Imunisasi

1085 Kata
Hari ini adalah jadwal bayi Lovely di imunisasi di rumah sakit, Alina sejak tadi sudah mempersiapkan barang-barang Lovely, seperti baju, popok, bedak dan s**u bayi. Biasanya Stefan hanya menunggu mereka di bawah, Inah masih sibuk memasak di dapur. "Kak...sudah siap..." Kata Alina sambil menuruni tangga dan menggendong Lovely dengan tas bayi yang ada di tangannya. "Baik, kesinikan tasnya....nanti bayiku jatuh kalau kau begitu banyak membawa barang..." Ujar Stefan sambil mengambil tas bayi itu dari tangan Alina. Lalu dia segera berjalan menuju ke garasi mobil. Inah yang baru selesai masak segera ke depan mendapati Stefan yang mulai menyalakan mesin mobilnya. "Pak...makanannya sudah siap...apa tidak sarapan dulu?" Tanya Inah. "Tidak usah...ini sudah siang, nanti saja pada saat makan siang..." Jawab Stefan. "Baik..." Sahut Inah. "Mbak Inah...kami jalan dulu ya..." Pamit Alina sambil membuka pintu tengah dan masuk ke dalam mobil. "Hati-hati..." Jawab Inah. Dalam perjalanan, seperti biasa, suasana begitu hening, Stefan tetap dalam sikapnya yang cuek, dia hanya berbicara seperlunya saja. "Ingat...nanti kau duduk menjauh dariku, saat bayi love di imunisasi, baru aku akan memanggilmu, itu juga kau harus menjaga jarak denganku...aku tidak mau orang mengira kalau kau adalah istriku..." Ucap Stefan mengingatkan. "Baik...tidak perlu kakak mengingatkan aku terus, aku sudah tau aku harus bagaimana...." Jawab Alina. "Baguslah...." Sahut Stefan tetap dengan wajah datarnya. Tak lama mereka sudah sampai di rumah sakit, setelah Stefan memarkir mobilnya, merekapun masuk kedalam rumah sakit tersebut, seperti biasa, Stefan akan berjalan di depan, sedangkan Alina akan berjalan di belakang mengikutinya. Setelah bayi Lovely di timbang, mereka menunggu antrian di kursi tunggu. Stefan duduk di baris depan, sedangkan Alina duduk di sudut belakang sambil menggendong Lovely. Hari itu karena agak banyak pasien, antrian lumayan lama, sehingga Lovely mulai merasa lapar dan bayi mungil itupun menangis. Oweeek....oowweeek....oowwweeekkk!! Alina mencoba menenangkan bayi itu dengan berdiri dan menimangnya, namun bayi itu tetap menangis, akhirnya dengan terpaksa dia mendekati Stefan. "Ssst...kak...bisa minta tolong buatkan s**u? Love sepertinya lapar..." Kata Alina. Stefan menoleh ke arah Alina, dengan ekor matanya dia memberi issyarat agar Alina menjauhinya. Akhirnya Alina kembali ketempatnya semula sambil menimang Lovely. Stefan membuka tas bayi dan mencoba membuat s**u, namun dia kurang paham membuat s**u, akhirnya dia memanggil Alina dengan melambaikan tangannya. Alina pun kembali mendekatinya. "Kemarikan Lovely...kau buatlah susu..." Kata Stefan. Alina segera menyerahkan Lovely dan mengambil tas bayi dalam pangkuan Stefan, kemudian dia mulai membuatkan s**u untuk Lovely. Setelah s**u selesai di buat, Alina kembali medekati Stefan dan menyerahkan botol susunya kepada laki-laki itu, kemudian Alina kembali ketempatnya. Di situ ada beberapa pasangan yang sedang ikut mengantri untuk imunisasi. Mereka menatap penuh heran ke arah Stefan dan Alina. "Kalian sedang marahan ya....kok duduk saling berjauhan?" Tanya salah seorang ibu yang sedang mengantri. "Tidak..." Jawab Stefan cuek. "Itu kasihan istrinya Pak...kok duduk di pojok sana...sedangkan kursi di sebelah bapak kosong..." Tambah ibu itu. "Dia bukan istriku..." Jawab Stefan. "Pak...jangan begitu....semarah-marahnya sama istri masa tidak diakui...kasihan bayi bapak lho....dia butuh kasih sayang kalian berdua...." "Diam..!!!" Teriak Stefan. Sontak semua orang melihat kearahnya. Alinapun terkejut mendengar teriakan itu. Dia segera menghampiri Stefan. Si ibu yang di bentak oleh Stefan sangat terkejut, suaminya pun terkejut dan langsung berdiri. "Pak...kenapa membentak istri saya??" Tanya sang suami si ibu. "Istri anda selalu mencampuri urusanku...!" Jawab Stefan. Alina yang melihat pertengkaran itu segera menarik tangan Stefan dengan sigap kedalam ruangan, karena kebetulan nama Lovely sudah di panggil. "Dasar ibu-ibu cerewet...!!" Sungut Stefan. "Kakak yang salah...untuk apa meladeni dan membentaknya..." Jawab Alina. "Karena dia mengira kau istriku....jelas aku marah..." Kata Stefan. Alina terdiam. 'Apa aku begitu memalukannya menjadi istrimu? Sampai kau semarah itu?' Tanya Alina dalam hati. Bayi Lovely mulai di imunisasi, jarum suntik membuat bayi mungil itu menangis, Stefan menimangnya dan mencium bayinya mencoba untuk menenangkannya. "Ssshh....anak cantik...jangan menangis ya...tadi sakit ya sayang...papa cium ya biar tidak sakit lagi....mmmuach..." Stefan mencium Lovely sambil berdiri dan menimangnya. "Nanti kalau agak demam di kasih obat penurun demam sedikit saja ya Pak..." Kata Suster. Setelah selesai di imunisasi dan menyelesaikan administrasi, mereka akhirnya bergegas pulang kerumah. Setelah menyusu, bayi Lovely nampak pulas tertidur di gendongan Alina. "Aku lapar, kita mampir sebentar cari makan ya...." Kata Stefan sambil melirik kanan kiri mencari restoran untuk mereka makan. Alina diam saja menanggapinya, entah mengapa ada yang sakit di dadanya setelah mengingat kejadian tadi. Setelah beberapa kali berputar, mereka akhirnya berhenti di sebuah restoran cepat saji, setelah memarkir mobilnya, merekapun masuk kedalam. Kemudian mereka duduk di meja yang berbeda. Setelah memesan makanan, mereka makan di meja masing-masing tanpa ada pembicaraan apapun. Tiba-tiba seseorang menepuk punggung Stefan. "Hai Fan...gimana kabarmu?" Ternyata dia adalah Rudi, teman kampus Stefan dulu. "Hei...Rud? Kapan balik dari Hongkong? Ayo duduk...duduk..." Stefan mengeser bangku untuk Rudi. "Bro...turut berdukacita ya atas kepergian istrimu...maaf aku tidak sempat datang..." Ucap Rudi. "No problem Rud...aku juga sudah mengikhlaskan Karin...." Ujar Stefan sendu. "Mana bayimu Bro...aku belum melihatnya?" Tanya Rudi lagi. Stefan menunjuk ke arah Alina dengan dagunya. "Lho...itu siapa? Calon ibunya?" "Sembarangan kau...itu pengasuh bayiku....sebentar aku ambil bayiku kalau kau ingin melihatnya..." Kata Stefan, kemudian dia mendekati Alina dan meraih bayinya. "Aku pinjam sebentar....temanku mau melihatnya...kau teruskan saja makanmu..." Bisik Stefan. Alina hanya menganggukkan kepalanya. Kemudia Stefan kembali ketempat duduknya. "Ini Bro...bayiku...cantik kan seperti Karin..." Kata Stefan bangga. Rudi mengernyitkan keningnya. "Bayimu memang cantik Bro....tapi coba kau lihat baik-baik, dia persis sepertimu...hanya yang versi ceweknya...kata orang anak perempuan itu memang cenderung mirip papanya..." Jelas Rudi. "Terserah kau menganggapnya mirip siapa...yang penting bagiku bayiku ini seperti Karin istriku..." Sahut Stefan. "Oya Fan...kapan-kapan aku mampir ya kerumahmu...sejak kau menikah aku belum tau rumahmu...." Kata Rudi, "Siap....kapanpun kalau mau datang kabari saja aku..." Jawab Stefan. Akhirnya merekapun saling bertukar nomor ponsel. "Ya sudah bro...aku harus balik ke kantor....ngomong-ngomong pengasuh bayimu cantik juga..." Goda Rudi sambil mencolek bahu Stefan. Stefan hanya melengos. Kemudian Rudi segera menghilang dari hadapan Stefan. Setelah selesai makan, kembali mereka naik ke mobil mereka, Stefan menyerahkan bayinya kembali kepada Alina. "Hati-hati....dia sedang tidur..." Kata Stefan. "Iya kak...aku juga tau kalau dia sedang tidur...." Sahut Alina. Hari ini Alina kelihatan agak jutek, mungkin karena sakit hatinya saat di rumah sakit tadi. "Alina, maafkan aku ya...." Ucap Stefan sebelum dia naik ke atas mobil. Alina terkesiap mendengar perkataan Stefan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN