Samudra masuk ke dalam kelas kemudian mengambil tas milik Galuh. Windi menyaksikannya dengan pandangan tidak suka. Dadanya rasanya bergemuruh untuk bisa marah kepada Samudra. Kenapa dia sampai perhatian seperti itu kepada Galuh pakai mengambilkan tasnya segala? Memangnya siapa Galuh itu? Samudra menyerahkan sebuah kertas yang berisi surat ijin meninggalkan jam pelajaran untuk pulang mengantarkan Galuh kepada guru yang sekarang sedang mengajar. Samudra kemudian juga mengambil tas ranselnya untuk ikut pulang.
“Lho, kamu juga pergi?” tanya Pak Mukhlish guru Kimia yang sedang mengajar.
“Saya rumahnya satu komplek dengan Galuh pak, jadinya cuma saya yang bisa mengantar dia sampai ke rumah,” jawab Samudra.
“Oh, begitu. Ya sudah, sana cepat! Hati-hati lho bawa anak gadis orang,” ucap Pak Mukhlish.
Samudra cuma nyengir disindir begitu. Dia menoleh ke arah Windi yang tampak cemberut menatapnya. Samudra bisa mengerti kenapa Windi menampakkan wajah cemberut. Ratri, Hesti, Lia dan Rona terperangah menyaksikan apa yang terjadi. Hesti bahkan sempat menyenggol-nyenggol tubuh Windi seolah berkata “Kenapa lo diem aja?”
Windi hanya bisa mendengus kesal sambil mematahkan pensil yang ada di tangannya. Suaranya sampai mengejutkan murid-murid yang berada di dekatnya. Samudra melangkah pergi keluar kelas. Windi tak pernah seperti ini sebelumnya. Di dalam dadanya timbul amarah yang tak ia mengerti kenapa sampai harus marah segala.
Samudra sudah berada di tempat di mana sepedanya Galuh diparkir. Galuh masih memegangi pipinya yang merah. Ia tak tahu nanti bagaimana menjelaskan hal itu kepada kedua orangtuanya. Samudra lalu menaiki sepedanya. Kedua ransel mereka tempatkan di keranjang yang ada di depan stang.
“Siap?” tanya Samudra.
Dengan muka memerah, Galuh pun naik di boncengan. Samudra kemudian mulai mengayuh sepeda tersebut. Selama di perjalanan Galuh hanya menunduk. Terus-terang baru kali ini ia dibonceng oleh seorang cowok, apalagi cowok itu seperti Samudra. Selama ini Galuh selalu melarang siapapun memboncengnya tapi kali ini mungkin cuma alasan dia saja yang ingin bisa bersama Samudra. Sebenarnya pula ia bisa saja mengikuti mata pelajaran. Tapi bagaimana pun juga kondisi mentalnya sedang tidak baik. Ia tak tahu bagaimana besok menghadapi Windi. Padahal mereka seharusnya bersahabat, tapi kenapa urusannya jadi seperti ini?
Sepeda melaju di atas jalanan yang biasa dilewati oleh Galuh. Karena tujuan mereka sama maka Samudra tak merasa kesulitan untuk mencari jalan pulang. Selama perjalanan Galuh diam. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya karena ia memang sudah menceritakan sebagian besar kepada Samudra.
“Kau bukan berasal dari kota ini, ya?” tanya Samudra.
Galuh terkejap. Dia baru saja sadar dari lamunannya. “Kok kamu tahu?”
“Logat kamu. Cara bicara kamu berbeda dengan orang-orang yang tinggal di kota ini,” jawab Samudra.
“Kau benar. Aku bukan berasal dari tempat ini,” ujar Galuh. “Kedua orangtuaku dari Jawa, mereka kemudian pindah ke kota ini semenjak aku kecil.”
“Oh, begitu rupanya. Tidak beda jauh dengan orangtuaku. Mereka juga dari Jawa.”
“Wow, mereka mengadopsimu bukan?”
“Iya, mereka mengadopsiku semenjak aku kehilangan semua anggota keluargaku,” ucap Samudra. “Kau sendiri?”
“Aku, kenapa dengan aku?” tanya Galuh.
“Maksudku apakah mereka orangtua kandungmu?” tanya Samudra meyakinkan diri.
“Iyalah. Apa kamu tak melihat kemiripan kami? Kamu sudah bertemu dengan ayahku bukan?”
“Iya sih. Maaf, kalau aku bertanya seperti ini.”
“Aku mengerti, tak apa-apa kok.”
Awan bergulung-gulung mulai menutupi langit. Samudra mendongak. Ia merasa hujan akan turun sebentar lagi. Cuaca akhir-akhir ini tidak menentu, sebentar panas, sebentar hujan. Pergeseran iklim sudah dimulai ternyata. Zat-zat karbon sudah terlalu penat menutupi atmosfer bumi membuat penghuninya serasa tidak nyaman untuk bergerak. Ketidak seimbangan suhu di suatu tempat menyebabkan angin mulai bergerak menuju ke tempat yang lebih panas mengantarkan awan pembawa uap air terkumpul sehingga hujan pun turun.
“Hujan!” seru Samudra.
“Ayo menepi!” ajak Galuh.
Mereka berdua segera menuju ke emperan pertokoan yang ada atap pelindungnya. Kebetulan toko yang ada di pinggir jalan itu sedang tutup. Samudra melihat sebuah papan pengumuman tertempel. Di sana tertulis “HARI INI TUTUP. BUKA KEMBALI BESOK”. Terlalu kebetulan untuk bisa tutup seperti itu terlebih lagi toko-toko yang berada di kanan kirinya saja masih buka. Siapa tahu mungkin karena semesta sedang mempermainkan mereka untuk bisa berada di bawah atap toko tersebut.
Air hujan turun awalnya hanya gerimis yang padat, hingga kemudian volumenya bertambah berubah menjadi hujan yang cukup deras disertai angin. Galuh dan Samudra hanya bisa berdiri sambil bersandar di rolling door ruko tersebut. Mereka memeluk diri mereka sendiri karena kedinginan. Samudra menoleh ke arah Galuh, demikian juga Galuh. Sepertinya keduanya punya pikiran yang sama ketika secara reflek mereka berdua menggelengkan kepala.
“Tidak terima kasih,” ucap Galuh.
“Memangnya kamu tahu aku mau bilang apa?” tanya Samudra.
“Mau menawari pelukan bukan?” tanya Galuh.
“Hahahaha, sok tahu,” ucap Samudra yang kemudian menjulurkan lidahnya dengan mimik lucu.
Galuh tersenyum. Memang dalam situasi seperti ini berpelukan merupakan cara yang cepat untuk mengusir dingin, tapi mereka bukan mahrom. Bisa terjadi sesuatu yang tidak-tidak pastinya. Samudra berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran yang aneh yang melintas di kepalanya. Yang ada sekarang hanyalah keheningan dengan hiburan air hujan yang turun makin deras. Beberapa mobil terlihat berjalan melambat di jalan raya dengan wiper mereka tampak seperti melambai-lambai menghalau air hujan dari kaca depan.
“Ngomong-ngomong,” Galuh memecah keheningan. “Menurutmu kenapa gadis itu bisa berjalan di atas air?”
Samudra menoleh. “Hmm, kenapa ya? Mungkin dia mendapatkan kekuatan itu karena diberikan oleh bumi.”
“Hah? Bagaimana caranya?” tanya Galuh.
“Kau tahu tidak kalau bumi itu sebenarnya merupakan makhluk? Jadi dia bisa berbicara, bisa bergerak, bisa tumbuh, bisa hidup dan juga bisa mati,” ujar Samudra. “Menurutku tidak setiap orang bisa memiliki kemampuan khusus seperti itu. Pasti bumi yang memberikannya.”
“Aku tak percaya,” ucap Galuh.
“Ah, itu sih terserah kamu. Tapi aku percaya itu,” ujar Samudra dengan yakin seyakin-yakinnya.
“Apa dasarmu sampai kau mempercayainya?”
“Rahasia,” kata Samudra.
Mendengar Samudra tidak menjawab pertanyaannya Galuh jadi sewot. “Jelek!”
“Biarin,” ucap Samudra sambil tersenyum.
“Cerita dong!” desak Galuh.
“Kesepakatan kita harus berbagi rahasia kan? Kamu sudah berbagi, aku sudah berbagi. Kalau mau rahasia dibuka maka harus membayar dulu dengan rahasiamu. Katakan rahasiamu nanti aku akan katakan rahasiaku,” ucap Samudra.
“Arrghhh.... kena deh. Ogah ah. Rahasiaku kali ini nggak boleh siapapun tahu,” tolak Galuh.
“Iya, rahasiaku yang ini juga nggak boleh siapapun tahu. Sebab bisa berbahaya,” ujar Samudra.
“Seberbahaya itu?”
“Iya,” ucap Samudra sambil tersenyum penuh misteri.
Galuh tak ingin bertanya lebih jauh lagi. Dia tahu bahwa Samudra ini orang yang misterius, pasti punya banyak rahasia yang dia miliki. Tapi semakin banyak rahasia yang dimiliki maka Galuh semakin penasaran ingin tahu meskipun ia sendiri takut apabila rahasia itu justru membuat dirinya tidak siap untuk mendengar penjelasan panjang lebar dari Samudra.
“Kira-kira apa yang akan kita ajukan untuk lomba KIR nanti?” tanya Samudra.
“Ehmm? Kau yakin mau ikut?” tanya Galuh serasa tak yakin.
“Bukannya kamu kemarin yang memaksaku untuk ikutan?”
“Yah, iya sih. Hehehehe, cuma ngetes. Baiklah sebenarnya aku sudah ada ide, tapi ideku belum tentu disetujui oleh semua anggota,” jawab Galuh sambil menjentikkan jari.
“Apa memangnya?”
“Aku ingin membuat sebuah percobaan energi alternatif seperti yang sudah-sudah. Mungkin dari tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita, seperti misalnya pohon asem atau pohon belimbing yang tingkat PH-nya cukup tinggi. Biasanya tanaman yang punya tingkat PH tinggi akan bisa menghasilkan listrik,” jelas Galuh.
Samudra menggaruk-garuk dagunya. Ia berpikir sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya. “Aku tidak setuju.”
Galuh merasa tidak setuju dengan penolakan Samudra. “Lho? Kenapa? Kita pernah lho menang tahun kemarin karena membahas energi alternatif yang didapat dari kulit pisang. Kita bisa menggunakannya untuk mengisi batery ponsel, kita juga bisa menggunakannya untuk bahan bakar alternatif juga.”
“Begini, waktu kita sempit. Satu bulan untuk menyelesaikan projek dan kemudian ikut lomba KIR? Tidak tidak. Tidak bisa. Kita tak akan bisa melakukan penelitian seperti itu. Apalagi apa yang akan kau korbankan untuk percobaannya mau cari pohon asem di mana? Pohon belimbing di mana? Kemudian metode penelitiannya bagaimana? Ingat karena ini Karya Ilmiah maka setidaknya kau harus memberikan dasar hukum, teori-teori yang masuk akal, serta beberapa literatur percobaan yang telah dilakukan oleh orang lain. Itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Satu bulan tidak akan cukup untuk menjalankan idemu,” ujar Samudra.
“Iya juga sih. Dulu kami sudah siap segalanya sebelum maju ke KIR, jadi materi sudah ada dan tinggal ikut lomba. Semua yang mengerjakan kakak-kakak senior,” jelas Galuh.
“Nah, kali ini kamu yang jadi senior. Seharusnya kamu bisa berpikir lebih jauh lagi,” ucap Samudra sontak menyadarkan Galuh bahwa dia belum siap sama sekali.
“Oh iya. Benar juga. Aduh, padahal lomba sudah sebentar lagi dimulai,” ucap Galuh panik.
Samudra terdiam sambil memandangi langit yang menurunkan tetesan-tetesan air yang sangat deras. Genangan mulai tercipta di jalanan. Trotoar-trotoar terlihat basah. Beberapa mobil yang membelah aspal menyipratkan air ke pinggir jalan. Untungnya kedua remaja ini jauh dari tepi jalan sehingga tidak terkena cipratan itu. Samudra kemudian menjentikkan jari.
“Aku tahu!” seru Samudra.
“Hmm? Apa?”
“Aku punya ide. Idenya sederhana sih.”
“Apa? Jangan bikin penasaran dong!”
“Kita bikin drone!”
“Hah? Bikin drone? Itu mahal tahu! Budget kita terbatas lho!”
“Kalau soal itu kau tak usah khawatir. Kita bikin drone dari bahan-bahan bekas. Yang pasti bakalan heboh nantinya,” jelas Samudra.
“Wow! Tapi kamu yakin bisa?” Galuh sedikit ragu.
“Aku pernah terbang jadi aku yakin kita pasti bisa,” jawab Samudra.
“Pernah terbang?” Galuh heran.
“Iya dong. Masa’ kamu tak pernah naik pesawat?”
“Oh, kukira kamu bisa terbang gitu. Hehehehe. Mana mungkin manusia bisa terbang. Hahahahaha,” gelak Galuh.
Samudra hanya nyengir kuda. Hanya saja Galuh masih merasa aneh dengan kejadian di atap sekolah. Bagaimana Samudra bisa dengan cepat ada di atap sekolah? Terkecuali ia memang terbang kemudian mendarat di atasnya. Bagaimana pun juga tak mungkin ada manusia yang bisa terbang di dunia ini, kecuali dia Superman. Tapi Superman itu tokoh fiksi, lagipula orang yang dikabarkan bisa terbang itu pasti punya peralatan khusus semacam roket atau semisalnya. Kalau ada orang yang bisa terbang tanpa memakai alat apapun maka ada kemungkinan dia pasti melihara jin. Tiba-tiba Galuh merinding memikirkannya. Mata Galuh menatap curiga kepada Samudra, jangan-jangan cowok ini memang melihara jin yah?
“Gimana?” tanya Samudra.
“Jin? Eh apa? Eh iya!” Galuh gelagapan.
“Kamu ini ngelamun yah?”
“Oh, nggak. Iya. OK, kita coba deh idemu. Tapi apa kamu yakin bisa?”
“Bisa, serahkan semua padaku!” ucap Samudra sambil menepuk dadanya.
* * *
“Kenapa sih Samudra itu pake nganterin Galuh pulang? Dia kan nggak sakit,” gerutu Windi sambil menyetir mobilnya. Di sampingnya ada Ratri yang tadi ketika pulang sekolah digeret oleh Windi untuk bisa pulang bersama. Biasanya Ratri naik angkot untuk berangkat dan pulang sekolah.
“Lo cemburu Win?” tanya Ratri.
“Idiih, cemburu? Sorry ya, nggak!” ucap Windi dengan suara meninggi.
“Lha kenapa kok gerutu nggak jelas gitu?” tanya Ratri.
“Ya sebel saja sama si Galuh. Kenapa coba dia nyoret keanggotaan gue dari ekstrakurikuler KIR? Mentang-mentang dia ketuanya sekarang. b******k! Trus dengan sok manja muka manis pake ngerayu Samudra pulang bareng juga. Dasar murahan!”
“Ya udah, pergi aja ke rumahnya. Labrak sono!”
“Ogah!”
“Lah? Trus? Lo mau ngedumel nggak jelas seperti ini terus? Ya ampun Win, please deh. Samudra kan bukan siapa-siapanya elo. Jadi nggak kenapa-napa kan kalau dia bareng ama Galuh, lagian pula Galuh kan punya kesempatan yang sama juga.”
“Kesempatan yang sama?” Windi mempertanyakan maksud ucapan Ratri.
“Yah, kesempatan sama karena dia masih single kan? Belum punya pacar juga,” jelas Ratri.
“Belum punya pacar gimana? Jelas-jelas aku lihat dia bermesraan dengan Pak Daniel kok!” kekeuh Windi.
“Hmm, kalau memang benar seperti itu, lalu kenapa Galuh tidak pernah mengakuinya Win? Jangan-jangan lo salah lihat kali waktu itu,” ujar Ratri.
“Gue lihat sendiri! Lo nggak percaya ama gua?”
“Bukan begitu, tapi kalau dilihat-lihat Galuh sekarang ini biasa saja gitu. Jadi bukan karena dia dong Pak Daniel menghilang. Kalau misalnya Galuh dan Pak Daniel memang punya affair gitu antara guru dan murid pastinya Galuh lebih tahu posisi Pak Daniel kan? Tapi lihatlah, sampai sekarang Galuh juga tak pernah memperlihatkan gelagat bahwa dia tahu posisi Pak Daniel berada di mana. Tapi justru sekarang elo malah mencurigai Samudra yang tahu posisi Pak Daniel ada di mana. Aneh bukan?”
Windi kemudian menepikan mobilnya. Mobil Marcedes berwarna putih itu pun berhenti tanpa mematikan mesin. Windi menyandarkan jidatnya ke kemudi. Dia memejamkan matanya. Meresapi kata-kata Ratri yang memang ada benarnya juga.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Ratri sambil menyentuh punggung Windi. “Temen-temen tadi khawatir karena tiba-tiba elo geret gue untuk bareng pulang. Nggak biasanya. Jadi soal ini ternyata.”
“Gue kangen ama Pak Daniel Rat. Gue ingin kejelasan dari dia. Sebelum gue mendapatkan kejelasan dia menghilang entah kemana. Kalau dia memang suka kepada Galuh, trus apa yang dia lakukan selama ini ke gue? Bersikap sok baik, sok manis, bahkan dia tahu semua kesukaan gue, awalnya gue anggap dia seperti oase di padang pasir selepas kepergian nyokap. Tapi setelah itu? Kenapa dia malah berkencan dengan Galuh. Sahabat gue sendiri!” ujar Windi. “Ini sama sekali nggak adil Rat. Ini nggak adil. Sakit hati gue.”
Ratri menghela napas. Dia mencoba memeluk Windi. Windi pun menyandarkan kepalanya ke bahu Ratri. Ratri mencoba memberikan pelukan agar Windi tenang, sebab tidak baik kalau mengemudi dengan kondisi emosi yang tidak stabil seperti ini. Setelah beberapa detik kemudian Ratri melepaskan pelukannya. Ada guratan kesedihan di wajah Windi, Ratri bisa memahami apa yang sedang dirasakan oleh Windi. Seorang gadis yang merasa diberi harapan palsu oleh orang yang disukainya.
“Sekarang coba elo jujur ke gue deh. Pertama lupakan Pak Daniel dulu. Yang jadi permasalahan adalah Samudra. Dia bukan Pak Daniel, OK? Nah, sekarang gimana perasaan lo kepadanya?” tanya Ratri. Dia meremas bahu Windi agar Windi benar-benar memperhatikan kata-katanya. “Jawab gue! Gimana perasaan lo ke Samudra.”
“Gue nggak tahu,” jawab Windi.
“Bilang ke gue kalau itu cuma perasaan sesaat!”
Windi menggeleng.
“Oh s**t! Lo cemburu?” tanya Ratri.
Windi mengangkat bahunya.
“Lo suka ama dia?” tanya Ratri sekali lagi.
“Nggak. Gue nggak suka dia. Gue benci ama dia. Dia....dia... dia...”
“Imposible. Lo suka ama dia kan? Lagian kalau tidak kenapa lo sewot Samudra jalan ama Galuh? Biarin dia dong. Hellooo dia itu jomblo berkualitas, wajar dia dekat dengan siapa saja. Trus kenapa lo tiba-tiba seperti ini?”
Windi menunduk. “Gue nggak tahu Rat.”
“Bohong lo nggak tahu. Di dalam hati kecil lo gimana emangnya? Lo suka ama dia kan?”
Windi menghirup napas dalam-dalam kemudian bersandar di jok mobil. Dia memejamkan matanya rapat-rapat berusaha menghapus bayang-bayang Samudra dari dalam otaknya. Tapi yang ada justru terbayang peristiwa ketika mereka jatuh di kamar mandi. Jarak wajah Samudra dan dia begitu dekat. Hanya 1 cm lagi sebelum kedua bibirnya bertemu. Itu benar-benar posisi fitnah, memalukan, menjijikkan, dan terkurang ajar yang pernah terjadi kepada dirinya. Kenapa Windi justru malah ingat kepada itu semua? Hal itu membuat tiba-tiba kepala Windi terasa panas.
“Kenapa wajah lo merah gitu?” tanya Ratri.
“Eh, masa’?” Windi membuka matanya dan menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi. “Kelihatan?”
Ratri tertawa terbahak-bahak.
“Eh, nggak lucu tauk! Emang bener?” Windi penasaran. Dia memposisikan kaca spion yang ada di dalam mobil untuk berkaca. Dan ternyata benar. Wajahnya memerah. Pipi Windi merona tersipu-sipu.
“Astaghfirullah. Win, elo jatuh cinta Win? Hahahahahaha,” ledek Ratri.
“Udah ah, bego! Gua mau pulang, elo gue turunin di jalanan ajah!” gerutu Windi.
“Jangan sewotlah. Wajar tauk elo jatuh cinta kepadanya. Tapi elo harus ingat, cinta itu tak bisa dipaksa Win. Sekeras apapun elo berusaha tapi kalau orang itu memang tak suka ama elo, maka elo harus terima itu!” nasehat Ratri kepada Windi.
“Gue ngerti. Apa bener gue udah jatuh cinta?”
“Gue yakin seratus persen.”
Windi menghela napas berat. “Maaf Rat. Gue nyusahin elo.”
“Nggak apa-apa. Itu gunanya teman bukan? Udah ah, daripada dengerin lo baper mending anterin gue pulang deh. Laper ini. Lagian habis ini gue harus jaga di kafe,” ujar Ratri.
“Iya, iya,” ucap Windi. Dia menghidupkan mobilnya lagi. “Tapi, mungkin elo bener satu hal.”
Ratri mengangkat alisnya. “Apa?”
“Gue sepertinya suka ama Samudra. Iya, gue akui sekarang. Gue suka ama dia,” ucap Windi sambil tersenyum.
Ratri menepuk pundak Windi. Dia tersenyum kepada gadis itu. “Gue tahu kok rasanya. Gue juga pernah merasakan.”
Windi tersenyum. “Thanks Rat, you’re the bestfriend I’ve ever had.”
Tangan Windi mulai memasukkan gigi. Mobil pun mulai melaju di atas jalanan yang basah terkena air hujan. Angin terdengar menderu-deru kencang. Suara wiper pun terdengar berdecit membersihkan kaca mobil. Beberapa ruas jalan terlihat penuh sesak, di hujan seperti ini ternyata harus ada macet segala membuat Windi berinisiatif mencari jalan yang lebih cepat. Mobil pun berbelok ke jalanan yang lebih kecil.
“Kok tumben lewat sini Win?” tanya Ratri.
“Dari pada kena macet,” jawab Windi.
Ketika mereka melewati sebuah jalanan sepi, tampak beberapa ruas jalan tergenang air. Windi kesal karena jalanan itu ternyata terkepung banjir. Jakarta memang tak pernah berhenti dari problem banjir, meskipun sekarang beberapa titik banjir sudah mulai berkurang airnya dengan pengelolaan drainase terbaru. Tapi kalau hujannya sederas ini ditambah dengan hujan angin, maka mengakibatkan banjir pada beberapa daerah yang drainasenya kurang baik. Di jakarta sendiri terutama di daerah-daerah dataran rendah dengan sistem drainase lama memang masih rawan banjir. Untuk sebagian daerah yang sudah dibangun sistem drainase yang modern permasalahan banjir sudah bisa ditanggulangi sebagian, meskipun begitu pemerintah masih tetap berusaha mengurai permasalahan banjir ini.
Windi menggerutu ketika jalanan tertutup air. Dia pun kemudian mencoba memutar ke arah yang lain masuk ke sebuah kawasan perumahan. Dia agak asing dengan lingkungan di tempat itu. Dengan instingnya dia mencoba untuk mencari jalan keluar sendiri. Ratri agak khawatir sebenarnya, tapi untuk soal mencari jalan Windi memang yang paling jago. Dia sudah berkeliling kota ini semenjak kecil, jadi tak mungkin Windi bisa nyasar. Kalau toh nyasar beneran dia bisa langsung menghubungi ajudan ayahnya dan selesailah urusan.
Mobil bergerak di atas jalanan berpaving. Kondisi perumahan di tempat ini cukup sepi sehingga melaju dengan kecepatan 60km per jam bisa dicapai. Windi kemudian menemukan jalan keluar dari komplek perumahan tersebut yang mana ternyata adalah jalan tembus untuk memotong rute yang seharusnya ia lewati. Dia kegirangan, akhirnya kembali ke jalan utama yang tak terlalu padat. Ratri cukup takjub dengan skill sahabatnya ini.
Selama perjalanan pulang Windi sebenarnya berusaha untuk bisa menyingkirkan pikiran Samudra dari otaknya. Namun semenjak ia jujur dengan perasaannya, malah wajah Samudra selalu terbayang-bayang di benaknya. Tak pernah ada seorang cowok pun yang bisa menggetarkan Windi seperti sekarang ini, membuat dia menjadi gila sendiri. Bahkan sampai-sampai ia harus mengerem mendadak karena ada mobil melintas. Ratri yang terkejut terlebih tak memakai sabuk pengaman langsung menghantam dashboard mobil. Windi yang terkejut tadi langsung membanting stir hingga akhirnya Marcedes putih itu menghantam trotoar. Mobil mewah itu pun berhenti dengan kondisi bumper bagian kiri ringsek.
Windi langsung mematikan mesinnya. Napasnya terengah-engah. “Sial. Kau tak apa-apa Rat? Ratri? Rat?” Windi kemudian menoleh ke sampingnya. Dia mendapati kepala Ratri bersimbah darah. Windi pun panik. “Rat? Ratri? Rat?! Bangun Rat!”
Windi segera mencari-cari ponselnya. Beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu berduyun-duyun menghampiri mobilnya. Windi menggoyang-goyang tubuh Ratri, kemudian ia mencoba menaruh telunjuknya di hidung sahabatnya itu memeriksa apakah masih bernapas ataukah tidak. Masih. Ia lalu memeriksa denyut nadi Ratri di lehernya. Masih ada tapi lemah.
“Toloong! Toloong!” seru Windi. “Ponsel, mana ponsel?”
Ponselnya tadi harusnya ada di laci dashboard. Tapi setelah ia melihat tak ada Windi pun panik. Dia mencoba mencari di bawah. Ketemu! Dengan tangan kirinya Windi berusaha meraih ponselnya. Akhirnya ia pun bisa meraih ponsel itu. Segera ia menelpon panggilan darurat.
“Halo? Polisi? Pak, ada kecelakaan. Saya mengalami kecelakaan, tolong teman saya! Teman saya!” Windi panik.
“Iya, posisi di mana?” tanya suara di telepon tersebut.
“Posisi? Posisi?” gumam Windi. Dia menoleh kiri dan kanan. Orang-orang mulai mengetuk kaca mobilnya. Windi panik. “Saya tak tahu di mana.”
“Non, baik-baik saja? Buka pintunya non!” pinta orang-orang yang ada di luar mencoba untuk menolong Windi.
Windi segera membuka kunci pintu mobil. Kemudian dia berteriak. “Tolong teman saya! Tolong teman saya!”
Orang-orang segera bahu-membahu menolong Ratri. Windi kemudian segera keluar dari mobilnya. Dia kembali menelpon sambil menghampiri Ratri yang sudah dibopong oleh orang-orang ke pinggir jalan. Orang-orang mulai berkerumun menyaksikan hal tersebut.
“Kejadian di mana ibu?” tanya suara di telepon.
“Mana aku tahu? Lacak saja panggilan ini! Cepat sebelum temanku mati!” bentak Windi. “Aku Windi Aulanara Nugraha putri Gubernur Ronald Wisnu Nugraha!”
* * *
Hujan telah selesai setelah satu jam kemudian. Menunggu satu jam tidak terasa karena Samudra dan Galuh banyak bercerita tentang pengalaman mereka. Mereka bercerita tentang banyak hal terutama tentang pengalaman masa kecil, hot issue bahkan ide-ide tentang lomba yang akan mereka ikuti nanti. Samudra selesai mengantarkan Galuh sampai ke depan rumahnya. Dia segera turun dari sepeda didahului oleh Galuh. Samudra menyerahkan stang sepeda ke Galuh. Gadis itu menerimanya sambil tersenyum. Ini untuk pertama kalinya dia diantar oleh seorang laki-laki.
“Makasih,” ucap Galuh.
“Sama-sama,” balas Samudra.
“Masuk?” tawar Galuh.
Samudra menggeleng. “Nggak ah. Nanti ditanyai macam-macam ama kedua orangtuamu.”
“Ayolah masuk dulu!” desak Galuh.
“Nggak deh, lain kali saja,” ucap Samudra.
“Sebentar saja. Aku nggak bakal gigit kok,” ujar Galuh.
“Aku tak takut digigit, tapi akut diomongin orang lain,” jelas Samudra sambil nyengir.
“Kenapa? Kau kan sudah nolong aku, jadinya itu bukan omongan yang jelek bukan?” tanya Galuh.
“Benar, tapi ... kau tahu aku tak suka terlalu diomongkan orang,” elak Samudra.
“Hahahaha, apa kau tahu kalau semenjak kamu pertama kali masuk ke sekolah sudah jadi bahan pembicaraan semua murid dan guru? Walaupun kamu bilang tidak mau tetap aja yang namanya gosip tidak akan bisa dihindari. Mereka bilang cowok keren-lah, ganteng-lah, pinter-lah dan lah-lah yang lain. Maaf, aku bukannya memujimu tapi mereka yang bilang seperti itu,” jelas Galuh.
“Galuh? Kok tidak diajak masuk? Siapa itu?” celetuk seseorang dari pintu. Ibunya Galuh.
Samudra nyengir sambil mengangguk. Dia kemudian menyapa orangtua Galuh, “Assalaamu’alaykum tante.”
“Wa’alaykumussalam. Ajak masuk gih!” perintah Rohimah ke anaknya.
“Masuk Sam!” ajak Galuh.
“Ah, nggak usah tante. Saya harus pulang. Saya cuma mengantar saja soalnya tadi Galuh sedikit kurang enak badan,” ujar Samudra.
“Lho, kurang enak badan? Kamu kenapa?” tanya Rohimah ke Galuh sambil mengusap kepala Galuh.
“Nggak apa-apa kok bu, nggak apa-apa,” jawab Galuh sambil tersenyum.
“Pipi kamu merah. Kenapa ini?” Rohimah bertanya-tanya.
“Itu...,” Galuh bingung mau menjawab apa.
“Ah, jadi begini. Tadi Galuh sedikit pusing, kemudian melintas di dekat loker. Saya nggak tahu kalau di dekat saya ada Galuh trus saya buka pintu loker kena pipinya. Maafin saya tante! Sekali lagi maaf,” ucap Samudra.
Rohimah tersenyum. “Oh, jadi kamu mau bertanggung jawab yah? Kalau gitu wajib masuk!”
“Lho, jangan tante. Saya kan udah minta maaf,” tolak Samudra.
“Biar lebih afdhol ayo masuk! Belum makan siang kan? Ayo!” perintah Rohimah. Sepertinya Samudra tidak bisa menolak permintaan ibunya Galuh. Galuh sendiri tersenyum manis melihat tingkah polah Samudra yang malu-malu kucing. Galuh gantian membawa sepedanya dan memarkirnya di teras. Ia langsung masuk begitu saja tanpa menunggu Samudra.
Akhirnya Samudra pun masuk. Ketika masuk ke dalam rumah, Samudra langsung merasakan perasaan de javu. Mungkin karena model rumah di komplek perumahan ini hampir sama. Ketika masuk saja Samudra sudah langsung bisa melihat dapur. Ada sebuah sofa melingkar di ruang tamu, sebuah televisi menggantung di tembok, serta sebuah foto keluarga ayah dan ibu Galuh, dirinya serta adiknya terpampang di tembok. Samudra berdiri saja di ruang tamu belum duduk.
“Sini deh!” ajak Rohimah tiba-tiba sambil mengatur meja makan.
“Eh?” Samudra kebingungan.
“Makan dulu!” ucap ibunya Galuh.
Samudra mencari-cari Galuh sudah tak ada. Mungkin sedang ganti baju. Samudra menurut saja ketika diarahkan untuk duduk di meja makan. Tudung saji kemudian dibuka. Samudra menelan ludah melihat masakan yang ada di meja.
“Nah, ini ada ayam mentega, tumis kacang dan tempe. Makan dulu habis itu kamu boleh pulang,” ucap Rohimah.
“Saya jadi nggak enak nih tan,” ucap Samudra malu-malu.
“Lho, nggak enak kenapa? Kamu kan udah nyakiti anak saya. Ini anggap sebagai tebusan minta maafnya,” ujar Rohimah.
“Iya, kamu harus coba masakan ibuku. Enak lho!” ucap Galuh yang tiba-tiba sudah ada di dapur. Dia sudah berganti baju dengan baju rumahan dengan baju kaos lengan panjang dan celana selutut.
“Aku pulang!” terdengar suara anak perempuan dari pintu.
“Eh, Ayla!” Rohimah menyambut si bungsu.
“Lho, ada tamu?” tanya gadis kecil itu. “Waaahh, pacarnya kak Galuh!”
“Heh! Sembarangan!” protes Galuh.
“Hei kak, apa kabar? Kenalkan. Aku Ayla,” ucap Ayla sambil menjabat tangan Samudra.
“Samudra,” kata Samudra yang tangannya sedang dijabat erat oleh Ayla.
“Kakak sekelas ya sama Kak Galuh?” tanya Ayla lagi.
“Iya,” jawab Samudra singkat.
“Kalau pacar Kak Galuh seganteng kakak boleh deh. Kak Galuh itu nggak punya temen deket cowok kak. Anaknya aneh gitu,” ucap Ayla. Dia langsung dijewer oleh Galuh. “Aduh kak. Sakit!”
“Udah sana ganti baju. Sembarangan ngatain kakak sendiri!” ucap Galuh geram.
Samudra tersenyum melihat keakraban adik kakak itu. Ayla segera pergi menuju ke kamarnya. Sementara Galuh langsung duduk semeja dengan Samudra. Rohimah langsung memberikan piring dan sendok di depan Samudra dan Galuh. Sejurus kemudian ibunya Galuh itu langsung mengambil nasi secentong ke piring Samudra.
“Waduh tante, sedikit saja. Takut nggak habis,” ucap Samudra.
“Biasanya cowok itu makannya banyak,” ucap Rohimah tak mempedulikan penolakan Samudra. Wanita itu pun mengambil secentong lagi. Samudra hanya menghela napas. Memang ia bakal makan enak siang ini cuma agaknya tak sopan kalau langsung makan segini banyak. Dia melihat Galuh yang hanya makan separuh porsinya. Galuh tertawa melihat tingkah Samudra.
“Silakan makan!” ucap Rohimah.
Akhirnya Samudra pun tanpa malu-malu makan bersama Galuh. Galuh mengambilkan Samudra ayam mentega dan tumis kacangnya. Samudra dan Galuh kemudian makan dengan lahap, terutama Samudra. Dia merasa ayam mentega masakan ibunya Galuh sangat nikmat. Tak berapa lama kemudian Ayla pun ikut berada satu meja. Dia juga langsung mengambil nasi dan sayur.
“Wah, jarang sekali kita bisa makan bersama seperti ini,” celetuk Ayla.
Samudra sangat menikmati makannya sehingga ia tak berbicara sama sekali. Galuh hanya mengawasi Ayla kalau-kalau adiknya itu berbuat yang aneh-aneh.
“Kak Sam, memangnya kakak sudah punya pacar?” tanya Ayla.
“Uhuk-uhuk!” Samudra terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Ayla. Ia mencari gelas untuk minum.
“Adek apaan sih? Tanyain orang yang lagi makan!” gerutu Galuh. Dia segera membantu Samudra menuangkan air minum di gelas kemudian menyerahkannya kepada Samudra. Samudra langsung meminumnya.
“Yah, kan Ayla cuman tanya saja. Tapi nggak apa-apa kok kalau kalian berdua pacaran. Cocok banget,” lagi-lagi goda Ayla.
“Belum. Kakak belum punya pacar,” jawab Samudra.
“Iya. Lagipula kakak ini bukan tipe Kak Sam. Ingat itu!” ujar Galuh.
“Hah? Beneran? Wah, sayang sekali. Memangnya tipe Kak Sam itu seperti apa?” tanya Ayla.
“Tipenya Kak Sam itu sulit dicari, makanya sampai sekarang ia tak menemukannya,” jawab Galuh.
“Ih, kakak. Biar Kak Sam yang jawab dong!” gerutu Ayla. Ia lalu menoleh ke arah Samudra.
“Kalau kakakmu bisa berjalan di atas air, aku mau jadi pacarnya,” ujar Samudra.
Pipi Galuh memerah. Sampai-sampai bekas tamparan Windi pun tersamarkan. Ayla ternganga mendengar kata-kata Samudra. Itu kata-kata yang aneh, absurd, dan menggelikan. Bagaimana bisa Galuh berjalan di atas air?
“Emang Kak Galuh tidak bisa berjalan di atas air? Bisa gitu dong kak!” pinta Ayla.
“Kamu ini aneh-aneh aja. Mana mungkin kakak bisa? Memangnya kakak punya kekuatan khusus seperti para ninja Konoha gitu?” gerutu Galuh.
“Eh, tapi memangnya ada beneran cewek yang bisa berjalan di atas air?” tanya Ayla ke Samudra penasaran.
“Ada dong. Kalau tidak ada bagaimana aku bisa mengajukan syarat seperti itu?” ucap Samudra.
“Baiklah. Syaratnya berat.” Ayla menepuk-nepuk bahu kakaknya. “Yang sabar ya kak. Mungkin bukan rejeki kakak.”
Samudra tertawa melihat tingkah polah Ayla yang menggoda Galuh. Mungkin kalau saja keluarganya masih ada, dia akan merasakan hal ini juga bersama adiknya. Sayangnya tsunami itu telah merenggut semua keluarganya.
“Apaan sih?” Galuh menoyor kepala Ayla. Bocah perempuan SMP itu nyengir kuda sambil ngikik. Dia merasa menjahili kakaknya adalah suatu pekerjaan yang paling ia senangi. Tapi sejujurnya Galuh mulai tertarik dengan Samudra. Tertarik dalam segala hal, bahkan ia merasa lebih senang kalau adiknya terus menggoda dia dengan Samudra.
Setelah beberapa waktu mereka makan akhirnya acara makan siang pun selesai. Samudra hendak mencuci piringnya tapi dilarang oleh Galuh.
“Tak usah, biar aku saja!” ucap Galuh.
“Lho, tapi ini bekas aku makan lho,” ujar Samudra.
“Tak apa-apa. Tamu itu adalah raja,” kata Galuh sambil menerima piring dari tangan Samudra. Samudra hanya menggaruk-garuk kepalanya.
“Gimana masakan ibu, nak Sam?” tanya Rohimah yang datang kemudian.
“Luar biasa tante,” jawab Samudra.
“Besok besok datang aja ke sini lagi kalau ingin mencicipi masakan ibu lagi,” ujar Rohimah.
“In Syaa Allah tante. Tapi sekali lagi saya mohon maaf atas apa yang terjadi dengan Galuh,” ucap Samudra.
“Hahahaha, nggak apa-apa Sam. Bukan salahmu kok,” ucap Galuh sambil mengedipkan matanya kepada Samudra. “Lagipula ibu tak perlu khawatir. Samudra akan sering-sering datang ke rumah kok. Iya kan?”
“Hah? Kenapa?” Samudra tak mengerti.
“Kau lupa ya? Projek kita Sam. Karya Ilmiah!” Galuh mencoba mengingatkan.
“Oh iya. Kau benar,” kata Samudra sambil mengangguk faham.
Samudra kemudian berjalan ke sofa di ruang keluar lalu duduk di sana. Sementara Galuh mencuci piring dia menikmati suasana di rumah Galuh ini. Tak banyak perabot di ruang tamu, justru hal itu membuat Samudra merasa nyaman. Kebanyakan orang-orang akan memamerkan perabot-perabot yang dia punyai di ruang tamu, seperti menandakan bahwa mereka termasuk orang yang berkelas. Padahal tidak juga. Samudra merasa keluarga Galuh merupakan keluarga yang sederhana dan bersahaja. Tak ada gengsi tak pernah pamer. Galuh sendiri saja tak merasa malu pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda kayuhnya.
Ponsel Samudra bergetar. Samudra mengangkat alisnya. Siapa yang menelponnya? Dugaan Samudra adalah ayah atau ibunya, tapi ternyata bukan. Nomor yang belum pernah ditambahkan di kontaknya terpampang di layar ponsel. Samudra ragu-ragu untuk mengangkatnya. Tapi kemudian dia pun akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Halo?” ucap Samudra.
“Sam, aku sedang tertimpa kecelakaan dan Ratri, Ratri tidak sadar. Aku tak tahu harus menghubungi siapa, reflek aku menekan nomormu. Aku minta maaf tapi aku bisa mendapatkan nomor teleponmu dari ajudanku. Aku tak tahu aku harus bagaimana, aku bingung. Tadi aku naik mobil kondisi hujan kemudian aku tidak melihat mobil lalu aku mengerem mendadak kemudian banting setir dan aku...aku...aku...,” terdengar suara Windi di telepon.
“Wow! Wow! Wow! Win... Windi, tenang Win. Tenang! Ambil napas dulu! Ambil napas!” ucap Samudra.
Windi yang mendengarkan suara Samudra tiba-tiba saja terhenyak. Dia pun mengikuti Samudra untuk mengambil napas. Dia menghirup napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri.
“OK, baik. Sekarang kamu ada di mana? Ceritakan perlahan!” ujar Samudra.
“Aku ada di mobil ambulance. Sekarang sedang menuju ke rumah sakit,” kata Windi dengan tenang.
“Trus, bagaimana kejadiannya?” tanya Samudra.
“Hujan lebat dan aku menghindari mobil, lalu banting setir menabrak trotoar. Ratri...terluka dia tak sadarkan diri,” jelas Windi. Luar biasa bagi Windi yang tadinya panik sekarang tenang. Ia sendiri tak mengerti bagaimana bisa seperti itu.
“Aku mengerti. Kau sekarang sedang menuju rumah sakit bukan? Rumah sakit mana?” tanya Samudra lagi.
“Ini mungkin Rumah Sakit Persada,” jawab Windi. “Iya, Rumah Sakit Persada.”
“Baiklah, aku tahu tempatnya. Aku segera ke sana. Kamu tetap tenang dan hubungi keluargamu. Kamu sudah hubungi keluargamu?”
“Belum. Aku tadi panik tak sempat menghubungi mereka,” jawab Windi. “Dan aku hanya teringat kamu.”
“Oh, begitu. Kamu tetap tenang. Aku akan ke sana secepatnya,” ujar Samudra. Dia segera menutup teleponnya.
Galuh keheranan melihat Samudra yang sudah berdiri. “Mau kemana? Nggak di sini dulu?”
“Tidak. Aku harus ke rumah sakit,” jawab Samudra.
“Hah? Siapa yang sakit?” tanya Galuh.
“Windi. Windi kecelakaan dan Ratri tidak sadarkan diri,” jawab Samudra.
“Hah? Trus? Di rumah sakit mana?” tanya Galuh.
“Rumah Sakit Persada. Aku mau ke sana dulu,” jawab Samudra. Dia segera beranjak. “Sampai nanti.”
“Eh? Tu-tunggu, aku ikut!” ucap Galuh.
“Dengan pakaian itu? Kurasa tidak. Biasanya juga cewek paling lama dandan. Aku duluan,” ujar Samudra. Dia segera keluar dari rumah Galuh lalu menyambar ranselnya yang ada di keranjang sepeda Galuh. Setelah itu ia berlari keluar dari halaman rumah gadis itu. Galuh cukup kesal dengan ucapan Samudra tadi, tapi memang ada benarnya. Dan Samudra tak perlu kendaraan, tak perlu memanggil taksi, yang dia lakukan adalah menghentakkan kakinya di atas tanah kemudian dia sudah mengendarai angin melesat ke udara.
* * *