Waktu berlalu dengan cukup cepat mengantarkan sang mentari menuju ke langit barat. Windi punya kebiasaan aneh di sore hari. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk jogging. Hari minggu sering ia bangun terlambat. Jam 10.00 baru ia bangun. Itu saja gara-gara kakaknya tertawa keras beserta teman-temannya di ruang tamu. Windi lalu menghabiskan waktu di kamarnya sambil membalasi pesan-pesan yang masuk di group chat sosialita.
Hesti JK: Teng tereng teng! Aku nggak tega tapi alamak, si Windi jadi bahan gosip satu sekolahan sekarang.
Ratri Indah K: Iya itu di kantin jelas-jelas banget ratu es kita bisa duduk berdua begitu?
Lia: Bukannya katanya belum jadian?
Rona TY: Entah deh. Itu kan kata Windi, kalau kata gosiper sih diiyain aja. Wkwkwkwk
Hesti JK: Woi, Win. Klarifikasi nih. Beneran belum jadian? Kok kayaknya mesra gitu? :p
Ratri Indah K: Kalau sekarang sih ya masih tidur. Biasa hari minggu gini anaknya molor.
Rona TY: Oh ya, malem minggu jarang lihat Windi keluar yah. Kenapa setiap malem minggu diajak keluar nggak mau?
Lia: Iya, selama ini nggak pernah kita ngajak dia jalan keluar pas malem minggu. Jangan... jangan...
Hesti JK: Jangan jangan apa? do’i kencan ama Samudra? Wkwkwkwk
Ratri Indah K: Tapi beneran lho. Si Windi jarang keluar malem minggu. Tapi itu mungkin karena ia memang tak suka ama keramaian. Si Windi kan nggak mau terlihat mencolok, apalagi itu malam minggu gaes. Plis deh, putri gubernur keluar malam bisa-bisa kena gosip yang enggak-enggak.
Hesti JK: Betul juga yah.
Rona TY: Tapi tetep aja penasaran. Soalnya dia tiap malem minggu paling susah diajak.
Lia: Sedang melakukan ritual pasang susuk kali.
Ratri Indah K: Iya bener. Bisa jadi.
Rona TY: Anjir. Bener juga, bisa jadi sedang melakukan ritual pasang susuk.
Hesti JK: Tapi kalau dipikir-pikir Windi normal-normal aja kok pas malem minggu. Buktinya kita pernah kan pergi ke rumahnya pas dia sakit. Dia nggak apa-apa kok. Ya kan?
Lia: Kau benar. Tapi heran juga yah.
Windi: Pantes hidung gue gatel, lagi ngomongin gue yah?
Lia: Kyaaaa!
Hesti JK: Wkwkwkwwk
Ratri Indah K: Hai Win, baru bangun nih putri tidur?
Rona TY: :3 :3 :3 mimpi apa sampe bangun molor?
Windi: Udah dibilang. Gue malem minggu itu biasalah diajak bokap nemui cukong-cukong politik. Kan gue udah cerita.
Ratri Indah K: Wah, emangnya mesti malem minggu?
Hesti JK: Iya, masa’ harus malem minggu Win?
Rona TY: Ih, bokap lo nggak asik orangnya.
Lia: Emangnya manuver politik apa sampai elo ikut juga tiap malem minggu?
Windi: Susah jelasinnya. Yang jelas, gue sekarang ibaratnya seperti ratu bagi bokap gue. Tanpa gue hadir di sana lobi-lobi politik bokap bakal gagal total.
Ratri Indah K: Aneh, tapi masuk akal sih. Lo kan cakep.
Hesti JK: Maksudnya lo jadi pemanis buat orang-orang itu?
Lia: Lah? Jadi etalase gitu?
Windi: Iya, jadi semacam etalase gitu.
Rona TY: Kenapa nggak lo tolak? Kan lo bisa nolak nek?
Windi: Gue kepengen seh nolak. Tapi, gue udah janji ama almarhumah nyokap. Turuti semua perkataan bokap. Selama itu bener maka gue harus nurut.
Ratri Indah K: Tapi yang bokap lo lakuin itu nggak bener kan?
Windi: Nggak bener gimana? Bokap melarang gue minum alkohol. Melarang juga bergabung semeja dengan orang-orang itu. Gue selalu bergabung dengan para wanita. Terkadang juga untuk melobi para pejabat yang khususnya wanita gue sering dilibatkan. Secara tak langsung gue sudah masuk ke dalam ranah politik bokap gue.
Lia: Kalau lobi-lobinya seperti ini. Bisa-bisa beneran nih lo jadi anak presiden.
Rona TY: Tapi kalau dilihat berita akhir-akhir ini masih aman kok. Lo belum tersentuh gosip. Paling juga gosip-gosip di sekolahan kalau lo deket ama Samudra.
Ratri Indah K: Iye tuh. Nggak beres juga. Ngapain lo semeja ama Samudra?
Windi: Cemburu Rat?
Rona TY: Oh tidak. Ratri cemburu!
Lia: Iya, Samudra kan tipe dia banget sebenarnya.
Hesti JK: Serius?
Ratri Indah K: Apaan sih kalian? Ini yang duduk di kursi panas si Windi. Kok tiba-tiba nunjuk gue?
Windi: Wkwkwkwkwk. Ratri kalau suka ama cowok itu biasa dipendem. Biji pohon dipendem. Sampai lebaran Hello Kitty juga nggak bakalan tahu itu cowok kalau lo suka ama dia.
Ratri Indah K: Trus kemarin itu ada peristiwa apaan?
Windi: Kepo ah.
Ratri Indah K: Lho serius loh, semua anak ngomongin.
Windi: Udah deh. Itu rahasia gue ama Samudra. Kalian nggak perlu tahu. Biarkan gosip nyebar kemana-mana. Gue suka digosipin ama dia.
Hesti JK: Wanjir!
Rona TY: Mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Lia: menjura ke Windi.
Ratri Indah K: gue nggak tahu tujuan elo apa. Tapi elo sudah jauh melangkah dibandingkan siapapun yang mencoba dekat ke dia.
Hesti JK: Eh, tapi jangan lupa lho. Dari semua anak yang ada di kelas, Samudra itu sering ngobrol ama Galuh.
Windi: Galuh bukan saingan gue. Dia nggak bakal ngerebut Samudra.
Rona TY: Sok percaya diri lo.
Windi: Udah deh. Pokoknya biarin aja gosip itu. Kalau kalian penasaran yah tanya aja ama Samudra.
Hesti JK: Waduh, tanya ke Samudra langsung katanya.
Lia: Out of box! Kita nggak sanggup.
Ratri Indah K: Oh ya, lo udah tahu belum. Gue dapat sesuatu nih.
Windi: Apaan?
Hesti JK: Wah, apa ini?
Lia: (pasang kuping)
Rona TY: Pasang mata keles.
Ratri Indah K: Ini berhubungan dengan dipanggilnya Galuh dan Samudra ke ruang guru kemarin.
Lia: Oh iya, kemarin bu Anri ngasih pengumuman di pengeras suara.
Windi: Buat apa ya dipanggil ke ruang guru?
Ratri Indah K: Jadi kemarin itu gue penasaran. Trus akhirnya gue ikuti deh Samudra ama Galuh sampai ke ruang guru. Dan tahu nggak? Di ruang guru Samudra dicerca dengan pertanyaan apakah dia mencontek atau tidak. Tahu kenapa? Sebab pekerjaan dia dan Galuh ternyata mirip. Bukan hanya dia dan Galuh tapi juga elo Win.
Windi: Maksudnya? Sama gimana?
Hesti JK: Nggak mudeng.
Rona TY: Sama gimana?
Lia: Nilainya sama gitu?
Ratri Indah K: Bukan! Maksudnya si Samudra, Galuh ama elo cara mengerjakan uraiannya sama. Trus Galuh nyinggung Pak Daniel. Tanya begini “Kamu kenal Pak Daniel?”
Windi: Trus?
Ratri Indah K: Karena tak terima dituduh mencontek akhirnya si Samudra mengerjakan soal baru dari Bu Sulis. Hasilnya sempurna. Dia bisa mengerjakan soal tersebut. Artinya di kelas kita sekarang ada tiga orang pandai. Windi, Galuh ama Samudra.
Rona TY: Sudah kuduga dia itu cowok yang pinter.
Hesti JK: Cowok pujaan.
Lia: Tampang OK. Cool. Pinter. Jujur....duh...
Ratri Indah K: Salah fokus woy!!
Windi: Trus?
Ratri Indah K: Galuh terus mendesak Samudra bertanya apakah Samudra kenal Pak Daniel ataukah tidak. Tapi Samudra mengelak. Galuh bersikeras kalau cara dia mengerjakan hanya diketahui oleh dia dan elo Win.
Windi menghirup napas dalam-dalam. Dia sudah menduga pasti ada yang tidak beres dengan Samudra. Tapi dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hubungan Samudra dengan Pak Daniel pasti ada tapi dia tak tahu kenapa Samudra menyembunyikannya. Ada sesuatu yang tidak biasa. Apakah karena Pak Daniel terlibat dengan sesuatu? Terlibat dengan sesuatu? Tiba-tiba Windi teringat sesuatu. Beberapa saat sebelum Pak Daniel menghilang guru itu pernah bilang sedang menyelidiki sesuatu. Tapi apa?
Ratri Indah K: Sepertinya ada sesuatu deh.
Windi: Pak Daniel pernah bilang kepadaku kalau dia sedang menyelidiki sesuatu sebelum pergi. Tapi dia tak bilang apa. Sekarang keberadaannya pun seperti misteri. Beberapa saat setelah Pak Daniel pergi Samudra kemudian datang. Menurut kalian apa hubungan Pak Daniel dan Samudra?
Lia: Entahlah.
Hesti JK: Satu-satunya yang bisa menjawab cuma Samudra.
Rona TY: Iya, satu-satunya yang bisa menjawab cuma Samudra. Alasan dia menyembunyikan keberadaan Pak Daniel pasti karena sesuatu.
Windi: Atau karena nyawa Pak Daniel sedang terancam?
Ratri Indah K: Wow! :O
Lia: Ih Win, elo nakut-nakutin kita!
Hesti JK: Ini elo nggak becanda kan?
Rona TY: Kalau memang nyawa Pak Daniel terancam berarti ia menghilang juga karena nyawanya terancam. Masuk akal dong kalau banyak orang yang menyembunyikan tentang keberadaan Pak Daniel.
Windi: Gue jadi yakin Pak Daniel pasti mengetahui suatu hal yang membuat keberadaannya terancam.
Ratri Indah K: Coba elo minta bantuan ke ajudan elo. Siapa tahu ia bisa membantu.
Hesti JK: Iya Win, bukankah dia mantan pasukan khusus? Pasti dia bisa kalau menyelidiki tentang kenapa keberadaan Pak Daniel terancam.
Lia: Iya, bukankah dia juga yang ngasih info ke elo tentang identitas Samudra?
Windi: Untuk kali ini kita tak boleh percaya kepada siapapun. Gue takut ini ada hubungannya dengan bokap gue juga.
Ratri Indah K: Whaatt???
Hesti JK: Oh whaat??
Lia: Serius?
Rona TY: Anjir! Win, elo nggak becanda kan?
Windi: Sementara ini hanya dugaan. Gue takut kalau ternyata menghilangnya Pak Daniel salah satunya adalah karena relasi bokap gue. Maka dari itu. Kita nggak boleh bicara ama siapapun tentang Pak Daniel. Tapi tetep kita terus menyelidiki keberadaan Pak Daniel. Terutama, hubungan Pak Daniel dengan Samudra. Aku mengandalkan kalian yah. Kalau ada info segera beritahu ke gue. Plus satu hal lagi. Gue bakal menghapus setiap chat yang kita bicarain tentang Pak Daniel agar tak dibaca oleh siapapun. Termasuk kalian!
Ratri Indah K: Setuju. Elo bener. Kita sebaiknya sembunyikan rencana kita kalau sedang mencari keberadaan Pak Daniel.
Lia: Gue kok merinding gini yah?
Hesti JK: Gue usul, gimana kalau elo selidiki apa yang sedang dicari oleh Pak Daniel? Sebab dari situ kita semua tahu apa yang sedang dikerjakan Pak Daniel.
Rona TY: Gue juga merinding nih. Kok kita semacam berada di film mata-mata macam James Bond gitu?
Windi: Bokap gue terlibat dengan beberapa cukong pengembang property untuk mega proyek Pulau Epsilon yang akan dikerjakan di Teluk Jakarta. Gue yakin ada permainan tangan di sana. Untuk alasan menghilangnya Pak Daniel aku tak tahu. Feelingku menghilangkan orang seperti itu begitu saja sedangkan orang yang bersangkutan tak pernah terlibat suatu tindakan kriminal hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang punya kekuatan tangan yang lebih besar. Di negara ini gue tahu siapa saja orangnya. Bokap gue yang telah menceritakan kepada gue.
Ratri Indah K: Buset. Gue jadi gemetar Win!
Windi: Selama kalian menjaga diri. Tutup mulut. Maka kita akan baik-baik saja. Gue juga akan menyelidiki ke bokap gue. Gue akan lebih intens untuk mendekati bokap gue dan mengetahui semua rahasianya. Siapa tahu nanti gue akan ketemu keberadaan Pak Daniel.
Rona TY: Waduh, hati-hati Win. :(
Lia: Jadi kita main detektif-detektifan nih?
Hesti JK: Yang penting stay save girls. Kita jadi detektif sekarang.
Windi: Please ya girls. Keberadaan Pak Daniel penting banget bagi gue.
Ratri Indah K: Gue tahu kok Win. Kita semua tahu betapa beharganya Pak Daniel buat elo. Dan sebagai teman. Kita semua bakal bantuin elo.
Hesti JK: Iya Win. Kita bakal bantuin elo.
Rona TY: Yup. Masih ada kita Win.
Lia: Go go girl! Gue akan selalu ada di sini buat elo Win.
Windi: Sigh, gue sampe nangis terharu nih. Makasih ya.
Windi menyeka air matanya yang keluar. Dia tak pernah mengira kalau sampai terharu dengan kesetia kawanan teman-temannya. Tapi yang sekarang ini ada di pikirannya adalah tentang Samudra. Windi yakin cowok itu pasti kenal. Bukti-bukti yang ditunjukan oleh Ratri bisa jadi memang sesuatu yang membuatnya semakin dekat dengan kebenaran keberadaan Pak Daniel.
Kedekatan Galuh dengan Samudra membuat perasaan Windi tergelitik. Memangnya kenapa? Bukannya mereka tak ada hubungan sama sekali. Tak ada cinta di antara dia dan Samudra. Tapi mendengar kedekatan Galuh dan Samudra membuat d**a Windi bergemuruh. Ada rasa yang memberontak di dalam dirinya agar jangan sampai mereka berdua punya hubungan. Tapi bagaimana? Sebabnya apa sampai seperti itu?
Sekilas bayangan wajah Samudra yang sangat dekat dengan dirinya membuat ia berdebar-debar. Tidak. Apakah karena itu?
“Nggak. Gue suka Pak Daniel. Bukan Samudra. Gue suka ama Pak Daniel. Bukan Samudra,” gumam Windi berkali-kali. Ia mulai membayangkan Pak Daniel. Guru Matematika yang sangat disukainya. Dia ingat bagaimana kencan dia dengan guru itu. Makan bersama, nonton bersama, belajar bersama namun kemudian tiba-tiba bayangan itu berubah.
“Maaf, Win. Aku sudah punya orang yang aku suka,” suara Pak Daniel inilah yang membuat hatinya hancur seketika. Lalu kedekatannya dengan dia selama ini dianggapnya apa? Friendzone? Oh tidak.
Tiba-tiba terlintas di benak Windi. Dia ingin bertanya langsung kepada Samudra. Mau tidak mau ia harus menanyakannya. Sekarang Samudra tak bisa mengelak lagi bahwa dia kenal dengan Pak Daniel. Tapi bagaimana caranya untuk bertanya? Dia tidak menyimpan nomor teleponnya. Baiklah ia harus pergi ke rumah Samudra untuk bertanya langsung.
Windi segera melompat dari ranjangnya kemudian langsung pergi ke kamar mandi. Dia sebenarnya bisa saja santai untuk mengerjakan acara mandinya. Biasanya juga ia berendam lama di bak mandi, tapi kali ini tidak. Dia benar-benar ingin serba cepat. Baginya menemukan informasi tentang Pak Daniel itu lebih berharga dari apapun. Sebagai seorang cewek Windi benar-benar memperhatikan kecantikannya. Itu sebabnya setelah mandi dia benar-benar telaten untuk bisa memoleskan make-up ke wajahnya. Tapi make-upnya tidak terlalu tebal. Dia memoleskan bedak tipis, kemudian lipbalm lalu lipstick warna maroon. Kini bibirnya lebih terlihat basah dan sedikit lebih seksi. Windi tahu bahwa wajahnya sudah cantik natural, jadi tak perlu make-up tebal. Lagipula dia tidak suka make-up terlalu tebal.
Dengan baju kemeja lengan panjang bergaris, jaket jeans dan celana jeans selutut ia pun keluar dari kamarnya. Bersiap untuk ke rumah Samudra. Dia tahu alamat rumah Samudra yang mana satu komplek perumahan dengan Galuh. Jadi rute ke sana pun tidak terlalu sulit dicari kira-kira.
“Wah, adik gua mau pergi,” ucap Rico ketika melihat Windi keluar kamarnya. Windi tak mempedulikan celotehan kakaknya yang sedang kumpul-kumpul dengan teman-teman mahasiswanya. “Tumben. Biasanya hari minggu di rumah aja.”
“Siapa bilang? Sok tahu,” bantah Windi.
“Hai dik Windi?” sapa salah seorang teman Rico.
“Hai Kak Edi. Baik kak. Kabar kakak gimana?” sapa Windi balik.
“Baik juga,” jawab Edi temannya Rico.
“Woi, jangan modus ya! Mentang-mentang itu adik gue,” ujar Rico sambil menoyor Edi.
“Apaan sih?” gerutu Edi sambil menyingkirkan tangan Rico.
“Windi mau keluar dulu ya. Bye semua,” ucap Windi sambil berlalu meninggalkan mereka.
Setelah Windi menghilang ke garasi. Semua orang yang ada di ruang tamu pun heboh.
“Gileeee. Gue nggak nyangka elo punya adik secantik itu,” puji Edi. “Gue bakal betah nih main ke rumah elo terus-terusan.”
“Iya, kakaknya kayak gini. Adiknya kayak gitu. Bagai kerbau ama manusia,” celetuk salah seorang yang lain.
“Sembarangan. Awas kalau sampai modus ke adik gue. Gue kubur elo semua di Lubang Buaya hidup-hidup!” ancam Rico. Edi dan yang lainnya tertawa melihat wajah sebal Rico.
Dengan cepat Windi sudah berada di mobil kesayangannya. Tak lama kemudian mobil Mercedes CLK 200 pun sudah meluncur di jalan raya. Perjalanan dia hari itu tidak begitu ramai, tapi jarak perumahan rumah tempat Samudra tinggal cukup jauh karena ia harus memutar. Hari Minggu ada Car Free Day, alhasil dia mengambil jalur yang agak lebih jauh dari biasanya. Akhirnya setelah lama dia mengemudi akhirnya sampai juga di perumahan tempat Galuh dan Samudra tinggal.
Saat sampai di sana adzan Dzuhur sudah berkumandang. Windi berniat ingin langsung ke tempat Samudra namun ketika di jalan ia melihat Galuh sedang berjalan tak jauh dari rumah Samudra, maka segera Windi menghentikan mobilnya. Sengaja ia tak ingin mendekati Galuh agar tak terlihat mencolok. Bahkan dia pun menjauhkan mobilnya agar tak diketahui oleh Galuh. Setelah yakin tidak diketahui oleh Galuh, ia pun keluar dari mobilnya kemudian mengendap-endap mendekat ke tempat Galuh berada. Ternyata Galuh cuma berdiri mematung di depan rumah Samudra. Mau apa gadis itu ke rumah Samudra?
* * *
Hari Minggu adalah hari bekerja di rumah. Untuk anak-anak sekolah biasanya memanfaatkan hari minggu untuk istirahat, biasanya olahraga atau melakukan aktivitas seperti mengurusi pekerjaan rumah atau kerja bakti di halaman rumah. Samudra juga demikian. Dia menghabiskan waktu hari minggunya dengan bersih-bersih, mengepel lantai, mencabuti rumput, dan mempermak kamarnya dengan cat baru. Menurutnya warna kamarnya tak menarik dengan warna putih. Ia membeli cat warna oranye dan mengecat kamarnya dengan warna itu. Karena ia anak tunggal maka dia tak merasa khawatir kalau-kalau ada yang protes dengan kondisi kamarnya sekarang.
“Sam, sudah selesai ngecatnya?” tanya Suherni.
“Tinggal dikit bu,” jawab Samudra yang masih mengusapkan kuas cat ke sudut kamarnya. Dia terpaksa menggeser beberapa perabot seperti lemari dan dipan agar bisa menjangkau sudut-sudut kamarnya.
“Ibu sudah nyiapin makan siang, kalau kamu mau makan ada di dapur,” ucap ibunya dari luar kamar.
“Iya bu, makasih,” sahut Samudra.
Samudra kembali melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai. Dia sebenarnya ingin melupakan kejadian hari-hari sebelumnya. Baru beberapa hari masuk saja sudah ada kejadian yang tidak mengenakan. Punya masalah dengan Windi, dipanggil ke ruang guru segala. Ah, rasanya hidupnya tak pernah sepi dari masalah. Apalagi dia masih belum menemukan Si “Gadis di Atas Air” yang selama ini ia cari. Apakah ia tetap di Aceh? Ataukah sudah pindah dari sana?
Tapi di hari minggu seperti ini memang dia tak punya rencana apapun selain mengerjakan pekerjaan rumah. Samudra telah menyelesaikan pekerjaannya tepat jam makan siang. Dia hanya menunggu catnya kering saja. Tak terlalu lama, mungkin tidak sampai satu jam saja sudah kering.
Masakan ibunya memang tak bisa dipungkiri lagi kelezatannya. Memang semua masakan di restoran tidak pernah ada yang bisa memuaskan nafsu makannya. Benar kata orang-orang bahwa masakan dari tangan seorang ibu itu terasa nikmat karena beliau memasak dengan perasaan kasih sayang. Berbeda dengan rasa masakan chef-chef di restoran. Mereka memasak karena ingin dibayar. Sedangkan ibu? Ia tak minta apapun selain kasih sayang kita untuk beliau.
“Wah, masakannya ayam kecap! Kelihatannya enak nih,” ucap Samudra yang sudah ngiler begitu melihat makanan yang ada di meja makan.
“Iya, makan saja. Semuanya sudah makan kok,” ujar Suherni.
“Makasih bu,” kata Samudra. Ia tak membiarkan masakan ayam kecap itu berlama-lama di meja makan. Segera ia ambil piring dan sendok kemudian mengambil nasi lalu ayamnya.
Melihat Samudra makan dengan lahap membuat Suherni bahagia. Dia masih menganggap Samudra adalah anak kecil yang dulu masih malu-malu tinggal bersamanya. Sekian lama berumah tangga dengan Haryono tapi tidak pernah diberi keturunan memang sudah menjadi nasibnya. Ia memang telah menerimanya dengan tangan terbuka. Sekarang Samudra menjadi anaknya satu-satunya meskipun bukan anak kandung tetapi rasa kasih sayangnya kepada Samudra tak bisa terukur.
“Kamu tak ada kegiatan di sekolah hari libur seperti ini?” tanya Suherni.
Samudra menggeleng. “Nggak ada bu.”
“Kamu ikut saja kegiatan di sekolah. Melihat kamu di rumah tanpa melakukan apa-apa justru bikin ibu bertanya-tanya apa ada sesuatu yang terjadi di sekolah,” ucap Suherni.
Samudra hanya nyengir sambil menikmati lagi makanannya.
“Kamu sudah sholat?” tanya Suherni.
Samudra menggeleng. “Belum bu.”
“Habis ini sholat. Waktu dzuhurnya kan maju, jadi sholat dzuhurnya lebih awal.”
Samudra hanya mengangguk. Dia buru-buru menyelesaikan makannya. Samudra berpikir memang ada benarnya juga ibunya berkata demikian. Dia seperti orang yang kurang kerjaan berada di rumah. Memang orangtua terkadang khawatir tentang anaknya di sekolah. Kalau tiba-tiba sang anak lebih suka di rumah, tak ada kegiatan justru akan membuat orangtua merasa “Pasti ada yang tidak beres”. Samudra akhirnya memutuskan untuk bisa mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah agar waktunya bermanfaat. Mungkin hari ini untuk pengecualian karena ia memang sedang merombak kamarnya.
Makan siang selesai. Samudra kemudian melanjutkannya untuk ibadah. Kamarnya sekarang sudah mempunyai warna cat baru. Tidak buruk juga dengan warna oranye. Mirip warna kantor pos, pikirnya. Tapi suasana kamarnya jadi lebih cerah sekarang. Samudra mulai memikirkan kegiatan apa yang sebaiknya ia ikuti di sekolah. Kalau ikut ekstrakurikuler pencak silat ia bahkan tak tahu mau ngapain saja di sana. Kalau cuma ikut latihan sih oke-oke saja. Tapi latihannya hari Sabtu kemarin dan Samudra tidak ikut.
Ponsel Samudra berbunyi. Ditelpon orang? Tumben. Siapa yang menelpon? Ia tak pernah ditelpon oleh seseorang pun sebelumnya. Ada sebuah nomor yang tidak asing bagi Samudra. Dia pun menerimanya.
“Halo?” sapa Samudra.
“Halo? Ini Samudra?” tanya orang yang menelponnya. Seorang cewek.
“Siapa?” tanya Samudra.
“Ya ampun. Ini aku Vetty. Apa kabarmu? Nomorku dihapus ya?” tanya cewek itu.
“Oh, Vetty. Sorry, sorry. Baru ganti ponsel. Ponselku yang lama rusak. Nomormu kesimpen di ponsel itu. Jadinya yah... tahu sendiri,” jawab Samudra.
“Oh, begitu ceritanya. Gimana tempat tinggalmu yang baru?” tanya Vetty.
“Baik kok. Nyaman. Kau orang pertama yang menyapaku sejak aku pindah,” jawab Samudra.
“Oh ya? Aku beruntung dong,” ucap Vetty sambil tertawa.
“Kau sendiri gimana kabarnya?” tanya Vetty.
“Aku sih baik-baik saja. Dan sekarang sedang bingung mau ngapain setelah ngecat kamar,” ujar Samudra.
“Sudah ketemu belum?”
“Hmm? Apanya?”
“Yaelah, itu tuh Gadis di Atas Air yang kamu cari.”
“Oh, belum. Tapi, ada sesuatu yang sepertinya kebetulan. Entahlah, aku tidak tahu tapi aku sepertinya dituntun untuk ke tempat ini. Ke kota ini,” ujar Samudra.
“Maksudnya?”
“Kamu percaya tidak bahwa sesuatu keputusan yang kita ambil tidak akan terjadi apapun kepada kita kalau semesta sudah menggerakkan tubuh kita? Misalnya saja kau ingin sampai ke rumahmu, tapi kalau semesta menggerakkanmu untuk menuju ke tempat lain bagaimana pun cara yang kau tempuh maka sebenarnya kau sedang mendekati tujuanmu yang sebenarnya,” jelas Samudra.
Vetty bengong. Dia tak tahu apa maksud Samudra. “Aku nggak ngerti, Sam. Kamu ini bicara apa sih?”
“Maksudku segala sesuatu itu sudah ada yang mengatur. Keberadaanku di tempat ini juga sepertinya demikian,” kata Samudra.
“Kok bisa begitu?” tanya Vetty penasaran.
“Susah untuk menjelaskannya. Tapi aku yakin aku sudah dekat dengan tujuanku. Ini mungkin adalah jawaban dari semua do’a-do’a yang aku panjatkan selama ini,” terang Samudra.
“Good for you Sam. Semoga saja kau segera menemukannya,” ucap Vetty.
“Aamiin.”
“Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana ibukota menurutmu?”
“Yah, sebagaimana yang kamu lihat di televisi. Macet. Tapi aku tidak melewati jalanan yang macet,” kata Samudra. “Jalanan ke sekolahku tidak termasuk rute yang macet.”
“Ehmm, begitu. Jadi kepengen ngunjungin kamu deh. Kasih alamat kamu dong, kapan-kapan aku ingin mampir ke sana,” ujar Vetty.
“Mampir ke sini?”
“Iya”
“Ama siapa? Sendirian? Bahaya lho!”
Tiba-tiba Vetty tertawa. “Kamu itu ya, masih sama seperti dulu. Khawatir ama orang lain.”
Samudra nyengir. “Yah, sudah jadi habbit.”
“Itulah sebabnya aku suka ama kamu. Kamu itu peduli banget ama orang lain. Padahal belum tentu orang lain peduli kepadamu,” ungkap Vetty.
“Hehehe, kau bisa aja.” Samudra membenarkan perkataan Vetty.
“Dengan kamu menghubungiku seperti ini sebenarnya aku juga merindukan teman-temanku yang ada di sana,” ucap Samudra. “Kau seperti penghubungku dengan mereka sekarang.”
“Hahahaha, bisa jadi. Tapi apa mereka tak menghubungimu?” tanya Vetty.
“Tidak. Tidak ada sama sekali yang menghubungiku setelah kejadian itu. Semuanya seolah-olah pergi. Takut mungkin,” ujar Samudra.
Vetty merasa tahu perasaan Samudra yang ditinggalkan teman-temannya. “Iya, aku bisa mengerti hal itu. Pengaruh Arkan memang kuat. Ia bisa berbuat apa saja. Tapi kau tak perlu khawatir. Ia tak akan berbuat macam-macam kepadaku lagi. Papaku sudah mengancam ayahnya Arkan. Dia tak akan macam-macam lagi denganku.”
“Papamu? Papamu bisa apa?” tanya Samudra keheranan.
“Kau tidak tahu kekuatan papaku yah? Hehehehe. Tenang saja. Itu rahasia,” ujar Vetty.
Samudra sekarang bertanya-tanya tentang ayahnya Vetty. Ia tak pernah tahu siapa ayahnya Vetty. Hanya saja yang diketahui olehnya bahwa ayah Vetty seorang pengusaha. Tapi kalau sampai bisa mengancam seorang Jendral TNI berarti ada kedudukan yang tidak biasa pada diri ayah cewek ini. Sayangnya Samudra tak ingin menyelidikinya lebih jauh lagi. Biarlah yang rahasia untuk Vetty tetaplah rahasia sebagaimana dia juga menyimpan sebuah rahasianya kepada semua orang kalau dia punya kemampuan khusus.
“Syukurlah kalau begitu,” kata Samudra.
Keduanya kemudian saling membisu untuk beberapa saat lamanya. Vetty menghela napas. Dia mulai berbicara lagi. “Aku kangen sekali ama kamu. Yah, aku tahu kamu sudah punya orang yang kamu sukai meskipun tidak tahu siapa orang itu. Tapi setidaknya aku bolehkan sayang ama kamu?”
Samudra tertawa.
“Lho, kok kamu ketawa?” tanya Vetty sewot.
“Iya. Sikap kamu itu seperti syair yang ada di lagu-lagu itu. Lupa aku syairnya gimana. Yang jelas aku tak tahu Vet. Jodoh itu bukan aku yang menentukan. Bisa saja sekarang ini aku memang masih mencari gadis itu tapi bukan berarti juga aku nanti akan bersama dia. Bisa jadi sekarang kau memang mengharapkanku dan akhirnya aku bisa bersamamu. Bisa jadi seperti itu. Tapi kita tak boleh memaksakan jodoh kita, bukan begitu?”
Vetty tertawa kecil. “Iya, kau benar. Hihihihi. Maaf.”
“Aku juga minta maaf. Jangan dikira aku nanti jadi pemberi harapan palsu.”
“Kan emang iya. Weeekk! Hihihihi,” ledek Vetty.
Samudra menghela napas. “Yaa terserah sih.”
“Yee, jangan sewot gitu dong. Becanda. Aku mengerti kok pendirian kamu Sam. Kamu ini seorang yang idealis banget. Itu salah satunya yang aku suka dari seorang cowok. Rasanya susah menemukan orang yang seperti kamu di luar sana.”
“Kau cuma belum bertemu. Suatu saat nanti kau akan bertemu dengan orang yang sama seperti aku,” hibur Samudra.
“Iya, semoga,” ucap Vetty. “Baiklah. Mungkin sampai di sini dulu, Sam.”
“Oh... baiklah.”
“Sampai nanti. Bye?!”
“Bye,” ucap Sam terakhir kali. Mereka pun bersamaan menutup telepon.
Samudra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak mengira bahwa Vetty masih teguh saja naksir dirinya. Tapi meskipun Vetty itu termasuk anak yang cantik tapi Samudra tetap tak ingin memberinya harapan palsu. Dia masih mencari keberadaan Gadis Di Atas Air.
“Sam! Ada tamu!” panggil ibunya.
Samudra terkejut. Tamu? Siapa?
“Siapa bu?” tanya Samudra.
“Si gadis berkepang. Siapa lagi?” ucap ibunya.
Galuh? Mau apa dia kemari?
Buru-buru Samudra keluar kamarnya. Dia memang penasaran kenapa Galuh harus sampai ke rumahnya. Oh, dia mulai mengerti. Kejadian tempo hari pasti membuatnya penasaran karena dia terus bertanya-tanya apakah dia kenal Pak Daniel ataukah tidak. Samudra jadi malas untuk menemuinya, tapi namanya juga tamu harus ditemui sekalipun ia tidak suka.
Galuh berdiri di depan pintu. Pintu sudah terbuka saat Samudra menemuinya. Galuh tampak anggun memakai baju panjang bertali. Wajah Galuh yang biasanya ceria sekarang datar. Samudra menyambutnya dengan senyuman.
“Assalaamu’alaykum,” sapa Galuh.
“Wa’alaykumussalam. Yak? Ada apa?” sapa Samudra balik.
“Cuma kepengen main aja,” jawab Galuh.
“Oh silakan kalau begitu. Mau main apa? Mau badminton?” tawar Samudra.
Galuh tertawa. “Sembarangan. Tapi boleh juga. Memangnya kamu punya raket? Lagian tanganmu masih sakit kan?”
“Oh, aku bisa pakai tangan kiri. Kamu jangan meremehkan kemampuanku,” ujar Samudra sambil mengepalkan tangan kirinya.
“OK, siapa takut!” ucap Galuh sambil berkacak pinggang.
“Sebentar!” ucap samudra. Dia segera masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil raket yang ada di atas bufet lengkap dengan shuttlecock. Ketika Galuh mendapati Samudra kembali dengan dua raket dan shuttlecock membuat dia meringis.
“Serius bener kamu,” ujar Galuh.
“Ayo, kita ngobrol sambil main!” ajak Samudra.
Akhirnya Samudra mengajak Galuh untuk main di depan rumah. Perumahan itu sepi tak ada mobil yang berlalu-lalang bahkan anak-anak kecil yang bermain di perumahan itu juga cukup banyak. Mereka sibuk bermain bola, ada yang bermain kejar-kejaran atau bermain yang lainnya. Samudra menyerahkan raket kepada Galuh. Galuh pun menerimanya. Keduanya kemudian mengambil tempat masing-masing menjauh kira-kira lima meter.
“Tak ada kerjaan di rumah sampai harus mampir ke tempatku?” tanya Samudra.
“Ada, tapi sudah beres semua,” ucap Galuh.
Samudra mulai melakukan serve dengan tangan kirinya. Shuttlecock dipukul meninggi, lalu Galuh dengan pelan mengembalikannya. Samudra juga mengembalikannya dengan santai. Mereka memang tak ingin mendapatkan skor karena niat Galuh bertemu dengan Samudra adalah ingin mencari informasi.
“Kamu benar tidak mengenal Pak Daniel?” tanya Galuh tiba-tiba.
Samudra kembali mengembalikan pukulan Galuh dengan pelan. Ternyata tenaga Samudra terlalu besar sehingga shuttlecock itu terlalu jauh jatuhnya ke belakang Galuh. Samudra mengangkat bahunya.
“Aku sudah mengatakannya bukan?” ucap Samudra. “Aku tak kenal.”
“Lalu kenapa pekerjaanmu bisa mempunyai cara yang sama denganku? Cara yang dipakai oleh Pak Daniel itu terlalu aneh bisa ditiru oleh orang yang belum pernah bertemu dengan beliau,” jelas Galuh. Dia kemudian mengambil shuttlecock dan mulai melakukan serve.
Samudra menerimanya dan mengembalikannya pelan. “Semua orang kan bisa saja punya cara seperti itu. Kebetulan saja aku punya cara yang sama denganmu. Toh ketika diuji oleh Bu Sulis di ruang guru aku bisa mengerjakannya.”
“Tapi tetap saja, caranya seperti cara yang diajarkan oleh Pak Daniel,” ujar Galuh. “Kau punya hubungan apa dengan Pak Daniel? Jujurlah kepadaku!” Galuh melakukan smash.
Samudra menangkisnya. “Aku tak punya hubungan apa-apa dengan Pak Daniel. Kenapa akhir-akhir ini semua orang bertanya seperti itu kepadaku?”
Galuh melakukan smash lagi. “Semua orang? Siapa? Windi?”
Samudra mengembalikannya dengan melakukan backhand lob. Shuttlecock meluncur ke atas. Galuh menyipitkan mata melihat shuttlecock yang melayang tinggi lalu mulai jatuh ke arahnya. Dia mengambil ancang-ancang untuk melakukan smash keras. Kemudian smash keras pun dilakukan. Shuttlecock pun meluncur cepat ke arah Samudra hingga mengenai dadanya. Samudra sebenarnya berusaha untuk menangkis tapi ia terlambat. Ia bahkan sampai menggosok-gosok dadanya karena cukup keras smash yang dilakukan oleh Galuh tadi.
“Iya, Windi,” jawab Samudra kemudian.
Galuh menghela napas. Dia kemudian berjalan menuju ke Samudra. “Nih raketnya!”
“Kok sudah?” tanya Samudra. “Panas aja belum.”
“Nggak ah,” jawab Galuh.
“Lalu?”
“Aku tak tahu kenapa dan apa sebabnya tapi asal kamu tahu aku dan Windi dulu cukup dekat sampai kemudian kami seperti ini sekarang. Kami dulu cukup dekat, bahkan ia sering main ke rumahku tapi semenjak menghilangnya Pak Daniel ia sama sekali tak mengunjungiku lagi. Aku baru tahu satu hal kalau sebenarnya....,” Galuh tidak melanjutkan.
“Sebenarnya apa?” tanya Samudra penasaran.
Galuh menggeleng-geleng. “Tidak. Aku tak bisa menceritakannya.”
“Ceritakan saja kepadaku! Siapa tahu aku bisa membantumu,” ujar Samudra.
“Kau bukan siapa-siapaku, lagipula kau adalah murid baru di sekolah. Dekat saja tidak. Bagaimana kau bisa menolongku?” ujar Galuh.
“Apakah aku harus punya alasan khusus untuk menolong orang lain?”
“Harus! Harus tentu saja. Sebab kalau tidak maka orang yang kau tolong akan terpikir terus untuk berhutang budi!” bantah Galuh.
“Apakah salah satu alasannya itu yang membuatmu selalu mengerjakan tugas pekerjaan rumahnya?” tanya Samudra.
“Itu bukan urusanmu!” ucap Galuh.
“Meskipun itu bukan urusanku, tapi memperbudak diri sendiri itu adalah tindakan yang bodoh,” ujar Samudra. “Ah, sebenarnya juga aku tak butuh balas budi. Aku sering menolong orang tapi tak pernah meminta mereka apapun.”
“Lalu alasan kamu menolong mereka apa? Kalau kau mau menolongku memangnya apa yang kau inginkan dari aku?” tanya Galuh.
