Bakat Terpendam

2743 Kata
Memegang erat tangkai keris pendek dengan lima liukan, Ni'mal melompat mundur saat sosok ular berkaki dua itu melompat-mencoba mengayunkan cakar. Gerakannya cepat, tetapi setelah sekali gagal menyerang, sang ular berkulit kebiruan itu, kembali dalam posisi siaga. Matanya, tertuju pada benda tajam yang Ni'mal pegang. ¤*¤*¤ Dari kejauhan, tepatnya di dataran yang lebih tinggi, ujung tebing yang berjarak puluhan meter dari tempat Ni'mal berada. Raden Armi bersama Bongbong, berdiri menyaksikan pertarungan mereka. “Den ... gerakan kakak itu cepat. Tapi, kenapa dia nampak ragu untuk membalas serangan?” tanya Bongbong. “Dia itu bocah peragu. Terlebih, meskipun dia cucu dari salah satu pendekar tersohor di negeri ini, ada luka jiwa yang menderanya. Lebih fatal dari luka Kanin malam kemarin.” “Maksud Raden?” “Tidak sepertimu yang hidup di lingkungan orang-orang yang gemar mendukungmu, takdir mengantar Ni'mal untuk selalu berada di kalangan yang selalu mencibir dan merendahkan kemampuannya. Hanya Simbah dan beberapa gelintir teman yang hadir untuk mendukungnya. Terlebih, ada hal besar yang ia lupakan.” “La-lalu ... apa tidak berbahaya membiarkan orang yang bimbang melawan Makhluk Hitam jenis pemburu seperti itu, seorang diri?” Membalik badan, Raden Armi menatap rumah kayunya. “Jorke wae. Biarkan mentalnya sembuh dengan luka yang akan ia derita,” jawabnya melangkah ke arah rumah. (Jorke; dalam bahasa jawa, artinya biarkan) Bongbong, cemas memperhatikan Ni'mal dari kejauhan. Ia bingung, saat Raden Armi justru pergi meninggalkan Ni'mal yang dalam bahaya. “Ndok ... buatkan kopi ya! Pagi-pagi begini belum ngopi.” Mendengar perintah, gadis berhijab itu, segera menyusul Raden Armi. Sesekali ia menoleh ke dasar lembah sabana di mana Ni'mal bertarung. ¤*¤*¤ Ni'mal. Napasnya yang tersengal, membuat perut kekar di balik baju hitam basahnya, kembang kempis. Sudah beberapa kali, ia berhasil mengelak dari serangan Makhluk Hitam bertubuh panjang. Taring-taring dengan noda darah—dari Kapri yang ia mangsa tadi—masih membekas, membuat ngeri Ni'mal hingga gemetar. Sosok monster itu, perlahan menggeram. Ia, lalu bergerak perlahan, mundur. Pelan, langkah demi langkah, tubuhnya terus menjauh, mendekat ke arah pohon mangga yang besar. Apa? Kenapa dia menjauh? Apa dia bermaksud ... mundur? Pikir Ni’mal ragu, namun tetap dalam kuda-kuda waspada. Benar, Makhluk Hitam itu, kini tak tampak lagi, setelah menjauh dan membelakangi pohon mangga terdekat. Ni'mal, berlutut lemas. Membuang napas, sesekali beristighfar. Memejamkan mata, kini cacian dan u*****n di masa lalunya terngiang saat ingat kata-kata Raden Armi, bila ia tak akan membantu jika Makhluk Hitam itu tak tumbang. Menancapkan keris ke tanah berumput hijau, Ni'mal menjerit kesal, “Aaaaaaaaaagrgh!” “Kakek ... apa yang harus aku lakukan?” Kini, lubang hidung pemuda itu yang menciut-membesar. “Guh! Kau di mana! Aku tak kuat sepertimu dan murid Kakek yang lain! Akulah murid yang paling sulit untuk di atur! Aku yang paling sulit menyerap ilmu bela diri! Sekarang ... aku sudah tak tahu lagi harus melakukan apa!” lirih, air mata mengalir di pipinya. Terisak beberapa menit, gambaran-gambaran kegagalan, berkelebatan. Ia, kini menunduk, menyangga tubuh dengan lutut dan kedua siku. ¤*¤*¤ (Masa remaja Ni'mal) Di sebuah ruang kelas, Ni'mal dan dua puluh lima siswa, tengah menyimak pelajaran sejarah. Pemuda dengan mata cokelat terang itu, duduk paling depan sebelah kiri. Seragam yang mereka kenakan, berwarna putih abu-abu. Guru dengan kemeja dan celana hitam, menatap jam tangan, lalu menoleh ke arah para siswa. “Jadi begitu ya! Di ingat! Lima Kadipaten di negeri ini memiliki sejarah masing-masing dan corak budaya yang amat berbeda, namun memegang teguh prinsip toleransi dan saling menghargai,” terang sang guru berambut putih dengan kacamata kecil. Ni'mal, mengangkat tangan kanannya. Saat sang guru mengangguk tanda mempersilahkan, Ni'mal bertanya, “Apakah ... Makhluk Hitam tiap wilayah itu ... berbeda-beda, Pak?” Tersenyum, sang guru menarik napas. “Semenjak turunnya Titah Raja nomor 35 pasal 3, kami para guru dilarang keras membicarakan lebih jauh tentang Makhluk Hitam ... mohon maaf, saya tadi keceplosan.” “Meskipun untuk pendidikan, Pak?” Ni'mal masih saja penasaran. “Ya. Jika kau ingin belajar tentang Makhluk Hitam, sebaiknya ikuti ujian masuk SM, karena di sana satu-satunya instansi yang tahu banyak mengenai Makhluk Hitam.” Pemuda berkulit gelap, dengan rambut ikal. Berpostur tinggi tegap, melirik sinis ke arah Ni'mal. “Percuma saja kau tahu tentang mereka. Apalagi mengikuti ujian masuk SM. Bela dirimu, kan sangat payah!” Ni'mal terdiam, namun sebagian lelaki di sana tertawa. Sang guru menatap raut kesal Ni'mal, sebelum akhirnya menegur para siswa untuk diam. ¤*¤*¤ Kedua mata cokelatnya, terbuka lebar. Rautnya jengkel. Baiklah ... Ni'mal, kembali bangkit. Tangan kanannya, mencabut keris yang tertancap di tanah. Jika hidupku selalu penuh dengan kegagalan, maka... Kematian makhluk itu akan jadi keberhasilan pertamaku! Ni'mal, kini berlari ke arah makhluk tadi pergi. Derap langkahnya cepat, mengayuh di atas hijau rumput lembab. Gelapnya awan, tak menyisakan sinar mentari. Begitu pun dengan perginya kicauan beberapa burung pagi hari. Bluk! Saat Ni'mal hendak melewati pohon mangga, sesuatu yang tembus pandang, menabraknya dari atas, menindih dan membuatnya jatuh. Clap! “Haaaargh!” Ni'mal berteriak keras. Darah menyembul dari bahunya, hanya beberapa inci dari pembuluh darah di leher. Luka gigit berbentuk deretan taring bermoncong, menyobek menembus busana yang ia pakai. Otaknya, berpikir cepat. Yakin bila Makhluk Hitam itu tengah menggigitnya dengan wujud tak kasat mata, Ni'mal cepat-cepat menusuk-nusuk sesuatu yang tengah menindih. “Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati!” Tujuh tusukan dilancarkan, membuat Makhluk Hitam berbadan ular, perlahan tampak jelas. Tak di sangka, yang ia tusuk adalah bagian leher lawan. Membuat makhluk bertaring setajam hiu, menggelepar kesakitan. Tangan kanannya yang bercakar, meraba luka. Kini, monster bersirip itu melaju ke arah sungai, bermaksud melarikan diri. “Mau ke mana kau!” Ni'mal, dengan luka yang ia dera, melaju cepat. Ketika cukup dekat, Ni'mal melompat ke punggung makhluk tersebut. “Makan ini! Kau tadi mau ini bukan!” Clep! “Groaaaaakh!” dalam posisi menunggang, Ni'mal menusuk ke arah sirip di kepala, berhasil merobek. Membuka mulut, sang monster mengerang kesakitan. Digerakkannya sekujur badan untuk menyingkirkan Ni'mal. Namun, pemuda dengan celana hitam itu menancap-dalamkan keris di pangkal ekor monster, membuatnya tetap bertahan. Makhluk Hitam itu, kini berguling-guling, meliuk-liukan badan ke tanah, membuat Ni'mal kualahan. Tanpa sengaja, Ni'mal pun melepas pegangan dari tangkai keris. Bluug! Ekor monster tersebut, menghempas kuat perut Ni'mal, membuatnya terlempar dan menabrak pohon mangga besar. Darah di punggung dan bekas luka yang belum sembuh total, membuatnya begitu berat untuk bangkit. Ia nyengir kesakitan, meraba luka dengan tangan kanan. “Eerrgh!” Disela bunyi air terjun dan sungai yang mengalir, kedua telinganya samar mendengar bunyi gesekan pada rumput. Menoleh ke kiri, ia melihat darah yang mengalir lirih, mengambang di tengah udara. Keris yang ia tancapkan pun, terlihat seolah melayang. Mengerti bila itu adalah Ugel, sang ular berkaki, Ni'mal mengepalkan tinju kanannya seraya bangkit perlahan. Rintik hujan, perlahan terjun turun, membasahi rambut dan bajunya yang tadi hampir mengering. Hujan ringan, menambah lembab rerumputan, seolah memanggil kilas kenangan suram. ¤*¤*¤ Gotri ala gotri nogosari, ri riwul iwal – iwul jenang katul, dolan awan-awan ndelok manten, ten titenono mbesuk gedhe dadi opo, po podheng mbako enak mbako sedeng, deng dengklok engklak-engklok koyo kodok (Lagu permainan jawa) “Hayoo! Jatmiko jadi!” seru bocah bermata cokelat terang pada kawannya yang berambut tipis berkulit cokelat dengan blangkon. Tujuh anak, terdiri dari tiga perempuan ber-kemben, dengan rambut di ikat, dan empat anak laki-laki bercelana hitam pendek tanpa baju atas. Hanya satu anak yang mengenakan blangkon. “Moh! Aku ndak mau jaga!” sanggahnya menatap Ni'mal. Ia, adalah anak dengan blangkon cokelat di kepala. “Jangan curang, Jatmiko! Kan yang lain juga selalu bersedia kalau jaga,” ucap seorang perempuan dengan kulit kuning langsat. “Moh! Hulu! Pratiwi aja yang jaga lagi!” “Dasar curang Jatmiko!” teriaknya. Melihat kawannya mendekati bocah perempuan dengan wajah emosi, Ni'mal memegang tangan Jatmiko. “Sudah Jatmiko, jangan! Kata Kakek ndak boleh galak sama perempuan!” “Lepas! Dasar bocah nggak punya bapak!” celetuknya mendorong Ni'mal. “Jatmiko jahat!” Gadis cilik bernama Pratiwi, pergi meninggalkan kawan-kawan. Kini, Jatmiko menatap Ni'mal yang merah padam. “Apa kamu? Bener, kan, Cah? Ni'mal bocah nggak punya bapak!” Bleg! Amat cepat, bocah bermata cokelat itu melesat mengarahkan tinju pada perut Jatmiko. Selain terdorong dan terjungkir tujuh meter, Jatmiko memuntahkan darah. Sontak, anak-anak di sana panik. “Heh! Ni'mal! Kamu jahat! Ngawur kamu!” seru salah satu anak bertubuh paling besar, menghampiri Jatmiko. Anak dengan tubuh kurus, menatap ngeri Ni'mal. Sedangkan sisanya, memandang Ni'mal skeptis. “Mentang-mentang bisa tenaga dalam mau bunuh teman! Ni'mal anak jahat!” “Awas kamu Ni'mal! Akan kami adukan pada Bapaknya Jatmiko! Bapaknya Jatmiko kan Prajurit Manunggal! Biar kamu ditangkap!” Raut jengkel Ni'mal, seketika padam. Berganti dengan bingung dan bimbang, di sertai takut. Wuz! Sesosok kakek tua, dengan busana hitam dan blangkon cokelat, mendarat lembut di rumput hijau, tepat di samping Ni'mal. “Kenapa? Ada apa?” Kawan Ni'mal yang lain, menunjuk ke arah Jatmiko yang terkapar pingsan. “Niku Mbah ... Ni'mal mukul Jatmiko sampai muntah darah!” “Masyaalloh! Ni'mal!” teriak sang Kakek. Teriakannya, membuat bocah-bocah di sana terjatuh ke tanah, termasuk Ni'mal. Sang kakek tua, menghampiri Jatmiko. Ia, bergegas menggendong bocah malang berblangkon. Darah merah masih m*****i mulutnya yang tertutup. Sang kakek, berlari cepat, melompat ke dahan pepohonan dan pergi mengarah ke tempat penyembuhan terdekat. Terduduk lemah, Ni'mal sesenggukan. Ia menangis. Tangisnya lebih keras di saat teman-temannya pergi menjauh. ¤*¤*¤ “Haaaaaaaaaaaaaaaargh!” Ni’mal, melayangkan tinju dengan tangan kanan. Matanya merah sembab. s**l! s**l! s**l! s**l! Siaaaal! Aku pecundang sedari lahir! Kalau harus mati maka matilah! Sekilas, mata Ni'mal yang cokelat, berubah jadi merah. Blamm! Tinju kanannya, mendarat tepat pada target yang tak terlihat. Dyaar! Makhluk bertubuh ular, meledak jadi serpihan daging yang kini beterbangan. Organ-organ dalam sang monster, tersebar. Darahnya, berhamburan, sampai-sampai mengenai tubuh Ni'mal beberapanya. Keris Raden Armi yang menancap di ekor sang ular, turut hancur berkeping-keping, menyebar ke berbagai arah. Ni'mal, langkahnya gontai. Ia ambruk, menyangga tubuh hanya dengan lutut. Ia, terduduk lemas. Napasnya, terasa begitu berat. Dadanya seolah di timpa beton besar. Pupil matanya yang sempat memerah, kini kembali cokelat. Apa aku berhasil? Mustahil... Kesadarannya, memudar bersama mata yang sayup terbuka. Kenapa napasku begitu sesak? Dadaku berat? Apa ... apa aku akan mati? Brek .... Ni'mal merebah lemas di tanah hijau basah. Wajah loyonya di terpa hujan yang kini melebat. Ia putuskan menutup mata. Lelah. ¤*¤*¤ Pepohonan bambu lebat, mengepung sekitar. Di pinggir sebuah sendang, seorang pria kekar, mengusap wajahnya yang berkumis lebat. Rambut gondrong bergelombangnya, menopang sebuah mahkota emas berujung kubah. Terdapat lekukan bak sayap kostum gatot kaca di belakangnya. Kaki berbulu lebat, ia celupkan masuk ke dalam kolam penuh air. Ia, hanya mengenakan celana hitam panjang lebar, dengan ukiran batik terbuat dari sulaman emas murni. Setelah air sendang yang jernih membenam dirinya setengah badan, ia meletakan mahkotanya di atas air. Mahkota Sang Raja, tak tenggelam-mengapung jejak di permukaan. “Gusti Prabu, berwudu adalah cara mudah untuk meningkatkan kewaspadaan dan ketenteraman jiwa. Dengan begitu, niscaya engkau akan mudah mengingat petunjuk ilahiah.” Teringat pada petuah seseorang, Sang Raja tampan berusia empat puluh tahunan, melaksanakan wudhu sembari berendam. Ia, lanjut membasuh sekujur tubuh. Kedua mata gahar berwibawa itu, memandang hijaunya rimbun pepohonan bambu. Yang mana menjadi dinding sendang tempat ia membersihkan diri. Menarik napas dalam sembari terpejam, gambaran sebuah keris lurus tanpa luk, dengan panjang 1.7 meter, terpintas. Tampak samar, gambaran seorang pemuda mencabutnya. Meskipun dalam gambaran itu tak jelas wajah sang pemuda, batinnya begitu yakin bila pemuda itu, bukanlah para putra raja di istana utama. Aku tak tahu apakah ini yang di sebut ingatan mimpi, atau gambaran masa depan ... menghela napas, ia mengucap khamdallah. Sebagai raja yang memegang teguh keadilan dan kebajikan, petunjuk Sang Maha Kuasa, harus aku umumkan... mesti akan banyak pertentangan dari keluargaku. Lagi, ia membuang napas berat, sembari berjalan keluar dari sendang. “Menjadi pemimpin negeri itu ... tidaklah mudah seperti yang para saudaraku bayangkan. Apa jadiku jika ... Gus Armi tak setia memberikan nasihat.” Sang Raja, menoleh ke belakang, lupa tak membawa busana dan mahkota emasnya. Ia, mengarahkan telapak tangannya ke arah mahkota. Dengan sendiri, benda keemasan itu melayang meluncur ke arahnya. Lalu secara sendirinya terpasang di kepala, disusul bajunya yang melayang lalu tersampir di pundak. Langkah kaki tegap sang Raja yang tak beralas kaki, terhenti di depan dua buah bambu yang melengkung, menyatu menjadi seperti gerbang. “Putraku ... maafkan ayahmu.” Melangkah masuk melewati pintu bambu, seketika ia berada di kamarnya. Sebuah kamar dengan pernak-pernik emas. Dipan, terbuat dari batuan mulia. Renda dipan, terbuat dari sutra berwarna putih. Hanya ada satu buah cermin di kamar sang raja, cermin dengan wadah kayu berukirkan naga. Seseorang dengan baju hitam dan celana batik jingga, sudah duduk membelakanginya dari sebelum ia ada di kamar. Sosok itu, menunduk menghadap pintu kamar emas. “Warjono, apakah semua petinggi Kadipaten sudah berkumpul?” Sang Raja mengenakan busana. Mengerti sang raja muncul, sosok pria tua dengan rambut beruban yang tertutup blangkon hitam, membalik badan, mengangguk. Hidungnya sedikit pesek. “Sudah, yang mulia.” ¤*¤*¤ Raden Armi, sibuk menarikan pena bertinta hitam pada secarik kertas. Di temani kopi dan rokok, ia terus menulis di meja kayu. Di sebuah kamar dengan dipan kayu dan dinding kayu. Sedangkan di ruang tamu yang tak berperabot, Bongbong duduk berbincang dengan Ni'mal. Pemuda bermata cokelat terang itu, menikmati secangkir kopi hitam. Di tangan kanan Bongbong, sebuah tasbih kayu cendana nan harum, ia gunakan berdzikir. “Bong ... terima kasih telah kembali merawatku,” ucapnya usai lama merenung. Sudah empat hari aku di sini, tapi Raden Armi tak mengajarkanku tentang ilmu bela diri setelah aku pingsan melawan Makhluk Hitam itu. “Sama-sama, Kak. Apakah luka Kakak sudah membaik semua?” Ni'mal mengangguk. “Sudah tak terasa nyerinya. Aku rasa sudah tidak apa-apa.” “Ugel, adalah ras Makhluk Hitam yang normalnya tinggal di rawa-rawa. Sedangkan Ugel putih, biasanya tinggal di pulau-pulau kecil sekitar lautan.” “Ugel? Maksudmu ... ular dengan kedua lengan yang kemarinku lawan itu?” “Iya ... pertama kali aku sampai di sini, aku menyusuri lembah. Bermain di sungai dan mengamati kawanan Kapri yang jinak. Tapi, tiba-tiba saja makhluk itu menyerang kawanan Kapri yang tadinya berjumlah puluhan. Aku, waktu itu pun hampir di mangsa olehnya.” Wajah Ni'mal menyimak serius. “Apakah kau melawannya?” Bongbong menggeleng lirih. “Raden Armi datang dan mengusir makhluk itu.” Terdiam berpikir, Ni'mal bicara, “Awalnya aku kira ... kau ini putri beliau.” “Aku di minta beliau untuk menetap di sini sembari berlatih tenaga dalam. Beliau belum mengizinkanku pergi sebelum aku bisa memahami apa yang harus aku lakukan.” Ni'mal mendengung. Jadi, Bongbong adalah murid beliau ya .... “Ni'mal?” Raden Armi menghampiri mereka berdua. Di tangan kanannya, terdapat sepucuk surat berkertas cokelat. Di tangan kirinya, ada sebuah serpihan logam hijau, lebih mirip seperti chip komputer. Mereka berdua, menoleh memandang sosok bermata jeli. Ni'mal, menyahut, “Nggih, Den?” “Kamu serahkan surat ini pada Ki Ageng Jagat,” ucapnya memberikan sepucuk surat pada Ni'mal. “Dan tanyakan padanya, dari mana benda ini berasal, ya?” sambungnya memberikan serpihan chip hijau. Menerima kedua benda, Ni'mal mencoba mengingat nama yang tadi di sebutkan. “Iku lho ... Ki Ageng Jagat, yang sekarang urus Padepokan Silat Gajah Putih. Teman akrab mbahmu.” “Jadi ... saya harus ke Kadipaten Cidewa Hideung, Den?” “Yo, iyo nhooo ... lagian kamu mau pergi ke mana? Kembali ke kota dan lanjutkan kerja? Lha jarene mau nyari Simbahmu? Ini bagian dari latihanmu loh ....” Menarik napas, Ni'mal mengangguk lirih, menyanggupi. Menatap gadis berhijab, Raden Armi tersenyum. “Ndok? Kamu tetap mau tinggal sementara di sini, atau mau balik ke Kadipaten Tarang?” Bongbong menunduk. Wajahnya menunjukan raut pilu. Ni'mal, memperhatikan wajah gadis malang. Mereka berdua, terdiam selama satu menit. “Baiklah, Bongbong tinggal di sini dulu saja ya?” tawar Raden Armi lembut. Ia melangkah, mendekati Ni'mal lalu menepuk bahunya. “Cah Bagus, rene,” ucapnya keluar dari rumah. (Rene/mrene/mriki: kemari) Ni'mal, membuntuti dari belakang. Jantungnya, kembali berdetak tak menentu. Mungkin karena trauma saat waktu lalu ia dilempar. “Tolong jaga baik-baik surat dan serpihan chip itu ya? Semoga Alloh mengantarmu ke sana dengan selamet.” “Loh? Selamet siapa, Den? Apa saya juga harus cari yang namanya Selamat?” Ni'mal menatap lawan bicara. “Hadeh ....” Raden Armi, memegang punuk dan lengan Ni’mal. Ia sedikit menarik. “Eh! Punten Raden! Bercanda! Lha kok!” Berhenti menarik, Raden Armi menjelaskan, “Biar sampai sana cepet! Dengan Selamet!” “Eh, eh, sebentar, Den! Raden mau lemparkan saya ke sana lagi?” “Mau nyemplung sendiri apa ta' cemplungin?” “Eeeeeee.... sendiri, Den!” “Yo wes ... ini Curug Dirga, Gunung Suwung. Kalau kau sudah menyelesaikan tugasmu di sana, segera kembali kemari. Paham?” pintanya melepaskan pegangan. “Ba-baik, Den ....” Ni'mal mengangguk lirih. Aku nyemplung ke sana? Agar aku sampai di Cidewa hideung? Ini jelas-jelas gunung di tengah Kadipaten Sunyoto! Tak ada aliran sungai yang terhubung ke tempat itu! Ini orang .... “Ehhh? Masih mikir-mikir?” Raden Armi kembali bertanya sembari memegang lengan Ni'mal. Kalau begitu, lebih baik tidak! Ni'mal melepaskan pegangan, dan melangkahkan kedua kaki, menjauh. Namun .... Tep! Punuknya kembali di pegang dari belakang. Lanjut, Raden Armi melempar Ni'mal ke jurang arah curug berada. “Baca Bismillah sebelum menempel air!” teriak Raden Armi. Ni'mal, berteriak kencang. Ia memilih memejamkan kedua mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN