Sebuah Jalan

2465 Kata
Ni'mal terbaring lemah di atas tikar jingga bergaris hitam, di dalam sebuah rumah dengan lempeng kayu sebagai dinding. Sekujur tubuhnya, tak mampu untuk digerakkan. Perban putih, noda, dan bercak darah, membalut seluruh badan atas. Mata cokelat terang Ni'mal, sayup terbuka saat suara merdu seruling khas bernada Jawa, mengusir kantuk yang mendera. Meski begitu, ia hanya mampu mengedipkan mata. Perih pada kulit serta rasa remuk pada tulang telah tiada, namun sekedar menggerakkan jari saja, ia tak bisa. Aku ... di mana? Pikirnya memandang langit-langit kayu. Ni'mal, ia terus terdiam. Melewati belasan menit dengan napasnya yang lirih. Sampai sebuah derap langkah, terdengar. Dari sisi ruangan yang lain, sesosok gadis berkulit cokelat, bermata jeli, mendekati Ni'mal, sembari memperhatikan wajah pemuda yang terbaring lemas. Tanpa ragu, ia menempelkan telapak tangan ke dahi Ni'mal. Ia, berujar lirih, “Demamnya sudah turun. Tapi, sepertinya masih belum bisa bergerak.” “A-aku ... d-di mana?” “Tunggu sebentar ya, Kak ....” Gadis berjilbab dengan jaket dan rok cokelat, bangkit. Ia melangkah keluar rumah, meninggalkan Ni'mal seorang diri. Siapa dia? Apa dia yang membawaku kemari? Tu-tunggu! Kakek! Teguh! Dan Makhluk Hitam yang menyerangku! Mencoba, Ni’mal bangkit seraya memikirkan keadaan orang-orang yang ia kenal. Baru ia berhasil sedikit mengangkat tubuh menggunakan lengan, tubuhnya kembali terjatuh ke tikar. “Arrgh!!!” Ni’mal menjerit kesakitan. “Wehh, sudah bangun tho?” Pria bertubuh sedang, dengan ikat kepala hitam bak blangkon, berhidung mancung dengan mata yang dicelak, melangkah cepat menghampiri Ni’mal bersama gadis tadi. Di tangan kanannya, tergenggam sebuah seruling bambu kuning. “Di ... di mana ini?” Ni'mal nyengir, masih dengan wajah lemas. “Kau aman di sini. Tenanglah.” Menoleh ke arah gadis, pria berusia tiga puluh tujuh tahunan itu, memerintah, “Ndok, tolong ambilkan ramuan semalam di lemari. Sama bawakan air dari sumur belakang, ya?” “Nggih, Den,” sahutnya kembali beranjak. “Masih pusing? Jangan bicara dulu. Anggukan kepala jika masih terasa nyeri,” pintanya memegang perut Ni'mal. Mengangguk lirih sekali, Ni'mal mengiyakan. “Sudah ... sekarang jangan khawatirkan orang lain dulu. Insyaalloh temanmu selamat. Juga kakekmu, dia Insyaalloh tak apa.” “Si-siapa ... Anda?” “Ngobrole nanti saja kalau lukamu pulih,” jawabnya menoleh pada gadis yang kini datang membawakan segelas air hijau kental dan segelas air bening. Pria itu, menerima gelas yang gadis itu berikan, menuangkan cairan hijau di sekujur badan, lalu menyiramkan air bening pada luka-luka Ni'mal. Pemuda dengan tubuh penuh luka, menikmati sensasi sejuk dari obat yang di tuangkan pada tubuh. Ia, mengatur napas perlahan, dan mengamati wajah pria yang menolong. “Ndok? Aku meh pergi. Kamu rawat dia dulu. Besok pagi Aku balik.” Sosok itu, berdiri. Setelah gadis berkerudung mengangguk dan mencium tangan kanannya, pria itu meninggalkan Ni'mal tanpa sepatah kata. *** Mentari pagi, telah menyingsing di langit biru. Awan-awan putih berarak ke ufuk timur perlahan. Air terjun besar yang ada tiga puluh meter dari rumah kayu itu, memancar deras, seiring suaranya yang keras. Jurang curam, jadi pemisah antara pekarangan rumah kayu dengan sang air terjun. Ni’mal. Pemuda itu, duduk di bangku kayu panjang seorang diri. Kini, baju hitam berkerah dan celana hitam, membalut tubuhnya yang masih mendera luka. Ia, duduk menopang dagu menggunakan kedua tangan yang bertemu. Baru pertama kali dalam hidupku, aku diserang oleh Makhluk Hitam. Serigala hitam bertanduk itu ... bagaimana mungkin bisa berkeliaran ke wilayah manusia? Apakah ... benar kata Teguh bila ... Kerajaan sudah mengetahui namun tetap tak berkenan membeberkannya pada umum? “Kakak, sudah bangun? A-apa tidak sakit lagi? Bukankah ... Kakak masih terluka?” Gadis berkerudung cokelat, datang dengan raut terkejut. Perlahan, ia duduk di sebelah kiri Ni'mal. “Alhamdulillah, aku tak apa. Hanya masih sedikit lemas saja,” jawab Ni'mal tersenyum. “Terimakasih telah merawatku.” Masih memandang heran Ni'mal, gadis berkerudung itu bicara, “Meskipun racun dari tanduk Kanin telah tawar, tapi tulang dan organ dalam kakak terluka berat. Ta-tapi ... Bagaimana bisa ....” “Jika kau heran, aku pun lebih heran.” Ni'mal menutup wajahnya, menghela napas berat. “Tapi sejujurnya, pikiranku tertuju pada Kakek ... dan kawan-kawanku,” imbuhnya lirih. Terpintas wajah Teguh serta dua pemuda asing di rumah sang kakek. “Raden sudah bilang, kalau mereka akan baik-baik saja, maka Insyaalloh mereka akan baik-baik saja. Jadi, tenanglah, Kak.” Menarik napas dalam, Ni'mal berpikir, bagaimana aku bisa tenang, jika aku saja tak tahu keadaan kakek dan Teguh? Turut memandangi curug, gadis belia berusia 17 tahunan, ikut menghela napas. “Aku kira, hanya aku dan beberapa temanku yang mengalami hal ini. Tapi, sepertinya, Makhluk Hitam sudah banyak berkeliaran.” “Mengalami hal yang sama? Maksudmu? Kau juga diserang oleh mereka?” “Ya. Sekumpulan Makhluk Hitam menyerang kami waktu itu. Radenlah yang menolong kami.” “Maksudmu orang yang kemarin itu?” Ni'mal menaikan alis kanan. “Beliau, adalah Raden Armi. Seseorang yang dulunya bekerja sebagai pelatih SM di Keraton utama Pancer.” Ni'mal, mendengung paham. “Lalu kau?” “Kakak boleh memanggilku, Bongbong.” Bongbong, tersenyum. Tahan tawa, Ni'mal mengangguk-angguk. Untung bukan kecebong. Pikirnya nyengir. Memandang curiga, Bongbong protes, “Tak tertawakan namaku, kan?” “Eh? Ndaak ....” Raden Armi, melompat tinggi dari samping air terjun besar, melewati jurang lebar, mendarat perlahan di tanah lembab halaman rumah. Ia segera menghampiri Ni'mal yang masih saja terkejut melihat cara datangnya. “Wehhh, Cah nom iki kok cepet nemen bergase,” ucapnya menatap Ni'mal. (Bergas; pulih dalam bahasa jawa) Bongbong, segera menjabat dan mencium tangan pria tersebut. Gadis itu, menawarkan, “Mau teh atau kopi, Raden?” “Kopi lempung dua, ya? Sekalian ambilkan rokokku di atas lemari,” sahutnya sambil duduk di samping Ni'mal ketika Bongbong pergi. “Bukan pertama kalinya kau melihat lompatan seperti barusan, kan?” tanyanya sambil menepuk bahu kanan Ni'mal, merangkul. “Kakek ... beliau juga pernah begitu,” ucapnya sedikit menunduk. “Namamu, Ni'mal, kan?” Agak gagap, Ni'mal mengangguk. “Cucu Mbah Purwadi, sang penerus ketiga dari Padepokan Macan Bumi. Tapi ... kok cucunya ini malah lali bela diri?” Nadanya agak meledek. (Lali: lupa) Segan pada sosok di sampingnya, Ni'mal memendam ungkapan dan pikiran yang ingin ia utarakan. “Kau harus mencari mbahmu sendiri. Kalau pun kau coba lapor pada pihak kerajaan seperti Prajurit Manunggal, maupun Satria Manunggal, mereka tidak akan pernah bisa menemukan kakekmu sekalipun mereka tahu tentang daerah Arsir negeri ini.” “Apakah maksud Anda, kakek sudah tiada?” Ni'mal bangkit, masih terkejut. Raden Armi, hanya menggeleng lirih, sedikit tersenyum iba. “Gerombolan Makhluk Hitam yang menyerangmu semalam, tidaklah menyerangmu melainkan karena manusia yang mengendalikan mereka.” “A-apa? Maksud Anda?” “Kakekmu, Insyaalloh belum waktunya berpulang pada-Nya. Untuk sekarang, kau tenang saja.” “Ta-tapi! kakekku!” Ni'mal gelagapan. "Tunggu! Manusia yang..." “Melawan satu Kanin saja kau nyaris mati, masih beruntung Alloh mengutus makhluk-Nya untuk menyelamatkanmu.” Ngiiing .... Ni'mal, mendadak telinganya berdenging. Ia memegangi dahi, ketika bersit gambaran malam yang kelam nan suram, kembali terekam. Pada malam di mana nyawanya hampir melayang, gelegar auman yang sama seperti saat ia kecil, menggelegar di langit malam. Gambaran yang terpintas jelas di kepala, adalah larinya manusia serigala bertanduk sebab auman tersebut. “Kalau mbahmu sebut dia, Maung Bodas. Padahal, itu bukan nama aslinya.” Terkejut setelah dengingan di telinga hilang, Ni'mal kembali bertanya, “La-lalu siapa?” Raden Armi, berdiri. “Tanyakan sendiri nanti. Wayah mene, ngopi-ngopi dulu. Hayok ....” Ketika sosok itu meninggalkannya, Ni'mal bertanya-tanya. Siapa dia sebenarnya? *** “Manusia yang mulia lagi tinggi derajat di hadapan-Nya, adalah manusia yang enggan berduka dan bersedih hatinya. Kalau kau merasa bukan manusia yang dekat dengan-Nya, maka kau bisa belajar untuk tidak bersedih agar mulia di hadapan-Nya. Begitu tho?” Raden Armi, menghampiri Ni'mal yang masih saja melamun memandang air terjun. Menghela napas, Ni'mal lesu. “Bagaimana mungkin saya tak jengkel begini? Kakek, kawan-kawan, bagaimana nasib mereka setelah diserang?” Ni'mal bertanya, menoleh pada wajah mancung bermata tajam. “Tenang saja. Aku tahu betul siapa mbahmu. Dan teman-temanmu, mereka sudah selamat. Yang perlu kau pikirkan, adalah bagaimana kau bisa pergi menemukan mbahmu. Dengan kemampuan bela dirimu yang masih begitu, bisa-bisa mati di tengah jalan kamu.” “Kalau begitu, bersediakah Anda mengajari saya tentang ilmu bela diri?” Mengangguk kecil, Raden Armi tersenyum. “Tentu. Tapi dengan satu syarat!” sahutnya mengacungkan telunjuk kanan ke atas. Dengan tangan yang tertekuk. “A-apa itu?” “Bersucilah dulu. Mandi taubat. Niatkan, minta ampunan pada Sang Maha Pencipta, bila kau berniat membasuh raga dan jiwamu. Niatkan, semoga air yang mengalir, akan membawa dosa-dosamu, beserta sikap buruk yang telah melekat pada hatimu.” “Ca-caranya?” Ni'mal masih duduk, menghadap penuh wajah lawan bicara. “Kemarilah,” pintanya berjalan menuju jurang. Sosok berbusana serba hitam, kini memandang sebuah aliran deras sungai yang berada sekitar seratus meter di bawah, darinya berdiri. Ni'mal, bangkit menghampiri. “Tu-tunggu dulu ... apakah maksud Anda ... saya har–” Tep! Belum selesai bertanya, punuk dan tangan kanan Ni'mal di pegang, lalu di lemparnya ke arah air terjun. “Huaaaa!” *** Aku di mana? Putih. Cahaya putih bersama kehampaan, yang kini ia saksikan. Ni'mal, ia bahkan tak menyaksikan tubuhnya sendiri. Penglihatan tanpa raga dan rupa. Suara dengingan, begitu jelas mengganggu. “Ayah dan Ibu sekarang sudah tak ada! Kau anak pembawa petaka! Jangan pernah kau injakan kakimu disini lagi!” Suara seorang wanita, terdengar. “Kau ini tak berguna! Pergi saja kau dari sini! " Suara lelaki, kini ganti terdengar. “Kau tak pernah becus! Mulai hari ini kau di pecat!” “Kembalilah ke gunung! Dasar orang kampung!” “Inikah cucu Sang legenda pendiri Silat Macan Suci? Kau bahkan tak mampu mengimbangi seorang kandidat S.M!” “Pergi kau!” Suara-suara itu, kini berpadu. Bergemuruh menusuk rasa hatinya yang melemah. Menjerit pun percuma, ia tak mampu mendengar jerit hatinya. Hingga setelah beberapa waktu, ia teringat pesan seseorang yang baru ia kenal. Minta ampunan pada Sang Maha Pencipta, bila kau berniat membasuh raga dan jiwamu. Niatkan, semoga air yang mengalir, akan membawa dosa-dosamu, beserta sikap buruk yang telah melekat pada hatimu. Lirih, Ni'mal mengulang doa yang Raden Armi sampaikan. “Wahai Tuhan Sang Pencipta Semesta, tiada Tuhan selain Engkau ... ampuni aku, manusia penuh dosa yang merugikan diri sendiri ....” *** Air terjun nan jernih, terus berbunyi syahdu. Desis dan tabrakan air, juga suara deras aliran sungai, jelas terdengar di telinga Ni'mal. Pemuda bermata cokelat dan tubuh basah kuyup itu, menggapai ujung daratan berumput hijau. Matanya terbuka, dan ia saksikan hamparan sabana hijau dengan dua sampai lima buah pohon mangga. Yang membuatnya tertegun, adalah penampakan tujuh ekor kambing, namun dengan bagian perut bertubuh ikan dan bersirip ikan di bagian bawah bak duyung. Makhluk berbulu putih lembut tersebut, berjajar berdiri dengan dua kaki depan. Menundukan kepalanya yang bertanduk, untuk melahap rerumputan. Sebagian, memandang kedatangan Ni'mal. Namun beberapa lain masih sibuk mengunyah rumput. Astaghfirulloh hal adzim ... Astaghfirulloh hal adzim ... Astaghfirulloh hal adzim ... batin Ni'mal mengatur napas. Terbatuk dan memuntahkan air, sedikit membuat kepalanya pusing. Menarik napas berat, ia memilih duduk bersila, dan mengamati tubuh eksotis rombongan makhluk yang berada dua puluh lima meter darinya. Mereka ... apakah mereka ras Makhluk Hitam? Ataukah ... Jin? Ataukah ... aku yang bermimpi? “Kau tidak bermimpi. Mereka bukan Jin, tapi sebagian dari makhluk-makhluk yang kebanyakan manusia namai Makhluk Hitam,” jelas Raden Armi yang mendadak berdiri di samping kanan Ni'mal. Mundur dengan kedua tangan, Ni'mal menatap wajah pria muda dengan ikat kepala. Di-dia? Apakah dia juga lompat turun? Pikirnya menoleh ke belakang, memandang jarak ngarai yang begitu jauh dari tempat ia ada. Dia tak basah, tapi bagaimana bisa dia ... di sini? “Ojo Gethun, Ojo Gumun. Itu wejangan sesepuh dari suku jawa yang pertama kali datang ke Negeri ini,” sahutnya seolah dengar pikiran Ni'mal. (Ojo Gethun, Ojo Gumun; peribahasa jawa yang bermaksud: Jangan mudah heran, Jangan mudah kagum.) “Aku kurang setuju jika makhluk-makhluk asli dari tanah ini, disebut demikian. Sebab, justru mereka yang pertama ada di tanah ini, sebelum manusia.” Kembali menatap para kambing bertubuh duyung, Ni'mal mengatur napas. Jika mereka Makhluk Hitam ... mereka juga tak menyerang ... ini bertentangan dengan hal yang aku pelajari di sekolahan. Merogoh saku dan mengambil sebungkus merah rokok, pria itu menyalakan rokok hanya dengan menempelkan ujung jarinya pada ujung lintingan tembakau. “Ni'mal, kau harus mengungkap tentang hitamnya sisi negeri yang kau tinggali ini. Meski perlahan, namun kau harus memulai.” “Maksud Anda?” “Dan untuk menemukan jawaban-jawaban yang mesti kau temukan, kau harus bertindak-tanduk sebagaimana leluhur terdahulu lakukan, namun dengan pedoman agama yang kau punya.” Ni'mal, masih saja terdiam. Ia merenung sejenak, hatinya terus beristighfar, lirih. Mentari yang terik, begitu menghangatkan tubuhnya yang basah. “Nah, Ni'mal ... tadi kau bilang ingin kembali belajar bela diri, bukan?” Raden Armi, kini mengambil posisi duduk, lalu mengisap rokoknya. “Tentu, Raden!” Tersenyum, sosok itu memandang pada gerombolan binatang bertubuh ikan dengan kepala kambing. “Kalau begitu, tumbangkan dia,” ucapnya merogoh balik baju hitam. Raden Armi, mengambil sebilah keris keemasan pendek dengan lima luk. Menerima s*****a, Ni'mal memandangi keris di tangan kanan. Ia, menaikan alis kanan sembari berpikir, aku harus membunuh makhluk yang tak menyerangku? Pluk .... Raden Armi menepuk pundak Ni'mal. “Bukan. Bukan para Kapri, tapi dia ....” Masih bingung dengan ucapan Raden Armi, Ni'mal menoleh ke sekitar. Tak ada makhluk besar yang ia mampu temukan. Hanya sabana segar, air sungai jernih, dan beberapa pohon mangga yang tumbuh sedikit berjauhan. Langit, tetiba menggelap oleh awan mendung yang terarak angin, menutup matahari. Makhluk berkepala kambing bernama Kapri itu, serempak saling menoleh satu sama lain. Sirip bak telinga di bawah tanduk mereka, bergerak-gerak, sebelum satu di antara tujuh makhluk tersebut, menjerit-mengembek. Sebuah cap luka gigit, mendadak terukir di leher makhluk malang tersebut. Darah merah, deras mengucur keluar dari lehernya. Segera, kawan rombongannya menerjang ke arah kawannya yang terluka. Blak! Seekor Kapri, menabrak sesuatu yang transparan. Kini, sesosok makhluk mengerikan, menampakkan diri. Seekor ular biru bertanduk banteng, dengan kedua tangan kekar di dekat lehernya, mengaum keras saat tubuhnya di seruduk para Kapri. Sang Makhluk Hitam menggertak balik. Ni'mal, masih saja terkejut dengan apa yang ia saksikan. Namun, sosok di sebelahnya justru mengisap rokok tenang, sembari sesekali merapal doa. I-itu ... Makhluk Hitam, lagi? Dia ... bisa berkamuflase! Benar-benar transparan tembus pandang sehingga tak tampak wujudnya tadi! “Tidak seperti Kanin dan kebanyakan Makhluk Hitam, ular buas itu lebih sering berburu sendirian. Ia hanya mencari betina ketika musim kawin. Namun, jika yang ia temui adalah sesama pejantan, maka mereka akan saling serang.” “Ja-jadi ... Den, apakah ... aku harus ... menumbangkannya?” Ni'mal, menatap sosok monster dengan panjang tujuh meter. Monster dengan sirip ikan pada pipi dan tangan bercakar panjangnya, telah berhasil melukai dan mengusir kawanan Kapri. Tinggallah ia sibuk memangsa buruannya, tanpa memedulikan rontaan sang makhluk malang. Taring-taringnya yang tajam nan rapat bak gigi hiu, mengoyak leher Kapri yang kini tak lagi bersuara. Tangan bercakar panjangnya, erat memegang badan mangsa. “Wong mbien tau nglawan seng luih ganas kok,(orang dulu pernah melawan yang lebih ganas kok,) ” ucapnya lirih. “Inilah latihan pertamamu. Ingatlah, Ni'mal. Jika kau gagal menumbangkan atau sekadar mengusir makhluk itu, aku tak akan membantumu menemukan kakekmu.” Kedua mata Ni'mal terbuka lebar. “A-apa?” “Ingat, maksimalkan dirimu dalam menggunakan Sapta Indramu (ketujuh indra), Thole,” jelasnya berdiri, memegang tengkuk dan tangan Ni'mal, lalu melemparkannya ke arah monster ular bertaring hiu. Bug! Sang monster ular biru, terguling tiga meter, namun segera berdiri menatap Ni'mal yang barusan menabraknya. Ia, mengaum keras menatap langit dengan mulutnya yang masih berlumuran darah dan liur. Ni'mal, memegang erat kerisnya. Saat ia menoleh ke arah di mana harusnya Raden Armi berada, pria yang ia cari telah raib tak lagi di sana. “Astaghfirulloh hal adzim! Apa yang mesti aku lakukan!” bisiknya gemetar menatap mata sang reptil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN