Sore itu, Alina membawa bayi Lovely jalan-jalan di taman sekitar rumah dengan kereta bayi. Banyak pasangan muda yang juga jalan-jalan dengan membawa buah hati mereka. Ada terbersit perasaan iri dalam hati Alina, memiliki anak dan keluarga hanya menjadi impiannya, dia tidak pernah berani untuk berkhayal walaupun hanya dalam mimpi.
Alina duduk di sebuah kursi taman sambil memandang ke arah jalan, seorang wanita muda sudah duduk di sampingnya, memangku seorang anak laki-laki yang berumur kira-kira 3 tahun.
"Permisi mbak...numpang duduk di sini ya...lagi nungguin papanya beli minuman..." Sapa wanita muda itu.
"Eh..iya iya mbak...silahkan..." Sahut Alina sambil menggeser posisi duduknya.
"Aduh...lucu sekali bayinya...sudah berapa bulan mbak?" Tanya wanita muda itu.
"Tiga bulan mbak..." Jawab Alina singkat.
"Wah...baru tiga bulan badannya sudah montok betul...ASI nya kuat ya mbak..."
"Dia tidak ASI...pakai s**u formula..."
"Lho...kenapa mbak? Sayang sekali... apakah ASI nya tidak keluar? Kan bisa di stimulasi mbak...atau makan sayur-sayuran..." Jelas wanita itu. Tak lama seorang laki-laki datang menghampiri mereka, laki-laki itu adalah suami dari wanita muda itu.
"Ayo sayang....kita pulang..." Kata Laki-laki itu, sang anak yang ada di pangkuan ibunya langsung meloncat kepelukan ayahnya.
"Dapat minumannya Mas?" Tanya wanita itu kepada suaminya.
" Dapat dong..."
"Lihat deh mas...cantik ya bayinya..." Kata wanita itu sambil menunjuk kearah bayi Lovely.
"Hmm...ya...apakah kau menginginkan anak lagi? Baiklah...nanti kita buat satu lagi ya..." Laki-laki itu dengan mesra merangkul istrinya.
"Oya mbak....siapa nama bayinya?" Tanya wanita itu sebelum beranjak.
"Lovely..."
"Waah...cantik sekali....mbak dan suami pasti sangat bahagia sekarang ya memiliki bayi mungil yang cantik ini..." Ucap wanita itu lagi. Alina hanya tersenyum menanggapinya.
"Sudah yuk...sudah sore..." Ujar suami wanita itu. Wanita itupun mengangguk.
"Kami duluan ya mbak...." Katanya sambil beranjak meninggalkan Alina yang masih duduk dengan wajah yang sendu.
'Kau dengar itu Love....orang lain mengira aku adalah ibumu....aku sangat ingin menjadi ibumu...tapi Papamu tidak pernah menginginkan aku... dari dulu...'
Setelah menghabiskan sore di taman, Alina membawa Lovely pulang. Inah masih nampak sibuk membereskan rumah. Rumah kelihatan bersih dan wangi setelah Inah mengepelnya, wanita ini memang piawai dalam hal membereskan rumah.
"Eeeh....dedek Love udah pulang...asyik gak jalan-jalannya? Jalan-jalan sama tante Alina ya...uuuh....gemesnya..." Inah menowel pipi Lovely yang nampak bulat kemerahan dalam strollernya.
"Iya mbak Inah....sekarang aku haus mau mimi cucu..." Sahut Alina dengan gaya anak kecilnya.
"Alina...kalau mau makan, makanan sudah siap ya...apa mau menunggu Bapak turun?" Tanya Inah.
"Tidak Mbak Inah...aku mau memberi s**u Love dulu, nanti kalau lapar aku akan makan..." Jawab Alina sambil mengangkat Lovely ke gendongannya dan naik ke tangga ke lantai atas.
Setelah sampai di kamar Lovely, Alina meletakannya di ranjang bayi, kemudian dia mulai membuatkan s**u untuk Love, lalu setelah selesai, Alina mulai menyusui Love.
Di kamar sebelah, kamar Stefan, sayup-sayup terdengar suara seperti orang menangis dan berbicara, perlahan Alina berdiri sambil menggendong Love, dalam posisi masih memberi s**u botol, kemudian mendekati pintu yang tidak di tutup dengan rapat.
Stefan nampak duduk di tepi ranjangnya sambil memandangi sebuah bingkai foto, foto Karin. Sesekali pria itu mencium foto itu, lalu bergumam sendiri, Stefan masih namapak larut dalam kesedihan setelah beberapa bulan di tinggal Karin.
"Sayang...aku merindukanmu...kenapa kau begitu cepat meninggalkan aku?? Aku tak bisa hidup tanpamu Karin...Huuu...bahkan aku rasanya tidak mampu melewati setiap hariku tanpa bersamamu...Karin...Karin...tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku...Karin...apakah kau mendengarkanku....Kariiin....!!!" Tangis Stefan meledak, di memeluk dan menciumi foto Karin.
Alina yang memandangnya dari kejauhan hanya bisa berdiri terpaku sambil menggigit bibirnya, hatinya begitu pilu mendengar perkataan dari Stefan, laki-laki yang dicintainya dalam hati sejak dulu itu kelihatan begitu rapuh dan kasihan. Tanpa terasa air mata Alina juga ikut meleleh di pipinya, rasanya ia begitu ingin menghambur ke arah Stefan, memeluk dan menguatkannya, namun itu semua hanya ada dalam angan-angan belaka.
Perlahan Alina menjauh dari tempat itu, bayi Lovely nampak sudah kembali tertidur setelah kenyang minum s**u. Alina meletakan Lovely di box bayi, kemudian dia segera turun ke bawah. Inah nampak sedang menata meja makan.
"Mbak Inah..." Panggil Alina, Inah menoleh terkejut.
"Alina mau makan sekarang? Ini Pak Stefan juga kok tidak turun ya dari tadi, padahal dia belum makan lho sejak pulang kantor..." Kata Inah.
"Bapak kelihatannya tidak akan turun...biar aku saja yang mengantar makanan bapak mbak..." Ujar Alina.
"Oh...begitu ya...baiklah, aku siapkan makanannya dulu di piring, nanti Alina yang mengantar ya..." Inah dengan cekatan mengambil sebuah piring, mengisinya dengan nasi dan lauk juga sayur, kemudian ada segelas s**u yang baru di buat, dan buah jeruk. Semuanya itu di letakan di atas sebuah nampan besar, dan telah siap untuk di sajikan.
"Nah Alina...sekarang kamu sudah bisa mengantar ini ke atas..." Kata Inah sambil menyodorkan nampan.
"Terimakasih mbak..." Jawab Alina sambil meraih nampan itu dan segera naik ke lantai atas, ke kamar Stefan.
Pintu kamar Stefan tidak tertutup dengan rapat, Alina perlahan masuk kedalam, Stefan nampak ketiduran dengan posisi memeluk bingkai foto istrinya. Perlahan Alina meletakan nampan di meja, mengambil bingkai foto itu, meletakannya di tempatnya, lalu menyelimuti tubuh Stefan yang nampak berantakan, membuka sepatu dan kaus kaki Stefan yang masih melekat di kakinya sejak Stefan pulang kantor tadi, bahkan pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya.
'Kasihan sekali kamu kak Stefan...bahkan kini kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri...apakah kau begitu dalam mencintai Karin...sampai kau begitu sulit untuk melupakannya...Karin... betapa beruntungnya dirimu di cintai oleh kak Stefan..." Gumam Alina. Mata gadis itu terus melekat ke wajah Stefan yang tampan walaupun kelihatan sangat kacau.
Tiba-tiba Stefan membuka matanya, Alina terperanjat dan mundur beberapa langkah, Stefan segera bangkit dan berdiri menatap Alina dengan mata yang menyorot tajam.
"Kenapa kau berada di kamarku?? Apa yang kau lakukan di sini??!" Tanya Stefan dengan nada tinggi.
"Ma...maaf...tadi aku mengantar makanan buat kak Stefan...kata Mbak Inah Kak Stefan belum makan sejak pulang kantor...." Jawab Alina sambil menunjuk kearah nampan yang ada di atas meja.
"Berani-beraninya kau masuk kamarku! Kau bahkan seperti pencuri...!" Cetus Stefan.
"Maaf kak...sungguh aku tidak bermaksud untuk...."
"Cukup!! Aku peringatkan sekali lagi...jangan pernah masuk ke kamarku...Tugasmu hanyalah merawat bayiku...jangan berharap lebih!! Kalau aku lapar aku juga pasti akan turun...mengerti??!" Bentak Stefan.
"Iya Kak...aku mengerti..." Sahut Alina yang kemudian langsung membalikan badannya dan meninggalkan kamar Stefan.
Brakk!!!
Suara pintu kamar Stefan di tutup dengan keras, Alina kaget dan menoleh, air matanya tiba-tiba menetes lagi. Kemudian Alina berlari masuk ke dalam kamar Lovely, di sanalah dia menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh perasaannya.