempurna 100. Bu Sulis sudah bisa menebak siapa yang mendapatkan nilai 100 tersebut. “Wah, ada yang dapat 100 ulangannya yah?” celetuk Bu Anri yang melirik apa yang dikerjakan Bu Sulis. “Ya begitulah. Murid-murid di kelas Bu Anri memang pintar-pintar,” jawab Bu Sulis. “Pasti itu si Galuh kalau bukan Si Windi. Mereka memang anak-anak yang pintar,” ujar Bu Anri. “Keduanya akrab kalau nggak salah, tapi nggak tahu akhir-akhir ini jarang kulihat mereka bersama lagi. Apa ada masalah ya di antara keduanya?” “Hmm, keduanya tidak duduk bersebelahan tapi cara mengerjakannya sama,” ujar Bu Sulis. “Lihat saja deh!” Guru matematika itu mengulurkan dua lembar jawaban. Bu Anri mengangguk-angguk paham. Dua lembar jawaban uraian dikerjakan dengan cara yang sama persis. “Yah, nggak heran sih. Keduanya dulu sempat dekat dengan Pak Daniel. Beliau kan dulu cukup populer di sekolah ini,” ujar Bu Anri. “Trus kedua murid itu kan memang dekat dengan beliau.” “Benar juga. Tapi kemana ya beliau sekarang?” Bu Sulis bertanya-tanya. “Entahlah, tiba-tiba menghilang begitu saja. Memang aneh.” Bu Anri kemudian memelankan suaranya dengan berbisik-bisik. “Desas-desusnya sih karena dekat dengan putri gubernur itu makanya dia seperti dihilangkan. Orang-orang yang dekat dengan dia sih katanya dibungkam gitu.” “Dibungkam? Kenapa sampai dibungkam?” tanya Bu Sulis dengan berbisik. “Nah, itu dia bu. Tidak ada yang tahu. Kepala sekolah saja sampai bingung,” bisik Bu Anri. Bu Sulis menghela napas. Memang di dunia ini banyak peristiwa aneh. Termasuk dengan menghilangnya Pak Daniel. Kenapa guru itu sampai menghilang dan semua orang tidak ada yang mengetahui kemana gerangan dia pergi? Lalu kenapa orang-orang sekarang bungkam terhadap Pak Daniel? Bu Sulis kemudian mengoreksi milik seorang siswa. Dia cukup takjub dengan hasil pengerjaan dari siswa tersebut. Hingga akhirnya sampai kepada bab uraian. Matanya sedikit menyipit, mencoba menelaah apa yang sedang terjadi. Dia bisa saja menganggap lembar jawaban yang ada di depannya ini merupakan salah satu lembar jawaban yang sempurna. Nilainya 100. Hanya saja bukan itu yang membuat dia tertarik. Guru matematika ini tertarik dengan cara pengerjaannya. Seratus persen sama seperti yang dilakukan oleh Galuh dan Windi. Kalau Galuh dan Windi jarak bangku mereka dipisahkan oleh dua bangku. Jadi tak mungkin untuk saling mencontek. Sedangkan Galuh dan Samudra, duduk mereka depan dan belakang. Tak ada sekat. Bisa jadi Samudra mencontek Galuh. Aneh. “Bu, apa tidak aneh nih?” tanya Bu Sulis. “Apa bu?” tanya Bu Anri. “Lihat deh! Anak ini murid baru bukan?” tanya Bu Sulis. Bu Anri melihat nama di lembar  jawaban tersebut. Di sana tertera nama Teuku Samudra. “Iya, anak baru. Kenapa? Wow! Nilainya sempurna! Luar biasa ternyata anak itu.” “Tapi kenapa dia mencontek ya?” “Mencontek? Maksud ibu?” “Lihat nih!” Bu Sulis menunjuk hasil jawaban Samudra. Semua cara yang dikerjakan oleh Samudra persis sama dengan cara yang dilakukan oleh Galuh dan Windi. “Ini bukan kebetulan bukan?” “Mungkin kebetulan, bu.” Bu Anri mencoba berprasangka baik. “Tidak begitu juga, jeng. Coba perhatikan dengan seksama!” tunjuk Bu Sulis ke jawaban di bab uraian. “Mereka benar-benar sama persis! Sebenarnya ada banyak cara untuk mengerjakan soal uraian ini. Tapi, kalau melihat jawaban yang sama seperti ini. Sangat tidak wajar. Apa mungkin mereka bertiga diajari oleh orang yang sama?” “Itu tidak mungkin. Samudra murid baru. Dia tak mungkin kenal dengan Pak Daniel,” jawab Bu Anri. “Tapi apa mungkin ya ada orang yang cara mengerjakannya sama persis seperti ini?” tanya Bu Sulis. “Apa perlu konfirmasi?” “Iya, sepertinya begitu. Kita tanyakan langsung saja kepada mereka.” “Tapi tak perlu memanggil mereka bertiga bukan?” ucap Bu Anri memastikan. “Tidak, mungkin hanya Galuh dan Samudra saja,” jawab Bu Sulis. Bu Anri kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ruang guru tempat dia bekerja sangat besar dengan berbagai sekat yang disediakan untuk meja-meja para guru. Di ujung ruang guru ada ruang kepala sekolah. Ruangan kepala sekolah ada sebuah mic yang  terhubung dengan pengeras suara yang terletak di seluruh penjuru sekolahan. Kalau ada keperluan mendesak biasanya kepala sekolah memberikan pengumuman lewat pengeras suara itu. Bu Anri kemudian mengetuk pintu ruang kepala sekolah. “Masuk!” sahut kepala sekolah dari dalam ruangannya. Bu Anri segera masuk ke dalam. Di dalam ruang kepala sekolah tampak kepala sekolah sedang duduk sambil membaca beberapa laporan yang ada di mejanya. Kepala sekolah SMU Darmawangsa merupakan seorang pria paruh baya yang bersahaja. Melihat salah satu gurunya datang ia langsung menyambutnya. “Ada yang bisa dibantu Bu Anri?” tanya kepala sekolah. “Boleh saya pinjam sebentar mic-nya pak?” tanya Bu Anri mengajukan izin. “Ingin mengumumkan sesuatu bu?” tanya kepala sekolah. “Tidak, saya ingin memanggil murid-murid saya,” jawab Bu Anri. “Oh, silakan kalau begitu,” ucap kepala sekolah sambil menunjuk ke sebuah pengeras suara yang berada di dinding. Pengeras suara itu menempel dengan handle-nya di tembok. Segera saja Bu Anri menekan tombol saklar yang ada di sebelahnya. Lampu pun menyala. Seluruh pengeras suara yang berada di sudut-sudut ruangan di seluruh penjuru sekolah langsung mendenging. Murid-murid melirik ke arah pengeras suara di tiap-tiap tempat. Bu Anri kemudian segera mengumumkan sesuatu. “Pengumuman! Panggilan kepada Teuku Samudra, Galuh Savitri Devi Kelas XI-3 segera ke ruang guru sekarang. Sekali lagi, panggilan kepada Teuku Samudra, Galuh Savitri Devi Kelas XI-3 segera ke ruang guru sekarang!” ucap Bu Anri di mic. Samudra yang sedang berada di sanggar ekstrakurikuler mengangkat alisnya. Dia terkejut ketika namanya dipanggil. Dia baru saja mengisi formulir pendaftaran mengikuti ekstrakurikuler pencak silat. Mendengar suara itu Samudra segera undur diri. Galuh yang saat itu baru saja selesai makan buru-buru mengambil minum untuk segera pergi ke ruang guru. Keduanya pun bertemu di sebuah koridor. “Kenapa kita dipanggil?” tanya Galuh. “Entahlah. Mana aku tahu,” jawab Samudra. Kedua remaja ini akhirnya sampai di ruang guru tak lama kemudian. Mereka segera masuk ke ruangan yang pintunya cukup unik karena menggunakan pintu geser. Di dalam ruang guru sudah ada dua guru yang menanti mereka. Bu Anri dan Bu Sulis memberi isyarat agar segera menuju ke mejanya. Ketika pertama kali masuk ke ruang guru, Samudra juga takjub dengan kondisi ruang guru yang mirip sekali dengan suasana kantoran yang serba bersekat-sekat. Banyak kertas tempel yang melekat di sekat-sekat tersebut, ternyata para guru di tempat ini cukup profesional dalam pekerjaan mereka. Samudra dan Galuh akhirnya sekarang berada di hadapan dua guru yang mereka segani. “Iya bu, ada apa ya?” tanya Samudra. Bu Anri dan Bu Sulis saling berpandangan sebentar, kemudian Bu Sulis menunjukkan lembar jawaban Samudra dan Galuh. Keduanya sama-sama mendapatkan nilai 100. Samudra mengangkat alisnya. Dia tak menduga hasil ulangannya mendapatkan nilai yang sempurna. Lalu kenapa dia dipanggil bersama Galuh? Galuh yang melihat hasil ulangannya sama dengan Samudra sempat kaget juga. Ia tak menyangka cowok yang jalan bersamanya mendapatkan nilai yang sama-sama sempurna. “Kalian yakin tidak saling mencontek?” tanya Bu Sulis. “Saya yakin tidak,” jawab Galuh. “Saya juga yakin tidak,” jawab Samudra. “Permasalahannya adalah bukan kepada nilainya. Ibu bisa memberi kalian nilai yang bagus sesuai dengan apa yang kalian kerjakan. Tapi ada satu hal yang membuat ibu merasa aneh,” ujar Bu Sulis. Samudra dengan seksama mendengarkan penjelasan guru matematika yang ada di hadapannya. Galuh berdebar-debar, ia merasa tak melakukan kesalahan sama sekali. “Kalau dalam pengerjaan soal matematika dua murid yang saling berjauhan tempat duduknya tapi punya cara menjawab yang sama dengan hasil yang sama, maka ibu percaya dia tidak saling mencontek atau memberikan jawaban. Tapi kalau yang duduknya bersebelahan atau tepat di depan atau di belakangnya, baru ibu bisa curiga kepadanya,” ucap Bu Sulis. “Jadi ibu mencurigaiku mencontek?” tanya Samudra. “Tentu saja iya, coba lihat jawaban kalian!” Bu Sulis menyerahkan lembar jawaban Samudra kepada Galuh dan sebaliknya lembar jawaban Galuh kepada Samudra. “Coba dilihat, mana yang tidak sama?” Samudra terkejut ketika melihat lembar jawaban Galuh terutama di bagian uraian. Cara yang digunakan Galuh sama seperti cara yang digunakannya. Samudra baru teringat suatu hal kalau Pak Daniel pernah mengajarinya cara seperti itu. Samudra menelan ludah. Ia seharusnya tahu hal ini bakal terjadi. Pekerjaannya dan pekerjaan Galuh sama persis. Meskipun tulisan Samudra seperti cakaran ayam karena harus menulis dengan tangan kiri tetapi cara dia mengerjakan persoalan matematika itu benar-benar sama persis dengan cara yang digunakan Galuh. “Jelaskan kepada ibu bagaimana kamu bisa sama persis mengerjakannya, Sam!?” perintah Bu Anri. “Ibu tak akan marah kalau kamu memang jujur.” “Itu kebetulan saja bu. Saya memang mengerjakan soal seperti ini dengan cara yang ada di lembar jawaban itu,” ujar Samudra. “Saya berani bersumpah bahwa saya tak mencontek.” “Jujur?” tanya Bu Anri. Pertanyaanya mulai mengintimidasi Samudra. “Saya berkata jujur,” jawab Samudra mantab. Galuh mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa Samudra memakai cara yang diajarkan oleh Pak Daniel? Galuh menoleh ke arah Samudra. “Kamu kenal Pak Daniel?” Samudra menoleh ke arah Galuh. Sekarang kenapa ada dua orang yang bertanya tentang Pak Daniel? Tapi Samudra tak menghiraukan Galuh. Dia menoleh lagi kepada wali kelas dan guru matematika yang ada di hadapannya. “Saya bisa buktikan saya tidak mencontek. Silakan ibu beri saya soal yang baru. Saya akan kerjakan soal itu sekarang,” tantang Samudra. “Baiklah. Duduk di situ!” Bu Sulis menunjuk ke sebuah kursi dan meja yang kosong. Samudra kemudian duduk di kursi tersebut. Bu Sulis lalu mengambil selembar kertas HVS kosong, kemudian menulis di atasnya. Dia memberikan soal kepada Samudra. Setelah menuliskan soal tersebut dia memberikannya kepada Samudra. Samudra segera menerima kertas tersebut dengan tangan kirinya. Samudra kemudian mulai menulis jawaban pada lembaran kertas putih itu. Galuh dengan seksama melihat bagaimana cara Samudra mengerjakan soal itu. Dia kemudian yakin seyakin-yakinnya itu cara yang diajarkan oleh Pak Daniel kepadanya. “Bagaimana dia bisa mengetahui cara itu?” tanya Galuh dalam hati. “Ini tak masuk akal!” Satu menit berlalu dan Samudra selesai mengerjakan soalnya. Cepat sekali bagi hitungan Bu Sulis. Bahkan Galuh tak berkedip ketika Samudra mengerjakan soal itu dengan cepat. Bu Sulis menerima kertas yang diberikan Samudra untuknya. Dengan seksama guru itu membaca jawaban dari Samudra. Langkah-langkahnya memang tidak biasa. Bagaimana pun juga dengan begitu sudah terbukti Samudra tidak mencontek. Cara yang digunakan mirip dengan yang ada di lembar jawabannya, jawabannya juga benar. “Baiklah, ibu percaya sekarang,” ucap Bu Sulis. Bu Anri menghela napas lega. Ternyata anak didiknya ini tidak mencontek dan lebih melegakan lagi Samudra juga anak yang pintar. “Selamat bu, ternyata ibu punya anak pintar yang baru. Jadi di kelas XI-3 ada tiga anak pintar sekarang ini,” puji Bu Sulis. “Boleh kami permisi kalau begitu?” tanya Samudra. “Iya, silakan!” ucap Bu Anri. Samudra dan Galuh menyerahkan kembali lembar jawaban ulangannya kepada Bu Sulis. Kemudian mereka berdua pergi meninggalkan ruang guru. Hati Galuh tampak berkecamuk. Dia kini terbayang semua kenangannya dengan Pak Daniel. Sungguh aneh ketika seorang murid baru bisa mengerjakan suatu soal matematika dengan cara yang hanya dia dan Pak Daniel yang tahu cara pengerjaannya. “Sam, tunggu!” cegah Galuh agar Samudra tak pergi jauh. Samudra tak berhenti. Ia terus berjalan. “Tunggu kataku!” panggil Galuh. Dia pun berlari-lari kecil mengejar Samudra. “Kalau kau bertanya di mana Pak Daniel, aku tak tahu,” ucapnya. “Kau kenal dengan Pak Daniel? Sebentar! Sebentar kataku!” Galuh menahan bahu Samudra agar tidak beranjak pergi. Samudra menghela napas. Dia menoleh ke arah Galuh. Mata gadis itu menatap matanya. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kau kenal Pak Daniel bukan? Apa yang terjadi kepadanya? Kenapa ia tak bisa dihubungi? Kau tahu dimana dia tinggal?” Galuh melemparinya dengan banyak pertanyaan. Samudra tersenyum. Dia kemudian menyentil dahi Galuh. “Aduh!” Galuh langsung memegangi dahinya. “Apaan sih?” “Kau belajar saja yang rajin. Masih banyak yang kita lakukan daripada kamu terus-terusan bertanya seperti itu. Jawabanku tetap sama. Aku tidak tahu,” ucap Samudra. “Ayo, kita kembali ke kelas! Sebentar lagi jam istirahat berakhir.” “Hei, tunggu! Aku belum selesai bicara!” panggil Galuh. Samudra tak menghiraukan Galuh. Dia tetap melenggang menuju kelas. Galuh benar-benar penasaran dengan hal ini. Dia harus mengorek keterangan dari Samudra. Sebab keberadaan Pak Daniel yang misteriuslah yang membuat ia merasa bersalah selama ini kepada Windi. Kalau Pak Daniel ada, maka salah fahamnya dengan Windi selama ini bisa berakhir dan Galuh bisa hidup dengan tenang. Tapi persoalan ini tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN