Nyeri yang begitu tajam hinggap pada dahi dan ubun-ubun Ni'mal. Langkahnya terhenti seketika, sembari memegangi jidat. Mengatur napas pelan, ia memandang lurus. Dijumpainya gelondongan kayu kering besar, menghadang jalan.
Spontan, hatinya meminta berteriak memanggil kedua rekannya yang terus berlari.
"Kalian! Berhenti!" serunya cepat.
Otak Ni'mal berpikir cepat. Apakah barusan yang disebut weruh sakdurung winara? Hal yang tadi di jelaskan oleh Raden Irawan?
"Hoy! Cepat! Waktu kita hanya beberapa jam! Kau mau kita gugur di sini!" seru Anis sebal.
Raden Irawan, melangkah menghampiri Ni'mal. Saat berjalan mendekat, ia menoleh ke sana-kemari, mencoba mencari sebab rekannya berhenti. "Apa ada sesuatu, Ni'mal?"
"Tiga sosok Walde sedang mengintai kita! Mereka bersembunyi di antara pepohonan!"
Makhluk Hitam berbentuk serangga itu bisa menyamarkan hawa keberadaan. Apa mungkin Ni'mal mendengar suara mereka? Raden Irawan, kini mendongak ke atas, ke arah pepohonan.
"A-aku... mendapati gambaran ketika mereka menyerang setelah kalian melompati pohon besar itu," jelas Ni'mal.
Raden Irawan, terdiam tercengang. "Pre-cognition!"
"Sepertinya begitu..."
"Hai kalian! Ayo bergegas!" Anis, lanjut berlari, melompati pohon besar yang tumbang. Hal itu, membuat Ni'mal berlari cepat menyusul.
Sedangkan Raden Irawan, cepat menoleh ke arah pohon besar yang menjulang tinggi.
Dilihatnya tiga sosok monster yang Ni'mal maksud. Sigap, Raden Irawan melemparkan tiga bilah keris dari balik sabuk.
Clep! Clep! Clep!
"Kyaaaaak!" Mereka meraung kesakitan sebelum tewas. Semua kerisnya mendarat tepat di kepala monster yang sedang melompat ke arah mereka. Ketiga Makhluk Hitam itu, ambruk dengan darah biru mengucur dari kepala.
Anis terperanjat. Ia mengambil kuda-kuda. "I-itukah... sosok Walde?"
Mendekati Makhluk Hitam satu per satu, Raden Irawan memenggal ketiga kepala monster tersebut, bergantian. "Seleksi Sayembara ini sangat mudah, jika seluruh regu tim tidak bertindak gegabah." Raden Irawan melangkah menghampiri Anis yang terpaku gemetar. "Apa kau lupa jika satu saja anggota regu tewas, maka seluruhnya dinyatakan gagal!" serunya membawa tiga kepala Makhluk Hitam di tangan kiri. Ia menjambak antena pada kepala para Walde.
Anis membisu. Ia paham kecerobohan barusan hampir membuatnya celaka. Merugikan regu.
Menoleh ke belakang, Raden Irawan memeriksa Ni'mal. "Segera beritahu jika kau melihat gambaran seperti tadi. Aku mempercayaimu."
Ni'mal masih saja memandang ngeri mayat Makhluk Hitam berwujud serangga yang terkapar tanpa kepala. Makhluk Hitam jenis ini begitu cepat. Mereka tak terlalu kuat, tapi jika lengah sedikit saja, peserta seperti kami pun bisa tewas...
"Dan ingatlah, Ni'mal. Masih banyak Makhluk Hitam di hutan ini. Jumlahnya mungkin ribuan. Jika kau tak merasakan bahaya lagi, sebaiknya kita cepat keluar dari sini."
Mendekati Raden Irawan, Ni'mal menenangkan diri. "Tentu, Raden."
¤*¤*¤
Duduk bersila di tengah padang rumput hijau yang luas, Ki Ageng Jagat menyeruput kopi hitam pahit dari sebuah gelas logam bertutup. Matahari pagi, di tutup oleh mega mendung yang seketika berarak mengepung langit pagi.
Helikopter hitam berisikan lima orang SM, ada di belakangnya. Wajahnya nampak cemas menerka-nerka sesuatu. Astaghfirulloh hal adzim...
Teriakan seekor burung besar, membuat Ki Ageng Jagat mendongak ke atas. Sesosok kuda putih bersayap kupu-kupu, melayang cepat. Dari atas punggung makhluk bersayap indah, Raden Armi melompat turun, mendarat di depan helikopter. Gus Armi, tersenyum pada Ki Ageng Jagat.
"Mentang-mentang masih bugar, sukanya Gus Armi ini lompat-lompat akrobat," sambut sang sosok tua terkekeh.
"Assalamualaikum, Ki," ucapnya menjabat tangan, turut duduk sila menghadap sang kakek tua.
"Ada angin apa ini, Gus Armi datang menengok seleksi Sayembara? Sudah bertahun-tahun teu pernah datang."
"Hahaha..." Ia menarik napas dalam.
"Saya kangen sama Ki Ageng. Pengen lihat wajah penuh semangatnya... tapi, kok malah kelihatan lesu?"
"Yahh... Mungkin sudah makin tua begini, pengen punya cicit, tapi belum mau nikah juga cucunya."
Menepuk paha kanan, Gus Armi tertawa. "Wah, pas kalau begitu! Saya ada calon. Masih bujang. Tapi ya... kalau disuruh adu ilmu sama cucu Ki Ageng, mungkin masih kalah untuk sekarang ini..."
Terdiam sejenak, Ki Ageng Jagat teringat wajah Ni'mal. "Justru itu yang saya bingung, Gus. Bocah itu baru di hajar sampai rusuknya retak oleh cucu saya. Tapi kok... Tadi, pas baris mau berangkat ke sini, dia sudah sehat bugar."
"Lhoh? Di hajar kenapa, Ki?"
"Ah... Gus ini, kan Gus Armi sendiri yang lempar dia sampai ke kolam renang para wanita."
"Woalah Gusti... Pantes, kok ya kemarin mbatin dia bakal ketemu cucu njenengan... Khilaf, Ki."
"Ngomong-omong... bagaimana tentang chip komputer yang saya titipkan itu?" tanya Gus Armi melanjutkan.
"William sepertinya sudah tahu. Tapi, dia tak menyangka bila benda itu bisa ada pada Makhluk Hitam di luar pengawasan."
"Maksudnya?"
"Chip itu memang di tanamkan pada Makhluk Hitam. Dan semua Makhluk Hitam yang telah di tanam chip, berada di laboratorium Kadipaten Senlin. Untuk sekarang, William sedang memastikan, apakah benda itu sengaja di tanam di luar sepengetahuannya selaku Kaliwon kedua Kadipaten Senlin."
(Kaliwon: bawahan bupati. Dalam Manunggal, Kaliwon adalah bawahan langsung Tumenggung sang penguasa Kadipaten. Hanya Kadipaten Senlin yang memiliki dua Kaliwon. Satu sebagai perwakilan suku mongol, dan satu perwakilan suku putih)
"Saya dengar, kemarin di Kadipaten Senlin, seseorang berhasil mengambil benda sakral dari Keraton Senlin. Heboh juga pemberitaan tentang Makhluk Hitam yang lepas. Apa benar bila..."
"Ya. Puspa yang aku minta, mengambil batu itu. Tanpa sengaja, dia juga yang membawa pulang utusanku kemarin untuk kembali kemari."
Mendengung sembari mengangguk, Gus Armi mengambil rokok dari saku celana. "Sepertinya, bukan cuma saya yang begitu meragukan Tumenggung Kadipaten Senlin."
"Semenjak dia di pilih Prabu Paku Utomo menjabat, aku sudah sangat cemas. Meskipun belum ada bukti kuat, tapi yakin hatiku tak bisa disangkal."
"Lalu... Apakah ada hal lain lagi, yang Puspa temukan di Keraton Kadipaten Senlin?"
Ki Ageng Jagat, kini tertawa. "Hahaha! Dia sedang ngambek ceunah. Marah gara-gara aku membela Ni'mal kemarin. Dia tak bisa dibujuk bila sedang marah."
Terkekeh, Gus Armi manggut-manggut menyalakan rokok. "Begitu ya..."
¤*¤*¤
Ni'mal dan dua kawannya, terus berjalan pelan. s*****a tajam mereka, telah basah oleh darah. Menyusuri hutan wilayah Arsir, membuat mereka membunuh beberapa Makhluk Hitam yang ditemui beberapa saat lalu. Kepala tiga ekor Walde, masih ada di tangan Raden Irawan.
Napas terengah Anis, membuat Ni'mal menyetarakan langkahnya dengan Raden Irawan. "Den... Bisakah kita rehat sejenak? Maksudku... Beberapa menit untuk memulihkan tenaga. Aku cemas kawanan Makhluk Hitam akan menyerang di saat kita lelah."
Turut menoleh ke arah Anis, Raden Irawan menghela napas. Ia, sedikit tersenyum. "Baiklah," ucapnya menyenderkan tubuh pada batang pohon besar. Ia duduk, menancapkan badiknya di akar besar pohon yang ia sandari. Tiga buah kepala Makhluk Hitam, ia taruh di sebelah kanan paha.
"Waktu kita tak banyak, untuk apa beristirahat?" tanya Anis menatap kedua kawannya yang telah duduk bersandar di dekat pohon.
Ni'mal menyahut usai mengusap alis tebalnya yang basah oleh keringat. "Ambil napas. Setelah beristirahat sebentar, kita langsung lari cepat. Acuhkan Makhluk Hitam yang menghadang. Bagaimana?"
Bungkam, Anis turut duduk, lalu merebahkan badan usai menenangkan napas. Ia pun sama merasakan letih.
Pada hutan yang temaram, suara jangkrik samar terdengar menemani mereka. Suara petir yang bergemuruh di langit, perlahan menggelegar. Lima menit berlalu, mereka saling diam. Memikirkan hal-hal pribadi.
Anis, kini memejamkan mata. Ia mengingat-ingat wajah gadis mancung berbalut selendang batik. Baru pertama kalinya, ia berjumpa wanita sekuat itu. Ia pun masih jelas ingat, saat nyawanya diselamatkan. Meski kata-kata pedas sang gadis, terus menusuk hati. Awas saja jika aku sudah lebih kuat, akan aku, kalahkan kau, lalu melamarmu! Pikirnya.
Pria berkumis tipis dengan t**i lalat kecil di dekat bibir, menatap Ni'mal yang seperti sedang melamun. "Ada apa, Ni'mal? Apakah ada sesuatu lagi?"
Menoleh, Ni'mal menggeleng. "Tidak. Sejak beberapa menit yang lalu, ketika aku mencoba fokus pada telinga, aku tak mendengar apa pun."
"Sejak kapan kau mampu menguasai indra tubuhmu setajam itu? Apakah... Mbah Pur yang mengajarimu?"
Mendengung, Ni'mal mencoba mengingat. Mungkinkah setelah aku di lempar ke air terjun oleh Gus Armi? Kurasa tidak. Bahkan ketika rumah kakek diserang, aku mencium aroma anyir darah sebelum Kanin itu muncul. Lalu ... sejak kapan, ya?
Raden Irawan, geleng-geleng sembari menepuk jidat saat melihat darah kembali mengalir dari hidung Ni'mal. "Sudah. Tak perlu di ingat-ingat. Kau mimisan lagi."
"Eh?" Pria bermata cokelat terang, mengusap hidungnya. Ke-kenapa aku jadi sering mimisan begini?
"Sudah... Lupakan," ucapnya.
Menarik napas dalam, Ni'mal memejamkan mata. Ia mencoba merelaksasi badan. Kakek... sebenarnya apa yang terjadi padaku?
Gumamnya dengan gelap sebab mata terpejam.
Jleb!
Trang!
"Argh!"
Ni'mal membuka mata. Sosok pria bertopeng cepot, telah berdiri di depan mereka. Anis, baru saja tergores pada lengan kanan. Di dekat Ni'mal, terdapat sebilah keris yang patah. Di samping kanannya, Raden Irawan telah siaga, baru saja menepis lemparan keris si Cepot.
"Hahaha... kalian lengah saat melakukan tugas. Sepertinya aku batal menawarkan kerjasama pada kalian," ucap si Cepot meledek.
"Hargh!" Ni'mal membuka mata cepat-cepat. Lagi, dahi dan ubun-ubunnya begitu nyeri.
"Kenapa, Ni'mal?" Raden Irawan segera menarik badiknya.
Anis, membuka mata mengambil posisi duduk.
Bangkit, Ni'mal memegang erat keris yang tadi tersarung di belakang. "Waspada! Si Cepot! Aku melihatnya menyerang kita!"
Mendengar penjelasan Ni'mal, dua pemuda itu bergegas berdiri. Mereka memegangi s*****a. Mata mereka, menyapu sekitar.
"Ahahaha!" Tawa disusul tepuk tangan, membuat ketiga pemuda mendongak ke atas pohon besar di dekat mereka.
Si Cepot, melompat turun dari dahan pohon besar. Ia mendarat sepuluh meter dari Ni'mal. "Hebat... Hebat... Hebat..."
"Cepot!" Raden Irawan, mengacungkan s*****a.
"Tak disangka, cucu sang legenda silat begitu unik, luar biasa! Jadi... tanpa sadar, kau telah menemukan cara untuk merangsang indra ketujuhmu, ya?"
Ni'mal, melesat cepat, maju mengarahkan keris luk tiga di tangan kanan. "Di mana kakekku!"
Melompat jauh ke atas pohon tak berdaun, si Cepot menaruh kedua telapak tangan pada saku celana hitam. "Percuma jika aku memberitahukanmu sekarang. Kau, masih terlalu hijau."
"Berani sekali kau datang ke seleksi Sayembara!" seru Anis jengkel.
"Hahaha... Aku dengan rendah hati ingin menawarkan hal baik pada kalian, jika kalian tak keberatan."
Raden Irawan, bertanya dingin, "Apa itu?"
Ni'mal, menyahut, "Mengajak kami bergabung denganmu? Jangan harap!"
"Wah! Wah! Wah! Sepertinya kau sudah melihat rencanaku yang gagal barusan ya? Aku memang ingin menawari kalian setelah melukai kalian sedikit."
"Apakah kau sebodoh itu, menawarkan kami untuk bergabung?" Raden Irawan, melangkah maju pelan.
"Yahh... Anggap saja tawaran pertamaku adalah tawaran isengku untuk kalian."
Raden Irawan berhenti melangkah. "Lalu, apa tawaran keduamu?"
"Demi mendesak Kadipaten Senlin mengakui kesalahan, kalian perlu bukti yang akurat, benar?"
Ni'mal dan Anis terkejut mendengar alasan tersebut. Raden Irawan, menancapkan badiknya ke tanah. "Apa maksudmu?"
"Aku yakin kalian tak terlalu bodoh untuk menerka bila para pejabat Kadipaten korup itu, yang menjadi dalang para Makhluk Hitam menyerang ke wilayah manusia. Dan jika kau perlu bukti untuk melawan mereka, maka buktinya sendiri sudah ada di hutan ini."
"Tak usah bertele-tele dan jelaskan semuanya!" Anis nyolot.
"Ah... Ni'mal, telinga dan penciumanmu bisa melebihi manusia sakti pada umumnya, kan? Kenapa tidak kau balaskan dendam, pada makhluk yang mencelakaimu dan kakekmu, sekarang?" ujarnya melompat turun menapak tanah.
"Cobalah fokus pada indra, yang kau ingin pakai. Biasanya itu berpengaruh pada hasil yang indramu terima," tambah Cepot sembari tenggelam masuk ke dalam bayang tubuhnya di tanah.
Mencabut badik, Raden Irawan melempar s*****a ke arah Cepot. Namun, sosok itu dengan mudah menangkis dengan tangan kosong, lalu lenyap menghilang di telan bayangan.
Ni'mal, segera memfokuskan telinga dan hidungnya. Sembari mengendus, ia berjalan pelan, berputar-putar.
Raden Irawan dan Anis, memperhatikan Ni'mal.
"Untuk apa, kau percaya pada lawan! Jelas-jelas dia musuh licik!" sergah Anis.
Ni'mal, terus mencoba melacak keberadaan sesuatu. Ia acuh pada teriakan Anis. Ia terus begitu, sampai lima menit berlalu. Raden Irawan, terdiam memikiran segala kemungkinan dan teka-teki.
Bunyi-bunyian jangkrik, rauman Makhluk Hitam yang mirip buaya, bahkan sampai derap langkah manusia berjarak belasan kilometer dari mereka, ia dengar samar. Ucapannya benar... aku bisa mendengar suara yang berada begitu jauh dariku... tu-tunggu... Ni'mal mengatur napas secara berkala. Hingga akhirnya, Ni'mal membuka mata lebar. Ia, berhasil mendengar samar sesuatu yang familiar. Aroma yang juga masih ia ingat jelas.
"Ada apa, Ni'mal?" Raden Irawan bertanya cepat.
"Di sana" seru Ni'mal mengayuh kaki meninggalkan kedua kawan. Ia tak peduli, meski keduanya berteriak memanggil sampai harus mengejar.
¤*¤*¤
Di sebuah wilayah hutan, nampak cahaya redup matahari yang tertutup awan, menyinari tanah. Tiga buah pohon raksasa berdahan lebat, ambruk membuat sinar mentari masuk. Di sekitaran pohon besar yang tumbang, tampak mayat tiga puluh orang manusia berdampingan dengan mayat puluhan Makhluk Hitam. Walde, Baklu, dan Kanin.
(Walde: Manusia Belalang-sembah, Baklu: Manusia Buaya, Kanin: Manusia Serigala)
Di atas pohon yang telah tumbang, gadis berkaos dan celana hitam, berlutut satu kaki. Ada luka cakar di punggung. Pada tangan kanan, terbalut selendang batik hijau tosca. Dari mana datangnya para Kanin ini! Bertahun-tahun lamanya, tak ada ras mereka di hutan ini! Habitat mereka ada di wilayah hutan Kadipaten Tarang timur, dan Kadipaten Cidewa Hideung selatan! Bagaimana mungkin mereka di sini!
"Teteh Puspa! Di samping kanan dan kirimu! Ada lima ekor Kanin yang mendekat!"
Mendengar suara telepati, Puspa segera melompat saat lima sosok manusia serigala hitam, menerjang dari dua arah berbeda.
Di tengah udara, Puspa mencambukan selendang panjang hijau, membuat para Makhluk Hitam terpental jatuh.
"Terima kasih, Rahaf!" ucapnya mendarat pelan di batang pohon besar. "Tinju Dewi Angin!" jeritnya melesat cepat, memukul satu per satu Makhluk Hitam yang tersisa. Perut yang di pukulnya, berlubang semua.
Angin berhembus begitu kencang, sesaat setelah ia selesai bergerak. Kini, Puspa berlutut lemah kembali. Napasnya tersengal.
"Kak Puspa! Kau terlalu banyak mengerahkan tenaga!"
"Sudah, jangan banyak bicara. Meskipun kau transparan, bukan berarti para Kanin tak bisa menemukanmu, jika kau bertelepati," sahutnya.
Tak mendengar suara balasan setelah sepuluh detik, Puspa kembali bertanya, "Sudah tak ada lagi Kanin, dalam radius dekat, kah?" tanyanya lemas. Mengatur napas.
"Rahaf? Rahaf?"
"Graaaauuum!" Sesosok manusia serigala hitam besar bertanduk, mengaum dari balik pohon besar. Ia, melangkah pelan, mendekati satu-satunya cahaya di tengah gelapnya hutan. Pada dagu moncong panjangnya, tertancap sebilah keris. Cakar di tangan kanannya, tak berhenti meneteskan darah manusia yang baru ia tusuk.
Puspa, fokus pada cairan merah yang menetes dari kuku tajam Sang Kanin bertanduk. Mu-mungkinkah, "Rahaf! Rahaf!" Puspa memanggil-manggil sembari menatap ke arah atas pepohonanan.
Namun tak ada jawaban. Justru, Sang Kanin bertanduk yang meraung, lanjut berlari cepat ke arahnya.
"Graaaaar!"
Melompat ke atas, gadis berambut hitam menyabetkan selendang ke leher sang Makhluk Hitam, lalu menariknya naik ke udara. Puspa, lanjut melakukan lima pukulan, di akhiri dengan tendangan dorong.
Blak!
Sang monster tersungkur menabrak batang pohon raksasa. Pohon itu hancur berlubang olehnya.
"Beraninya kau melukai kawanku!" Puspa, terjun dengan kaki siap menginjak.
Namun, Sang Kanin hitam segera bangkit, menyambut melompat, memegang kaki kanannya, lalu melemparkan gadis tersebut ke tempat mendaratnya tadi.
Brak!
Masih memegang erat kaki Puspa, Kanin dengan keris yang tertancap di dagu itu, membanting tubuh Puspa terus menerus. Ke kanan, kiri, kanan, kiri, kanan, kiri, sampai lima puluh kali.
Sang Kanin, segera menghempas tubuh Puspa ke sebuah pohon kering tak berdaun hingga ambruk.
Bral!
Ia, lanjut menyusul menindih. Tangan kanan kekar penuh cakar, ia arahkan ke leher kecil sang gadis bertubuh tinggi. "Graaaaar!"
Pandangan Puspa, buyar perlahan. Tangan berkulit putihnya, tak cukup kuat untuk melepas cengkeraman monster buas. Napasnya habis. Suara dari tenggorokan pun, tak lagi terdengar. Ia kehabisan tenaga.
Tap tap tap tap tap....
Berlari cepat, mengambil pecahan panjang batang pohon berukuran lima meter lebar dua meter. Pemuda dengan mata cokelat terang, mengayun benda tersebut, membuat monster serigala bertanduk terlempar, melepaskan Puspa.
"Kau dan gerombolanmu, yang menculik kakekku! Katakan di mana dia!" serunya lantang. Ia jelas ingat aroma sang Makhluk Hitam.
Ditambah, saat monster tersebut bangkit mendongak dendam ke arahnya, nampak kerisnya yang tertancap di dagu sang monster.
Puspa, terbatuk-batuk. Ia mencoba menghirup udara segar. Telapak tangan kiri, meraba lehernya yang memerah. Samar, ia menatap wajah pria yang baru kemarin ia hajar. Ni'mal.