Stadion kosong menyambutku saat aku membuka pintu masuk. Dengan Stefhana yang kudekap di dadaku, aku terpaksa menendang pintu tadi dengan kakiku. Kini suara langkahku menggema memenuhi ruangan hingga ke sudut. Semakin terdengar, semakin memancing ingatan kelamku tentang awal aku hidup di mimpi buruk berkepanjangan ini. Hari dimana aku membunuh mamaku sendiri. Sedikit berbeda dengan waktu itu, kali ini hanya ada aku dengan Stefhana. Tidak ada penjaga-penjaga pintu dengan topeng hewan mengerikan mereka. Tidak ada Ayah. Serta ini bukanlah markas di kota yang sama dengan markas dimana aku membunuh mamaku, meski semua interiornya sama. Aku merebahkan tubuh lemah Stefhana ke atas meja marmer di tengah stadion. Gadis itu bergerak sedikit, terlihat tidak nyaman mungkin karena dingin meja ini me