“Wow!” Samudra mengangkat tangannya. “Apa maksudnya meminta sesuatu darimu? Modus gitu? Aku bahkan tak punya pikiran ke sana.”
“Memang seperti itu bukan? Kebanyakan orang menginginkan sesuatu ketika menolong orang, kamu juga seperti itu. Aku yakin!” ucap Galuh
Samudra mengernyitkan dahi. “Aku tak tahu kalau kamu punya pemikiran seperti itu. Dan sejujurnya pemikiran seperti itu terlalu jauh. Tidak setiap cowok itu modus. Tapi jujur, kau harus menghentikan apa yang kau lakukan kepada Windi. Sesalah apapun dirimu tetap saja harus diselesaikan dengan cara saling memaafkan bukan dengan cara seperti itu!”
Galuh terdiam. Dia membuang mukanya. Suasana siang hari itu sedikit mendung sehingga udara tak begitu panas. Rasanya apa yang dikatakan Samudra ada benarnya. Ia terlalu menyiksa dirinya sendiri untuk alasan yang belum tentu itu adalah salahnya. Galuh berbalik untuk pergi meninggalkan Samudra, namun ia berbalik lagi. Dia menatap ke arah Samudra.
“Kau ikut KIR yah?!” ucap Galuh.
“Hah?”
“Aku tahu kamu sudah ikut ekstra pencak silat, tapi tak apa-apa kan kalau ikut KIR? Tak ada larangan di sekolah kami. Kau harus ikut! Kami butuh bantuanmu,” ujar Galuh.
“Bantuan?”
“Sebentar lagi akan ada perlombaan Karya Ilmiah Remaja. Aku ingin kau bisa ikut,” kata Galuh.
“Kenapa kamu memilihku? Bukannya Windi lebih baik? Toh peringkat kalian di kelas sama,” ucap Samudra.
“Aku sudah bilang kalau kedekatanku dengan Windi tak seperti dulu. Aku tak bisa juga menarik dia untuk ikut KIR. Jadi....maaf. Tapi aku ingin kamu yang ikut!” paksa Galuh.
“Wah, itu pemaksaan namanya,” protes Samudra.
“Terserah, pokoknya kamu harus ikut!” ucap Galuh. “Lombanya sebulan lagi. Kuharap kita bisa bekerja sama.”
Samudra nyengir. “Seenaknya saja kamu ini.”
“Terserah. Pokoknya kamu harus ikut!”
“Kalau nggak mau?”
“Aku bakal tidak bicara kepadamu selamanya. Dan kamu dilarang duduk di belakangku!”
“Hah? Lha emangnya aku harus duduk di mana? Bangkunya kan memang cuma satu yang kosong di kelas.”
“Terserah. Duduk di lantai juga bisa. Pokoknya kalau kamu belum masuk KIR aku bakal boikot!” ancam Galuh.
“Ini apaan sih? Kamu ini seenaknya saja deh maksa orang.”
“Apa alasan kamu tidak ingin ikut KIR?” desak Galuh.
Samudra tak punya alasan. Dia sebenarnya juga terlalu banyak waktu luang di rumah. Ditambah mungkin juga di ekstrakurikuler pencak silat ia tak banyak kegiatan sekarang ini selain latihan. Remaja ini menghela napas berat. Dia sebenarnya bisa saja untuk menolak Galuh, tapi karena suatu alasan ia pun akhirnya mengangguk.
“Iya deh, aku ikut,” ucap Samudra.
“Yes!” ucap Galuh sambil melonjak.
“Trus? Sekarang aku harus apa?” tanya Samudra.
“Besok kita bicarakan hal itu,” jawab Galuh seraya berbalik. Dia melambaikan tangannya. “Sampai besok Sam. Assalaamu’alaykum.”
“Wa’alaykumussalam!” jawab Samudra.
Galuh kemudian pergi meninggalkan Samudra yang terbengong sendirian di depan pagar rumahnya sendiri. Matahari tertutup awan kelabu pekat yang menandakan besar kemungkinan hujan akan segera turun sebentar lagi. Samudra mencoba menggerak-gerakkan tangan kanannya. Ia sedikit meringis tapi rasa sakitnya mulai hilang. Semoga saja cepat berlalu rasa sakit yang ada di pergelangan tangan kanannya sebab dia itu bukan orang kidal. Dia cukup tersiksa melakukan banyak hal dengan tangan kirinya seperti itu.
Dua raket yang ada di tangannya pun dibawa masuk lagi ke dalam rumah. Samudra membiarkan shuttlecock yang tadi dia gunakan tergeletak begitu saja di jalan. Shuttlecock itu sudah seperti bulu ayam kesetrum. Bulu-bulunya sudah patah. Smash yang dilakukan oleh Galuh tadi malah membuat bulu-bulunya patah. Hari minggu seperti ini kira-kira apa yang dilakukan oleh Windi?
Kenapa tiba-tiba Samudra memikirkan Windi? Dia sendiri heran. Tapi sekalipun tidak memikirkan gadis itu tetap saja tangan kanannya merupakan sebuah tanda yang tak akan hilang. Terlebih jarak wajahnya dengan Windi saat itu sangatlah dekat. d**a Samudra jadi berdebar-debar mengingat-ingat itu.
“Kenapa aku jadi mikirin Windi? Bodo ah!” gumamnya sendiri. Samudra kembali masuk ke rumahnya. Dia menutup kembali pintu pagar rumahnya lalu masuk ke dalam.
Sementara itu Windi yang berada di balik tembok pagar sedang menyandarkan kepalanya. Dia mendengarkan semua perkataan Galuh dan Samudra. Lebih-lebih gumaman Samudra tadi. Matanya terpejam. Dia merasa bersalah juga selama ini kepada Galuh, tetapi ia tetap harus meminta penjelasan kepada Pak Daniel. Ingin sekali Windi masuk ke rumah Samudra, namun ia mengurungkan niatnya. Ia lalu pergi kembali ke mobilnya.
* * *