(Tiga hari yang lalu)
Gemuruh angin di puncak gunung gersang bertiup begitu kencang, menggesek kedua telinga seorang pria kekar berlengan besar. Rambutnya yang panjang berwarna putih berkilau tertiup-tiup ke belakang. Telapak tanpa alas kakinya menapak di tanah gunung yang gersang. Telinganya agak runcing menghadap ke belakang.
Sosok itu menoleh, saat seorang berbusana hitam berlengan panjang, datang. Sejurus kemudian, pria bertopeng Cepot Merah, bertekuk lutut tepat di belakang lelaki berambut putih.
Si pendatang, baru saja turun dari langit. Wajahnya yang ditutup topeng merah, menunduk. Rambutnya terbalut ikat kepala hitam bak blangkon. "Tuan Prabu, Hamba menghadap penuh hormat ...." Suaranya tegas.
"Apa yang ingin kau laporkan, Cepot?" tanyanya dingin.
"Raja Manunggalan, telah menyatakan bahwa siapa saja yang menjadi pemenang Sayembara tahun ini, akan mendapatkan Keris Pusaka Negeri Manunggal."
Wajahnya tampak tegang. Masih dengan menatap lurus ke arah hamparan padang pasir di kaki gunung, ia bertanya, "Apakah ... Pemilik Kasutpada Kacarma ikut serta dalam Sayembara, lagi?"
"Tidak, Tuanku. Hamba sudah pastikan keakuratan informasi ini. Hamba pun sudah mendapatkan data lengkap pendaftar di sana. Semua yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, ada di bawah pengawasan hamba."
Membalik badan penuh, pria bermata kejam dengan alis menukik ke bawah, memperhatikan sang Abdi. Garis bibirnya naik, seiring ia terkekeh lirih. "Dan Sang Raja Manunggal kira, dengan menyerahkan pusaka itu di tangan manusia biasa, s*****a itu akan aman?"
(Abdi: pelayan)
Sang pria bertopeng Cepot, tetap menunduk. "Jika Tuanku meminta, hamba akan segera mengamankan pusaka itu setelah tercabut dari tempat pemujaan sakral..."
"Apakah beberapa anak buahmu turut serta dalam Sayembara?" tanya sang pria berambut putih panjang.
"Tentu, Tuanku... seperti yang engkau titahkan..."
"Oh, ya. Ngomong-ngomong... apakah si tua Tumenggung Kadipaten Senlin belum menemukan tangan kananku?"
"Belum, Tuan..."
Vajra mendengung. "Sepertinya roda takdir masih sedikit jauh..."
¤*¤*¤
Gelapnya malam beriring angin sejuk menusuk tulang, menjadi pendamping Ki Ageng Jagat berkisah sejarah. Menyeruput kopi hitam dengan tangan kanan kemudian mengisap rokoknya, ia mulai berbicara.
"Pada masa sebelum manusia datang ke negeri ini, tiap jengkal tanahnya di d******i oleh makhluk-makhluk dengan wujud binatang yang tak lazim. Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka adalah bangsa Jin atau siluman, dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa mereka adalah binatang dengan bentuk yang unik. Setelah mendiami sebagian dari wilayah negeri ini, Perang Basar, terjadi ketika gerombolan Makhluk Hitam, dari ras Predator sampai ras raksasa, bermaksud mengusir bangsa manusia."
Ia melanjutkan, "entah angin apa yang membuat mereka semua serempak bekerja sama bermaksud mengusir bangsa kita. Namun yang jelas, para manusia tak tinggal diam begitu saja. Leluhur kita, dulu saling bahu-membahu melakukan perlawanan. Peperangan sengit itu, berlangsung selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya, muncul seorang pemuda. Pendekar sakti mandraguna yang datang, menawarkan perdamaian pada ras Makhluk Hitam. Namun, tawarannya ditolak mentah-mentah. Ia justru diserang.
"Dan akhirnya, terjadilah pertempuran sengit. Seorang manusia, melawan ribuan Makhluk Hitam. Meskipun ia kalah, ia berhasil mundur. Pemuda itu, menghilang untuk beberapa waktu lamanya... hingga perang Basar hampir dimenangkan oleh ras Makhluk Hitam tepat di ujung pantai yang sekarang bernama Kadipaten Sunyoto."
"Di saat-saat terakhir itu... Sang pendekar muda kembali turun ke medan perang. Ia ditemani oleh empat sosok Makhluk tertua penunggu Negeri Manunggal, yang kita kenal sebagai Sura. Sang Harimau Putih Bersayap, Putri Ikan, Naga berkepala dua, dan lalu kera merah jingga yang gemar bertapa.
"Dalam waktu sekejap, mereka berhasil memukul mundur semua Makhluk Hitam. Hingga akhirnya, pihak manusia yang jadi pemenang. Para Makhluk Hitam, menghilang ke wilayah Arsir. Nyaris tak pernah menampakkan diri di hadapan manusia."
"Seiring waktu berlalu, tanpa disadari populasi manusia kian bertambah. Hingga akhirnya, kerap dilakukan pelebaran wilayah Kadipaten setiap tahun... Sekarang, wilayah arsir makin drastis berkurang. Bisa jadi, itulah yang berperan sebagai sebab para Makhluk Hitam melakukan perlawanan. Mereka mulai menyelinap keluar dari habitat mereka, lalu menjamah tanah yang didiami manusia."
Ni'mal, bertanya saat sang Kakek tua terdiam, "Jadi... mereka menembus batas wilayah yang di jaga ketat oleh SM dan PM?"
Raden Irawan, menyahut, "Entah bagaimana mereka berhasil lolos dari penjagaan perbatasan wilayah. Hanya ada tiga kemungkinan, yang pertama... mereka menemukan jalur yang luput dari pengawasan. Kedua, mereka menemukan portal berpindah tempat seperti yang kau alami, atau yang ketiga... ada manusia yang membantu mereka masuk ke wilayah kita."
Mata Ni'mal terbuka lebar. "Tunggu... Apa itu mungkin? Kudeta mencelakai manusia oleh manusia?"
Ki Ageng Jagat, kini menjawab, "Raden Armi, ketika dia menyusul melihat keadaanmu usai pertempuran, dia memeriksa serpihan organ tubuh Ugel muda yang kau hancurkan. Dan di dalam jantung, juga serpihan otak makhluk itu, terdapat logam yang kau bawa tadi."
Anak ini... meluluhlantakkan Ugel muda hanya dengan tangan kosong? Pikirnya. Raden Irawan, mendengung. Rautnya perlahan merah padam. "Ki Ageng... jika benar logam itu ada di tubuh Makhluk Hitam, sudah jelas bukan siapa dalang di balik ini semua?"
Ni'mal kembali terkejut. "Tunggu! Kau tahu siapa dalang ini semua? Jika begitu, dia juga yang membuat Makhluk Hitam menculik kakekku, kan?"
"Tenang dulu," timpal Ki Ageng Jagat. "Jika yang kau curigai itu adalah petinggi dari Kadipaten termaju dalam bidang teknologi di Negeri Manunggal, itu belum tentu benar. Kita masih harus mengumpulkan bukti, sebelum mendakwa mereka," ucapnya santai kembali menyeruput kopi, lanjut mengisap rokok.
"Dan kamu, Ni'mal... tenangkan dirimu. Kakekmu masih hidup, Insyaalloh. Yang perlu dipertanyakan sekarang, adalah kesiapan dan keteguhanmu untuk mencarinya. Mengenai Teguh, kau tak perlu khawatir. Dia dan pesilat yang sempat terluka di rumah kakekmu, aman di Padepokan Gajah. Meski satunya, gugur."
"Mereka?" Ni'mal, ingat wajah dua pemuda yang terluka di dalam rumah kakeknya.
"Kau masih terlalu hijau. Meskipun kau orang yang dinanti olehnya... tapi, jika kau tak berikhtiar penuh mempelajari beladiri, nasib buruk yang akan menimpamu."
Ni'mal, tertunduk. Penyelasan kini mencuat naik, ketika ingat anjuran sang kakek untuk giat dan tekun berlatih silat, ia abaikan. Terlebih saat gambaran kekalahan di arena laga membanjiri benaknya. Tetapi, yang lebih ia herankan, bagaimana mungkin pria sepecundang dirinya mampu mengalahkan Makhluk Hitam yang begitu ganas.
Menarik napas usai mengisap rokok, Ki Ageng Jagat tersenyum memandang Ni'mal. "Seorang alim dahulu berkata; orang yang tertinggal karena kurangnya amal, tidak akan dapat menyusul dengan kemuliaan nasabnya (Nasab:jalur keturunan). Jika dalam konteks yang kau hadapi sekarang, kau tak akan bisa menyusul kesaktian seorang pendekar yang telah berlatih bertahun-tahun meskipun kau adalah cucu sang pesilat tersohor. Maka dari itu, mulai besok... sembari menanti pelaksanaan seleksi Sayembara selanjutnya, berlatihlah di padepokanku. Mulai hari ini, kau telah resmi masuk dalam Sayembara dan jadi bagian dari regu Raden Irawan. Bukan begitu, Raden?"
Menarik napas melirik ke arah Ni'mal, Raden Irawan menanggap, "asalkan dia tetap menuruti komandoku dalam pertempuran dan tak melakukan tindakan di luar ucapanku, aku tak akan menendangnya dari regu."
Terkekeh, Ki Ageng Jagat mengangkat cangkir kopi hitam. "Baru kenal sehari tapi kau sudah mengerti karakter Ni'mal sepertinya, ya?"
Raden Irawan diam tak menanggap. Mimiknya dingin.
"Oh, Ya. Ni'mal..." Ki Ageng Jagat, merogoh saku celana hitam. Mengambil sesuatu, ia membuka telapak tangan di hadapan Ni'mal. "Saya titipkan ini padamu ya? Tolong jaga baik-baik. Ambillah."
Melihat Ki Ageng Jagat menawarkan sebuah cincin akik berwarna bening tembus pandang, Raden Irawan terpana. Itu... mungkinkah akik Wiji Gligen?
Mengambil benda tersebut, mata cokelat Ni'mal mengamati seksama. Cincin bening dengan emban intan. "I-ini buat saya?"
"Cobalah pakai. Kalau pas di jari telunjukmu, bawalah. Buat wasillah," tanggapnya tersenyum.
Segera, Ni'mal memakaikannya di jari manis. Matanya makin terbuka lebar saat benda tersebut begitu pas dengan jarinya.
¤*¤*¤
Ni'mal, Raden Irawan, dan dua orang pendekar berusia tujuh belas tahun itu, melangkahkan kaki di jalan setapak hutan belantara. Semak dan tanaman begitu lebat menutupi jalanan. Sukar terlihat rumput, hanya dedaunan dengan batang kecil. Sedangkan pohon-pohon bermacam rupa pun, begitu tinggi menjulang, kisaran sebelas meter.
Mereka berempat mengenakan kaos serupa. Kaos hitam dengan bordir kuning nama masing-masing pada d**a sebelah kiri. Ni'mal, Irawan, M. Anis, Tirto, Dibyo. Raden Irawan, masih diselimuti syall merah bak jubah, sedangkan Ni'mal terbalut jaket-hoodie hitam polos.
Anis, pria beralis tipis berhidung mancung dengan dua kawan lain, hanya mengenakan kaos hitam dan celana hitam.
Dibyo dan Tirto, terus berbincang. Sedang ketiga lain, terus berjalan mendengarkan kicauan burung juga nyanyian jangkrik hutan. Pagi itu, langit setengah mendung. Mentari bersembunyi di balik awan hitam.
"Dib, kok bisa ya si Tono, Dodo, sama Rinto digugurkan? Padahal mereka, kan sampai di tempat upacara Sayembara bareng sama kita?"
"Teu ngarti, Tir," tanggapnya singkat.
"Tulang rusuk mereka patah. Tulang punggung mereka retak. Tabib Kerajaan yang kemarin melaporkan padaku. Aku sendiri yang meminta pada Ki Ageng Jagat untuk menghentikan mereka ikut Sayembara," sahut Raden Irawan. Ucapannya membuat kedua pemuda itu diam.
"Adil sekali keputusan engkau, wahai Raden," sahut pria mancung dengan alis tipis. Ia tetap melangkah meski Raden Irawan memperlambat laju kaki. "Kau membiarkan pria asing masuk dalam regu, lalu membuang dua orang agar keluar dari Sayembara..."
Berhenti melangkah, Raden Irawan menatap punggung Anis tanpa bergeming. "Jika kau keberatan dengan keputusanku, maka enyahlah! Aku tak membutuhkan keikutsertaanmu dalam regu..."
Ni'mal yang semenjak tadi melamun, kini menoleh ke kanan dan kiri. Ia, mendenguskan hidung. Tak mempedulikan perdebatan dua orang di sana. Aroma apa ini? Bunyi itu...
Anis, kini berkata sembari membalik badan. "Jika bukan karena sumpahku, aku tak akan bertahan sejauh ini!" ucapnya kembali membalik badan, lalu berjalan.
Pemuda itu mulai menjauh, meski masih tampak punggungnya di antara hijau tumbuhan hutan. Ia, tetap acuh meskipun rekan regunya memanggil-manggil dari belakang.
"Biarkan saja," celetuk Raden Irawan.
"Tunggu, Anis!" Ni'mal berseru, setelah cukup lama ia mendengar sesuatu, selain dari suara regunya. Ia bergerak, tanpa pamit mengambil badik milik Raden Irawan dari sarung pusaka di belakang celana.
Sempat ketika Ni'mal mengayuh kaki, Raden Irawan hendak mencegat, sampai akhirnya ia terdiam mendadak. Ia, membeku diam oleh sesuatu ganjil yang ia rasa.
Tap tap tap tap...
Langkah kaki binatang dan bunyi gesekan, berderu di antara semak belukar. Kian jelas. Membuat Tirto, Sudibyo, Raden Irawan, dan Anis, menoleh serempak ke samping kiri mereka.
"Groaar!" Sesosok anjing bermoncong panjang, dengan corak bak anjing husky siberia, melompat menerjang ke arah Anis.
Dak! Usai mendorong jatuh Anis, Ni'mal segera melemparkan badik di tangan kanan, tepat ke arah sang binatang buas.
Klauk!
Sang anjing perkasa justru menggigit- menjepit badik yang Ni'mal lemparkan. Ia, lalu mendarat pelan di rimbun semak hijau.
Wurr!
Kini sebuah bola api melesat, turun dari langit.
Sigap, Ni'mal mundur. Ia terjengkang jatuh. Banaspati siang-siang begini? Banaspati yang bekerja sama dengan seekor anjing? Pikirnya perlahan bangkit memperhatikan api yang membakar semak belukar.
Raden Irawan, dan semua regu, mendekati Ni'mal, termasuk Anis. Mereka memperhatikan anjing ras siberia yang masih menggigit erat badik Raden Irawan.
Mungkinkah Ni'mal sudah lebih lama menyadari aura keberadaan anjing itu? Dia bergerak sebelum aku menyadari kehadiran sosok itu! Terlebih, aku merasakan tekanan tenaga dalam dari binatang itu... Pikir Raden Irawan.
"Satu, dua, tiga, empat?" Sesosok perempuan dengan jubah hitam, bergradasi merah di ujung bawah jubah, berdiri di atas pohon besar. Celana hitamnya pendek, berlapis rok mini batik awan cokelat. Panjang sepatunya sampai lutut.
"Apakah, kau juga anggota regu Raden Irawan? Aku tak melihat fotomu dalam daftar targetku?" Gadis itu, memperhatikan wajah Ni'mal.
Regu Raden Irawan, menoleh bersamaan.
"Kau... peserta Sayembara, bukan?" Raden Irawan bertanya.
"Bukan sebuah pelanggaran jika aku menyerang sesama peserta Sayembara, kan?" ucapnya enteng, melompat turun dari pohon besar. Gadis berkulit cokelat terang itu, memberi isyarat pada sang anjing, membuatnya melangkah mendekat dengan badik yang masih ada di mulut.
"Apa maksudnya?" Ni'mal bingung.
Anis, menyahut lirih, "sesama peserta regu Sayembara yang berbeda, boleh saling mencederai bahkan membunuh. Asal tak membuat keributan di tempat umum ataupun Keraton."
Raden Irawan, berdiri tegak. "Jadi, kau bermaksud bertarung melawan kami?"
Tersenyum sinis, gadis itu membenahi rambut panjang yang keluar melewati penutup kepala. Ia, turut membenarkan sumping emas di telinga kiri. "Asal kalian tahu..." Gadis berwajah bulat berhidung sedang, melangkah mendekat.
Tiap kakinya memijak, tanaman seketika terbakar. Gadis berusia tujuh belas tahunan dengan tinggi 160cm, berdiam pada jarak sepuluh meter dari target.
"Melenyapkan seratus orang pesilat dalam sekejap, adalah hal mudah bagiku. Apalagi hanya lima orang?" Ia, mengadahkan tangan kanannya ke atas, seketika gumpalan api terbentuk, menyala terang di tangannya.
Raden Irawan, melangkah tiga kali, sedikit menoleh ke arah anggota regu. "Anis, perdebatan kita belum selesai! Bawa mereka ke padepokan Gajah Putih. Aku akan menyusul setelah memberi bocah ingusan ini pelajaran!"
Menaati perintah, Anis mundur menarik regunya. Ia tahu betul bila gadis di depannya bukanlah pesilat biasa. Tampak dari ajian api yang diperlihatkan.
"Tu-tunggu dulu!" Ni'mal menyingkirkan tangan kawannya.
"Siapa yang menyuruhmu, dan apa maumu?" tanyanya tegas menatap sang gadis bersepatu corak batik.
"Kau tuli? Aku sudah bilang, kan? Aku akan melenyapkan kalian!" serunya melemparkan bola api ke arah rombongan.
Wuz!
Ni'mal dan beberapa anggota lain, melompat menghindar dari bola api. "Jika kau ingin melenyapkan kami, kenapa tak langsung kau gunakan api Banaspatimu untuk membakar kami secara langsung tadi!" sergah Ni'mal.
Terdiam sejenak, gadis itu memandang pria berjaket hitam.
Raden Irawan, menoleh ke arah Ni'mal. "Ni'mal, seperti yang aku bicarakan semalam, patuhi perintahku! Pergilah ke padepokan Gajah Putih bersama yang lain!"
"Siapa yang menyuruhmu!" seru Ni'mal lagi tanpa mempedulikan ucapan Raden Irawan.
Tersenyum picik, sang gadis menjentikkan jari. Seketika itu, rumput dan semak hijau, terbakar oleh api merah. Gadis itu tertawa, melihat wajah Ni'mal dan kawan-kawan makin panik, kecuali Raden Irawan yang perlahan mengatur napas.
"Cukup bermain apinya, bocah!" seru Raden Irawan menginjak tanah keras.
Blum!
Angin bertiup kencang, seketika memadamkan api yang baru berkobar. Wajah gadis itu, geram. Ia ganti menoleh pada Raden Irawan yang sedang melaju kencang ke arahnya, hingga tiba-tiba...
Blam!
Sesuatu yang amat cepat, melesat memukul pria berkumis tipis. Raden Irawan, terlempar puluhan meter menabrak beberapa pohon hingga tumbang. Sosok yang memukulnya itu, mengenakan topeng Cepot Merah.
"Lawanmu, adalah aku, Raden Irawan Sang Putra mahkota!"
Anis, berteriak memanggil panik, "Raden!"
Sosok bertopeng Cepot, melongok ke arah rombongan Anis. Ia, bertepuk tangan tiga kali.
Anis, Tirto, dan Dibyo, tak sadar bila bayangan tubuh di bawah mereka, melebar.
Wuz! Wuz! Wuz!
Mereka bertiga, jatuh dilahap oleh bayangan hitam mereka sendiri.
Ni'mal yang terkejut, bermaksud menghampiri ke tempat tiga kawannya-yang telah menghilang. Namun, sosok anjing besar yang menggigit badik, meraung, melompat mencegatnya.
"Lawanmu di sini, jangan kau pergi!"
Mengeratkan kepalan tinju, Ni'mal kini fokus memandang gadis berjubah hitam-merah. Mata cokelat terangnya, fokus pada wajah gadis berkulit sawo matang. Gadis tak beradab!