Madness

1415 Kata

"Haaahh..." Adrian bangkit. Disisirnya ke belakang surai coklatnya dengan jari. Merasakan basah di tiap helainya akibat keringat. Semburat merah melintasi pipi pucatnya. Sebab matanya dimanjakan dengan pemandangan Stefhana yang telah berantakan di bawahnya. Adrian menyeringai puas melihat hasil ulahnya. Kontras dengan Adrian, Stefhana justru menghindar beradu tatap dengan iris Amber itu. Stefhana menatap hampa jendela disana dengan air mata yang mengalir. Tubuhnya telah lelah melawan. Lidah dan bibirnya kini terdapat luka-luka kecil akibat gigitan Adrian. Tidak hanya itu, bercak tanda keposesifan juga telah menghiasi leher hingga pahanya. Adrian yang meninggalkan jejak bersaliva itu di tubuhnya. Namun pada tubuh Adrian pun sama. Beberapa menit yang lalu, Stefhana masih terus melawan. D

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN