Setelah membereskan kamar Lovely dan memandikan bayi mungil itu, Alina menggendongnya turun kelantai bawah. Sekilas Alina melirik kamar Stefan yang masih tertutup rapat, kemudian dia kembali melangkahkan kakinya menuruni tangga.
Lovely di letakan di dalam box bayi yang ada di lantai bawah, di taman samping nampak Inah sedang menjemurkan pakaian Lovely, Alina segera menghampiri Inah yang bersenandung sambil menjemur pakaian itu.
"Selamat pagi Mbak Inah...." Sapa Alina. Inah menoleh kaget.
"Eh...Alina...mana si montok...?" Tanya Inah.
"Lagi anteng mbak di box bayinya...baru kenyang minum susu..."
"Pasti tak lama lagi dia sudah tidur nih...."
"Oya mbak Inah...Bapak belum turun ya dari tadi? Memangnya Bapak tidak ke kantor?" Tanya Alina.
"Nah...itu dia...dari malam malah dia tidak turun-turun...padahal mbak Inah mau ambil piring makan kemarin...tapi takut...bapak kan galak....nanti mbak Inah di semprot lagi..."
"Oh...begitu ya...padahal kan ini sudah siang...ya sudah deh mbak...aku coba tengok dia...aku titip Love ya mbak..."
"Beres Alina...."
Lalu alina segera kembali naik ke lantai atas, kamar Stefan masih tertutup, Alina hendak mengetuk pintu itu, tapi ada perasaan takut di hatinya, akhirnya dengan perlahan dan hati-hati Alina membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci itu.
Stefan masih nampak tidur di balik selimutnya, Alina melirik ke meja, makanan dari semalam belum di sentuhnya, pikirannya mulai khawatir. Lalu dia mendekati Stefan yang tidur membelakanginya. Wajah pria itu nampak pucat, bibirnya kering, tubuhnya agak menggigil, Alina menempelkan punggung tangannya di dahi Stefan, suhu badannya begitu panas, wajah Alina berubah cemas.
'Kak Stefan demam...kasihan dia tidak makan dari semalam...' Gumam Alina.
Kemudian Alina membuka lemari Stefan, mencari handuk atau sapu tangan yang bisa dia gunakan untuk mengompres, hingga dia menemukan sapu tangan handuk, setelah itu dia membasuh saputangan itu dengan air hangat, di kompresnya dahi Stefan. Pria itu nampak mengerjapkan matanya, namun kembali memejamkan matanya.
"Kariin...Karin...Karin..." Lirihnya.
Alina menggigit bibirnya, Stefan masih belum bisa melupakan Karin, bahkan di tidur dan mimpi Stefan, hanya ada nama Karin. Tanpa sadar ada butiran bening menetes di mata Alina, hatinya begitu sakit dan sedih.
"Kak Stefan...jangan seperti ini...kau harus makan...kau harus kuat...demi Lovely kak...!" Kata Alina sambil menyentuh bahu Stefan, sementara Alina duduk di tepi ranjang Stefan.
Stefan perlahan membuka matanya, mata yang nampak sayu dan sendu, menatap kearahnya.
"Aku ambilkan s**u hangat dan makanan ya...kau tunggulah di sini...kali ini Kak Stefan jangan menolak...ini demi kebaikan kakak..." Tanpa meminta jawaban Alina segera bergegas mengambil piring yang semalam dan keluar dari kamar itu menuju dapur di bawah.
Inah nampak sedang menggendong Lovely dan mengajak ngobrol bayi itu, melihat kedatangan Alina Inah langsung menghampirinya.
"Gimana Bapak?" Tanya Inah.
"Dia sedang demam mbak...kemungkinan tidak masuk kantor...ini makanan yang semalam saja tidak di makan, bagaimana dia tidak sakit..." Jawab Alina.
"Ya ampun si Bapak....perutnya pasti kosong sekarang..."
"Tolong jaga Lovely dulu ya Mbak...aku mau buat s**u hangat buat Bapak, juga mengantar makanan...yang penting dia makan dulu...obatnya belakangan juga tidak apa-apa..." Kata Alina yang langsung menuju ke meja makan, membuatkan s**u hangat, mengambil sedikit nasi dan sayur yang sudah di masak Inah.
Alina kembali naik ke lantai atas ke kamar Stefan, pria itu masih dalam posisinya semula. Alina menaruh nampan yang berisi segelas s**u dan sepiring makanan ke atas meja yang ada di samping ranjang Stefan. Perlahan Alina mendekatinya dan menyentuh punggungnya.
"Kak Stefan...yuk minum susunya dulu..." Alina membantu Stefan bangkit dari tidurnya. Pria itu akhirnya menurut, dia perlahan bangun dengan posisi duduk dan persandar di kepala ranjang.
Alina mengambil segelas s**u, membantu untuk meminumnya, sedikit demi sedikit Stefan meminumnya sampai habis.
"Wah...hebat Kak Stefan...habis susunya....sekarang makan ya..." Alina meletakan gelas bekas s**u di atas meja, kemudian mengambil piring yang berisi nasi dan sayur sop.
"Ini sehat Kak...Mbak Inah yang memasaknya...ayo makan mumpung masih hangat...maaf, kak Stefan bisa makan sendiri atau...."
"Aku bisa makan sendiri..." Sahut Stefan cepat. Kemudian Alina langsung menyerahkan piringnya ke tangan Stefan. Stefan mencoba menyuapkan sendok kemulutnya beberapa kali, baru setengah piring dia sudah menghentikannya.
"Aku sudah kenyang..." Kata Stefan. Alina langsung mengambil piring bekas Stefan, kemudian mengambil segelas air putih dan di berikannya pada Stefan.
"Minum dulu Kak..."
"Terimakasih..." Ucap Stefan lirih.
"Kakak makan sedikit sekali...di habiskan ya...?" Kata Alina. Stefan menggelengkan kepalanya.
"Tidak...aku sudah kenyang..."
"Kakak mau aku ambilkan obat demam?"
"Tidak usah...nanti juga sembuh sendiri..."
"kalau begitu Kak Stefan harus di kompres lagi ya...supaya demamnya turun..." Tawar Alina. Stefan menganggukkan kepalanya. Di mulut Stefan ada bekas makanan, Alina dengan sigap mengambil tissue di meja, kemudian membersihkan mulut Stefan, Stefan terlihat sangat risih.
Setelah selesai, Alina mengambil saputangan yang sudah kering, kemudian dia kembali membasuhnya dengan air hangat.
"Kakak masih demam...di kompres saja ya...dari pada minum obat, di kompres lebih baik...nanti demamnya juga turun..." Stefan kembali dalam posisi setengah berbaring, Alina meletakan saputangan kompresan ke dahi Stefan setelah itu menyelimuti tubuhnya.
"Dimana Lovely...?" Tanya Stefan.
"Oh...Love sedang bersama Mbak Inah...kak Stefan istirahatlah, nanti aku akan membawakan Lovely pada Kak Stefan...kakak tenang saja..." Jawab Alina yang kemudian membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan kamar itu.
"Alina...!" Suara panggilan Stefan menghentikan langkah Alina. Gadis itu kemudian menoleh ke arah Stefan.
"Ya, Kak..."
"Terimakasih sekali lagi ya..." Ucap Stefan sambil menatap sendu wajah Alina.
"Iya kak...sama-sama..." Jawab Alina yang langsung membalikan tubuhnya keluar kamar dan menutup pintunya kembali.
Senyum cerah menghiasi wajah Alina, entah mengapa hari ini hatinya begitu menghangat, padahal baru semalam ia begitu sakit hati dengan sikap Stefan.
'Ah...bodohnya aku...itu kan hanya ungkapan terimakasih biasa...kenapa juga hatiku harus merasa senang...' Batin Alina. Kemudian dia berjalan lagi menuruni tangga, sayup-sayup terdengar suara Love sedang menangis.
'Owweeekk....oweeekk...!"
Alina buru-buru meletakan nampan bekas piring dan gelas stefan di meja makan, kemudian dia segera menghampiri Love yang sedang dalam gendongan Inah.
"Aduh...cup cup cup...anak cantik kenapa menangis...?" Kata Alina sambil mengambil Love dari gendongan Inah ke gendongannya.
"Iya nih...padahal dia tidak mau s**u, mungkin ingin di gendong olehmu...kan sejak tadi kau sibuk mengurusi papanya..." Ujar Inah. Bayi Lovely langsung tenang saat di gendong Alina, kemudian Alina membawa Lovely ke taman samping, sementara Inah kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur.
'Kenapa Love menangis tadi? Love kangen sama tante Alin ya...kan cuma sebentar sayang...tante lagi berusaha merawat Papa Love yang sedang demam...kau tau Love...hari ini sikap papamu lembut terhadap tante...itu membuat tante sangat senang sekali...kita doain ya sayang...supaya papa Love cepat sembuh dan bisa bermain dengan Love lagi...' Gumam Alina sambil mencium sayang pipi Lovely.