Bocah Takdir
Terbangun oleh sebuah auman suara menggelegar di langit malam, bocah berumur lima tahun dengan kaos putih dan celana pendek itu beranjak dari dipan reot. Langkah kecilnya terarah pada sebuah pintu kayu dengan slot kunci besi. Matanya yang cokelat pudar, tampak jelas oleh pendar temaram lampu sentir antik yang tergantung di langit-langit.
Tak mau berisik, ia membuka slot kunci perlahan, lalu membuka lebar pintu itu. Suara itu, kembali bergemuruh memecah sunyinya malam dingin. Langit yang ia tatap, penuh gemintang, bersama terangnya purnama berpancar putih padang.
"Itu suara apa ya?" bisiknya polos. Ia melangkah ke luar rumah, menyenderkan diri pada tiang tua penyangga rumah kayu.
"Kamu terbangun ya, Thole?" sapa sesosok pria tua berwajah cokelat, dengan busana serba hitam dan ikat kepala hitam. Hidungnya mancung, dengan tubuh tegap. Ia, merangkul bocah yang kini menatapnya bingung.
Lagi, suara besar bak jeritan singa berpantul di antara bukit-bukit. Spontan, bocah itu memeluk erat sang sosok tua. "Ni'mal takut, Kek," ucapnya menutup muka pada wajah baju sang Kakek.
"Hahaha ... wong koen seng aban di konconi kok wedi," (Orang kamu nanti yang mau ditemenin kok, takut.”) ucapnya lirih, sembari duduk di tanah bersila. Perlahan, ia memangku sang Cucu. Ia, mengelus pelan rambut tebalnya, berkata lirih, "Thole ... kamu mau tahu, suara apa itu?"
Menatap dengan bibir yang terkatup, raut tegang, Ni'mal mengangguk lirih.
Sang kakek, kembali menatap purnama putih. Ia, menghela napas panjang sebelum lanjut bicara. "Pada zaman dahulu kala ... negeri ini, adalah sebuah negeri yang banyak di isi oleh makhluk-makhluk beraneka bentuk dan jenis. Akan tetapi, mereka tak sepandai manusia. Mereka justru lebih suka bergotong-royong tidak seperti kita, kebanyakan."
"Konon, dulunya banyak manusia yang tiba-tiba datang kemari dengan tujuan perdamaian. Mereka membangun kerajaan yang damai dan makmur. Hingga pada suatu masa... terjadi sebuah peperangan antara bangsa manusia dan para penghuni negeri ini."
Ni'mal, menyimak, turut memandang langit penuh bintang. Suara jangkrik dan binatang malam lain, perlahan kembali terdengar, sedangkan auman tadi, tak lagi menggema.
Sang kakek, melanjutkan. "Banyak bangsa kita yang meninggal dalam perang Basar. Hingga akhirnya, muncullah empat makhluk tertua di negeri ini. Putri duyung sakti, Naga raksasa, monyet merah jingga, dan harimau bersayap burung. Mereka, dan seorang anak manusia, bersatu untuk mendamaikan negeri ini. Empat makhluk itu disebut, Sura."
"Apa ... mereka berhasil, Kek?"
"Alhamdulillah ... mereka berhasil menghentikan perang yang berkecamuk kala itu. Meski sebagian makhluk masih menyimpan dendam pada bangsa manusia, namun mereka takut pada empat Sura, para makhluk penjaga tadi. Akhirnya, mereka bersembunyi di wilayah gelap penjuru negeri ini, dan tak lagi mau menampakkan diri."
Mengeratkan pegangan tangannya, Ni'mal menatap sang Kakek. "A-apa ... suara tadi itu makhluk jahat, Kek?"
Menggeleng beriring senyum, sang kakek mencium ubun-ubun cucunya. "Ndak apa-apa ... mereka jauh. Hanya suaranya saja yang keras. Makanya kamu balik lagi ke kamar, ya? Tidur. Sudah malam."
Bangkit dari dekapan sang Kakek, Ni'mal mengangguk. "Iya, Kek." Langkah mungilnya terburu-buru. Ia meninggalkan sang Kakek seorang diri di depan rumah.
Saat tahu sang cucu tak lagi di sana, sang Kakek berdiri tegap. Ia memejamkan mata, membuang napas berat. "Hai Maung Bodas, apakah sudah sedekat itu masanya? Mereka yang kau nanti, masih anak-anak," ucapnya lesu, "Ya Alloh Gusti ... tahanlah bencana besar yang telah lama dinubuatkan ..."
***
Tenaga dalam adalah warisan leluhur yang mulai terpendam. Sebagian karena modernisasi, sebagian karena aspek kepercayaan bahwa tenaga dalam adalah hal tabu untuk dilestarikan. Hanya prajurit penjaga keamanan dari kerajaan yang boleh menguasainya. Entahlah ... mengapa mesti begitu. Padahal nyatanya, makhluk hitam dan makhluk gaib, adalah hal nyata yang berdampingan di dunia selain manusia. Bukankah tenaga dalam berasal dari diri manusia, dan manusia adalah ciptaan terbaik-Nya?
Di sebuah ruang penuh lukisan antik, hanya tampak seorang pemuda yang mengamati gambar sosok harimau besar bersayap dan bertanduk bak cula unicorn. Gambar yang terpasang di dinding ruang dengan ukiran bingkai tanaman jawa yang indah.
Ni'mal, pemuda berambut lebat dengan postur tegap dan tinggi 170cm itu, segera tersadar dari lamunan ketika seorang remaja berkulit putih dan hidung mancung yang lebih pendek darinya, menepuk bahunya. "Woy! Ngalamun bae rika!" sapa si pria kurus.
(Rika/Sampean/koen/koe, dalam jawa , berarti kamu)
Tersenyum memandang kawannya yang berbalut busana silat serba hitam, Ni'mal mengulurkan tangan bermaksud jabat tangan. Ketika tangan mereka bertemu, Ni'mal mengucap, "penampilanmu tadi bagus. Semua jurus-jurusnya tak ada yang terlewat. Ayo balik."
"Lah lah lah... sik lho, Kang ... kamu ndak mau lihat acara sampai habis?"
"Aku lapar. Perutku sudah berbunyi saja dari tadi."
"Wadohh! Putune Mbah Pur sang legenda silat kok gak bisa tahan lapar ... tak mantaplah ...."
(Putune, dalam bahasa jawa: Cucunya)
"Hehehe ... ya mau bagaimana lagi. Lapar, ya makan. Ngantuk, ya tidur. Haus, ya minum, gitu aja kok repot," jawabnya membalik badan.
"Yakin, kau tak mau melihat Lastri menari?"
Ni'mal, menoleh ke belakang, membalik badan. Alis kanannya, naik ke atas. "Lastri? Menari? Lastri siapa?"
Mendekat ke telinga Ni'mal, pria berblangkon, berbisik lirih, "Lastri Lituhayu, primadona SMA kita yang jadi juara seni tari."
"Ohh ... maksudmu ... gadis yang hampir tiap harinya dikirimi karangan bunga?" Ni'mal teringat sesuatu.
"Nah, iyo, Kang!"
"Aku jarang melihatnya," tanggapnya kembali balik badan.
"Ndak mau lihat, Kang?"
"Ya sudah, ayo. Aku temani kau," jawabnya terus melangkah.
"Sik, Kang! Mbahmu minta aku ambil gambar lukisan di sini," ucapnya segera merogoh ponsel dan memotret seisi ruangan.
"Ya sudah, aku tunggu kau di luar. Aku mau-" Baru Ni'mal membuka pintu dan melangkah, ia menabrak sesuatu.
Bluk ....
"Astaghfirulloh ...." Suara seorang gadis yang ia dengar.
"E-eh, maaf Mba ... Anda tidak ap-"
Memandang gadis berbusana adat Jawa, dengan corak batik hijau dan warna ungu selendang, mata cokelat Ni'mal fokus pada tusuk konde emas si gadis yang terjatuh ke lantai akibat menabraknya barusan. Mengambil lalu berdiri, gadis berhidung mancung, dengan bulu mata dan alis alami yang cantik, membuat Ni'mal termangu memandang dalam pupil hitam lawan bicara.
Bibir tipis merah mudanya, terangkat naik, lalu menyahuti Ni'mal. "I-iya, Mas ... ndak apa-apa, saya yang salah. Duluan ya, Mas, saya buru-buru ...."
"Ealah Gusti ... eseme ...." Ni'mal, tak mengalihkan pandangan dari gadis yang tampak menjauh. Ia, masih saja terkesima pada suara dan parasnya.
(Esem/Mesem: senyum kecil)
Sahabatnya yang barusan sibuk memotret lukisan, kini menghampirinya dari belakang. "Ayo, Kang ...."
Setelah berjalan lima meter tak mendengar derap langkah susulan, ia membalik badan. Matanya heran memandang Ni'mal yang tak bergerak dan justru tersenyum sendiri. Kedua matanya pun, terbuka lebar oleh prasangkanya pribadi.
Sigap, ia memegang tengkuk belakang Ni'mal, sembari berteriak tegas, "Bismilahirohmanirohim! Keluar kau, jurig!" serunya menekan keras tengkuk Ni'mal.
"Woy! Teguh! Aduh! Woy Teguh! Teguh! Gentoong!"
***
Sebuah panggung besar, dengan alat musik tradisional di sana, menjadi sorotan mata ratusan hadirin. Masyarakat di sana, beraneka ragam, duduk menikmati acara. Dari para sosok yang mengenakan busana islami, busana ala Brahma, busana Pendeta, bahkan orang-orang dengan baju sipil, saling bercengkerama akrab di sela-sela acara.
Kursi biru yang cukup banyak itu, menampung mereka semua. Namun, Ni'mal dan Teguh, kini tampak duduk tenang di barisan paling belakang. Cukup jauh dari panggung. Pada Background panggung, tertulis, Perayaan Hari Jadi Kadipaten Sunyoto yang ke-121.
Ramai riuhnya penonton, kembali semarak saat sosok berambut kribo dengan kemeja cokelat batik, berteriak ceria, memanggil penampilan seni selanjutnya. Beksan, sebuah tarian tradisional Kadipaten Sunyoto.
"Kita tampilkan, Lastri!"
Dari jarak 50 meter, Ni'mal, jelas memperhatikan wajah dan lekuk tubuh sosok tersebut. Gadis yang menabraknya tadi pagi. "Dia ... gadis tadi, kan?" Ni'mal mengigau, memandang takjub sosok yang lemah gemulai menari di atas panggung. Tak seperti orang-orang di sebelahnya, matanya dapat jelas memandang fokus paras gadis itu.
Lastri, memainkan selendang ungunya dengan lihai. Wajahnya, sering kali menatap ke bawah, sambil sesekali melirik manja pada para penonton. Senyum dari bibir tipisnya, membuat para bujang, khidmat memperhatikan wajah.
Teguh, menggeleng lirih. "Duh Kang ... aku, kalau sampai nikah sama dia ... beruntung benar nasibku."
"Coba, andaikan ada Makhluk Hitam yang mengamuk di sini ya, Guh, sebelum Prajurit Manunggal dan Satria Manunggal tiba, kita sudah selamatkan banyak warga. Hehe," celetuk Ni'mal.
"Ah, yo jangan tho, Kang. Kanuragan kita belum mampu buat lawan Makhluk Hitam," timpal Teguh, "Lagi pula ucapan itu doa lho, Kang. Kalau sampai terjadi keributan seperti di Kadipaten Cidewa Hideung, bisa gawat."
"Lah, memangnya ada apa di sana?" Ni'mal terkejut.
Menutup bibir dengan telunjuk, Teguh mendesis lirih, "Sstt ... aku dengar dari kawan perguruan Gajah Putih, kalau ada lima sosok Makhluk Hitam yang menyerang pemukiman warga di saat perayaan panen kemarin."
Menaikkan alis kanannya ke atas, Ni'mal bertanya curiga, "Koen ndak bohong, kan? Kok ndak di siarkan di berita?"
"Kata mbahmu, pihak kerajaan ndak mau buat khalayak ramai gempar. Tapi yang jelas, di perbatasan pegunungan daerah arsir, Satria Manunggal dan Prajurit Manunggal telah banyak berjaga-jaga," jelasnya bersuara lirih.
Menarik napas dalam, Ni'mal kembali menatap panggung. "Kapan kejadiannya, Guh?"
"Baru-baru ini. Lebih jelasnya, tanya mbahmu saja, Kang. Beliau lebih tahu banyak, karena kemarin juga Pimpinan Perguruan Gajah Putih, datang sendiri dan berbincang banyak."
Melirik ke kanan dan kiri, Ni'mal mempertimbangkan sesuatu. Setelah lima menit terdiam, dan sang penari turun panggung, Ni'mal menjawab, "Baiklah ... setelah ini, aku akan ikut pulang ke Desa."
"Wahh ... Kang Ni'mal mau lanjut latihan silat lagi?" Teguh sumringah.
"Mmmm ... iya," jawabnya. Aku ingin bertanya pada kakek tentang mimpi anehku akhir-akhir ini. Pikirnya.
***
Sebuah desa dengan asri dan hijaunya pemandangan, menjadi panorama yang Ni'mal dan Teguh saksikan. Rumah-rumah warga yang terbuat dari beton, berjajar dan berpunden-punden di sebuah tebing hijau. Lampu rumah warga, telah berpijar terang memyambut malam yang mulai datang.
Mereka berdua, beriringan berjalan naik lewat tangga yang mengarah pada deretan rumah di tebing penuh rumput. Dalam langkah, Ni'mal mengingat-ingat wajah sang Kakek. sudah begitu lama, aku tak pulang. Sebenarnya pun, aku rindu kakek.
"Kang ... Kang Ni'mal ndak mau pulang kemari, itu kenapa? Kasihan mbahmu lho Kang. Beliau sudah sepuh, kadang Hari Raya Idul Fitri pun mbahmu tanya, kapan kamu mau pulang? Apa mentang-mentang sudah enak tinggal bareng sama keluarga angkat di Kota, jadi ndak mau jenguk Mbah lagi."
Ni'mal, tersenyum masam. Ia menghela napas, Guh, andaikan kau tahu, apa yang aku alami di sana. Andaikan Kakek tahu, kalau aku hanya ingin tahu yang sebenarnya ....
***
Tak mendengar jawaban, Teguh pun hanya diam tak lagi bersuara. Mereka, perlahan melangkah menaiki tangga berundak, melewati rumah warga yang telah sepi. Hanya suara jangkrik dan binatang malam, mengisi langit malam.
Melewati rumah-rumah dan berhasil naik ke puncak tebing yang lapang dan luas, Ni'mal fokus pada rumah reot dari kayu, yang berada seratus meter darinya. Sejauh mata memandang, hanya rumput hijau segar yang membentang, dan lebat pepohonan besar di samping kanan dan kirinya.
Tak seperti Ni'mal yang terus berjalan lirih, Teguh justru terdiam membatu. Matanya terbuka lebar, napasnya ia lirihkan. Sigap, Teguh memegang bahu Ni'mal sebelum sahabat kecilnya itu makin jauh. Ketika Ni'mal menatapnya balik, Teguh menutup bibir dengan telunjuk, sembari mendesis lirih.
Menarik napas lewat hidung agak keras, tiga kali, Ni'mal mengendus aroma anyir darah. Kepalanya, menoleh ke kanan dan kiri, hingga ia membuka lebar netranya. "Kakek!"
Pemuda berjaket hitam dengan celana jeans itu, bergegas lari, tak memedulikan Teguh yang berteriak memanggil namanya tiga kali. Baru belasan meter ia melangkahkan kaki, suara geraman di sertai bunyi benda, bergerak cepat, memancingnya menoleh ke arah gelap hutan.
"Raaaar!" Manusia serigala hitam besar kekar, dengan tanduk banteng yang tumbuh lurus menukik tajam ke depan, muncul. Matanya yang menyala kuning bak kucing di tengah malam, membuat jantung Ni'mal berdenyut hebat.
"Kang! Lari!" teriak Teguh mendekati Ni'mal.
"Raaar!" Sosok buas tersebut, melaju kencang, mengarahkan cakar tangan kanannya, ke leher Ni'mal.
Melompat, Teguh bersiap memukul setelah menghirup cepat napas lewat hidung. "Ajian Raga Wesi!"
Blag!
Tinju Teguh, mengenai tangan sang serigala besar. Makhluk dengan moncong serigala berhias taring tajam, mengalihkan pandangan pada pria kurus. Ia, ganti menerkam, namun Teguh cepat berguling ke samping. "Kang! Lihat mbahmu di dalam! Aku takut dia-" Belum Teguh menyelesaikan kalimat, ia berhenti bicara, kembali menghindari lima ayunan cakar sang monster.
Ni'mal, dengan jantung yang berdetak tak karuan, berlari ke arah rumah kayu 20 meter di depan. Napasnya, kacau di tengah udara malam yang menusuk menembus kulit. Meskipun ia mendengar teriakan Teguh yang kesakitan, ia yakin bila sang ahli bela diri itu, akan baik-baik saja.
Langkah kakinya yang terburu-buru, tak ia hentikan ketika jaraknya dengan pintu kayu begitu dekat. Pemuda berjaket hitam itu, melompat melayangkan tendangan untuk membuka pintu.
Dar!
"Kakek!" teriaknya memanggil. Nahas, netranya hanya menemukan dua orang pria yang terkapar bersimbah darah. Ni'mal, menghampiri satu di antara dua pemuda. Lelaki dengan rambut tipis bergaya emo, dengan busana hitam silat yang telah sobek di berbagai bagian. Wajah yang sedikit berjerawat itu, pucat pasi.
"Hai! Bertahanlah!" serunya menggoyang-goyang tubuh. Telunjuk kanannya, ia majukan pada hidung pria malang tersebut. Lirih hembus napas dan degup jantungnya, membuatnya sedikit lega.
Namun, sosok yang berbicara, adalah pria di sebelahnya. Pria yang juga berbalut busana silat, dengan rambut tipis cepak. Lukanya pun tak kalah parah. Ia bersuara parau "Mbahmu ... Di... Bawa me-mereka ... A-ambillah pusaka di ... Kamar Mbah Pur..."
Usai berbicara, pemuda itu tak lagi bernapas. Matanya terpejam. "Makhluk Hitam terkutuk!" umpatnya jengkel. Kedua tangan dan kakinya, gemetar. Emosi, seolah menguasai raga Ni'mal. Ia, meletakan tubuh pemuda yang terluka kembali ke tanah.
Teguh, pemuda berkulit putih dan hidung mancung itu, telah mendera luka cakar di punggung dan paha. Ia berdiri bungkuk, kaki kirinya basah oleh darah dari luka cakar di paha. Napasnya, sudah lemah. Ia, hanya pasrah ketika manusia serigala hitam bertanduk itu, mencekik erat lehernya.
Ni'mal, dari kejauhan berlari dengan amat cepat. Ia, berteriak guna mengalihkan perhatian sang monster. "Kemari kau anjing terkutuk! Dasar makhluk rendahan! Lepaskan kawanku!" Kedua netranya, tampak sedikit memerah dari ujung pupil.
"Raaaar!" Sang Makhluk Hitam, melempar keras tubuh Teguh ke tanah.
"Huuuk!" Teguh kini terpejam, dengan darah yang terus mengalir.
Sang serigala, kini berlari cepat, menghampiri Ni'mal yang berlari membawa keris di tangan kanan, yang mana juga tengah menghampirinya.
"Kakek!" Ni'mal, melangkah cepat dengan air mata yang perlahan mengaliri pipi. "Kau makhluk bodoh! Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi sekarang! Mati saja kau makhluk tak berotak!"
Mendadak, Ni'mal teringat pesan sang Kakek, pada zaman dahulu kala ... negeri ini, adalah sebuah negeri yang banyak di isi oleh makhluk-makhluk beraneka bentuk dan jenis. Tapi, mereka tak sepandai manusia. Namun, mereka justru lebih suka bergotong-royong tidak seperti kita, kebanyakan.
Masih dalam laju lari, Ni'mal menajamkan mata. Benar! Kau pun sendirian! Tak ada yang bisa membantumu!
"Raaaarr!" Makhluk itu, melangkah lebih cepat, ketika jaraknya dengan target berkisar lima meter, ia melompat menerkam Ni'mal.
Baru sebentar tertindih oleh makhluk yang hendak menggigitnya, Ni'mal segera menusukkan keris di tangan kanan tepat di dagu sang monster bermoncong.
Clep!
"Rauuuuuu!" Sang Makhluk Hitam, mencekik leher Ni'mal, lanjut melemparkannya ke sebuah pohon pinus besar.
Bug!
Usai dilempar dan mendarat keras, Ni'mal jelas merasakan tulang punggungnya tergeser. Tubuhnya yang loyo, terduduk menyandar pada pohon di belakang. Pupilnya yang kembali cokelat, sayup-sayup lirih tertutup.
Deru langkah cepat nan keras dari sang monster, tak begitu ia perhatikan. Sepasang telinganya berdenging. Ketika menggerak-gerakan tangan kanan, ia baru sadar bila kerisnya tak ada di sana-masih menempel di dagu monster itu.
Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Jlep!
Sang manusia serigala bertanduk, menyeruduk, menancapkan tanduk kirinya tepat di perut Ni'mal, mengarak, membawanya menembus pepohonan.
Setelah puluhan meter dibawa, monster itu mengayunkan tangan kanannya, menyabet Ni'mal jauh, terlempar sampai terkapar di antara semak belukar.
Ajal. Hanya itu yang Ni'mal yakini. Ia tak sanggup lagi bergerak. Sekujur tubuhnya terlalu letih dan kesakitan. Hingga dalam kesadarannya yang perlahan memudar, ia jelas merasakan lehernya di cengkeram oleh sebuah lengan kuat nan lebar.
Sebelum matanya tertutup, ia menyaksikan air liur yang berderai di antara taring-taring runcing, dan lidah panjang berbau anyir dari makhluk di depannya.