Splat!
Selendang batik hijau panjang, menyabet dan membalut kepala Makhluk Hitam berkepala elang dari belakang. Gadis yang di teriaki maling, lalu menarik kuat selendang hijau tosca, membuat sang monster tertarik ke belakang, jatuh ke jalur rel dan melepaskan Anis dari cengkeraman.
Melompat lalu terbang masih dengan selendang menutup wajah, Makhluk Hitam itu melayang menabrak menembus tembok beton langit-langit. Gadis itu, spontan menarik selendangnya ke bawah, membuat tubuhnya melejit naik, sampai setara dengan kepala Makhluk Hitam.
Ia, memutar badan tiga kali, sebelum meluncurkan tendangan tumit dari atas ke bawah.
Bam!!
Serangannya kembali membuat Makhluk Hitam jatuh turun. Mendarat keras di rel.
Anis yang lagi-lagi terkejut oleh jatuhnya sang monster, terdiam bingung. Hingga tiba-tiba, burung blue robin besar piaraan si gadis, menerjang masuk lewat dinding kaca stasiun. Burung itu, menabrak mencengkeram Anis, terbang keluar gedung.
Sang gadis dengan selendang batik di tangan, kembali mendarat di punggung burung blue robin raksasa. “Empat hal yang paling aku benci di dunia. Manusia yang tak percaya pada Sang Maha Pencipta, Penindasan, lelaki m***m, dan lelaki lemah!”
***
(57 jam kemudian.)
“Duuhhh Gustii!” Ni'mal menjerit sebal sembari merebahkan diri berbantal rumput hijau tebal. “Jiaancuuk! Setan wadon gak ada akhlak!”
teriaknya menatap langit pagi. Ia masih berada di dekat kawanan Kapri yang sedang memakan rumput.
Tap!
Raden Armi, dengan busana serba hitamnya, melompat turun menghampiri Ni’mal. “Bagaimana? Belum tuntas juga?”
Mengambil posisi duduk, Ni'mal menjelaskan, “Kepripun bisa kelar, Den. Kalau bukan kapri yang buat was-was, si kuntilanak itu yang buat kaget...”
(Kepripun: bagaimana)
Raden Armi tertawa. “Bagus dong...”
“Bagus kepripun, Den. Saya jadi mengulang berkali-kali begini. Padahal, cuma tiga ribu... tapi, di bacaan yang ke dua ribu, selalu saja buka mata!”
“Jangan lebay begitu. Lihatlah hikmahnya. Tiga malam berturut-turut kau berdzikir mencari ketenangan batin di sini. Justru, karena kau istiqomah mengulang dzikir, dalam satu malam kau jadi baca ratusan bahkan ribuan kali, kan?”
Termenung, Ni'mal baru sadar. Benar juga, ya? Tiga ribu istighfar terdengar begitu berat di awal. Tapi sekarang, itu terdengar mudah.
“Nah, sekarang bangkit. Berdirilah!” Raden Armi mundur tiga langkah.
Menurut, Ni'mal membersihkan celana hitam yang lembap. Apakah aku akan di mintanya untuk bertarung?
“Gerakan sholat yang pertama, bagaimana?” tanya Raden Armi.
Gugup, Ni'mal menaati. Ia, melakukan takbiratul ikhram. Punggungnya tegap, lurus.
“Secara filosofi, itu mirip huruf Hijaiyah. Alif. Lurus, perlambang keadilan. Namun dalam filosofi orang Jawa, berdiri tegap, ibarat api yang berkobar menyala. Semua manusia memiliki simbol api dalam diri. Jantung, adalah organ pelambangannya,” jelas Raden Armi.
Mendengar penjelasan, Ni'mal merinding. Beliau benar...
“Lalu, gerakan kedua, apa itu?” tanyanya sembari melangkah ke samping Ni'mal.
Pemuda berkaos putih itu, kini rukuk.
“Mirip seperti huruf Hijaiyah yang disambung. Kha. Yang mana jika orang Jawa bilang, itu adalah simbol dari unsur angin. Organ pelambangannya, adalah paru-paru. Berembus, memberi hormat pada Sang Kuasa,” jelasnya.
Lagi, Ni'mal merinding seketika. Be-benar!
“Selain posisi tegap dan rukuk, lalu apalagi?”
Ni'mal, bersujud. Mencium tanah berumput.
“Benar. Huruf Hijaiyah Mim. Simbol dari air. Ini, adalah gerakan yang paling saya suka. Kenapa? Karena ini adalah filosofi air. Mengalir... Tak peduli apapun kesulitan dan hambatan, bersujud dan pasrahlah pada sang maha kuasa. Ikhlas. Filosofi Jawa lainnya, koyo wong ngising. Sudah keluar dari badan, ya lepaskan. Masa iya kotoranmu mau kamu simpan meski sudah keluar dari ususmu?”
(Note; Ngising: buang hajat)
Ni’mal, menahan tawa masih dalam posisi bersujud. Tubuhnya tak henti-hentinya merinding mendengar arti filosofi sang guru.
“Lanjut. Sekarang, gerakan i'tidal.”
Ni'mal, kini duduk dengan posisi akhir sholat. Kepalanya menoleh ke arah Raden Armi yang berdiri di samping.
“Huruf Hijaiyah Dal. Atau filosofinya gunung. Organ dalam tubuhnya, adalah usus. Gerakanmu itu juga di artikan sebagaimana bumi. Keras. Teguh. Sabar. Tetap kuat mempertahankan kebaikan-kebaikan diri.”
Ni'mal memandang lurus. Kini, ia paham. Wajahnya semringah. “Ta-tapi, Raden... Bagaimana cara saya menyangkut-pautkan gerakan ini dengan bela diri?”
“Yang jelas, pendekar sejati harus tahu dan mampu menerapkan filosofi ini dalam hidup. Agar kelak, dia bisa paham betul apa tujuan-Nya menciptakanmu. Kalau sangkut-pautnya pada bela diri... kau harus cari tahu artinya sendiri.”
Bernapas lemas, Ni'mal memutar badan menghadap Raden Armi. “Apa yang harus saya lakukan, agar saya tahu?”
“Nak, jangan bertanya Apa yang harus saya lakukan agar saya tahu? tapi berkatalah dengan yakin; Saya harus melakukan sesuatu! Allohuma ya Alloh, berikanlah hamba hidayah agar hamba paham.”
Bangkit, Ni'mal menghela napas dalam.
“Sekarang, sudah paham, kan?”
“I-insyaalloh, Den ....”
“Ingat, jangan melukai wanita. Apalagi hatinya,” ucapnya memberi saran. “Baik. Kalau begitu, lanjutkan seleksi Sayembaramu. Lakukan semampu dan sebaik kau bisa. Aku menunggumu di sini.”
Tertunduk, keraguan dalam hatinya masih berkecamuk. “Ta-tapi... Saya merasa tak mam–”
Belum Ni'mal menyelesaikan kalimat, Raden Armi memegangi punuk dan lengan kananya, sembari berkata, “Kau adalah muridku, jika kau menyelesaikan Sayembara ini.”
Wung!!
Raden Armi, melempar tubuh Ni'mal ke sungai. Pemuda bermata cokelat terang, hanya berteriak panik ketika tubuhnya di hempas kuat.
"Huaaaa!"
***
Gedung Pemerintahan Kadipaten Cidewa Hideung.
Pada pagi hari yang cerah, rombongan peserta Sayembara perempuan, tengah berendam di kolam renang khusus wanita. Mereka, mengenakan kemben sebagai penutup aurat.
Kolam renang berlantai putih, dengan panjang lima puluh meter, dan lebar dua puluh meter, berhiaskan kursi kayu di pinggiran. Dinding pemisah area kolam dari halaman tengah keraton, cukup panjang dengan tinggi tiga puluh meter.
Tujuh belas tahun, adalah usia yang paling muda di sana. Mereka semua, membilas lengan sembari bercanda dan tertawa. Tak ada yang berendam di tengah kolam, semuanya di pinggiran. Jumlahnya ada tiga puluhan.
Sesosok gadis yang beberapa hari lalu tampak bertarung melawan Makhluk Hitam berkepala elang, sibuk membilas rambut hitam panjangnya dengan air. Matanya terpejam. Kemben yang ia gunakan, adalah selendang hijau tosca yang juga ia pakai untuk melawan Makhluk Hitam.
“Bwahhhh!!!”
Ni'mal, mendadak muncul di tengah kolam renang. Napasnya terengah kehabisan oksigen. Merem-melek, ia mengusap wajah sembari melihat ke sekeliling.
Baru tiga detik membuka mata lebar, ia terkejut melihat dirinya berada di tengah kolam renang wanita. Ya Alloh Gusti? Ini bukan mimpi?
“Kyaaaaaa!”
Para wanita menjerit histeris, mengetahui adanya lelaki di tengah kolam. Gadis-gadis itu pun, memeluk dirinya sendiri, meski kemben panjang sampai lutut telah jadi penutup badan.
Ni'mal, dengan hati was-was dan kacau, berenang ke tepian kolam. Walah Gusti! Kok bisa begini? Kacau bener Raden Armi!
Tep...
Baru ia memegang ujung lantai kolam renang, tangannya terikat oleh jarit hijau. Ni'mal, menoleh ke arah selendang panjang berasal. Pada jarak tiga belas meter, seorang wanita berambut panjang, terbalut kaos dan celana hitam pendek basah, memandangnya muram.
“Dasar m***m!” serunya jengkel, menarik Ni'mal keluar kolam.
Weg!
Ketika Ni'mal tertarik cepat ke arahnya, gadis tersebut memutar badan, melayangkan tendangan keras di perut Ni'mal. Pemuda dengan tubuh basah itu pun, menabrak tembok pemisah area kolam renang.
Brag!
“Beraninya kau menyusup ke kolam khusus wanita!” Lagi, gadis itu menarik tubuh Ni'mal dengan selendang panjang yang masih melekat pada tangan Ni'mal.
Para wanita di sana, bergegas lari masuk ke dalam gedung. Meninggalkan gadis galak yang menghajar Ni'mal.
Lagi, gadis berambut panjang bermata cokelat, memutar badan, lanjut menendang Ni’mal ke arah sebaliknya.
Blag!
Ni'mal, kini terkapar jauh di seberang kolam. Ia, memegangi perutnya yang kesakitan. Darah pun keluar dari mulutnya. Wajahnya merem-melek.
Raden Irawan, dari dalam gedung, berlari cepat bersama dua orang pemuda. Teguh dan seorang pemuda emo berkulit cokelat berjerawat. Mereka terkejut pada Ni'mal yang terkapar muntah darah di sisi kolam renang. “A-ada apa ini?” tanya Teguh.
“Ni'mal, kan?” tanya Raden Irawan memastikan.
Gadis berambut panjang, melompat tinggi, dalam sekejap berada di samping Ni'mal. “Kau sebut dirimu peserta Sayembara? Dasar lelaki m***m!”
Memandang wajah gadis cantik itu, kedua telinga Ni'mal berdenging hebat. Ia, tampak mimisan.
Teguh dan kawannya, serempak bersuara, “Wahhh! Parah! Ngga nyangka Ni'mal piktor begini sampai-sampai mimisan lihat perempuan.”
***
“Bagaimana bisa kalian bertarung di wilayah Keraton ini?” Intonasi Ki Ageng Jagat meninggi di hadapan Ni'mal dan gadis berambut panjang beralis hitam. “Boleh sesama peserta Sayembara bertarung, tapi di luar area keraton Kadipaten!” imbuhnya.
Kedua orang itu, terdiam. Ni'mal, menunduk memegangi perut. Sedangkan gadis itu, menggembungkan kedua pipinya, sebal.
“Dia berenang di kolam renang wanita!” ucapnya menunjuk Ni'mal dengan pandangan tertuju pada Ki Ageng Jagat.
“Benar begitu, Ni'mal?” tanya Ki Ageng Jagat lirih.
Menatap sosok tua berkumis putih, Ni'mal mengangguk lirih. Sembari berkata, “Raden Armi melempar saya ke sungai lembah Gunung Suwung, dan saat sadar, saya sudah di tengah kolam, Ki.”
Gadis itu tercengang mendengar penjelasan Ni'mal. “Ka-kau? Be-beraninya! Da-dari mana kau kenal guruku! Beraninya kau memfitnah beliau!” tegasnya mencengkeram kerah kaos Ni'mal.
Setelah menatap dalam mata cokelat terang Ni'mal sejenak, Ki Ageng Jagat terkekeh lirih. “Masyaalloh... Gusti nu Agung... aya-aya wae...”
Menatap kembali ke arah Ki Ageng Jagat, Gadis itu masih jengkel. “Kumaha? Kakek percanten cariosan si meusum eta? Kek, nu leres we, maenya we kakek ngamaklumkeun kalakuan si m***m anu nyusup kana kolam renang wanita!" (Apa? Kakek percaya ucapan si m***m ini? Kek, yang benar saja, masa kakek memaklumi perbuatan si m***m yang menyusup ke kolam renang wanita!)
Menarik napas dalam, kemudian tersenyum, Ki Ageng Jagat memandang cucunya balik. “Puspa Arumi, Kakek yakin kau sudah paham bagaimana cara gurumu memindahkan seseorang dengan melemparkannya ke dalam air. Kau sendiri juga pernah, kan?”
“Mbung lah! Kakek meni jahat!" Gadis itu, beranjak pergi dengan raut sebal. Meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata.
Menghela napas berat, Ki Ageng Jagat memperhatikan tangan Ni'mal yang memegang perut. “Tulang rusukmu retak. Kau butuh istirahat total. Aku yakin tulang rusukmu akan pulih saat seleksi Sayembara nanti. Beristirahatlah...”
“I-iya, Ki... Terima kasih....”
Segera menyodorkan selembar kertas, Ki Ageng Jagat mengambil pena di saku celana. “Ini surat perjanjian Sayembara. Bacalah, lalu tanda tangan jika kau setuju. Harusnya tiap peserta menandatangani ini sebelum seleksi Sayembara pertama. Berhubung kau ikut Sayembara secara spesial, jadi baru waktu ini saya berikan. Bacalah.”
Membaca dengan teknik skimming, Ni'mal terpaku pada beberapa poin,
1.Jika peserta mengundurkan diri, maka peserta dinyatakan gugur seketika.
2.Jika peserta meninggal, maka uang kompensasi akan di berikan kepada keluarga pihak yang bersangkutan
3.Jika peserta mencederai rekan tim sendiri, maka ia gugur seketika.
Ni’mal mengangguk mantap. Ia paham jika seleksi Sayembara ini sudah pasti mengorbankan nyawa peserta yang kurang beruntung. Tangan kanannya, menandatangani surat tersebut.
Ia menghela napas, usai bertanda tangan.
Ketika Ni'mal berdiri, membalik badan lalu berjalan, Ki Ageng Jagat berkata lirih, “Yah siapa tahu tulang rusuk kirimu juga ketemu. Tapi, kalau kamu suka. Hahaha ....”
***
Ni’mal, terbaring lemah di kamar penginapan. Kasur putih empuk, menjadi tempatnya dan Teguh juga Raden Irawan berbaring. Dari jendela kamar yang gelap, temaram sinar bulan menembus masuk.
Tak seperti Raden Irawan yang sedang memejamkan mata, Teguh dan Ni'mal masih terjaga. Pemuda berkaos putih, terus memegangi perut. Ia telah menceritakan semua perjalanannya pada Teguh.
“Wah! Jadi sekarang kau sudah sakti!” celetuk Teguh meringis. “Aku yakin, kau bisa lolos babak seleksi Sayembara dengan mudah, tanpaku.”
“Aku akan mengakui pujianmu, jika saja aku bisa tahu, bagaimana caraku mengalahkan lawan.”
“Tapi tetap saja, kau makin kuat. Sampai-sampai menghancurkan Makhluk Hitam jadi berkeping-keping.”
Ni’mal, menarik selimut. Menghela napas. “Entahlah. Raden Armi tak detail memberitahuku bagaimana bisa aku melakukannya.”
Raden Irawan, bersuara dengan mata terpejam, “Gus Armi, tak mau kau mengingat hal-hal yang berdampak buruk bagimu.”
Ni'mal menoleh, “Maksudmu?”
“Apa kau tahu, siapa gadis tadi beserta asal-usulnya?” tanya Raden Irawan membuka mata. Teguh terdiam menyimak.
Wajah gadis mancung dengan rambut panjang, terbesit di kepala. Telinga Ni’mal berdenging lirih, mencoba mengingat. “Dia? Cucu Ki Ageng Jagat, kan?”
“Lalu?” Raden Irawan menaikkan alis kanan.
Cairan merah kental, mengalir melalui dua lubang hidung. Ia masih coba mengingat. Hingga Teguh, menekan dahi Ni’mal agar lebih rendah dari badan, bermaksud mencegah darah mengalir. “Kau mimisan!” serunya.
Kembali memejamkan mata, Raden Irawan menarik selimut. “Usai Sayembara, tanyakan pada Gus Armi tentang ini.”
Teguh, bertanya, “Jadi Raden Armi itu... Putra Kyai, kah? Kenapa beliau berjuluk Gus?”
“Benar. Putra dari Kyai besar Kadipaten Sunyoto.”
***
Pada malam yang dingin, angin bertiup masuk melalui jendela ruangan introgasi Ni'mal dan Puspa tadi. Cahaya terang lampu putih pijar di langit-langit membuat ruang padhang.
(Padhang; terang)
“Astaghfirulloh hal adzim... mengapa batinku tak enak? Ada apa ini?” Ki Ageng Jagat, duduk menghadap meja kursi. Ia menyeruput kopi hitam pahit, lalu mengisap tembakau di tangan kiri.
Pelan, ia menoleh ke jendela ruangan yang terbuka. Seekor burung elang jawa, melayang kemudian bertengger di sana. Nampak sepucuk surat ia bawa.
Menaikkan alis, Ki Ageng Jagat beranjak mendekati sang burung. “Surat dari Keraton Utama?” Ia mengambil, lalu membuka.
Setelah membaca, ia menghela napas. “Jadi, seleksi Sayembara dimajukan besok, ya? Tapi, apa hanya karena ini, batinku merasa tak tenang?”
***
Ni'mal, dan regu tim, berada di hamparan luas padang rumput. Dalam radius lima ratus meter di depan sabana hijau, hutan lebat nan gelap menghadang. Pepohonanya menjulang begitu tinggi, sampai tiga puluh meter. Dedaunan lebat yang hijau, tak membiarkan sinar mentari masuk ke dalam hutan. Hampir tiada celah di antara atap hutan.
Di samping kanan dan kiri, depan dan belakang, ratusan rombongan regu seleksi Sayembara, turut berbaris.
Ni'mal, Raden Irawan, dan Anis, kini mengenakan seragam hitam serupa. Nama mereka terukir di punggung kaos. Sabuk Raden Irawan, dan sabuk Anis, terpasang sarung keris. Di tangan sang pria berkumis tipis, terdapat badik.
Raden Irawan, bertanya pada Ni'mal, “Sebelum aba-aba berbunyi, aku mau kau menjawab dengan jujur perihal pertemuan kita dengan Cepot.”
Menoleh balik, Ni'mal mengangguk. Di tangan kanannya, ia pegang sebilah keris luk tiga. Tak terlalu panjang, hanya berukuran tiga puluh lima sentimeter.
“Apa kau, merasakan tekanan tenaga dalam para lawan sehingga kau bergerak lebih dulu, saat Anis hendak di terjang anjing itu?”
“Tidak.”
Anis, kini turut penasaran bertanya, “Lalu, bagaimana kau bisa tahu?”
Ni'mal menghela napas. “Sewaktu kalian berdebat, aku mendengar derap langkah sesuatu. Dan, aku juga mencium aroma tubuh seseorang lain. Bukan kalian.”
“Ha?” Anis terkejut, sedangkan Raden Irawan melirik berpikir.
“Apakah... Gus Armi pernah bercerita tentang... Sapta Indra?”
Deg!
Ni’mal menganga teringat pada pesan Gus Armi yang terlupa. “Iya! Itu dia! Beliau memintaku untuk memakai Sapta Indra sebelum aku melawan Ugel! Tapi, aku belum paham betul tentang apa itu... Sapta Indra.”
“Sejauh ini, kakekmu belum pernah menjelaskannya, padamu?” Raden Irawan bertanya kembali.
“Be-belum... Belum sama sekali.”
“Sapta Indra, adalah tujuh indra pada manusia. Penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, peraba, mata ketiga, dan... Gambar kilas masa lalu juga masa depan. Ilmuan Kadipaten Senlin menyebutnya sebagai Pre-cognition-Retro-cognition. Namun orang jawa menyebutnya, weruh sadurung winara.”
Mendengar penjelasan Raden Irawan, darah mengalir dari kedua lubang hidung. Mengalir, lalu menetes. “Astaghfirulloh hal adzim,” ucapnya mengusap darah. Apa dia berkata benar?
Melihat reaksi Ni'mal, Raden Irawan memandang lurus. “Lupakan. Jangan hiraukan. Kita bahas ini usai seleksi Sayembara ini.”
Mengatur napas, Ni'mal mengangguk. “Tapi, mohon, ceritakan padaku tentang semua yang kau tahu.”
Gemuruh baling-baling helikopter, terdengar mendekat dari langit pagi yang cerah. Suara Ki Ageng Jagat, bergema lewat speaker dari helikopter hitam.
“Ingatlah, para peserta! Dilarang menyerang sesama manusia di sini! Kalian hanya boleh keluar dari hutan arsir setelah mendapatkan satu buah mata Makhluk Hitam! Dan ingat, hindari Makhluk Hitam yang tak bisa kalian kalahkan! Jika satu di antara rekan tim kalian tewas, maka seluruh anggota regu dinyatakan gugur! Semoga keselamatan menyertai kalian! Saya akan memantau kalian semua dari jarak jauh!”
***
Ratusan peserta Sayembara, mulai berpencar per regunya. Tanah yang mereka pijaki, sama sekali tak ditumbuhi lumut maupun rumput. Mengherankan jika mengamati sinar mentari yang tak menembus masuk, juga kelembapan udara di dalam hutan.
Pepohonan yang tumbuh sampai lima meter pun, sudah tak berdaun. Tersisa, batang pohon yang hitam dengan akar yang menjulang.
Ni'mal, berlari lirih membuntuti Raden Irawan dan Anis. Ada tiga jenis Makhluk Hitam yang ada di hutan ini, yang dianjurkan tuk di buru. Ras manusia buaya berjuluk Baklu. Ras manusia belalang berjuluk Walde, dan ras manusia kelelawar berjuluk Kalong. Selain tiga Makhluk Hitam itu, semuanya lebih baik dihindari. Teguh pun bilang kalau... di hutan wilayah arsir Kadipaten Cidewa Hideung belum pernah ditemukan ras Kanin.
Dua puluh lima menit lamanya, mereka berlari lurus. Melewati begitu banyak pepohonan besar nan tinggi. Alas kaki mereka, sebagian kotor oleh tanah becek. Seluruh regu, telah berpisah begitu jauh mencari-cari Makhluk Hitam yang harus diburu.
Raden Irawan dan Anis, berlari, melompati sebuah pohon besar yang tumbang. Namun, Ni'mal justru berhenti melangkah. Mengatur napasnya yang ngos-ngosan, ia melirik ke kanan dan kiri. Sik sik... ini ... bukan derap langkah biasa. Ia menoleh ke kanan, namun hanya tanah lembab yang ia temukan.
Saat ia menoleh ke kanan depan, tepat di sebuah batang pohon raksasa, sesuatu tengah melaju lirih, turun sambil mengintai.
Tiga ekor monster bertubuh manusia belalang hitam, merangkak dengan tangannya yang berujung tajam bak pedang. Ketiganya, menoleh serempak pada tiga manusia yang ada di sana.
“Kalian, awas dar–“ Belum Ni'mal selesai berteriak memperingatkan, dua Makhluk Hitam itu melompat cepat, menerkam kawan regu. Sedang satunya, melompat menerkam ke arahnya. Kecepatan terjangnya, kisaran enam puluh lima kilometer per jam.
Clep! Clep! Clep!
Raden Irawan dan Anis, tertusuk tepat di jantung, sedangkan Ni'mal, kini berjuang keras menangkis ujung tajam tangan sang manusia belalang-sembah. Kedua telapak tangannya, berdarah.