(Belasan tahun silam)
Tok ... tok ... tok ....
“Mbah Pur! Mbah Pur! Mbah!”
Suara itu membuat Kakek Ni’mal beranjak dari sajadah. Baru saja, ia usai melaksanakan Sholat Isya. Pria yang masih mengenakan sarung dan baju koko abu-abu, membuka pintu. Wajah panik penuh keringat seorang warga paruh baya, memancingnya bertanya, “Ada apa, Yon?”
“Itu... anu... Desa, Mbah... Api...”
“Istighfar... tenang sik. Ada apa?”
“Eh... saya nggak ke Masjid, Mbah! Tidak tahu Istighfar!”
“Oh....” Sang pria tua berkumis, menepuk bahu orang itu pelan.
“Bot... Bot... Bot... Nyebot... Nyebot... Bot... Bot...”
(Note; Nyebot/nyebut: mengingat sang pencipta dalam bahasa jawa)
“Iya, Mbah... Saya kira depannya je...”
“Hush! Sudah! Kamu ini kenapa, panik begitu?”
“I-itu, Mbah... ada banyak bola api melayang-layang di atas desa...Se-sepertinya Ke-Kemangmang!”
(Kemangmang: Jin berwujud bola api)
“Astaghfirulloh? Di mananya desa?”
“Di atas rumah Bapak Manten!”
(Note; Pak/Bu Manten: Kepala Desa)
“Ealah Gusti! Ni'mal sedang di sana kan!” Sang Kakek, melepaskan sarung, melingkarkannya di leher. Tubuh bawah, nampak hanya di balut celana pendek hitam. Sang kakek tua, mulai duduk jongkok, menoleh ke samping kanan. “Yono, kau ungsikan warga untuk menjauhi desa dulu. Biar aku selesaikan ini!”
Wuzz!
Sang kakek melejit, melompat tinggi tak tampak dari pandangan Yono. Ia hanya melongo melihat kepergian Mbah Pur.
***
Tap! Mendarat tepat di antara lima rumah kayu yang terbakar, Mbah Pur berdiri tegak. Subhanalloh! Ini sudah keterlaluan!
Jerit tangis dan ramai teriakan, menggema di langit malam. Kegelapan tersingkap oleh kilau kibaran nyala api. “Siapa yang membakar wilayahku!”
Teriakan Mbah Pur, memadamkan api dalam sekejap. Tak ada lagi nyala jago merah. Semuanya gelap. Hingga tujuh titik bola api, terbang mengitari dirinya. Tujuh bola api itu, bersatu membentuk sesosok banaspati.
Makhluk terbakar dengan kedua tangan sebagai penyangga, dan kedua kaki berkuku tajam terangkat naik ke atas. Mata pada kepalanya, bak bola pingpong. Deret tajam giginya mirip hiu. “Apa hakmu mengganggu, manusia!”
“Dasar setan laknat! Beraninya kau membakar rumah-rumah warga!”
Mendengar seruan Mbah Pur, makhluk itu, mengarahkan tangannya tepat ke sebuah rumah yang sudah hangus.
Wuz!
Sesosok pria dengan luka bakar di sekujur badan, tertarik lalu tergeletak di sebelah sang Banaspati. “Orang ini membuat perjanjian dengan Rajaku! Tapi, sudah lima tahun lamanya dia tak lagi memberi sang Raja tumbal! Adapun aku membakar rumah di sini, adalah sebagai ganti tumbal yang ia hutang-janjikan!”
Melirik ke arah pria yang masih bernapas lemah, bersimbah darah dan luka bakar, Mbah Pur menarik napas dalam sembari memejamkan mata.
Wuz!
Mbah Pur melesat, memegang kaki kanan sang Banaspati yang terbakar. Ia, lalu membanting makhluk gaib itu ke tanah.
Brall!
“Hai Ruh tirtaning Gusti, patenen geni si Banaspati! Wa la khaula wa la quwatta illa billahil aliyil adzim!” teriaknya lantang, mencekik leher sang Banaspati.
Seketika, api pada tubuh sang jin, padam. Makhluk itu meraum, meminta ampun ketika lehernya dicekik erat. Namun, Mbah Pur tak bergeming. Ia, mengangkat makhluk tersebut dengan satu tangan, tinggi.
“Kembali pada Rajamu! Katakan padanya! Jika ada manusia yang mencoba membuat perjanjian dengannya, yang berasal dari Kadipaten Sunyoto, maka jangan cari tumbal dari Kadipaten ini! Jika tidak, maka kau, rajamu, dan istanamu, yang aku obrak-abrik!” serunya jengkel memutuskan leher sang Banaspati.
Klak!
Ketika kepalanya terjatuh hendak mendarat ke tanah, Mbah Pur menendang kepala itu, melayang jauh ke angkasa.
Mengatur napas saat musuhnya kalah, Mbah Pur kini menoleh ke arah reruntuhan rumah kayu. Tampak seorang bocah tergeletak pingsan. Kakinya makin cepat di kayuh, saat sadar itu adalah cucunya.
Memangkukan kepalanya di paha, Mbah Pur meraba hidung Ni'mal. Masih bernapas lemas. “Sudah dibilang, sebelum Maghrib mbok ya pulang ... Nak... Nak...”
¤*¤*¤
Wur wur wur!
Ya! Api ini... meski berasal dari seorang gadis, tapi hatiku yakin bila ini adalah api serupa Banaspati waktu itu! Ni'mal terus melompat mundur. Setiap dua detik ia mendarat, api bergegas menyala membakar tempat ia berada. Hal itu membuatnya tak bisa berhenti meloncat. Dia masih bermain-main!
“Hahahaha! Teruslah melompat sampai lelah! Baru kau terbakar seperti Kapri panggang!”
Terus melompat, Ni'mal melirik ke kanan dan kiri. Tak ada rekan yang bisa ia andalkan. Ia melompat, terus memutari gadis yang bersanding dengan anjing besar.
“Mari kita lihat, seberapa lama kau akan bertahan!”
Tiga menit berlalu, Ni'mal terus melompat, memutari sang gadis berjubah hitam merah. Sesekali ia melompat maju, lalu kembali mundur.
Tap! Tap! Tap! Tap!
Gadis itu, terus membakar semua yang Ni'mal injak. Hingga dirinya, kini berada di tengah lingkaran. Lingkaran tanah yang terbentuk dari terbakarnya tumbuhan yang Ni'mal injak.
Wuz!
Ni'mal, berlari memutari, lalu melesat menerjangnya cepat. Tinju kanan dan kiri, terkepal erat. “Kena kau bocah!”
Kaget, gadis berjubah bersiap menangkis. Anjing di sebelahnya, menjatuhkan badik di mulut, lalu menyambut lompatan Ni'mal.
“Enyah kau!” seru Ni'mal memutar badan di tengah udara, mengayunkan tangan kiri, membuat si anjing terhempas.
Bug!
Ketika jaraknya dengan gadis berjubah begitu dekat, ia meluncurkan tinju kanannya, yang seketika terasa kesemutan.
Daaaak!
Tinju Ni'mal, tertahan lima jengkal dari tubuh si gadis. Sesuatu yang keras melebihi kaca, menghalau pukulannya.
Menyempitkan mata, gadis itu balas maju, mengutus kakinya untuk menendang.
Bak!
Ni'mal menahan tendangan dengan tangan. Ia terpental lima meter, lanjut terbaring lemah di antara rumput hijau.
Saat anjing gadis itu hendak menerkam Ni'mal, gadis berjubah itu bersiul, membuat piaraannya diam di tempat sambil menggonggong.
“Agni, itu namaku! Ingat itu sampai ke alam baka sana!” Agni, menjetikan jari. Seketika, api melahap tubuh Ni'mal. Pria itu terbakar.
***
Menahan lima belas pukulan lurus beruntun dari pendekar bertopeng merah, Raden Irawan terus mundur. Ia menggunakan telapak tangan untuk menangkis.
Bug!
Ketika si Cepot Merah mengutus tendangan dorong, Raden Irawan terdorong mundur. Sang musuh bertopeng Cepot, lanjut melemparkan tiga bilah keris pendek ke wajah Raden Irawan.
Dak dak dak clep clep!
Tiga keris tertangkis, sedangkan dua yang lain mendarat menembus kaos perut. Darah, lirih mengalir keluar. Keris yang ia lemparkan mampu menembus Ajian kebalku?
“Aku tahu kau belum benar-benar serius, Putra Mahkota... ayo, kemarilah!” celetuk sang lawan. Dua tangannya melambai-lambai dari bawah, setara lutut. “Tunjukan padaku Ajian Sukma Nagamu!”
Mencabut dua pusaka dari perut kekar, Raden Irawan membuang s*****a ke tanah. “Hoh... Jadi kau tahu banyak tentangku, ya? Siapa kau sebenarnya?” tanyanya berdiri tegap.
“Aku? Panggil saja aku Cepot. Cepot Sang Pendekar Merah, yang terbuang.”
“Dari mana asalmu dan siapa yang mengirimmu untuk menyerang kami?”
“Aku? Tentu saja, aku ini rakyatmu, wahai Putra Mahkota!”
Menarik napas dalam, sembari menatap mantap Si Cepot, Raden Irawan menyatukan kedua telapak tangan. “Kalau kau tak mau mengatakannya padaku, maka ruh-mu akan kupaksa untuk berbicara setelah ragamu binasa!”
Blam!
Angin bertiup hebat, memutari Raden Irawan. Semak belukar dan pepohonan sekitar, sekejap tercabut dari akar. Tanah yang mereka berdua pijak, hanya bersisa permukaan cokelat. Si Cepot, menutupi wajah dengan tangan kanan.
“Ajian Sukma Naga!”
Semua angin mendesir di sekitar pria berkumis tipis, seolah lenyap merasuk ke dalam tubuh. Ia, mulai bersiap mengambil kuda-kuda silat. Dengan wajah dingin, Raden Irawan mendadak lenyap. Hilang dari pandangan.
Si Cepot, menoleh ke sekitar. Sesekali memutar badan, mencari keberadaan lawan. Hingga....
Blak!
Sebuah tinju menghantam dari belakang, beserta munculnya Raden Irawan. Pria berkumis tipis dengan t**i lalat di wajah, lanjut menyusulkan pukulan bertubi-tubi. Tinju tangannya bergerak terlalu cepat untuk dihitung.
Blak!
Tinju penutup Raden Irawan membuat si Cepot terlempar ke udara. Sang Cepot, memuntahkan darah dari balik topengnya. Belum ia bernapas lega, Raden Irawan mendadak muncul di balik punggung.
“Kau minta ini, kan?” menyatukan kedua telapak tangan, lalu mengubahnya jadi kepalan, Raden Irawan memukul kepala sang cepot.
Blar!
Si cepot meluncur dari udara, mendarat di tanah secara paksa. Ia, tergolek lemas.
Bral!
Raden Irawan terjun, dan menginjak perut lawannya yang masih terbaring di tanah. “Aku seperti tak asing dengan hawa keberadaanmu. Siapa kau sebenarnya?”
Huk... Uhuk... Huk...
Si cepot terbatuk. "Huk... Huk... Hahaha... Ahahaha..."
Raden Irawan, menekan kakinya di perut Cepot. “Apa yang lucu?”
“Hahaha... sudah, kan? Rangkaian seranganmu masih sama seperti dulu. Tak banyak berubah. Dan sekarang, Ajian Sukma Nagamu, telah habis. Benar?”
Raden Irawan, melirik ke kiri, lalu mengutus tangannya untuk menarik topeng sosok tersebut.
Tep!
Si Cepot menahan tangan Raden Irawan. “Aku ada pada tragedi itu. Malam di mana kakakmu menghilang. Malam di mana kau memilih meninggalkan kami,” ucapnya serak. Tubuhnya, perlahan tenggelam ke dalam bayangannya sendiri.
“Siapa kau!” Ketika Raden Irawan hendak mengutus tangannya yang lain untuk menarik topeng si Cepot, lawannya segera menendang-dorong dirinya.
Blak!
Raden Irawan terpental, disaat ia bangkit, aura keberadaan si Cepot pun lenyap, bersama dengan tubuhnya.
***
Baru sejenak Ni'mal menggeliat karena nyala api, kobaran api yang m******t, perlahan meredup dan tersedot masuk, ke dalam saku jaket hitamnya. Api yang membakar dari ujung kepala hingga ujung kaki, raib seketika tanpa meninggalkan bekas luka.
Agni, terpana dibuatnya. A-apa? Bagaimana bisa?
“Astaghfirulloh hal adzim...” Ni'mal segera duduk, merogoh saku jaket. Di sana, ia temukan sebuah cincin dengan emban logam. Cincin pemberian Ki Ageng Jagat, kini berwarna jingga, beserta emban logamnya.
Menyempitkan mata, Agni fokus pada cincin yang sedang di pakai Ni'mal. Apakah pusaka itu yang menyerap apiku? Mustahil! Napas Banaspati tak mungkin lenyap begitu mudahnya! Pikirnya heran.
Ia, kembali melemparkan sebuah bola api ke arah Ni'mal.
Menutupi wajah dengan kedua tangan, ia bermaksud menahan serangan lawan. Namun, tubuhnya tak kunjung terkena api. Ia pun kembali menatap cincinnya.
“Mustahil!” Agni, mengadahkan kedua tangannya yang terbakar, lanjut menembakan bola api bertubi-tubi.
Semua api yang mengarah, secara otomatis mengecil, tersedot masuk ke dalam cincin di jari tangan kanannya.
Mengepalkan tinju kanan, Ni'mal menatap wajah gadis berjubah. “Kau terkejut, Nak?” tanyanya mulai berlari mendekat. “Apalagi aku!”
Sang anjing besar, kini melompat menerkam Ni'mal. Sigap mengelak merunduk, Ni'mal turun mengayunkan tangan kanannya. Memberikan serangan balasan.
Blak!
Sang anjing terpukul, terpental dan terbakar. Woah! Pukulanku kah yang membuatnya terbakar? Ni'mal menyeringai, lanjut melangkah cepat.
Tak mau mundur, sang gadis bersiap dengan kuda-kuda. Kedua tangannya, turut mengepal erat. “Aku belum kalah!”
“Hyah!”
Bamm!
Tinju mereka beradu, membuat dedaunan dan ranting gosong di sekitar, terlempar jauh.
Agni, menyusulkan tendangan kaki kanan. Ni'mal, menepis dan memegangi pundak Agni. Tangan kirinya, memegang tangan Agni. Tubuhnya seolah ingat pada apa yang Raden Armi lakukan pada dirinya waktu itu.
Tubuh berjubah Agni, terbakar hebat. Namun, lagi-lagi semua api terhisap masuk ke dalam cincin Ni'mal. “Menyerahlah dan katakan siapa yang mengirimmu!” serunya melempar Agni ke sebuah pohon.
Wung!
Dar!
Lemparan Ni'mal, membuat Agni merobohkan pohon besar yang semenjak tadi tak terbakar api. Ketika pohon besar itu roboh, kini tampak seseorang turut jatuh dari dedaunan rimbun pohon.
Seorang gadis berambut pendek dengan sebuah kacamata. Busananya putih, dengan motif batik pada lengan. Serta beberapa hiasan logam bak zirah di tangan dan kaki.
Deg!
“Siapa dia?” Ni'mal melangkah mendekati mereka.
Gadis bertopeng wayang, segera duduk, mengarahkan telapak kirinya ke arah Ni'mal. Seketika, Ni'mal seperti tertahan oleh kaca keras tembus pandang. Jadi, dia yang membantu Agni? Apa dia juga yang menyuruhnya? Pikirnya sembari mengepalkan tinju kanan, lalu menghancurkan penghalang dalam satu kali pukulan.
Taar!
Pria bertopeng cepot, muncul mendadak di belakang Ni'mal. Ia, memegang tengkuk Ni'mal, sembari berbisik. “Ni’mal, cucu sang legenda silat, ya?”
Reflek, Ni'mal memutar badan bermaksud memukul. Namun, sosok cepot itu melempar-putar Ni'mal di udara.
“Kau masih terlalu hijau. Hanya beruntung karena pusaka milik Ki Ageng Jagat! Berlatihlah lebih keras lagi... Semoga kakekmu masih bernapas ketika kau sudah bertambah kuat.”
Mendarat usai mendengar ucapan sang Cepot, Ni'mal langsung menjejak keras tanah, meluncur menerkam. Namun, lawannya melompat, menyangga tubuh di punggung Ni'mal yang menerkam, lalu menendang Ni'mal.
Blak!
Terpental dan kembali mendarat di tanah berumput. Perutnya yang tertendang begitu terasa tertusuk. Ni'mal pun, tak mampu bergerak.
“Semoga kita berjumpa lagi, Nak.” Sang Cepot, bersama kedua rekan perempuannya, tenggelam dalam bayangan hitam.
***
Raden Armi, tengah duduk di lantai kayu kamar. Dinding kayu jati nan mengkilap, berhias beberapa lukisan public figure Negeri Manunggal. Di sampingnya, terdapat sebuah dipan, yang di pakai Ni'mal berbaring. Tak sadarkan diri.
Pintu kamar terbuka dari luar. Raden Irawan memasuki ruangan, dengan nampan pada kedua tangan. Dua cangkir kopi lempung, berwarna cokelat ia bawakan beserta satu rit pisang kuning panjang. Raden Irawan, berlutut dan turut duduk sila di hadapan seniornya.
“Dalam perjalanan kemari, kata Teguh kalian diserang oleh peserta Sayembara?” tanya Raden Armi membuka obrolan.
“Benar, Gus. Tadi sewaktu Ni'mal siuman sebelum Panjenengan rawuh, dia bilang ada dua gadis. Satunya bersembunyi di dahan pohon. Dan pemimpinnya, saya yakin adalah pria bertopeng Cepot merah.”
(Rawuh: tiba. Diksi yang kerap di pakai untuk orang yang lebih dimuliakan)
Gus Armi mengangguk, mengambil rokok dan menyalakannya. “Seleksi Sayembara selanjutnya masih berapa hari lagi?”
“Masih satu minggu lagi, Gus,” ucapnya menyeruput kopi.
“Ni'mal tinggal di sini dulu, ya? Biar saya yang latih dia.”
“Gus Armi... Akan melatih dia?”
“Dia bukan manusia dengan bakat memanfaatkan alam. Dia juga akan berbahaya jika memiliki Khodam, maupun makhluk piaraan. Dia ini, manusia yang harus belajar lebih dulu mengenal diri. Nanti, tolong kamu sampaikan saja pada Ki Ageng Jagat, bila saya akan melatihnya.”
(Note; Khodam: makhluk gaib pendamping.)
“Tentu saja, beliau tak akan keberatan, Gus.”
Menyeruput kopi usai mengisap rokok, Gus Armi tersenyum. “Bongbong itu, gadis yatim piatu. Dia, saya angkat jadi anak. Sambil berlatih bela diri di sini. Jangan suudzon tha, Den,” ucapnya terkekeh usai mengerti apa yang Raden Irawan pikirkan.
“A-ah... Maaf, Gus. Tapi... Apakah dia juga... Diserang oleh Makhluk Hitam dengan chips komputer yang tertanam?”
“Nah! Iyo! Yo! Namane chips komputer yo? Iya. Hadeh jan gaptek aku.”
Raden Irawan mendengung, sebelum akhirnya bertanya, “Gus... Apa orang bertopeng Cepot itu... Berasal dari Kadipaten Senlin?”
“Wallohua’lam. Saya belum bisa memastikan. Jika pun demikian, itu tak penting,” ucapnya menghela napas. “Yang terpenting, adalah untuk mempersiapkan diri menghadapi mereka. Nubuat Negeri Manunggal, tak lama lagi akan terbukti.”
“Gus... bolehkah saya bertanya?” izinnya.
Mendengung lirih sedikit tersenyum, Gus Armi mengizinkan.
“Di manakah para remaja yang di ramalkan akan berjuang demi Negeri Manunggal? Dan, berapa jumlahnya?”
“Saya tidak tahu pasti berapa jumlah dan di mana mereka semua. Tapi, jika kau mencari salah satu di antara mereka, maka kau sudah bertemu beberapa. Salah satunya, yang sedang setengah sadar tergeletak di kasur,” jelasnya terkekeh kecil.
***
Pria bertopeng Cepot, berdiri di depan sebagian ruang penjara. Tempat gelap, lembab, dan bau itu, menjadi kurungan seorang kakek tua. Mbah Pur. Ia dan sang tahanan, hanya terpisah oleh jeruji besi penjara. Mbah Pur, tertunduk lesu menatap lantai hitam.
“Selamat malam, Sang Jawara,” sapanya tersenyum di balik topeng.
Tak merespon, sosok itu hanya diam tertunduk. Kedua tangannya di belenggu oleh rantai babi berwarna putih yang saling terkait. Benda yang mengikatnya, menahan dan menyerap energi sukmanya.
(Note; Rantai Babi: jenis pusaka/Mustika/Jimat yang di yakini sebagian masyarakat Nusantara kuno untuk ilmu kekebalan. Tetapi, bisa juga sebagai pembelenggu kesaktian tertentu.)
“Cucumu itu, cukup beruntung ya?”
Mendengar kata itu, Mbah Pur menoleh lirih.
“Entah apa yang kau ajarkan padanya, sehingga ia tak tahu menahu tentang potensi dirinya yang begitu besar,” imbuhnya memegangi jeruji besi. “Meski tekanan energi sukmanya samar, tapi pada jarak dekat, aku bisa merasakan sesuatu yang unik dari dalam dirinya.”
“Kau apakan Ni'mal!” bentak sang kakek.
“Tentu saja, tak aku sentuh dia. Dia, masih perlu banyak berlatih untuk bisa kami manfaatkan. Karena tangan kanan Prabu belum kunjung diketemukan."
Wuz!
Sang kakek melesat, membenturkan kepalanya tepat di jeruji besi penjara.
Dar!
Setelah besi sedikit bengkong, dahinya mengucurkan darah. “Jika kau berani menyakitinya...”
“Kau akan membunuhku? Hahaha .... sekalipun kau mampu menjebol jeruji besi penjara, semua pasukan keamanan akan segera datang kemari dan kembali menyiksamu.” Cepot membalik badan. “Semakin kau bersikeras, maka jangan salahkan jika aku memenggal kepala cucumu.”
Usai Cepot pergi, Mbah Pur berlutut tertunduk. “Ni’mal... Kakek di sini, Nak... tak perlu membahayakan dirimu, Nak....”