Alina kemudian berjalan menuju kamar Stefan, laki-laki itu masih nampak sedang tertidur. Sebenarnya Alina tidak tega untuk membangunkan pria yang sangat di cintainya itu, tapi Shella masih menunggunya di sebrang telepon. Entah apa yang mau di bicarakan Shella, yang pasti dia trus mendesak Alina untuk berbicara dengan Stefan. Perlahan Alina menyentuh punggung Stefan, lalu di guncangkannya dengan lembut. "Kak Stefan, bangun Kak! Ada telepon untukmu!" kata Alina. Stefan mengerjaokan matanya, kemudian menguceknya sebentar. "Alina? Ada apa Alina?" tanya Stefan dengan matanya yang masih merah. "Kak, ada telepon untukmu!" "Dari siapa?" "Shella!" singkat Alina. "Apa? Shella? Mau apa dia meneleponku?!" "Aku tidak tau!" "Katakan saja aku mengantuk dan masih ingin tidur, aku tidak ing

