Cintailah prosesnya, maka kau 'kan menikmati hasilnya.
-Ki Panca
(Stasiun Kereta Kadipaten Senlin.)
Kereta jet putih, melaju pada rel yang berada seratus meter dari permukaan tanah. Dari dalam kereta super cepat, Mohammad Anis menikmati panorama kota padat di negeri Manunggal. Gedung-gedung pencakar langit bermacam warna dan ukuran, ia pandang. Sembari merebahkan punggung pada kursi empuk kereta, Anis mengambil ponsel dari saku celana.
-Temui Mister William di kedai kopi stasiun Senlin. Berikan benda itu padanya. Dan ingatlah bagaimana gerak-gerik wajahnya sejak awal kalian bertemu.
“Ki Ageng Jagat sendiri yang mengutusku untuk ini, dan bukan Raden Irawan yang diutus.” Ia memejamkan mata. Kembali di buka saat pengumuman kereta hendak sampai di stasiun Senlin.
Hal yang terakhir kali aku ingat, adalah kami di telan oleh bayangan, sebelum aku terbangun di Padepokan Gajah Putih pagi tadi ... sedangkan Raden Irawan dan Ni'mal, tak ada di sana. Ia mulai menaruh ponsel ke saku.
Semua orang di kereta, mulai berdiri, berbaris rapi mendekati pintu kereta. Dalam satu gerbong, hanya terdapat dua pintu di sebelah kanan dan kiri depan.
Anis, mulai melangkah keluar saat pintu gerbong terbuka otomatis.
Peron stasiun luas penuh oleh rombongan manusia. Ada belasan escalator tersedia. Anis, melangkah paling belakang di dalam barisan. Lantai stasiun berwarna putih, terbuat dari batu alam anti licin. Pemuda mancung bertubuh kecil, menyapu pandangan mencari letak kedai kopi.
“Di sini, Brother,” sapa seorang Bule jangkung, berambut pirang klimis tersisir ke belakang. Ia mengenakan kacamata hitam. Sosok itu menunggu Anis di samping ujung escalator.
“Anda, mister William?” balasnya.
Tersenyum simpul, ia mengangguk sekali. “Ki Ageng Jagat meneleponku semalam,” ucapnya membalik badan, menuntun. “Dia bilang, ada utusannya yang ingin menyampaikan pesan penting. Beliau juga mengirim foto wajahmu.”
Mereka berdua, masuk ke dalam sebuah kafe berdinding cokelat. Bertemankan temaram jingga lampu. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu. William, mengantar Anis ke sebuah meja ujung, dekat jendela besar-lebar tiga meter.
“Silahkan,” ujarnya mempersilahkan duduk, kemudian menyusul.
Dua porsi kecil pisang goreng dengan taburan buah ceri serta s**u putih kental, telah dingin. “Bagaimana, kabar Ki Ageng Jagat? Apakah sisa peserta Sayembara masih banyak kali ini?”
Belum Anis menjawab, seorang wanita berkostum pelayan, datang membawakan dua cangkir kopi hitam. Ia menaruhnya di hadapan mereka berdua. Dan saat ia pergi, Anis mulai menjawab.
“Total peserta di babak penyisihan Sayembara gelombang kedua, saat ini mencapai ratusan orang. Ki Ageng Jagat tampak begitu sibuk mengawal kegiatan ini.”
“Lalu... pesan apakah yang ingin dia sampaikan lewatmu? Sehingga dia tak berbicara saja langsung padaku?”
Merogoh saku celana, Anis memberikan plastik kecil bening yang membungkus sebuah chips komputer. “Apa Anda tahu mengenai itu?”
Menerima benda tersebut, William melepas kacamata hitam. Matanya masih saja fokus memandang benda di tangan kiri. “I-ini...”
Anis menyimak serius. Ia menantikan penjelasan.
“Dari mana Ki Ageng Jagat mendapatkannya?”
“Seseorang dari Gunung Suwung mengaku mengalahkan Makhluk Hitam. Ia yang memberikannya pada Ki Ageng Jagat.”
“Spesies Makhluk Hitam apa?”
“Ugel di lembah gunung suwung.”
Menaruh benda tersebut di meja, William mengangguk-angguk. “Sampaikan pada Ki Ageng Jagat. Aku akan menemui Tumenggung Kadipaten Senlin untuk menanyakannya. Usai seleksi Sayembara gelombang kedua, datanglah lagi kemari.”
“Baik, Mister.”
“Dan tolong, jangan sampai jumlah orang yang mengetahui tentang Chip ini bertambah. Ini adalah darurat negara siaga satu, paham?”
“Baik, Mister.”
¤*¤*¤
Langit biru pagi itu membentang luas beriring merdu nyanyian burung. Derasnya air terjun, terdengar mendesir di telinga penghuni rumah kayu. Ni'mal dan Raden Armi.
Kedua pria itu saling berhadapan. Ni'mal membelakangi pintu kayu. “Den, di mana Bongbong?” tanya Ni'mal pada sosok yang mulai duduk sila di depannya.
“Dia sedang berlatih. Ngomong-ngomong bagaimana sarapanmu tadi?” tanya Raden Armi.
“Daging tadi enak. Seperti makanan rendang khas Tarang, tapi teksturnya lebih lembut.”
“Itu tadi... Daging Kapri. Bongbong yang masak sebelum pergi berlatih.”
“Ka-Kapri? Maksudnya kambing setengah ikan yang liar itu? Makhluk Hitam waktu itu, kan?” Ni'mal melongo. “Apakah, Raden yang menangkapnya?”
Raden Armi tersenyum. “Yang menangkap tentu yang memasak. Setiap sebulan sekali Bongbong berlatih menangkap mereka.”
“Bo-Bongbong?” Ni'mal masih terkejut, terpintas wajah polos gadis berkerudung tersebut. Kalau begitu, Bongbong juga cukup kuat. Mustahil jika dia tak menguasai tenaga dalam. Gadis berjubah itu pun... cukup kuat meskipun masih begitu muda. s**l! Sepertinya aku yang masih tak bisa apa-apa! Jika saja Ki Ageng Jagat tak menitipkan cincin itu... aku sudah mati terpanggang kemarin! Pikirnya tertunduk.
“Hakikatnya bukan karena cincin... Tapi, karena Gusti Alloh masih memberikanmu pertolongan,” tanggap Raden Armi. Ia mendengar pikiran Ni'mal. “Terus kapan kamu mau belajar Kanuragan?”
(Note; Kanuragan: Ilmu beladiri secara supranatural.)
La-lagi? O-orang ini... benar-benar membaca pikiranku! Sebenarnya siapa dia?
“Lhoh kok malah melamun? Kapan kamu siap belajar Kanuragan?”
Mendengung ragu, Ni'mal berpikir. Kenapa hatiku.. berdebar ya?
“Mau belajar Kanuragan, ndak?”
Ah! Kalau tak segera bergerak, lalu kapan lagi! Pikirnya. “Baik, Raden... Saya siap!”
Menaikan alis kanan, Raden Armi tersenyum. “Bener, siap?”
Diam dua detik, Ni'mal lalu mengangguk. “Siap, Den!”
Blak!
Raden Armi melompat melayangkan tendangan putar kaki kiri. Tepat mendarat di pipi Ni'mal, membuatnya terpental. Usai menendang, Raden Armi kembali dalam posisi sila.
“Duh Gusti!” serunya memegangi luka di pipi.
“Katanya siap?” tanya Raden Armi tersenyum. Kini, kedua tangannya, menyangga badan.
Masih memegangi pipi, Ni'mal lengah. Pipinya yang lain kembali jadi sasaran tendang, membuat tubuhnya terlempar keluar pintu.
Blak!
“Waduh Gusti!”
“Kalau siap, yo siap!” Raden Armi, menyangga tubuh hanya dengan tangan kanan. Kedua kakinya diayunkan satu arah-dari samping, secara bersamaan ke kepala Ni'mal.
Tendangan kali ini, lebih kuat dan cepat dari sebelumnya. Dengan mata terbelalak, Ni'mal segera menutupi kepala menggunakan kedua tangan. Dirinya, sudah berada di halaman rumah.
Blag!
Ni'mal kembali terjungkir ke belakang, terguling begitu dekat ke jurang di samping kanan. Gerakannya lebih cepat dari Makhluk Hitam manapun yang aku lawan! Terbesit, ingatan ketika ia berbicara dengan Bongbong, bila Raden Armi adalah mantan pelatih Satria Manunggal. Jika begitu, dia lebih kuat dari gadis api yang aku lawan kemarin!
Berdiri tegap, sosok pria dengan ikat kepala dan celana hitam, menggeleng lirih. “Apa kau ingat, apa yang saya sampaikan sebelum kau melawan Makhluk Hitam?” Sosok itu melangkah perlahan, mendekat setelah memakai alas kaki.
Baru Ni'mal mencoba mengingat-ingat, fokusnya buyar saat Raden Armi melesat cepat mengarahkan tinju kanan dan kiri beruntun. Beberapa kali Raden Armi meluncurkan ayunan siku dan kaki, membuat Ni'mal mundur ke samping menjauhi jurang.
Blak!
Raden Armi berhasil menendang dorong Ni'mal hingga tersungkur ke tanah lembap. “Berpikir sembari bertarung, atau bertarung sembari berpikir?”
Gerakannya cepat! Serangannya kuat! Apa yang bisa aku lakukan?
“Kau menghancurkan seekor Ugel dengan satu pukulan, dan juga meremuk keris sakral luk lima yang tertancap di tubuhnya. Raden Irawan pun berkata kau menebas leher Ugel raksasa. Bagaimana kau melakukannya? Kok malah bingung!”
Dia benar! Tapi aku sama sekali tak tahu apa yang aku lakukan, sehingga bisa berhasil! Pikir Ni'mal masih dalam kuda-kuda.
Menepuk dahi, Raden Armi terkekeh. “Hadeh... Mau tahu, apa Ajian yang digunakan Bongbong untuk menangkap seekor Kapri?”
Menaikan alis kanan, Ni'mal penasaran.
Wuz!
Raden Armi bergerak begitu cepat, kini ada di samping kiri Ni'mal. Tak berlama, ia menempelkan jari telunjuk pada tangan Ni'mal.
Bzzzt!
Tangannya tersetrum. Ni'mal spontan melangkah mundur, memegangi tangannya yang kesemutan. Kedua kakinya, turut gemetaran. Napasnya terengah. Li-listrik? Gadis itu... memanipulasi listrik?
“Bongbong perlahan mengerti tentang alam. Manusia, sejatinya bagian murni dari alam.” Raden Armi menghela napas. “Manusia di jaman ini, mulai melupakan itu semua, bahwa segala sesuatu adalah hal murni yang mana amat mungkin terjadi. Qun fayaqun!”
(Qun fayaqun: terjadi, maka terjadilah)
Mengatur napasnya, Ni'mal mengepalkan erat tinju. Terbesit, yakin yang ia rasa, ketika menghadapi para Makhluk Hitam. “Benar! Aku hanya perlu yakin!” serunya melesat maju mengarahkan tinju.
Lima bogem mentah Ni'mal, tertangkal oleh sapuan tangan Raden Armi. Pria mancung berikat kepala hitam, memutar-mutar badan Ni'mal. Ke kiri, ke kanan, lalu mendorong punggung pemuda tersebut, kuat.
Wung!
Pemuda bernetra cokelat, kembali terjerembap ke tanah lembap.
Melihat Ni’mal kesakitan, Raden Armi mengatur napas perlahan. “Yakinmu saja, belum tentu cukup untuk mengalahkan musuh. Kau harus mempelajari dasar kuda-kuda bela diri, juga filosofinya untuk menambah yakinmu.”
“Mohon ajari saya, Raden!” pintanya bangkit, lanjut berlutut.
“Ambil tasbih di ruang tengah. Baca Istighfar tiga ribu kali di bawah lembah tempat para Kapri berkerumun, nanti malam.”
“Ti-tiga ribu? Dzikir?” Ni'mal terbengong.
“Seorang pendekar sejati, harus mampu bermeditasi. Meskipun kau kuat, tapi ketika bertarung mudah panik, maka percuma. Carilah ketenangan dalam dirimu perlahan,” jelasnya lalu membalik badan. “Dan ingat, pejamkan mata ketika memulainya. Kalau kau membuka mata, maka kau gagal. Wajib mengulang dari hitungan awal!”
¤*¤*¤
Derap langkah rombongan membuat Anis dan William melongok ke luar jendela. Tepatnya seratus meter di bawah mereka, lalu lintas padat berhenti. Rombongan Prajurit Manunggal, berlari naik menuju pusat stasiun.
Anis, memejamkan mata, mencoba merasakan adanya aura Makhluk Hitam. Ia terdiam selama tiga menit sembari mengatur napas. Sedangkan William, segera mengambil ponsel, menelepon seseorang. “Halo? Mengapa begitu banyak Prajurit Manunggal menuju stasiun?”
“Pak, Seseorang dilaporkan telah menyusup dan membawa pergi Batu bertuah!”
Menaikan alis, William bertanya memastikan. “Maksudmu dia menyusup masuk ke dalam lab?”
“Be-benar, Pak!”
Mendengar obrolan, Anis membuka mata.
“Apakah dari pantauan kalian hanya satu orang?” tanya William lagi.
“Ya, Pak! Dia terbalut kain batik hijau tosca. Dari lekuk tubuh, sepertinya perempuan, Pak... Dia, sepertinya pengguna tenaga dalam. Wajahnya remang dalam pantauan mata kamera pengintai dan kami pun, tak bisa menatap jelas wajahnya, Pak!”
Kembali melongok ke jendela, William mencari sesuatu. “Lalu, kenapa tak ada SM yang kemari? Apa kalian tak meminta bantuan?”
“Su-sudah, Pak! SM terdekat sedang menuju ke stasiun.”
Mematikan telepon, William berdiri. “Ini bukan tanggung jawabmu. Carilah tempat yang aman, aku harus melakukan sesuatu,” ucapnya berlari keluar kafe.
Bungkam, Anis menyusul langkah William saat sosok bule itu telah jauh, namun masih terlihat dalam jarak pandang. Anis, turut melihat sekitar, mengamati beberapa Prajurit Manunggal yang terbalut busana bercampur logam. Para pasukan khusus yang dipersenjatai dengan senapan dan bom khusus.
Batu Bertuah, aku seperti pernah mendengar nama itu dulu ... tapi, sepertinya benda itu begitu penting sampai-sampai Prajurit Manunggal semuanya menuju kemari! Pikir Anis.
Suara dari speaker stasiun, berbunyi memberikan perintah, kami mohon, untuk para calon penumpang, tetap tenang dan segera berjalan naik dari area peron! Saya ulangi, bagi para calon penumpang kereta, di mohon untuk menyingkir dari area peron. Prajurit Manunggal sedang melakukan tindak pemeriksaan.
Berdiri di samping escalator, Anis terus menoleh ke sana-kemari. Dari jarak tiga puluh meter, ia melihat William tengah berbincang tegang dengan lima orang Prajurit Manunggal. Satu di antara prajurit, menatapnya balik. Haruskah aku menelepon Ki Ageng Jagat untuk memberikan informasi? Batinnya.
Baru Anis hendak merogoh saku celana, PM yang menatapnya balik, kini berlari ke arahnya. Disusul empat anggota lain, juga teriakan William ke arahnya.
Lengannya, di dorong oleh seseorang dari belakang. Ketika ia menoleh ke arah tangan yang menyentuh, kedua matanya tak bergeming memandang wajah seorang gadis. Gadis mancung bermata jeli, berambut panjang, dengan busana hitam. Kain bak jarit bermotif batik sunda hijau tosca, cukup lebar nan panjang menutup sebagian tubuh.
“Permisi!” seru si gadis berambut panjang.
Berpikir cepat, Anis sadar bila gadis itu adalah yang diincar PM. Cet! Anis sigap memegang tangan si gadis. “Berhenti!”
Menoleh ke belakang, gadis itu menaikan kedua pundak, dengan bola mata melirik ke atas. “Maaf, tapi aku tak punya banyak waktu menjelaskan kenapa aku di kejar PM.” Gadis itu, lanjut melompat turun, lepas dari pegangan Anis. Dia... Pengguna tenaga dalam ya, sampai bisa lihat wajahku...
Sang pencuri dengan batik hijau, berlari ke arah rel kereta. Ia mengayuh kakinya cepat saat rombongan PM mulai membidik dari jarak tiga puluh meter.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Hujan peluru mengejarnya. Sang gadis tetap berlari tangkas di atas rel kereta. Makin cepat, makin jauh. Jeritan para pengunjung stasiun memecah suasana. Mereka berdesakan berlari ke arah jalan keluar, meski sebagian segera mengabadikan momen lewat ponsel genggam.
Anis memilih berlari turun mengejar sang gadis. Jika aku menangkapnya, aku yakin akan menjadi bukti bersejarah! Pikirnya berlari mengejar. “Ajian Raga Wesi!” serunya mulai memasuki wilayah yang ditembaki.
William, berteriak memintanya berhenti mengejar. Namun, suaranya terhalang bunyi desingan senapan. Belum lagi, para PM tak berhenti menembak.
Tar! Tar! Tar!
Timah panas yang menerjang tubuh Anis, justru terpental. Namun busana yang ia kenakan, tergores sobek. “Hai maling! Berhenti kau!”
William, merogoh saku ponsel ketika benda itu bergetar. Kontak bernama Mr.R memanggil. Ia, segera menjauh dari para prajurit yang terus menembak. Agar suaranya terdengar. “Halo?”
“William, pergilah dari stasiun, sekarang. Waktumu hanya beberapa menit sebelum dia sampai!”
Baru beberapa saat si penelepon menyelesaikan kalimat, semua tembakan berhenti. Tak ada lagi bunyi dentuman senapan. Justru, teriakan para pasukan yang ia dengar. Mereka berlari menuju pintu keluar stasiun.
William, matanya terpana. Tubuhnya gemetar. Sesosok monster, berdiri di ujung rel kereta stasiun. Menghadang gadis pencuri dan Anis.
Makhluk dengan tinggi dua meter, berbadan kekar, atletis berkulit abu-abu, berkepala elang. Kakinya bercakar. Sayapnya lebar membentang seperti kelelawar. Matanya, merah menyala. Kepalanya bak rajawali.
¤*¤*¤
Langit malam membawa dingin angin. Purnama sesekali meredup oleh awan yang bergelantungan. Hilir sungai serta bunyi katak menjadi nyanyian kegelapan.
Tepat di lembah hijau dulu ia menghancurkan Ugel. Ni’mal duduk bersila. Tubuhnya terbalut kaos putih dan celana hitam milik Gus Armi. Ni'mal, memutar tasbih kayu hitam. Ia terus memejamkan mata, meskipun suara langkah beserta sesuatu yang terarak di rumput, mendekatinya. Tenanglah, Ni'mal ... itu hanya seekor Kapri! Dia tak akan menyerang selagi kau tak menggangunya!
Empat ekor Kapri, terdiam di dekat pohon mangga, tidur. Seekor Kapri bertanduk besar, terus mendekatinya. Makhluk itu, mengedus lirih di dekat telinga Ni'mal.
Meski begitu, ia tetap membaca istighfar dengan mata terpejam. Ia telah mengulang hitungan dzikir berkali-kali tadi. Gambaran paranoid terhadap hal horor, beberapa kali mengusik.
Hawa malam, menembus kain baju yang ia kenakan. Ni'mal, terus membaca istighfar tanpa henti kali ini. Napasnya, selalu ia atur tenang saat jantung berdetak tak menentu. Hingga tiba-tiba, sesuatu menepuk pundak kiri.
Sesosok wanita dengan mata melotot dan wajah rusak, tersenyum sembari berbisik lembut, “Mas...”
Dag deg!
Menoleh ke kiri, Ni'mal terkejut oleh penampakan sosok astral. Ia menggeser badan cepat, berteriak, “Astaghfirulloh hal adzim!”
Akibat gerakan spontannya, Kapri di samping tadi menjerit kaget, lalu mengayunkan ekor ikannya ke arah Ni'mal, lanjut berlari ke arah kerumunan yang tertidur.
Melihat Ni'mal terjungkal, sang kuntilanak tertawa lantang, sembari terbang menjauh, lalu menghilang di langit malam.
Memegangi perut, Ni'mal menggerutu kesal, “Woalah j****k! Setan gembleng gak punya akhlak!"
¤*¤*¤
Menggembungkan kedua pipi chubby, Gadis dengan kain lebar batik hijau tosca menekuk kedua tangan di depan d**a. “PM begitu payah, ya? Sampai-sampai melepaskan binatang hasil percobaan untuk menangkapku?”
Anis yang sempat tercengang memandang wujud sang makhluk besar berkepala elang, kini menoleh ke arah gadis di samping kanannya. “Jadi makhluk ini... milik PM?”
“Sebaiknya kau lari, kau tak akan bisa mengalahkan makhluk ini tanpa api gaib ataupun PLM,” ucap sang gadis melaju ke arah sang monster.
“PLM? Apa itu! Hey!” Anis memanggil. Jika aku lari dan Makhluk Hitam itu tak ditumbangkan, dia akan mencelakai banyak orang!” Anis kembali mengatur napas.
Sang gadis misterius berpostur tinggi, melompat di udara. Ia, berputar-putar bak beliung, lalu mendaratkan kaki kanan di tubuh kekar sang monster.
Blag!
Makhluk itu menangkis, meski sedikit terdorong ke samping. “Raaaaaark!” raumnya membalas dengan tangan kanan.
Saat tangan si monster datang, gadis berambut panjang, menarik lipatan batik hijau tosca. Ia, membuatnya sebagai cambuk untuk menepis tangan besar lawan.
Splat!
“Aku tak bisa mengalahkanmu sekarang, tapi kau tak bisa mencegahku kabur!” Melakukan tendangan dorong, gadis itu membuat sang monster melangkah mundur. Ia menoleh ke atas peron, lalu membuat selendang batik panjangnya sebagai jangkar untuk melesat naik. Selendang hijau itu, seolah memanjang.
Lanjut menatap langit-langit stasiun yang terbuat dari beton, gadis itu melingkar-lingkarkan kain pada tangan kanan sembari jongkok.
Saat sang manusia elang melayang cepat menyambar, gadis itu telah melompat tinggi, menjebol langit-langit gedung.
Brall!
Ia terus melambung di angkasa. Gadis itu menoleh ke bawah saat manusia burung bertubuh abu-abu, mengejar dari bawah.
“Hyah!” Gadis itu mengayunkan tinju keras ke kepala monster.
Blam!
Membuat sang Makhluk Hitam terjun cepat, kembali masuk ke dalam gedung stasiun.
Si gadis, kini bersiul dengan tangan kiri. Keras. Selang lima detik, sesosok burung berukuran sebesar mobil, melayang menjadi bantalan dirinya. Burung itu berwarna biru kehitaman, dengan corak putih di dahi. Ras burung blue robin sunda.
Brall!
Di dalam stasiun, Anis terkejut melihat monster abu-abu bersayap terjatuh tepat di hadapannya. Si-s**l! Ia, menoleh ke arah pintu keluar di atas, tepat beberapa langkah di dekat escalator.
Tap! Tap! Tap! Tap!
Langkahnya terburu-buru, menaiki jalur exit. Hingga...
Blam!
Sang monster besar, melayang cepat dan mencegahnya pergi. Anis, matanya terbuka lebar. Tubuhnya gemetar, terlebih saat genggaman lebar tangan sang monster merengkuh tubuhnya dalam satu genggaman. Semakin ia menjerit, semakin si monster mengeratkan genggaman tangan.