Sang Tumenggung

2600 Kata
“Baaahhh!” Ni'mal bergegas membuang napas yang lima menit tertahan. Dengan tubuhnya yang basah kuyup, ia muncul ke permukaan. Matanya terbelalak menyaksikan sekitar. Tak bernapas ‘tuk beberapa detik sebab tercengang. Di-di mana ini? Ia, kini berada di tengah rawa-rawa berair gelap, meskipun mentari terik bersinar di sana. Kaki yang ia pijakkan, keduanya menempel di tanah gambut yang lembut. Air merendam setengah badan kekar pemuda bermata cokelat. Kedua telinganya, menyimak bunyi binatang hutan, terdengar beberapa kali auman monster. “Raaaar!” Menoleh ke belakang, ia melihat rombongan pendekar, tengah bertempur melawan Ugel besar di atas tanah berumput, spesies yang ia kalahkan dengan satu pukulan. A-aku di rawa? Mungkinkah, ini rawa-rawa Kadipaten Cidewa Hideung? Lalu, siapa mereka? Matanya fokus pada tujuh orang. Enam orang pendekar tanpa baju atas. Mereka mengenakan celana hitam, dan berbagai s*****a tajam untuk melawan sesosok Makhluk Hitam. Yang mengenakan busana hitam, hanya satu orang dengan syal merah panjang lebar bak superman. Ugel yang mereka hadapi, berukuran tiga kali lipat dari yang Ni'mal hadapi beberapa hari lalu. Dengan apa, aku harus membantu mereka? Pikirnya mulai mencoba mendekat pelan ke tepian rawa. Dari jarak ia berada, wajah orang-orang itu, tampak masih belia. Berusia belasan hingga dua puluhan tahun. Sosok berkaos hitam yang ditumbuhi kumis tipis, tampak paling tua di sana. Sang Ugel bertubuh besar, telah banyak mendapati luka gores. Perut, kedua lengan, dan bahkan mata kanannya, terus mengucurkan darah. Gerakan sang Makhluk Hitam, makin melamban. Ia, mencoba mundur dari pertempuran. “Demi kemenangan!” seru salah seorang pemuda dengan kumis tipis dan hidung mancung. Ada t**i lalat di dekat bibir kanan. Ia, satu-satunya pendekar dengan kain merah bak jubah superman, dan kaos hitam. Ia, membawa badik berukuran panjang. “Apakah mereka berburu Makhluk Hitam? Ataukah Makhluk Hitam itu yang menyerang mereka?” bisik Ni'mal terus mengamati. Jleb! Pria dengan badik, melompat menancapkan senjatanya tepat ke dahi si monster. Di susul enam pemuda lain yang menerkam-menikam sang ular besar bertangan dua. “Groaaaa!” Ugel, merebah, lalu meliuk-liuk seperti bor, membuat mereka semua melepaskan pegangan dari s*****a mereka yang baru sebentar tertancap di tubuh musuh. Kedua mata Ni’mal, menajam. Ia mengerti bila sang monster hendak melarikan diri. Ia ingat jelas gerakan-gerakan spesies itu. Aku tak membawa s*****a apa pun sekarang! Benar, Sang Ugel berlari sekuat tenaga ke arah rawa. Tepatnya, ke arah Ni'mal berada. Makhluk itu, melaju dengan mulut terbuka memamerkan deretan runcing taring. Ia berteriak, sembari membuat air keruh rawa bergejolak hebat. Para pendekar, terlalu lemah untuk mengejar. Napas mereka tersengal, kecuali pria berkumis tipis yang berdiri tenang. Sebagian masih tampak kesakitan oleh serangan sang Ugel barusan. Sosok dengan kain merah, berteriak saat sadar ada manusia lain di jalur pelarian Makhluk Hitam, “Menyingkirlah, kau, bodoh!” Apa yang kemarin aku lakukan, sehingga pukulanku bisa meremuk Makhluk Hitam? Ni'mal melirik ke kanan dan kiri. Aaah! Aku mesti bagaimana! Jika diam saja, bisa-bisa aku di mangsa! Ia, menyatukan deretan gigi atas dan bawahnya erat-erat. “Mau bagaimanapun, percuma mengeluh, tanpa mencoba!” Ni'mal, mulai mengepalkan tinju kanan. Erat, ia kepalkan. Wuz! Ni'mal meluncur, melompat cepat dari air rawa, dan menghampiri sang monster besar dalam beberapa detik saja. “Cah edan! Sopo kae!” “Woy! Blegug sia! Bahaya maneh!” Dua dari tujuh pendekar berteriak, masih tampak kelelahan. Sedangkan, sang pria yang tadi memegang badik, justru memperhatikan saksama, cara Ni'mal melompat barusan. Bagaimana bisa, ia memijak keras tanah gambut untuk melejit? Pikirnya. “Siapa dia?” tanyanya menaikkan alis kanan. “Hiya!” Ni'mal, membenturkan tinjunya ketika target begitu dekat. Nahas, pukulannya tak berdampak. Justru sang monster mengayunkan kepalanya yang panjang, membuat Ni’mal terpental ke atas. Sang Ugel mendongak dan membuka mulut bermaksud melahap Ni’mal. Wadoh Gusti! Mati aku! Batin Ni’mal. Pria berkumis tipis, merogoh sarung keris di belakang celana. Kedua kaki pria itu, siaga dalam kuda-kuda. Ia, membidik monster dari jarak jauh. Wuz! Clep! Sebuah pisau terlempar cepat, mendarat tepat di kepala Makhluk Hitam. Monster itu lengah, memejamkan mata dan merapatkan mulutnya sedikit. Melihat kesempatan dalam kondisi terjatuh, Ni’mal memegangi badik yang masih tertancap di dahi monster, lanjut menggeret benda tersebut seraya berlari menuruni leher belakang panjang monster. Ia, lalu memutar badan, menebas leher Sang Makhluk Hitam. Clak! “Kunyuk! Kok bisa!” seru pendekar muda yang masih memegangi luka gores di d**a. Tak percaya leher Makhluk Hitam terputus. Pemuda beralis tipis dengan hidung mancung. ¤*¤*¤ Memeras, lalu menggantung bajunya di sebuah dahan pohon rendah, Ni’mal hanya mengenakan celana hitam pendek basah. Pemuda dengan perban memutari d**a-punggung, memandang Ni’mal sembari duduk melunjurkan kedua kaki. Pemuda itu, bertubuh ramping. Hidungnya mancung. Pria berkumis tipis, justru terdiam dengan wajah serius. Punggung kekar Ni'mal, jadi fokusnya. Mereka, bernaung di bawah rimbun pepohonan hutan. “Kau tadi bilang, kau dari Gunung Suwung, kemudian kau langsung berada di sini setelah melompat ke curug Dirga?” tanya si pemuda dengan luka di d**a. Lima temannya telah pulas tertidur. Ni’mal, turut duduk lemas. Ia menyenderkan punggung di sebatang pohon besar, menghadap dua orang pendekar. “Percaya atau tidak, tapi itulah yang terjadi,” jawabnya. “Kau pikir, kami akan percaya? Siapa kau sebenarnya? Dari regu mana kau berasal?” timpal sang pemuda putih ramping, ngeyel. Ni'mal, membuang napas berat. “Hai! Kau tak bisa menjawab, kan! Sudah, katakan saja sejujurnya! Dari regu mana kau berasal!” tukasnya ketus. Belum Ni’mal menjawab, pria dengan kumis tipis bermata tajam, menyahut, “Kalau benar kau adalah utusan Raden Armi, maka buktikan pada kami.” Ia bangkit. “Sebab jika tidak, kami akan membuatmu tak bisa keluar dari wilayah Arsir hidup-hidup,” imbuhnya menarik badik yang mana Ni'mal pakai tadi untuk membunuh Sang Ugel. Turut bangkit dengan wajah kesal, Ni'mal menatap pria di depannya dengan mantap. “Mohon maaf sebelumnya, Tuan pendekar. Tapi, dalam ajaran yang saya yakini, apa yang saya bawa ini adalah amanah dari beliau. Meski saya tak tahu pasti siapa beliau dan maksud beliau memandatkan saya tentang hal yang saya bawa ini, tapi saya akan menolak keras, jika Tuan pendekar beserta rombongan memaksa saya!” Ikut, pemuda dengan luka di d**a itu, berdiri. “Lancang sekali kau!” seru si pria berbibir tipis. Tep! Menyampingkan tangan, pemuda dengan syal merah lebar itu memberi aba-aba. Lirih, ia mulai melangkah mendekati Ni'mal. Blum! Satu kali langkahnya, mengundang tiupan padat angin, membuat Ni'mal menutupi wajah dengan lengan kanan. Lima pendekar yang sempat tertidur pulas, kini terbangun, segera mengambil posisi duduk. “Ada apa ini?” tanya si pendekar yang baru terbangun. Langkah sang pria berkumis tipis, makin kuat membuat angin mencuat. Namun, Ni'mal mencoba berdiri tanpa mau bergeser. Sorot mata mereka berdua, bertemu. Saling memandang beberapa detik dengan wajah tanpa ragu. Namun, para rombongan justru dihinggapi cemas. Pria dengan luka di d**a, berbisik lirih, “Ra-Raden ... jangan-jangan ....” Ni'mal, mengambil kuda-kuda silat, ketika sosok itu makin dekat. Apa ini? Ini tenaga dalam, kah? Sampai-sampai angin di sini begitu sesak terasa! Siapa orang ini! Kenapa kawannya memanggilnya Raden? “Raden ... saya mohon, tak perlu begitu padanya!” teriak kawannya yang lain. Berhenti melangkah, sosok berjuluk Raden, menatap dalam kedua mata cokelat Ni'mal. “Baiklah, Kisanak! Kau akan aku biarkan keluar dari wilayah Arsir,” usai mengucap, tekanan udara di sana kembali normal seketika. Kawan-kawannya, terbengong. Blum! Lagi, baru lima detik terdiam, angin kembali terasa memadat. “Tapi, dengan satu syarat!” Ni'mal, napasnya tersentak. “A-apa?” “Bergabunglah dengan regu kami. Jangan pergi, sebelum kau ikut selesaikan Sayembara ini!” Mendengar ajakan sang pemimpin, enam pendekar lain terbengong. “Jika tidak?” “Kau sudah masuk ke dalam wilayah Arsir Kadipaten Cidewa Hideung tanpa permisi. Ada barisan PM dan SM semenjak seleksi Sayembara berlangsung di perbatasan keluar area rawa. Mereka berjaga ketat di tiap jengkal perbatasan. Jika kau nekat keluar, kau akan langsung di adili karena melanggar Titah Raja dengan Pasal menyelinap ke wilayah Arsir. Bukankah kau harus mengantarkan amanah yang agamamu ajarkan?” (PM: Prajurit Manunggal, para pengaman negeri yang mengandalkan teknologi militer dari senapan laser hingga robot.) (SM: Satria Manunggal, para pengaman negeri yang memgandalkan tenaga dalam dan keahlian supernatural lain.) Masih dengan sorot mata tajam bak elang, Ni'mal perlahan menenangkan diri. Tanpa kuda-kuda lagi. Sialnya, dia benar. Pikirnya. “Baiklah! Tapi, biarkan aku bertemu dengan Ki Ageng Jagat terlebih dulu!” Para pendekar, kecuali sang pimpinan, terkejut mendengar ucapan Ni'mal. “A-apa?” Tersenyum, pria berkumis tipis menanggap, “Baik ... Kami akan mengantarmu menemui beliau!” ¤*¤*¤ Bulan sabit, menggantung di langit malam bersama bintang-bintang. Di sebuah tanah lapang hijau nan asri, berdiri sebuah gedung megah nan besar. Ukuran gedung raksasa itu, mencapai dua kilometer persegi, dengan tinggi lima ratus meter. Gedung besar berwarna putih itu, mirip dengan bentuk gedung sate Bandung. Namun pada bagian gedung utama, bukan ujung tusuk sate yang di sana, melainkan patung naga panjang berkepala dua. Pada alun-alun gedung yang mana penuh di tumbuhi rumput hijau, nampak ratusan manusia berbaris. Mereka terdiri dari pria dan wanita, tua dan muda. Semua, mengenakan busana beraneka warna, meski ada segelintir yang terbalut dengan baju yang seragam. Tak jauh dari tempat para pendekar berbaris, puluhan helikopter hitam sudah berjajar, tertata rapi terparkir di samping alun-alun gedung. Ni'mal dan rombongan regu, turun dari salah satu helikopter hitam yang baru mendarat. I-inikah ... yang namanya Sayembara? Pikir Ni’mal kagum. Di hadapan semua peserta, di bawah bendera Negeri Manunggalan, berdiri sesosok pria tua. Pria dengan kumis dan jenggot abu-abu. Sosok berusia tujuh puluh tujuh tahun itu, mengenakan tiga buah tasbih sebagai kalung. Kostumnya kemeja batik, dengan celana hitam panjang dan sepatu cokelat. Peci hitam, menutupi rambutnya yang putih beruban. Ia, berpidato tanpa menggunakan alat bantu. Ironisnya, semua peserta yang berjarak lima puluh meter darinya, mampu mendengar suara lembutnya dengan jelas. Melihat rombongan terakhir datang, ia menggaruk lirih alis kanan yang telah beruban. “Baik, karena, semua peserta Sayembara yang tersisa telah berkumpul, maka akan saya mulai basa-basinya.” Tak ada yang bersuara di antara peserta. Semua diam, menantikan ucapan sang wakil ketua penyelenggara Sayembara. “Assalamualaikum warohmattullah wabarokattuh, salam damai salam sejahtera untuk semua,” ucapnya memulai pidato. Karena berada di barisan paling belakang, Ni'mal tak mampu melihat sosok yang sedang berbicara. “Seperti yang sudah kalian tahu, Sayembara Negeri Manunggalan selalu diadakan satu windu sekali. Dan, yang mengejutkan, jumlah peserta Sayembara tahun ini, melonjak naik. Tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.” Ni'mal, melirik ke kanan dan kiri. Peraturan dan ketentuan Sayembara, selalu berubah-ubah tiap tahunnya, tapi apakah ... semua pendekar di sini, adalah orang-orang yang telah lolos Sayembara menyusuri wilayah Arsir? “Entah apa motif dan tujuan kalian mengikuti Sayembara kali ini ... atau mungkinkah ... woro-woro dari Sang Raden Paku Utomo ke empat yang membuat kalian memaksakan diri untuk ikut?” (Woro-woro: Pengumuman) Kini, sebagian peserta berkasak-kusuk. Ni’mal, dari tempatnya berdiri mendengar jelas kasak-kusuk itu. Sebagian bertanya-tanya tentang apa hadiahnya, sebagian lain menerangkan bila hadiah yang akan di dapat, adalah pusaka sakral kuno kerajaan Manunggal. “Benar! Siapapun yang berdiri di akhir nanti, akan di angkat ke keraton utama, beserta pusaka sakral warisan sang raja! Tentu dengan puluhan karung bongkahan emas.” Hampir semua peserta, bersorak girang mendengar kabar tersebut. Namun, hanya Ni'mal dan pria berkumis tipis di sampingnya, yang tak bersuara. ¤*¤*¤ Merebahkan tubuh di sebuah kasur nan empuk berwarna putih, pemuda dengan kaos dan celana hitam itu bernapas lega. Mata cokelat terangnya, memandang langit-langit kamar. Astaghfirulloh hal adzim... Di ruang kamar mewah, lengkap dengan televisi LCD dan AC, kini Ni'mal memiringkan badan, menatap pepohonan pada malam kelam lewat jendela kamar dari posisi ia merebahkan badan. Kakek ... Teguh ... dan mereka, apa kalian baik-baik saja? Tok tok tok ... bunyi pintu kamar di ketuk dari luar. Tok tok tok ... ketukan itu kembali berbunyi. “Tunggu sebentar!” Ni'mal beranjak dari dipan, membuka pintu kamar segera. Ketika pintu terbuka, pemuda bertubuh kecil, dengan bibir tipis, sudah berdiri memandangnya kesal. Ia memakai kaos dan celana hitam. Tertulis Sayembara pada bagian belakang busana. “Ikutlah denganku,” ucapnya dingin, membalik badan. Tak lain, ialah salah seorang pendekar yang jadi regunya. Pemuda yang menemani Raden Irawan melawan Ugel besar. Ia, berjalan di lorong penginapan yang mirip seperti lorong apartemen. Sedikit tak berkenan dengan dinginnya sikap bocah yang masih lebih muda darinya, Ni'mal diam di ambang pintu, melihat punggung pemuda yang terus berjalan menjauhinya. “Ketua tertinggi Silat Gajah Putih, memanggilmu,” ucapnya saat tahu Ni'mal tak mengikuti langkahnya. Raut sebal Ni'mal, beralih jadi kaget. ¤*¤*¤ Di atas bangunan gedung sisi utara beratap datar, terdapat sebuah taman kecil dengan bunga-bunga beraneka warna. Tujuh rupa, dan warna yang berbeda. Sosok pria tua, tengah duduk bersila menghadap pemuda berkumis tipis. Secangkir kopi hitam dan dua bungkus rokok berwarna merah berada di samping piring bermuat pisang goreng, tersaji di depan mereka. Pria berumur tujuh puluh tujuh tahun yang tadi berpidato di penutupan sesi Sayembara tahap pertama, menatap Raden Irawan. "Sepanjang sejarah, baru kali ini para peserta tersisa banyak dari babak penyisihan wilayah Arsir,” ujar Raden Irawan. Angin malam dingin, meniup-niup syal merahnya. “Itulah yang banyak sesepuh khawatirkan,” tanggap sang Kakek usai mengisap rokok. “Makin tampak pendekar muda di zaman ini... Mungkinkah...” “Jika sudah garisnya, kita bisa apa? Hanya berikhtiar mempersiapkan diri sembari berdoa. Itu saja.” Ikut menarik napas panjang, ia menunduk. “Makhluk Hitam dari beberapa wilayah Arsir, kian hari makin banyak yang menampakkan diri. Bahkan, kasus p*********n pun sudah terjadi di beberapa titik wilayah,” jelasnya menatap gemintang di langit malam. Pria berkumis tipis, mendongak cepat ke wajah lawan bicara. “Ta-tapi Raja tidak memberi penyuluhan tentang ini sama sekali, kan?” “Benar, Raden. Beliau tak mau rakyatnya panik. Beliau memilih mencari siapa dalang dari hal ini... Baru kelak akan bercerita ....” “Bukankah... orang Kadipaten itu yang jadi gara-gara?” Belum sosok tua menjawab, mereka menoleh ke arah yang sama. Ke belakang sang pria tua. Terlihat, Ni'mal dan pria kecil mancung, berjalan ke arah mereka. Keduanya datang lewat tangga yang menyambung langsung, dari lantai teratas gedung ke atap. Dari jauh, Ni'mal melihat samar senyum pria tua itu padanya. Saat dekat, ia menjabat tangan, mencium tangan, lalu duduk menghadapnya. Sedangkan pria kurus tadi, segera turun saja setelah Ni'mal sampai. “Raden Irawan bilang, kau yang menjatuhkan Ugel dewasa dengan satu kali ayunan badik, apa itu benar, Nak?” tanya sang Kakek berkumis uban, menelisik mata Ni'mal. Bergeming, Ni'mal menunduk. Ia merasa hilang wibawa di hadapan sang Kakek tua. Ia nervous. “Eeem... Itu... Saya hanya mencoba melawan...” Mendengung paham setelah terdiam lama menatap wajah Ni'mal, Ki Ageng mengangguk lirih. “Pantas saja, wajahmu mirip seperti putra terakhir Mbah Pur,” ucapnya sedikit mendekati Ni'mal. Deg! Seketika, Ni'mal merogoh saku celana hitam. Ia, mengambil sepucuk surat dan kepingan kecil logam yang terbungkus plastik. Tangan kanannya, segera menyodor pada pria tua di depannya. Raden Irawan, turut memandang baik-baik dua benda tersebut. Baru Ni'mal hendak berucap, Ki Ageng Jagat mengelus pelan pundak kanannya lalu menerima dua benda tersebut. “Sudah. Tak perlu di ceritakan. Lewat sorot matamu tadi saya lihat apa saja yang kau alami,” ucapnya menenangkan. “Ini dari Raden Armi, kan?” Terkesima, Ni'mal menahan napas. Ia mengangguk mengiyakan. Sang kakek tua berpeci hitam, meraba pelan chips di tangan kanan, lalu membuka surat dengan kertas cokelat yang tak lembab sama sekali. Dua menit, ia membaca surat. Lalu, terdiam melirik ke kanan dan kiri, sesekali mengamati wajah Ni'mal. Ni'mal, entah mengapa terasa ingin menundukan wajah. Mungkinkah ini yang dinamakan aura wibawa? “Raden Irawan... Sepertinya memang benar bila ... Nubuat atau ramalan zaman dahulu, sudah mulai menampakan tanda-tanda kemunculannya.” Ni’mal dan pria berkumis tipis, kini menyimak. Ia baru tahu, bila sosok pemimpin rombongan pendekar tadi bernama Irawan, seperti tak asing di telinganya. “Ramalan tentang munculnya kembali pertumpahan darah dalam sebuah perang penutup. Ramalan tentang hancurnya kehidupan manusia di negeri Manunggalan. Sebab hanya akan ada dua pilihan nantinya ....” Raden Irawan, terdiam dingin memikirkan cerita yang semenjak kecil sering ia dengar, sedangkan Ni’mal, seolah mendengar kembali dongeng dusta yang semasa kecil ia dengar dari kawan-kawan ketika menakut-nakuti untuk siap belajar kanuragan. “Manusia akan menang di Negeri Manunggal, lalu hancur bersama semuanya... Atau membiarkan Makhluk Hitam menang, menguasai Negeri ini seperti zaman sebelum manusia menjamah tanah ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN