9 | Let Me Help You

5239 Kata
“Lomba Karya Ilmiah Remaja, ya?” gumam Samudra  ketika melihat papan pengumuman di Mading Sekolah. Di Mading tersebut terdapat sebuah poster besar bertuliskan “Ikutilah Lomba Karya Ilmiah Remaja”. Pemenang dari lomba tersebut akan diberi hadiah yang cukup besar. Juara pertama akan mendapatkan uang 50 juta rupiah sekaligus hak paten hasil karyanya apabila itu adalah karya orisinil dan sudah dilakukan verifikasi oleh dewan juri. Samudra kemudian berjalan meninggalkan mading itu untuk menuju ke kelasnya. Beberapa anak tampak sedang duduk-duduk di bangku yang ada di koridor sambil membaca-baca buku atau cuma berbincang-bincang dengan teman-temannya. Saat dia akan sampai di kelas tampak Windi juga baru saja sampai di depan pintu kelas. Mereka berhadap-hadapan. Tampak wajah Windi menampakkan raut wajah yang jutek. “Kau tak cocok ikut KIR,” ucap Windi. “Hah?” Samudra keheranan dengan ucapan gadis itu. “Maksudnya?” “Kau lebih cocok ikut pencak silat, itu kan keahlianmu,” ujar Windi. “Kamu tahu?” tanya Samudra. Windi tak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kelas. Samudra mengangkat bahunya. Entah bagaimana Windi bisa mengetahui bahwa dia masuk ke ekstrakurikuler KIR. Samudra kemudian menyusulnya masuk ke dalam kelas. Di tempat duduknya tampak kelompok orang-orang aneh sudah berkerumun di sana. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu. “Ini dia anggota baru datang,” ucap Galuh. Samudra menunjuk hidungnya sendiri. “Aku?” “Iyalah, lo jadi ikut kan?” tanya Galuh sambil menatapnya tajam. Samudra mengernyit. “Iya, iya, aku ikut.” Samudra menghela napas. “Yes! Jadi kali ini kita punya anggota tambahan!” ucap Galuh sambil mengangkat tangannya gembira. Samudra kemudian duduk di tempat duduknya. Dia menaruh ranselnya di gantungan yang ada di bangku. “Ngomong-ngomong, lombanya satu bulan lagi bukan? Memangnya persiapannya apa? Kalian ada rencana akan memberikan apa?” “Nah itu dia!” seru Budi sampai membuat Samudra kaget. “Anjir! Kaget!” ucap Samudra. Cindy menempeleng kepala Budi. “Sante aja keles!” “Sorry!” Budi menggosok-gosok kepalanya yang kena tempeleng. “Sebenarnya, kita belum ada ide,” ucap Galuh. “Hei, bagaimana kalian bisa bilang belum ada ide padahal satu bulan lagi akan ada lomba?” tanya Samudra. “Sadar woy! Emangnya apa yang bisa kita lakukan satu bulan lagi?” “Masalahnya kompleks, Sam. Pertama pengumumannya mendadak. Ini kesalahan Sie Humas OSIS kita yang terlambat memberikan kabar. Kedua, sekolah kita juga sekarang sedang sibuk untuk persiapan ujian akhir untuk anak-anak kelas tiga. Ketiga, kita juga mau dekat dengan ulangan bukan? Makanya ini sesuatu yang membuat kita sedikit frustasi,” ujar Bella. Samudra menoleh ke arah Windi. Gadis itu tampak sedang mengobrol dengan teman-teman sosialitanya. “Memangnya kalian tak ada persiapan sama sekali selama ini dan tak tahu kalau ada lomba?” “Sebenarnya kami sudah ada beberapa projek, tapi rasanya projek itu tidak kami fokuskan. Kau tahu sendiri kami sibuk sekali belajar. Aku butuh les ini dan itu. Bahkan kami cuma seminggu sekali ketemu. Tidak bisa menghabiskan waktu di ekstrakurikuler ini setiap hari. Untuk tahun kemarin kita bisa fokus karena masih ada kakak senior, tapi karena sekarang tak ada kakak senior akhirnya yah begitulah kami sendirian sekarang. Terlebih dari adik-adik yunior kami tak ada yang tertarik ekstrakurikuler ini,” jelas Budi. “Kenapa tidak dibekukan oleh sekolahan kalau tak ada anggota dari kelas X?” tanya Samudra. “Aturannya tidak seperti itu. Sebuah ekstrakurikuler akan dibekukan kalau anggotanya kurang dari lima orang,” jawab Bella. “Emang anggotanya sekarang ini ada berapa?” tanya Samudra. “Sekarang lima dengan kamu,” jawab Galuh. “Waks?” Samudra terkejut. “Jadi kemarin kamu datang ke rumahku untuk itu? Menggenapkan agar jadi lima orang?” Galuh mengangguk. “Memangnya siapa satu anggota yang keluar sebelum aku masuk?” tanya Samudra. “Dia,” Galuh menunjuk Windi dengan jempolnya. Samudra menepuk jidatnya. Ia sedikit tahu alasan ucapan Windi di pintu kelas tadi. Jadi Windi pernah ikut ekstrakurikuler KIR, tapi kenapa dia sekarang tidak ikut lagi? “Kenapa Windi tidak ikut lagi?” tanya Samudra. Galuh mengangkat bahu. Dia membetulkan kacamatanya kemudian menghadap ke papan tulis. Murid-murid tampak kembali ke bangkunya masing-masing. Sepertinya guru sudah datang. Hari ini guru yang akan mengajar pertama kali adalah Bu Anri. “Selamat pagi anak-anak!?” sapa Bu Anri yang baru saja datang. “Pagi bu,” balas murid-murid. Bu Anri tersenyum kepada murid-muridnya. Ia membawa sebuah kertas berisi tabel peringkat. Tampak semuanya antusias ingin melihat berada di peringkat berapa mereka. Bu Anri kemudian berjalan menuju ke tabel yang berada di dekat papan tulis. Ia mencopot tabel peringkat yang ada di dekat papan tulis tersebut lalu menempelkan tabel peringkat yang baru. Guru itu kembali ke mejanya. “Tabel peringkat yang baru. Nanti bisa kalian lihat tapi ibu sangat kagum bahwa ternyata murid-murid kelas XI-3 sangat pandai-pandai. Dan lebih mengejutkan lagi ternyata dari hasil ulangan beberapa hari ini ibu mendapati seorang yang ternyata pintar. Selamat Samudra, kau sekarang menduduki peringkat pertama di kelas ini,” ucap Bu Anri. Semua murid langsung menoleh ke Samudra. Samudra menunjuk hidungnya sendiri. Ia tentu saja kaget karena tak pernah menyangka mendapatkan peringkat pertama. Windi tampak terkejut mendengarnya demikian juga Galuh, sebab selama ini peringkat pertama selalu diduduki oleh Windi dan Galuh, tapi sekarang seorang murid cowok telah merebut peringkat mereka. “Galuh, Windi, kalian memang selalu bersaing dan mendapatkan peringkat yang sama selama ini. Tapi kali ini Samudra mendapatkan peringkat yang melebihi kalian karena dia mendapatkan satu nilai yang melebihi kalian satu poin,” ucap Bu Anri. “Hah? Kok bisa bu? Emangnya nilai apa?” tanya Windi. “Bukannya nilai dia dengan nilaiku dan Galuh juga sama?” “Bukan. Kalian masih ingat bahwa daftar peringkat tidak saja dilihat dari perolehan nilai tapi juga dari yang lain,” jawab Bu Anri. Windi terdiam. “Daftar peringkat ini dilihat juga dari keaktifan kalian di ekstrakurikuler. Dan Windi, kamu belum terdaftar di satupun ekstrakurikuler. Kenapa kamu tidak masuk ke KIR lagi?” tanya Bu Anri. Windi tak menjawab. Dia menoleh ke arah Galuh dan menatap Galuh dengan tatapan tidak suka. Semua anak tampak berbisik-bisik. “Oh ya, semua belum tahu kan kalau sebenarnya Samudra pernah meraih medali emas kejuaraan Pencak Silat? Semoga dia bisa juga mempersembahkan piala buat sekolah kita nantinya,” ucap Bu Anri. Semua murid tampak terkejut. Sebagian yang sudah tahu tentang Samudra hanya diam saja tak terkejut dengan berita yang baru saja disampaikan oleh wali kelas mereka. Samudra cuma nyengir mendapatkan pujian dari beberapa teman-teman sekelasnya. Galuh membuang mukanya. Dia tak menatap ke arah Windi seolah-olah mengatakan “Sudah cukup”. “Baiklah. Sekarang kita kembali ke pelajaran!” ucap Bu Anri. * * * “Ikut gua!” ujar Windi menarik tangan Galuh setelah jam istirahat dimulai. Galuh tentu saja kaget ketika tangannya ditarik seperti itu. Samudra juga yang duduk di belakang Galuh terkejut melihat mereka. Galuh terus diseret oleh Windi. Mereka menuju ke anak tangga dan menaikinya. Windi dengan cepat menggeret Galuh sambil berlari membuat Galuh tertatih-tatih mengikuti langkah kaki Windi yang semakin cepat. Mereka akhirnya sampai juga di atap sekolah. Setelah sampai di atap sekolah Windi mendorong Galuh. “Apa maksud lo?” tanya Windi. “Kamu tak ikut KIR bukan? Makanya aku hapus kamu dari keanggotaan sebulan yang lalu,” jawab Galuh. Windi berang. Dia kemudian menampar Galuh. Tamparan itu sangat keras sampai-sampai membuat kacamata Galuh terlepas dari tempatnya hingga jatuh ke bawah. Galuh langsung menangis ketika merasakan sakit di pipinya. Dia memegangi pipinya yang merah. “Kau sudah merebut Pak Daniel dariku. Sekarang kau ingin apa? Kau ingin menghancurkan aku juga? Kenapa kau tidak memasukkanku ke dalam KIR? Aku tidak pernah meminta itu. Aku ingin namaku tetap di sana tapi kenapa kau malah menghapusnya?” bentak Windi. Galuh tak menjawab. Ia hanya menangis sambil memegangi pipinya. “Oh, aku tahu. Kau benar-benar tak menganggap aku lagi. Baiklah. Baiklah aku mengerti. Aku akan menjadi musuhmu sekarang. Aku akan buat hidupmu menderita!” ucap Windi. “T-tapi, kau kan memang tak ikut. Kenapa aku ha...harus memasukkan... mu ke daftar anggota aktif?” tanya Galuh sambil menangis. “Suka-suka gue! Lo sudah berjanji melakukan apapun buat gue kan? Trus sekarang kenapa? Lo sudah nggak mau lagi?” “B-bukan begitu.” “Trus apa?” “Sebentar lagi ada lomba Win.... ka-kami butuh orang. Bagaimana kami bisa mengikuti lomba kalau cuma berempat?” “Itu kan urusan lo. Lo bisa bayar orang buat jadi anggota bukan?” “Itu tidak mungkin!” ujar Galuh sambil meninggikan suaranya. “Bagaimana bisa aku memasukkanmu ke dalam daftar kalau ketemuan saja tidak pernah? Selama ini kamu kemana?” “Itu urusan lo. Sekarang... denger baik-baik!” Windi menarik kerah baju Galuh. “Lo masukin gue ke daftar anggota atau gua rusak hidup lo!” Windi mengancam Galuh. Galuh memejamkan matanya. “Ada syaratnya. Asal kita seperti dulu lagi aku mau.” Windi mendorong Galuh. “Sialan!” “Win, kumohon. Kenapa kamu jadi seperti ini sekarang? Dulu kamu tidak seperti ini. Kamu masih ingat kita pernah jalan bersama bukan? Bahkan hadiah darimu masih aku simpan sampai sekarang. Tapi kenapa kamu jadi seperti ini?” “Itu semua gara-gara elo! Tahu nggak?” “Kenapa gara-gara aku? Salah aku apa?” “Lo tahu kalau gua suka dengan Pak Daniel. Lalu apa yang lo lakuin ke gua? Menikam dari belakang!” “Win, aku gak ada maksud seperti itu.” “Bohong! Dibalik wajah lugumu itu lo itu jahat! Gua tahu semuanya. Gua tahu sifat elo yang sebenarnya Gal. Lo suka merebut milik orang lain dengan wajah polosmu itu. Lo emang b******k! Lihat saja setelah ini gua hancurin hidup lo!” ujar Windi. Galuh makin bersedih. Dia merasa lebih baik ditampar Windi daripada mendengar ucapan Windi. “Itu tidak benar Win. Itu tidak benar. Aku tak pernah punya pemikiran seperti itu. Aku juga tak pernah punya perasaan dengan Pak Daniel.” “Bohong!” bantah Windi. “Lo jujur sekarang ke gue. Lo suka ama Pak Daniel kan?” Galuh menggeleng. “Tidak Win.” “Jangan bohong!” bentak Windi. “Bener Win, suwer. Buat apa aku berbohong?” Windi tersenyum sinis. “Heh, masih juga ngeles. Gue lihat semuanya.” “Maksudmu?” “Hari itu gue ngikuti elo. Enak ya jalan berdua seperti itu. Trus makan malam, habis itu di bawah sinar rembulan kalian bermesraan. Ckckckckck, menikam teman dari belakang. Seperti itu kan sifat lo yang asli? Bagus, bagus. Selama ini elo menampilkan sikap bersahabat ama gue tak tahunya wajah elo yang asli seperti itu.” “Win, aku bisa jelasin semuanya. Itu tak seperti yang kamu kira!” bantah Galuh. “Tidak seperti yang gue kira. Hahahaha.” Windi tertawa datar. Dia tersenyum sinis kepada Galuh sambil mendekat ke arah gadis itu. Mata Windi kini berubah mengerikan. Ia benar-benar seperti hendak menerkam siapapun. “Bener Win, ini tidak seperti yang elo kira selama ini,” ujar Galuh. “Lo tahu, gua udah muak ama elo. OK, kalau elo tak memasukkan gue ke daftar anggota KIR. Siap-siap aja. Ada sebab ada akibat,” ancam Windi. Windi akan beranjak pergi. Tapi Galuh langsung menghalanginya dengan menarik lengan Windi. Windi berusaha meronta agar genggaman Galuh terlepas. “Lepasin gue!” ucap Windi. “Tunggu Win! Elo salah sangka selama ini. Bukan begitu peristiwa yang terjadi Win! Please kamu harus denger ceritaku!” pinta Galuh. “Tak ada yang perlu didengarkan!” bentak Windi. Dia kemudian mengangkat tangannya hendak memukul Galuh lagi. Tetapi sesuatu terjadi, tangannya tertahan. Samudra ada di sana menahan tangan Windi agar tidak menampar Galuh lagi. Windi menatap mata Samudra. Galuh terkejut melihat Samudra sudah ada di atap. Bagaimana pemuda itu bisa sampai di atap? Galuh menelan ludah melihat bagaimana Samudra tepat berada di sisinya. Semuanya kejadian ini sungguh cepat. Hampir saja tangan Windi menyentuh wajahnya sekali lagi tapi seorang pahlawan telah menolongnya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Samudra. Tangan Windi lemas. Tiba-tiba ia tak bertenaga. Windi juga tak mengerti kenapa bisa seperti itu. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Bukan, lebih tepatnya waktu serasa berhenti saat itu. Perut Windi seperti ada yang menggelitik seolah-olah ada kupu-kupu yang sedang menari-nari di dalamnya. Seluruh panca indera yang ada di tubuhnya serasa berhenti berfungsi. Ia tak bisa berkata apa-apa ketika tangannya dipegang Samudra seperti sekarang ini. “Cukup!” ucap Samudra. “Apa yang kau lakukan?” “A-aku....” Windi tak bisa meneruskan kata-katanya. Samudra menurunkan tangan Windi yang lunglai. Tiba-tiba saja Windi mundur, lalu berlari secepatnya meninggalkan Samudra dan Galuh. Galuh ingin mencegah Windi agar tidak pergi meninggalkan dia. “Win, tunggu! Aku belum selesai!” ucap Galuh. Terlambat. Windi sudah meninggalkan atap sekolah. “Sudahlah! Tak usah dihiraukan! Kau tak apa-apa?” tanya Samudra kepada Galuh. Galuh mengangguk. “Kita ke ruang UKS sekarang!” ucap Samudra. “Bibirmu berdarah.” “Hah?” Galuh terkejut. Ia mencoba meraba sudut bibirnya. Benar sekali. Ada darah di sana. Tanpa banyak bicara Samudra segera menarik tangan Galuh untuk pergi. Kali ini Galuh ditarik lagi tapi bukan oleh Windi. Cara menariknya pun beda. Kalau Windi menariknya dengan kasar, kali ini Samudra menariknya dengan lembut. Siapa sih pemuda ini? Kenapa tiba-tiba ia bisa ada di atap? Kenapa ia bisa-bisa datang dalam kehidupannya? Galuh tak habis pikir. Dulu dia pernah berkata “Kalau ada cowok yang lebih pintar dariku, aku mau kok jadi pacarnya”. Sekarang Galuh menelan ludah. Ia terkena omongannya sendiri sekarang. Tabel peringkat di kelas itu nyata. Ada orang yang mampu mengalahkan dirinya dan sekarang orang itu sedang menuntun dia untuk ke ruang UKS. Galuh berdebar-debar. Perasaan ini sebenarnya bukan pertama kali ia rasakan. Ia pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Tapi kali ini perasaan itu lebih menggelora lagi. Telinganya serasa berdengung, perutnya seperti melilit seolah-olah ada kupu-kupu yang sedang menari-nari di sana. No way! Tidak mungkin! Dia merasakan hal yang sama lagi. * * * “Kompres saja pipimu!” ucap Samudra sambil memberikan buntelan kompres yang berisi es batu. “Aw,” Galuh mengaduh saat hawa dingin menyentuh pipinya. “Menurutmu Windi akan baik-baik saja?” tanya Samudra. “Dia akan baik-baik saja,” jawab Galuh. “Sebenarnya ada apa dengan kalian?” tanya Samudra lagi. “Tak ada apa-apa,” jawab Galuh. “Ayolah, kalau sudah sampai seperti ini rasanya sudah bukan tidak ada apa-apa lagi namanya. Apa yang kau sembunyikan dariku? Kenapa kau sangat ingin tahu tentang keberadaan Pak Daniel?” Galuh terdiam. Butuh waktu lama rasanya menunggu gadis itu bisa bicara lagi. Sementara itu Samudra terus memegangi kompresnya. Samudra melihat ke meja yang ada di dekat ranjang UKS. Kacamata Galuh patah. Dia pasti akan terganggu penglihatannya. Samudra kemudian duduk di kursi. Dia tetap menunggu jawaban dari Galuh. “Kita teman bukan?” tanya Samudra. Galuh menoleh ke Samudra. Dia mengangguk. “Iya, kita berteman.” “Kalau begitu kenapa kau tak ceritakan permasalahanmu. Bisa jadi aku adalah orang yang bisa memecahkan persoalanmu,” ucap Samudra. Galuh tersenyum. “Aku masih belum bisa menceritakannya. Mungkin, karena aku tidak terlalu nyaman.” “Kenapa? Oh baiklah. Aku orang yang baru kau kenal. Itu wajar, tetapi aku tidak butuh alasan untuk menolong siapapun sekalipun dia bukan temanku, bahkan mungkin kalau itu adalah musuhku pun aku akan tetap menolongnya,” ujar Samudra. Galuh mengernyit. Barangkali apa yang diucapkan oleh Samudra itu aneh. “Kenapa sampai begitu?” “Ehmm... entahlah. Mungkin karena satu hal aku melakukan ini,” ujar Samudra. “Apa?” “Kau mungkin tak akan percaya dengan ceritaku tapi tak apa.” Samudra menimang-nimang keputusannya. “Cerita apa?” “Bagaimana kalau kita bertukar rahasia. Aku akan ceritakan sebuah rahasia kepadamu dan kamu ceritakan sebuah rahasia kepadaku?” tawar Samudra. “Ini kesempatan berlaku hanya sekali.” Galuh menipiskan bibirnya mencoba untuk menimang-nimang tawaran Samudra. “Hmm... aku tak tahu itu akan menguntungkanku atau tidak.” “Aku tak akan memaksamu, tapi sejujurnya aku sendiri tak punya beban membagikan rahasiaku kepadamu,” ujar Samudra. “Kalau itu rahasia, kenapa kamu mau membaginya denganku?” “Karena aku pasti disangka orang gila kalau menceritakannya sembarangan kepada siapapun.” Galuh merasa aneh dengan penjelasan Samudra. Ternyata cowok ini lebih aneh dari yang pernah ia sangka sebelumnya. “Baiklah, kau ceritakan rahasiamu kepadamu dan aku akan ceritakan rahasiaku.” “Nah, begitu!” ucap Samudra. Ruang UKS ini hanya ada satu guru yang piket. Dan guru itu berjaga untuk apabila ada siswa yang sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan kesehatan seperti Galuh sekarang ini. Dan guru itu ada di ruangan itu bersama mereka. Samudra menoleh kepada guru tersebut. Namanya Bu Ami. Dia sebenarnya pengajar mata pelajaran Biologi tapi saat ini juga mendapatkan tugas untuk menjaga ruang UKS. “Tak usah hiraukan aku,” ucap Bu Ami yang sepertinya mengerti maksud dari Samudra. “Ah, ibu dengar juga nggak apa-apa kok, lagipula tidak banyak orang yang mempercayainya,” ujar Samudra. Galuh makin penasaran. “Apa sih?” “Peristiwa ini terjadi ketika aku masih di Aceh. Aku punya keluarga di sana yang sekarang sudah meninggal. Ayah, ibuku dan juga adik-adikku. Aku tak punya keluarga lagi sekarang, tetapi mereka adalah satu-satunya rumahku. Di sana aku hidup bahagia. Setiap hari aku selalu mengisi hari-hariku dengan bermain dengan adik-adikku. Ayah kandungku bernama Teuku Usman, beliau orang yang cukup terpandang di kampungku. Beliau juga adalah seorang ustadz yang memang disegani di kampung. Setiap hari banyak anak-anak yang mengaji kepadanya di masjid. Kehidupanku bahagia di sana bahkan sampai sekarang pun aku masih merindukan tempatku tinggal dulu di Meulaboh, Banda Aceh. “Semuanya berubah karena satu orang yaitu para pencuri. Malam hari sebelum kejadian tsunami itu melanda para pencuri yang tidak bertanggung jawab itu mencuri radar penangkal tsunami sehingga alarm bencana tsunami tidak berbunyi. Tahu-tahu ketika pagi tiba ada gempa yang cukup besar mengguncang tanah Aceh. Saat itu lempengan-lempengan eurasia sedang bergerak membuat bumi diguncang dengan gempa yang cukup hebat. Aku sendiri waktu itu masih bermain bersama teman-temanku. Mendapati guncangan itu semuanya berhenti. Orang-orang kebingungan bahkan sebagian merasa linglung. “Kejadian selanjutnya lebih mengerikan lagi, air laut tiba-tiba menyusut secara tidak wajar. Ketika orang-orang berlarian dengan berteriak Air! Air! Air! Aku pun kebingungan. Entah bagaimana aku pun ikut lari bersama orang-orang. Seseorang menarikku karena ia mengatakan bahwa ada air. Aku terseret bersama mereka tetapi tak bisa menolak, aku bahkan sampai terjatuh. Ketika aku sadari bahwa ada air berwarna hitam pekat yang mengejarku dari belakang akhirnya aku sadar sedang dikejar tsunami. “Aku sudah tak mempedulikan lagi keberadaan keluargaku, yang jelas aku terus belari sekuat tenaga hingga paru-paruku kehabisan udara. Airnya terus mengejarku hingga bahkan orang-orang yang minta tolong kepadaku pun tak aku hiraukan lagi. Yang ada di pikiranku adalah melarikan diri sejauh-jauhnya ke tempat yang lebih tinggi. Air itu melahap apapun yang ada di hadapannya. Tapi secepat-cepatnya aku berlari aku hanyalah anak kecil. Air itu bisa mengejarku. Awalnya sedikit lama-lama aku pun terdorong arusnya yang kuat. Tsunami itu pun akhirnya menerjangku. Aku terhempas ke sana kemari hingga akhirnya tersangkut di sebuah pohon. Saat itu suasana benar-benar mengerikan. Aku sempat bertanya kepada diriku sendiri apakah aku akan mati? Apakah aku akan mati saat itu? “Namun sesuatu terjadi. Di saat teriakan-teriakan orang-orang tidak terdengar lagi, bahkan sebagian kulihat mayat-mayat mulai mengapung, dan juga lenganku yang sudah tidak kuat lagi untuk berpegangan kepada pohon, saat itulah aku ditolong. Yang menolongku bukan orang biasa. Dia sebenarnya sebaya denganku, karena dia juga masih anak kecil. Aku saat itu sudah tak sadar lagi karena kelelahan, bahkan paru-paruku sampai kemasukan air. Dia yang menggeretku sampai ke tempat yang lebih tinggi. Dia mengurut dadaku hingga semua air yang ada di paru-paruku keluar. Aku terbatuk-batuk keras sampai keluar semua air yang berada di dalam dadaku. “Dia menyuruhku untuk bertahan karena siapa tahu tim penyelamat akan menolongku. Aku sudah lupa wajahnya seperti apa. Aku hanya ingat kebaikannya. Bisa jadi dia melupakan keluarganya demi menolongku waktu itu. Maka dari itulah aku mengingat pertolongannya sampai sekarang. Aku berhutang nyawa kepadanya. Dia adalah seorang bocah perempuan yang bisa berjalan di atas air. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dia pergi meninggalkanku dengan kakinya yang mengambang di atas air. Bukan sulap, bukan sihir tapi nyata. Seolah-olah air tak berani untuk menyentuhnya barang sedikit pun. Dia melakukannya seperti berjalan di atas tanah. Sejak saat itulah aku ingin sekali bertemu dengannya lagi sampai sekarang,” tutur Samudra. Galuh termangu mendengar ceritanya. Demikian juga Bu Ami. Seakan tak percaya, Galuh berusaha melihat tatapan mata Samudra. Di sana ada tatapan mata seorang lelaki yang sedang bicara serius. Tak ada mimik bercanda, tak ada mimik untuk membuat lelucon. Tatapan mata lurus ke depan seperti orang berbicara serius. Samudra kemudian tersenyum melihat tingkah Galuh yang mengamatinya. “Kau sungguhan?” tanya Galuh. “Aku bicara jujur,” jawab Samudra. “Perempuan itu memang ada. Aku tahu sekarang ini mungkin ia sebaya denganku. Apa yang telah dia lakukan telah mengubah hidupku selamanya. Aku ingin mencari dia sampai ketemu. Aku juluki dia Gadis di Atas Air.” “Menurutmu, dia masih di Aceh?” tanya Galuh. “Aku tak yakin dia masih ada di Aceh. Kemungkinan juga dia sudah diadopsi atau pindah ke luar Aceh. Banyak korban karena tsunami itu. Bisa jadi dia sudah tidak di Aceh lagi. Dengan kemampuannya seperti itu mungkin saja dia sudah pergi jauh,” jawab Samudra. Galuh mengangguk mengerti. “Kenapa? Kau tidak percaya dengan ceritaku?” tanya Samudra. “Tidak seperti itu. Meskipun sulit untuk dicerna dengan akal,” jawab Galuh. “Tidak setiap yang kamu lihat di dunia ini bisa dicerna dengan akal. Aku baru sadari ketika melihat gadis itu. Secara tak sadar karena aku terobsesi untuk mencarinya ada sisi bagian di dalam jiwaku yang punya perasaan khusus kepadanya. Secara tak sadar aku telah mencintainya, meskipun mungkin aku tak tahu apakah dia sudah punya kekasih? Sudah meninggal mungkin. Atau dia sudah hilang di telan masa,” ujar Samudra. “Ehmm... ceritamu menarik. Jadi kau secara tak sadar jatuh cinta dengan perempuan itu?” tanya Galuh. “Iya, begitulah. Dia ibarat wanita impianku,” jawab Samudra. “Cieeh, wanita impian,” gelak Galuh. “Kamu sendiri bukan orang yang aku cari bukan?” tanya Samudra. “Bukan,” jawab Galuh. “Aku cuma orang biasa Sam. Nggak punya kekuatan super semacam itu.” “Oh, begitu,” ucap Samudra sambil menampakkan raut wajah kecewa. Galuh cuma nyengir melihat Samudra yang kecewa. Yah, jadi Galuh tak bisa dong mengisi kekosongan hati Samudra sepertinya. Galuh sedikit kecewa, pasalnya Samudra sendiri seorang anak yang pintar, juga baik. Dia yakin itu. Namun meskipun begitu alasan Samudra yang tidak masuk akal ini membuat dia lebih tertarik lagi. Anak ini memang seorang cowok yang luar biasa. “Aku percaya kepadamu,” ucap Galuh. “Aku akan mendo’akanmu agar bisa bertemu dengannya.” “Menurutmu di sekolah ini ada perempuan yang aku cari?” tanya Samudra. “Ah, kalau itu.... aku tak tahu, Sam. Sulit untuk bisa mengetahuinya selain kamu uji saja mereka semua satu per satu buat nyebur ke kolam. Tapi hati-hati, salah menguji bisa berbahaya. Ada yang tak bisa berenang lho. Windi salah satunya. Ia trauma dengan air,” ujar Galuh. “Windi trauma dengan air?” tanya Samudra. “Iya. Malah ia paling benci kalau ada olahraga berenang. Dia selalu menghindar. Dia pernah sampai hampir tenggelam karena itu,” cerita Galuh. “Aku yang menolognya waktu itu. Dia bilang ia tak bisa berenang dan benci air. Kalau tak terpaksa karena pelajaran olahraga ia tak akan melakukannya. Maka dari itu Pak Gatot selalu memaklumi kalau Windi tidak masuk ke kolam renang dan lebih memilih diam di luar kolam.” “Oh, begitu.” Sam manggut-manggut. Galuh lalu menghela napas. Dia punya janji sekarang kepada Samudra. Menceritakan sebuah cerita rahasia tentang dirinya dan Windi. Alasan kenapa Windi sampai marah seperti itu kepadanya hari ini bahkan hingga menamparnya. Galuh menurunkan kompresannya, lalu meletakkannya di sebuah wadah baki yang ada di atas ranjang. “Peristiwa ini berawal ketika guru itu datang,” ujar Galuh. “Pak Daniel Ishaq, seorang guru honorer yang mana bertugas menggantikan sementara Bu Sulis yang sedang cuti melahirkan. Beliau cukup populer di kalangan murid-murid kala itu.” “Jadi dia guru sementara gitu?” tanya Samudra. “Iya, dia guru sementara. Tapi statusnya di sekolah ini guru honorer gitu. Dia yang mengajarkan kami tentang matematika dengan cara yang lebih cepat. Dari soal persamaan yang kita kerjakan di ulangan kemarin cara yang beliau pakai sama,” jawab Galuh. “Trus, awalnya bagaimana?” tanya Samudra lagi. “Aku dan Windi dulu termasuk kawan baik. Aku sering membantu dia dan dia juga sering membantuku. Windi juga sering ke rumahku, sejak kelas X kami berteman. Namun semua berubah setelah kita naik ke kelas XI. Semua diawali pada hari itu ketika guru itu datang ke kelas kami,” ujar Galuh menceritakan masa lalu mereka. “Pak Daniel orangnya cukup menarik. Beliau satu-satunya guru yang membuat semua murid tertarik dengan matematika. Penjelasan beliau cukup mengena bagi kami. Beliau bisa menjelaskan segala persoalan yang rumit menjadi sangat jelas. Bahkan banyak murid-murid yang nilainya terbantu dengan kehadiran beliau di sini. Secara tak langsung beliau mengajarkan kami cara belajar yang baik dan benar. Maka dari itulah dalam waktu singkat beliau menjadi guru favorit melebihi guru-guru yang lain. “Selain beliau pandai dalam mengajar, beliau juga sangat dekat dengan murid-murid. Terutama aku dan Windi. Sampai kemudian kami mengikuti olimpiade matematika dan fisika. Sekolah ini menunjuk aku dan Windi. Pihak sekolah kemudian mengutus Pak Daniel untuk membantu kami. Selama satu bulan kita latihan soal bersama. Aku dan Windi diberikan soal-soal yang sangat berat dan sulit untuk dikerjakan. Selama itu pula akhirnya hubungan kami menjadi dekat. Aku, Windi dan Pak Daniel tidak saja seperti guru dan murid tapi lebih dari itu, kami seperti teman biasa. “Pada suatu malam Windi menginap di rumahku. Itu sudah hal yang biasa bagi Windi untuk menginap di rumahku. Ayah dan ibuku sudah menerima dia. Aku dan Windi mulai dekat semenjak ia kehilangan ibunya. Sebagai putri seorang gubernur ia memang tak siap menghadapi realita kehidupan yang sekarang dia hadapi. Kesibukannya di luar sekolah, juga rasa kedukaan kehilangan ibunya benar-benar membuat dia terguncang. Namun dia akhirnya bisa menemukan kedamaian setelah aku berusaha menghiburnya. Ia merasa nyaman denganku hingga kami menjadi sahabat dan sangat dekat. “Aku mengenal Windi sebagai seorang gadis yang baik. Dia tak pernah menyerah terhadap segala kesulitan yang menimpanya. Ia terkenal sebagai perempuan yang kuat dan pemberani. Dari semua teman wanita yang aku kenal, hanya dia satu-satunya yang berani menantang apapun. Maka dari itu satu sekolahan tak ada yang berani untuk mengusik dirinya. Ia seperti singa betina yang bisa mencabik siapapun yang berusaha untuk mengganggunya. Ada sebuah peristiwa yang sebenarnya menjadi rahasia umum sekolah ini. Peristiwa yang mana menjadi batas di mana Windi ditakuti oleh semua orang. “Saat itu ada seorang yang menyukai Windi. Namanya Reza. Orangnya boleh dibilang seorang yang sebenarnya biasa saja. Tapi dia memendam rasa suka kepada Windi. Dia seorang anak pemilik sebuah swalayan waralaba. Mungkin karena dia sombong manakala bisa mendapatkan apapun maka ia berusaha agar Windi bisa juga menjadi miliknya. Awalnya hanya rayuan tak berbalas, hingga kemudian dia mengumumkan diri kepada semua orang bahwa dia adalah pacarnya Windi. Windi tak terima dan apa yang diperbuat oleh Windi setelah itu sangat mengerikan. “Windi bukan saja membuat dia malu untuk pergi ke sekolah tetapi juga malu untuk menghadapi siapapun setelah itu. Entah bagaimana caranya perusahaan ayahnya bangkrut, kemudian dia tanpa busana terekam di luar rumahnya. Esoknya ketika ia masuk kelas dia diejek oleh seluruh sekolahan. Dia depresi hingga akhirnya bunuh diri,” jelas Galuh. “Bunuh diri?” Samudra terkejut. “Iya. Bunuh diri. Dia menabrakkan dirinya ke kereta api. Bangku tempat kamu duduk sebenarnya adalah milik Reza. Tapi itu kejadiannya sudah lama dan tidak ada satu pun yang membekas di dalam ingatan kami selain Reza adalah seorang pecundang. Windi benar-benar bisa menggerakkan semua itu seorang diri. Dengan kekuatan ayahnya dia bisa membuat apapun yang mustahil menjadi benar-benar terjadi,” ujar Galuh. “Makanya sampai sekarang tak ada siapapun yang berani mendekati Windi, khususnya para laki-laki. Mungkin cuma kamu seorang yang berani mendekatinya sampai seperti itu.” Samudra mengangkat alisnya. Dia merinding sendiri mendengar cerita Galuh. Memang orang yang emosinya terganggu akan bisa mengakhiri hidupnya seperti Reza. Merasa dunia ini sudah tidak bisa lagi ada tempat untuknya. Galuh kembali melanjutkan ceritanya. Samudra kembali mendengarkan dengan seksama cerita Galuh. “Selama olimpiade matematika hubungan kami makin dekat. Pak Daniel selalu menyemangati kami agar bisa dan bisa. Kami bahkan bisa dengan cepat menyelesaikan segala persoalan yang diberikan. Hingga pada hari olimpiade itu aku dan Windi berhasil mendapatkan juara. Setelah olimpiade itulah terjadi sesuatu di antara aku dan Windi. Windi bercerita kepadaku kalau dia punya rasa kepada Pak Daniel. Dia ungkapkan itu kepadaku. Sebenarnya bagiku itu tidak masalah, karena pada hakekatnya kami memang selalu berbagi perasaan. Jadi dia tahu apa yang terjadi kepadaku dan sebaliknya. “Namun ternyata kejadiannya tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Pada malam sebelum kami kembali ke rumah, Pak Daniel mengajakku untuk berjalan-jalan ke taman. Terus terang aku tak tahu apa maksudnya. Aku sudah menganggap Pak Daniel seperti teman, seperti sahabat. Jadi tak ada rasa kecurigaan secuil pun kepadanya. Kami kemudian makan malam, menghabiskan waktu bersama. Terakhir kali kami menghabiskan waktu di taman. Sebenarnya juga aku tak punya firasat apa-apa sampai kemudian di taman itu terjadi sesuatu antara aku dan Pak Daniel. Di taman itu Pak Daniel menembakku.” Galuh berhenti bercerita. Dia mencoba melihat reaksi Samudra. Pemuda ini tak menunjukkan reaksi apa-apa hanya berwajah datar. Hingga kemudian Samudra bertanya-tanya kenapa Galuh berhenti bercerita. “Kenapa?” tanya Samudra. “Kau tak terkejut ketika aku bilang begitu?” tanya Galuh. “Emangnya harus?” tanya Samudra penasaran. “Hello Sam, dia guru aku murid. Dia menembakku untuk jadi kekasihnya, bahkan dia menciumku waktu itu. Aku tak tahu harus bagaimana saat itu kecuali mematung begitu saja! Itu gila!” jelas Galuh. “Oh, wow!” ucap Samudra. “Whaaat?!” Galuh menghela napas sambil menatap Samudra dengan tatapan yang aneh. “Apaan sih? Kenapa baru sadar? Kamu dengerin ceritaku nggak sih?” “Sorry. Maaf. Aku terkejut, kok bisa?” Samudra baru merasa terkejut. “Ya bisalah, tanyain sendiri kepada Pak Daniel kenapa dia berbuat seperti itu. Dia bilang begini ‘Iya, ini perasaan yang tak seharusnya dirasakan oleh seorang guru kepada muridnya. Tapi aku tak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan kebenaran tentang hatiku. Jadi dengan ini aku bisa memberitahukan bagaimana perasaanku kepadamu’ begitu katanya. Itu pertama kalinya aku dicium dan ini sangat, sangat memalukan! Aku tak pernah merasa gemetar seperti saat itu. Semenjak itulah aku tidak lagi bertemu dengan Pak Daniel. Iya kami pulang bersama, tapi hanya aku dan Pak Daniel. Dia bahkan mengantarkanku sampai ke rumah tapi minus Windi. Saat itu ajudannya yang menelponku kalau Windi sudah pulang duluan. Semenjak itulah sikap Windi berubah. Semua adalah salahku, seharusnya aku marah saat itu dan tak menerima ciuman Pak Daniel. Itu kan sama saja dengan pelecehan namanya. Dia itu guru Sam! Harusnya guru memberikan contoh yang baik. Tapi....” “Tapi?” Samudra memotong. “Tapi, aku baru tahu kalau Windi melihat semuanya tadi. Aku jadi serba salah. Aku serba salah semenjak Windi selalu marah-marah kepadaku. Ia kemudian menjauh dariku dan membentuk kelompok sendiri bersama teman-temannya. Ia bahkan tak ikut lagi di ekstrakurikuler KIR. Aku selalu menempatkan namanya di keanggotaan tapi setelah kau bilang bahwa aku menyiksa diriku sendiri akhirnya aku menghapus namanya,” jelas Galuh. “Jadi aku salah satu dari pencetus pertengkaran tadi?” tanya Samudra. “Secara tak langsung sih iya. Maaf ya, aku tak bermaksud seperti itu,” jawab Galuh. “Tidak perlu minta maaf. Kau sudah melakukan hal yang benar. Kenapa harus meminta maaf?” Samudra berusaha meyakinkan Galuh bahwa tindakan yang diambil Galuh sudah benar. “Sebaiknya sekarang kau mau apa? Pulang atau kembali ke kelas?” “Entahlah, mungkin pulang saja,” ucap Galuh. “Aku akan bantu mengambil tasmu, kita pulang sama-sama,” tawar Samudra. “Heh? Kok sama-sama?” tanya Galuh. “Kamu dalam kondisi sakit, meskipun sakitmu tidak separah orang yang sakit, tetapi tentunya untuk kembali ke kelas bakal banyak yang bertanya-tanya. Sebaiknya kamu pulang saja denganku,” ujar Samudra. “Tapi nanti kamu ketinggalan pelajaran!” “Tak usah mengkhawatirkanku!” Samudra kemudian beranjak dari tempatnya duduk. “Aku sudah mendengar semuanya, tinggal kita harus membicarakan hal ini dengan Windi.” “Jangan!” ucap Galuh. “Kenapa harus seperti itu?” “Bukankah kamu ingin Windi bisa berteman denganmu lagi? Bukankah kau ingin dimaafkan olehnya?” “Iya, tapi...” “Tak ada tapi-tapian. Sebenarnya persoalan kalian itu sepele. Kalian hanya butuh komunikasi itu saja sebenarnya. Kita itu tidak hidup di dunia sinetron yang mana saling menyembunyikan persoalan yang sebenarnya. Kalian tidak seperti itu!” ujar Samudra. “Ikuti saranku, aku akan menengahi kalian agar bisa bersatu lagi.” “Baiklah,” kata Galuh sambil menghela napas. “Kau tak perlu merasa bersalah kalau itu bukan salahmu,” kata Samudra.  Galuh tersenyum. Ada secercah rasa bahagia terpancar di wajahnya. Dia merasa Samudra bisa diandalkan dalam urusan ini. Tapi dia tahu bahwa siapapun yang berurusan dengan Windi rasanya orang itu akan masuk kepada kesialan yang lebih lagi. Apakah Samudra akan menemui kesialan ketika berurusan dengan Windi? Sebenarnya sudah bukan? Buktinya tangan Samudra sampai terluka. Tebak Galuh itu pasti gara-gara Windi juga. Menurutnya barangkali Samudra ini bukan orang sembarangan. Sebab Samudra lebih suka menghadapi kesialan daripada menghindarinya. Dan satu lagi, Galuh tetap penasaran hubungan Samudra dengan Pak Daniel. Siapa tahu juga nanti dia bisa mengorek keterangan dari Samudra keberadaan Pak Daniel. “Kau tak bertanya kenapa Pak Daniel menghilang?” tanya Galuh. “Bukan itu tujuanku. Tujuanku adalah aku harus bisa mendamaikan kalian berdua. Untuk urusan Pak Daniel, kurasa tidak terlalu penting bagiku,” jawab Samudra. “Tapi keberadaan Pak Daniel penting bagiku!” ujar Galuh. “Oh, kenapa?” “Sebab gara-gara dialah aku dan Windi bertengkar! Kalau ada dia mungkin kami bisa berdamai lagi,” ujar Galuh. “Aku tahu ini rasanya tidak masuk akal tapi itulah yang terjadi. Aku harus bisa bertemu dengan Pak Daniel.” “Kita akan cari sama-sama,” kata Samudra. “Sungguh?” Galuh tiba-tiba bersemangat. “Iya, aku akan membantumu mencarinya,” jawab Samudra. “Tapi bagaimana?” “Kita akan pikirkan itu nanti. Sekarang kamu harus pulang,” ucap Samudra sambil mengulurkan tangan kirinya. “Maaf, tangan kananku masih sakit.” Galuh mengangguk. Dia sangat gembira sekali kali ini mendapatkan seorang teman dan sepertinya getaran-getaran di dadanya kian bergemuruh ketika tangannya digenggam oleh Samudra. Galuh merasa makin banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Tangan Galuh ditarik oleh Samudra untuk pergi meninggalkan Ruang UKS. Mungkin di dalam film-film saat-saat seperti ini semuanya seperti sebuah adegan slow motion. Mereka pun keluar dari ruang UKS menuju ke ruang BK minta ijin untuk pulang lebih awal. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN