Mencari Pengasuh Lovely

1010 Kata
Makam itu terlihat basah dan penuh dengan taburan bunga. Satu persatu pelayat mulai pergi meninggalkan tanah pekuburan itu. Stefan masih berdiri di sisi makam karin sambil menggendong Lovely, bayi munginya yang cantik. Matanya kelihatan sembab dan merah, hatinya begitu hancur dan sedih. istri yang sangat dicintainya harus pergi mendahuluinya. "Pulanglah Nak...karin sudah tenang di sisiNya...ikhlaskan dia...pikirkan bayimu, masa depannya masih panjang..." Ucap Bu Indri, Ibunya sambil menepuk lembut bahu Stefan. Stefan menoleh, menyeka sedikit air matanya. "Karin sendirian di sana Bu...dia kedinginan tidak ada teman...ijinkan aku disini menemaninya..." Sahut Stefan dengan mata yang masih menatap di pusara istrinya. "Sadarlah Nak, karin sudah pergi, dia sudah tenang di sana, kuatkan hatimu Stefan, pikirkan masa depanmu dan bayimu, Lovely membutuhkanmu ..." "Baiklah bu, ayo kita pulang, Karin, tidurlah dengan damai ..." Ucap Stefan lirih sambil melangkah meninggalkan pemakaman itu. Mendung menggantung dengan sangat gelap, seolah ingin menumpahkan airnya. Perlahan gerimis mulai turun, Bu Indri membukakan payung untuk Stefan dan bayinya, sampai mereka naik ke mobil dan kembali pulang kerumahnya. **** Sore itu, suasana di rumah Stefan masih terlihat ramai, keluarga besar masih berkumpul, Stefan masih mendekap hangat putrinya yang tertidur, kemudian dia duduk diantara keluarga dan kerabatnya. Wajahnya masih terlihat mendung dan muram, matanya bengkak dan sembab, menandakan dia sering menangis dan kurang tidur. "Stefan, sekarang kau harus mencari seorang pengasuh untuk bayimu, apa kau mau bayimu di asuh ibu? Tapi kan ibu tinggal di Semarang, Ibu bawa saja ya Bayimu ke Semarang ..." Kata Bu Indri. "Tidak Bu, aku mau merawat anakku di sini, di rumah ini ..." Sahut Stefan. "Baiklah kalau itu kemauanmu, tapi kau harus cari pengasuh bayi yang profesional, kau bisa mengunakan jasa yayasan, nanti Bapak yang akan membantumu mencarinya ..." Tambah pak Doni, ayahnya. "Permisi ..." Tiba-tiba ada suara gadis yang membuyarkan obrolan mereka, di masuk dengan membungkukan badannya melewati beberapa orang, kemudian duduk di bangku kosong. "Alina ... kau tinggal di kota ini juga?" Kata bu Indri agak terkejut, Alina dulu adalah tetangga mereka waktu di Semarang. "Iya tante...aku kos di dekat sini..." Jawabnya. "Kamu sudah kerja di mana Alina? Pantas saja aku jarang melihatmu di kampung..." Tanya pak Doni. "Hm...saya kerja online om..." Sahut Alina. "Bagus...anak jaman sekarang sudah makin maju... kerja saja online..." Kata Pak Doni. Stefan masih nampak diam, seolah tidak memperdulikan kehadiran Alina, matanya menatap lurus kedepan, namun nampak kosong. Bayi Lovely sudah di letakannya di stroller, ia nampak tidur nyenyak. "Kak Stefan...aku turut berdukacita...." Ucap Alina. Stefan tidak bergeming, dia masih sibuk dengan perasaannya sendiri. "Stefan, kau tidak menjawab ucapan Alina? Bukankah dulu dia satu sekolah denganmu? dia adik kelasmu bukan?" Tanya Bu Indri. Stefan menoleh, kemudian menganggukan kepalanya. "Terimakasih..." Jawabnya lirih. "Lihatlah Alina, bahkan dia tidak memperdulikan dirinya sendiri...apalagi bayinya...rasanya aku sangat ingin membawa cucuku pulang kampung saja...!" Cetus Bu Indri. "Tante...biar aku saja yang mengasuh bayi kak Stefan...aku tinggal dekat sini, lagi pula aku kan kerja online...waktuku sangat fleksibel..." Tawar Alina. Pak Doni dan Bu Indri saling berpandangan. Mereka terkejut mendengan Alina menawarkan diri untuk mengasuh bayi Stefan. "Kau yakin bisa mengurus Bayi Alina? Bahkan kau belum pernah punya anak..." Tanya Bu Indri. "Aku akan belajar Tante...dari pada kalian ambil dari Yayasan, yang tidak tau asal dan usulnya...jaman sekarang banyak kasus lho Tante...mohon di pertimbangkan...aku akan sungguh-sungguh bekerja dengan sepenih hatiku..." Ujar Alina dengan mata yang penuh harap. "Bagaimana Stefan? Kau setuju jika Alina yang merawat bayimu??" Tanya Pak Doni sambil mengalihkan pandangannya kearah Stefan yang masih melamun. "Eh..iya...terserah kalian saja...yang penting bayiku aman...dia adalah satu-satunya kenangan yang tersisa dari karin..." Jawab Stefan lirih. "Nah...kau dengar Alina, jadi kau sudah bisa menjaga bayi itu mulai besok, karena besok pagi kami akan kembali ke Semarang, sekarang kau minumlah dulu...sampai lupa menawarimu....ya sudah, aku mau memindahkan Lovely ke kamarnya dulu sambil memberinya susu....kau ajak ngobrol saja Stefan, supaya dia tidak terus larut dalam kesedihan..." Ucap Bu Indri sambil berdiri dan mengangkat bayi Lovely, setelah itu dia membawanya masuk ke kamar bayi. Pak Doni juga beranjak dari tempatnya dan bergabung dengan kerabat yang lain. *************** Alina masih tetap duduk di hadapan Stefan, matanya melihat raut kesedihan yang terpancar dari pria tampan itu, melihat Stefan begitu terpuruk, entah mengapa hati Alina begitu pedih, seolah ikut merasakan apa yang dia rasakan. Mata Alina tertuju pada wajah Stefan yang selama ini selalu menghiasi mimpinya, wajah yang selalu dibayangkannya sejak dia masih remaja. "Kau minta bayaran berapa untuk merawat bayiku??" Tanya Stefan tiba-tiba. Alina terperangah dengan pertanyaan yang nampak menusuk itu. "Kau tidak perlu membayarku...anggap saja kau memberiku kesempatan untuk belajar bagaimana caranya merawat bayi..." Jawab Alina. "Sombong...!" Ucap Stefan. "Aku hanya ingin membantumu Kak..." "Aku tidak butuh bantuanmu....aku mau pengasuh bayiku yang profesional...kenapa kau yang harus mengajukan diri??" "Karena....aku...." Alina menghentikan perkataannya. "Apa tidak ada pekerjaan yang lain selain mengurusi bayiku? Kau tidak ingin kerja di kantor atau dimana gitu? Apa kau sudah tidak menyukai uang? Sampai dengan sombongnya kau tidak meminta bayaran dariku... apa kau pikir aku tidak mampu untuk membayarmu??" Suara Stefan mulai meninggi. Alina menundukkan wajahnya, tidak berani menatap mata laki-laki itu. "Berikan aku kesempatan untuk mencobanya..." Sahut Alina lirih. "Baik...ku beri kau kesempatan...tapi ingat, terjadi apa-apa dengan bayiku, kau orang pertama yang akan mendapat murkaku..." Kata Stefan dengan mata yang menyorot tajam. "Iya kak..Aku akan berusaha dengan segenap kemampuanku..." "Aku mau kau rawat bayiku dengan sempurna....tanpa ada kesalahan sedikitpun..." "Iya Kak...." "Mulai sekarang kau belajar dari internet bagaimana cara merawat bayi...!" "Baik kak..." "Tugasmu hanya merawat bayiku....bukan yang lain, dan jangan pernah berharap apapun...ingat satu hal... jangan pernah kau berharap aku akan bersikap ramah terhadapmu....!" "Siap kak..." "Dan sekarang mengapa kau masih berdiri disini? Segera pergi dari hadapanku sekarang juga...!" "Oke Kak...." Alina beranjak berdiri dari duduknya, kemudian setelah dia pamit dengan Pak Doni dan Bu Indri, dia melangkahkan kakinya keluar dari rumah Stefan, tanpa sadar ada butiran bening yang mengalir dari matanya dan membasahi pipinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN