Bayi Lovely sudah tidur dengan nyenyaknya di dalam box bayinya. Seharian ini bayi mungil itu tidak rewel meskipun di ajak ke mall untuk berbelanja kebutuhannya.
Sore itu Alina bersiap-siap akan pulang ke tempat kosnya yang berjarak hanya 10 menit dari rumah Stefan, dia mulai memberskan pakaian Love yang kotor, mencuci kemudian menjemurnya, lalu mulai memasak air panas untuk di isi ke termos, supaya memudahkan proses pembuatan s**u jika Love lapar.
"Aku pamit pulang dulu ya Kak..." Ucap Alina sambil menjinjing tasnya.
"Hemm...." Hanya itu jawaban stefan. Alina langsung melangkahkan kakinya pergi ke luar.
"Tunggu...!" panggil Stefan.
Alina menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang.
Alina menatap heran ke arah Stefan yang masih berdiri tanpa bicara, mata pria itu menatap sendu kearahnya, Alina menundukan wajahnya, tidak tahan melihat pria yang di sukainya sejak SMU menatap ke arahnya.
"Tinggalah di Sini...kau bisa menempati kamar tamu...aku...aku laki-laki, mungkin kurang ahli merawat bayi...kau kan sudah belajar..." Kata Stefan dengan suara bergetar dan mata yang penuh harap.
"Maaf kak...tapi aku takut kalau nanti orang lain akan salah sangka...karena kita tinggal satu atap..." Ujar Alina lirih.
"Jangan kuatir, aku akan mencari seorang asisten rumah tangga...kau hanya bertugas untuk mengasuh bayiku saja...kalau ada orang yang menanyakan....bilang saja kau adalah pengasuh Lovely...." Jelas Stefan.
'Ya...ya...aku memang hanyalah pengasuh bayimu....bahkan kau juga tidak menganggapku teman....apalagi tetangga....tapi aku senang dengan tawaranmu... setidaknya aku akan lebih sering melihatmu...tidak sembunyi-sembunyi seperti dulu....' Gumam Alina dalam hati.
"Bagaimana? apakah kau bersedia? Kalau kau tidak mau aku tak akan memaksamu...aku akan mencari pengasuh yang lain..."
"Iya...aku bersedia..." Jawab Alina cepat. Dia takut Stefan akan berubah pikiran.
"Bagus...! Sekarang kau boleh kembali ke tempat kosmu dan bawalah barang-barangmu pindah kerumahku..." Ujar Stefan.
"Siap kak...aku segera kembali...."
Alina membalikan tubuhnya dan berlari kecil menuju ketempat kosnya, senyum cerah kembali menghiasi wajahnya, setidaknya ada kemajuan dia bisa dekat dengan Stefan.
**************
Seorang wanita yang berusia kira-kira 40 tahun datang kerumah Stefan, wanita itu adalah Inah, asisten rumah tangga yang baru datang dari yayasan penyalur, Stefan yang mencarinya melalui jasa penyalur asisten rumah tangga.
"Mbak Inah...tugasmu hanyalah membersihkan rumah dan memasak, untuk urusan mengasuh bayi itu adalah tugas Alina...kau boleh menempati kamar yang di belakang..." Kata Stefan memberikan pengarahan.
"Baik Pak..." Sahut Inah.
"Alina...antarkan mbak Inah ke kamarnya untuk manaruh barangnya...setelah itu kalian boleh mulai bekerja sesuai dengan tugas kalian masing-masing....Alina, aku akan keluar bertemu dengan klienku...jaga Love dengan baik...kalau ada apa-apa cepat hubungi aku..." Kata Stefan.
"Baik Kak...." Jawab Alina.
Kemudian dia segera mengajak Inah untuk ke kamarnya sambil menggendong Lovely.
Tak lama mereka sampai di kamar Inah yang ukurannya sedikit lebih kecil dari pada kamar tamu yang Alina tempati.
"Ini kamarnya Mbak Inah...aku sudah membersihkannya, silahkan istirahat dulu...hari ini belum ada yang dikerjakan karena aku sudah mengerjakannya tadi..." Ucap Alina.
Inah hanya menganggukan kepalanya.
"Trimakasih...saya harus panggil apa nih...?" Tanya Inah sungkan.
"Panggil saja Alina...."
"Alina istrinya Pak Stefan?"
"Bukan...aku pengasuh bayinya...?"
"Pengasuh bayi?"
"Iya...istri Pak Stefan baru meninggal saat melahirkan bayinya..."
"Oh...maaf...kasihan sekali....untung ada Alina yang bisa mengasuh dan merawat bayinya..."
"Sudahlah Mbak Inah...istirahatlah...aku mau membuatkan s**u dulu untuk Love, sepertinya dia sudah lapar..." Ujar Alina sambil melangkah meninggalkan Inah menuju ke kamar bayi.
Di kamar bayi yang letaknya persis di sebelah kamar Stefan, Alina meletakan Lovely di ranjang bayi. Bayi itu mulai gelisah, mulutnya ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu yang dapat dihisapnya.
Alina tersenyum melihat bayi mungil itu.
'Kau sudah lapar rupanya....sabar ya...sebentar aku akan membuatkan s**u untukmu...wajahmu menggemaskan sekali...kau sangat mirip dengan Papamu...kata orang, anak perempuan itu lebih mirip papanya...' Gumam Alina sambil mengelus pipi Lovely.
Dengan cepat Alina mulai membuatkan s**u untuk Lovely, kini gadis itu sudah sangat mahir untuk membuat s**u, dalam sekejap s**u di dalam botol sudah di hisap sampai habis oleh bayi itu.
Wajah ceria dan nyaman terlihat dari bayi lucu itu, Alina mendekatkan wajahnya kemudian mencium gemas pipi Love yang mulai berisi.
Dengan cekatan Alina mengganti baju dan popok yang sudah basah oleh keringat saat Love meminum susunya. Ia membalurkan minyak telon yang hangat keseluruh tubuh Love, kemudian memberikannya bedak bayi tipis-tipis karena takut mengenai mata dan hidung Lovely.
Setelah selesai, Alina segera mengangkat tubuh Love dan menciumnya dengan sayang.
'Love...sekarang kamu sudah cantik dan wangi...nanti saat Papamu pulang dia pasti langsung datang menggendongmu...aku senang Love kalau melihat papamu senang... jangan rewel ya sayang...walau aku bukan ibumu...tapi aku janji akan menyayangimu seperti anakku sendiri...karena kau tau Love....aku juga sayang sama Papamu...tapi Papamu tidak pernah tau...' Bisik Alina lirih.
Dia kembali mencium bayi mungil yang sedang tersenyum itu dengan penuh sayang.