Perlahan Iris mata cokelat terangnya memerah. Ni'mal berteriak, “di mana kakekku!”
Ia, mengayun seonggok batang pohon yang telah ambruk ke arah Kanin.
Bral!
Pohon yang ia ayun, menabrak batang pohon lain. Musuhnya melompat mengelak. Kini bersembunyi di antara gelap bayang pepohonan.
“Hadapi aku, layaknya malam itu!”
“Graaaar!” Sang manusia serigala bertanduk runcing, melesat cepat mengarahkan cakar tajam.
“Hyah!” Ni'mal kembali mengayun batang kayu, namun sang serigala menutupi wajah di udara.
Bral!
Batang pohon tersebut remuk, namun berhasil membuat sosok Makhluk Hitam terpental, terpojok bersandar di bawah pohon raksasa. Ia memegangi lengan kanan yang terluka oleh Ni’mal.
Membuang serpihan kayu di tangan yang makin kecil, Ni'mal berlari ke arah manusia serigala. “Mati kau!” Kedua tinjunya erat mengepal.
Sang Kanin, memijak keras tanah. Ia meluncur mengarahkan cakar. Namun, tangannya dihindari Ni'mal yang kini melompat berguling-guling di udara melewati tubuh besarnya. Pemuda itu, segera menendang punggung Kanin.
Blak!
Sang monster tersungkur jatuh ke tanah. Baru ia akan bangkit, Ni'mal telah menghadang dengan menendangnya berturut-turut.
“Di mana Kakek!”
Blak!
Ni'mal mengayunkan tinju dari bawah ke atas, membuat musuhnya terlempar jauh ke udara. Ia, lanjut melompat menyusul, lalu menarik kaki kiri Kanin, lanjut membantingnya ke tanah.
Braal!
Ni'mal, mendarat dengan tinju mengincar wajah. Serigala berbulu hitam kelam, melompat menghindari terjangan Ni'mal. Ia, lanjut menyerang Ni'mal dengan cakar.
Puspa, terpana melihat gerakan Ni'mal dari jauh. Dia ... apakah Raden Armi yang mengajarinya silat angin seperti itu? Gerakannya ... mirip sepertiku! Atau bahkan lebih bertenaga dari tinjuku! Pikirnya sembari mengamati Ni'mal yang mengelak dari ayunan cakar. Sesekali membalas dengan tendangan.
Ni'mal, ia menggeser tubuhnya ke samping kiri, saat sang Kanin mengarahkan ujung tajam cakar. Cakarnya berhasil menggores pipi kiri, Ni'mal cepat-cepat memutar badan di udara, meluncurkan tendangan dorong.
Blak!
Sang Makhluk Hitam, kembali terjengkang menabrak batang pohon. Ni'mal, merogoh belakang celana, di mana sebilah keris masih tersarung. Ia, melempar pusaka tersebut tepat di perut Kanin.
Clep!
Lontaran kuat keris itu begitu kuat. Alhasil, monster itu terpasung di batang pohon. Kakinya bergelayut tak menempel tanah.
“Hiyahhh!” Ia berteriak, mengarahkan bogem kanan.
Belum sempat Ni'mal mengarahkan tinju pada lawan, sang Kanin memijak batang pohon yang jadi sandaran punggung. Pijakan kuatnya, membuat dapat melejit cepat, menyambut Ni'mal dengan kepala bertanduk.
Blak!
Ni'mal, terhempas cepat ke samping Puspa yang tengah duduk menahan sakit. Pemuda itu, sejenak memandang gadis di samping, yang nampak terluka oleh Kanin. “Tak akan kubiarkan kau membunuh manusia lagi!” ujarnya mengambil posisi duduk.
Saat Ni'mal hendak berdiri, Puspa segera memegang lengan kanannya. “Ke-keula!”
(Keula: tunggu/sebentar)
Pemuda berambut lebat menoleh. Mata mereka bertemu. Tiga detik, mereka terdiam, hingga Puspa kembali berbicara, “Pukul keras tengkorak belakangnya. Ada benda yang membuatnya dikendalikan dari jauh.”
Mendengar penjelasan Puspa, Ni'mal cepat menoleh. Ia paham, bila benda yang dimaksudkan adalah chip yang sama seperti terdapat pada Ugel.
“Hiyaaa!” Ni'mal, mengayuh kakinya cepat menghampiri Kanin yang sudah berlari menggunakan empat kaki, menujunya.
“Graaar!”
Jleb!
Perut Ni'mal, tertusuk oleh tangan kiri monster bercakar panjang. Ia muntah darah. Tubuhnya, diangkat ke atas oleh makhluk tersebut.
“Hergh!”
“Dasar makhluk tak berotak!” Ni'mal, memegang erat tangan Kanin yang bersarang di perut kekarnya. Ia, mencabut tangan makhluk tersebut, lanjut mengayun badan memanfaatkan tangan musuh.
Kakinya, menendang meraih keris yang tertancap pada dagu lawan. Tepatnya, sebuah keris yang belum tercabut di malam saat kakeknya diculik.
Clep!
Ni'mal berhasil memperdalam keris itu, hingga menembus ke bagian moncong rahang atas. Sang Kanin meraung kesakitan, melepaskan tubuh Ni'mal.
Melihat kesempatan, Ni'mal melompat tinggi, mengayunkan bogem tangan kanan ke kepala Kanin. “Mati kau!”
Blag!
Kepala sang kanin, remuk. Darah mengucur turun membasahi tubuh penuh bulu. Ia, ambruk dengan mata lebar terbuka.
Napas Ni'mal tersengal. Tubuhnya spontan gemetar. Jantungnya yang berdebar, amat kencang sampai terdengar. Kakinya loyo, tak lagi mampu menopang badan.
¤*¤*¤
Brak!
William mendobrak masuk sebuah pintu dari rumah megah nan besar. Ia nyelonong masuk tak mempedulikan dua anggota PM yang berjaga siap di dekat pintu masuk rumah megah nan mewah.
Ruangan penuh benda mahal nan antik, ia masuki. Semua meja terbuat dari kaca transparan. Lampu-lampu putih pun menggantung indah di langit-langit rumah.
Di sana, seorang pria cepak bermata sipit dengan kulit cerah, memandangnya sembari duduk santai di sofa empuk putih. Dari rambutnya yang beruban serta kerutan di wajah, usianya berkisar lima puluh sembilan tahunan.
“Woah, hari apa ini? Kenapa asisten setia Tumenggung Kadipaten, datang kemari tanpa memberi kabar?” sambut si pria berkaos kerah putih. Celana jeans melekat di kaki. Jam tangan emas, terpasang di pergelangan tangan kanan.
“Kau! Jangan pura-pura tak tahu!” William geram.
Terkekeh melihat tamu tak diundang, ia geleng-geleng lalu menepuk-nepuk sofa. “Duduklah dulu, Kaliwon kedua Kadipaten Senlin tak mungkin menuduh ‘bawahan' tanpa bukti, kan?”
“Semua Makhluk Hitam di laboratorium Kadipaten Senlin ada dalam pengawasan ketat timku. Lalu, perintah siapa lagi yang mampu membuat anggota peneliti laboratorium taat selain diriku?”
“Apakah kau sudah bertanya pada mereka? Dan, apakah mereka mengiyakan bila aku yang memerintah?” tanyanya balik masih dengan raut santai.
“Tuan Yo! Katakan padaku, apa hubungamu dengan Si Cepot!”
Wajah yang sempat santai, kini berubah serius. Ia diam, tak berkata-kata.
Mendengung paham, William mengangguk dua kali. “Benar rupanya... Kau berkomunikasi dengan mereka!”
Menarik napas dalam, sosok sipit cepak itu mencoba tersenyum. “Lalu, apa buktinya?” Dahinya mengerut.
“Si Cepot baru saja muncul di tengah seleksi Sayembara perbatasan hutan Cidewa Hideung dan Tarang. Peserta Sayembara, juga menangkap Kanin yang tertanam chip!”
“Lantas... apakah Kanin itu berkata pada kalian, bila aku yang mengutusnya?” sanggahnya.
William, kini tertawa. “Rupanya tak ada yang menjelaskan padamu, jika Ugel di Gunung Suwung Kadipaten Sunyoto juga terbunuh. Dan, chip khas milik Kadipaten Senlin tertanam di kepalanya..."
Tuan Yo, mendengus kesal. Ba-bagaimana bisa? Pikirnya.
"Kembali ke pertanyaan awalku, siapa yang berani memberikan wewenang seperti itu, jika bukan dirimu?”
“Hey! Tuan William! Kau masih harus mengumpulkan bukti maupun saksi sebelum menuduhku!”
Tersenyum sinis, William berkata, “Baiklah... Jika kau tak mau mengakui perbuatanmu... Aku pastikan, utusan Prabu Paku Utomo sendiri yang menjemputmu ke Keraton utama!” William membalik badan, melangkah keluar ruangan.
¤*¤*¤
Pemuda berambut lebat nan hitam, membuka kedua mata. Nyala api merah jingga, menerangi gua di mana ia berada. Ketika menoleh ke samping kiri, dilihatnya seorang gadis berkacamata tertidur. Selain dari raut muka, Ni'mal pun merasakan aura yang familiar.
Perut gadis tersebut, di balut perban. Mereka berdua, cukup dekat dengan tumpukan kayu api unggun.
Dia... aku yakin... itu dia! Ni’mal teringat sosok yang ikut membantu gadis berjubah. Gadis yang terlihat jatuh dari pohon besar waktu itu.
“Hug!” Ni'mal kesakitan mengambil duduk. Ia memegangi perut yang juga telah di perban. Ia hanya mengenakan celana hitam pendek.
Iya, aku juga ditusuk oleh Kanin. Sakit, tapi tak sesakit awal aku ditusuk. Pemuda kekar itu, bangkit pelan. Rautnya nyengir menahan sakit. Kepalanya menoleh ke arah keluar gua.
Berjalan tertatih dengan tangan kiri menyangga pada dinding gua, Ni'mal masih saja merasakan perih di perut. Hanya memerlukan dua menit, sampai ia melangkah keluar, memandang langit luas yang mendung. Awan-awan kelabu, menggantung di atas hutan.
Ujung-ujung pohon yang lebat nan rimbun, menjadi payung hutan menangkal masuknya cahaya matahari.
Ia, berada ratusan meter di atas permukaan tanah. Di sisi jurang depan gua, Puspa duduk. Kakinya bergelayut ke jurang. Gadis itu, menoleh ke belakang usai mendengar derap langkah Ni'mal. “Ka-kau sudah bangun?”
“Di mana ini? Apa kau yang membawaku? Dan, gadis itu... Apakah dia regumu?”
“Tenang dan duduklah,” sahutnya menoleh ke arah langit mendung.
Menarik napas, Ni'mal duduk dua meter di belakang Puspa. Pria itu, kini jelas ingat bila itu adalah gadis yang membuat rusuknya retak. Ia pun terdiam, tak bicara.
“Kau hanya tidur beberapa jam untuk bisa pulih dari luka fatal. Belum lagi, aku membuat retak tulang rusukmu kemarin...”
“Beberapa jam? Kita masih berada di wilayah Arsir, kan?”
“Tenanglah. Satu anggota reguku, segera datang dengan tumpangan untuk membawa kita pergi.”
“Ta-tapi reguku masih–”
“Raden Irawan cerdas. Dia sudah pergi menuju pos Sayembara. Aku juga sudah memberi kabar pada Kakek, bila kau akan keluar hutan bersamaku. Jadi, dia pasti sudah bercerita bila kau bersamaku. Aku juga meminta agar regumu menunggu kita di Keraton Kadipaten Cidewa Hideung.”
Ni'mal membuang napas berat, merebahkan badan di tanah. Memejamkan kedua mata cokelat terang. Tentu saja kau kenal dengannya. Dia akrab dengan Ki Ageng Jagat, kakekmu.
“Ni’mal,” panggilnya lirih.
Ni'mal mendengung, membuka mata.
“Namamu, Ni'mal... Kan?”
“Iya.”
“Ni'mal, cucu Mbah Pur, kan?”
Menghela napas berat, Ni'mal mengangguk. “Jangan bilang, aku tak sekuat Kakekku.”
“Apakah... Kau merasa dirimu masih belum cukup kuat?” Puspa, bangkit mendekati Ni’mal. Duduk di sebelah Ni'mal yang berbaring.
Wajah Ni'mal, sedikit memerah. Ia menggulir badan, memunggungi si gadis. “Aku masih begitu lemah. Bahkan, aku saja kalah darimu.”
Puspa terkekeh, menutup mulutnya dengan tangan kanan.
“Lucukah, jika lelaki itu lemah?” tanggap Ni'mal.
“Biar kuberitahu kau, tapi, sopanlah sedikit dan tatap lawan bicaramu,” sahutnya.
Ni'mal, duduk perlahan memegangi perut. Rautnya nyengir. “Apa?”
“Kemarin, Kakekku bercerita banyak tentangmu. Dan dari ceritanya, aku yakin kau bukan orang lemah. Kau, menghancur-leburkan Ugel dalam sekali pukul. Kau juga, meremuk kepala Kanin bertanduk tadi. Dan kau juga, mengangkat kayu besar sebagai s*****a. Terlebih, gerakan silat anginmu tadi... Lebih bertenaga dari gerakanku. Jujur, aku justru kagum padamu... Karena, tak membalasku kemarin.”
Pemuda itu termenung, menghadap tanah. Benar... lagi-lagi aku tak sadar, bagaimana bisa aku mengangkat kayu besar tadi. Aku hanya bergerak spontan untuk menyerang. Tapi... Alasan kemarin aku tak menyerangnya, adalah karena memang aku tak punya kesempatan membalas. Terlebih, aku bingung harus berbuat apa. Jelas-jelas salah juga jika aku berada di kolam renang wanita. Pikirnya.
“Ni'mal...” Puspa memanggil.
“I-iya?”
“Terima kasih, dan maaf karena menyerangmu kemarin. Aku tak tahu, jika Raden Armi yang membuatmu berada di sana, tanpa sepengetahuanmu,” ujarnya tersenyum.
Ni'mal terpana oleh senyum bibir tipis gadis di sampingnya. Kelebatan ingatan samar, berlalu-lalang. Gambaran-gambaran samar. A-aku, seperti pernah...
Tes...
Darah mengalir, menetes melalui lubang hidung Ni'mal. Melihat Ni'mal yang mimisan, Puspa menggembungkan pipi. Sebal. “Dasar m***m!”
Plak!
***
Teguh. Di dalam ruang perpustakaan yang luas dan penuh buku-buku, berkeliling melihat-lihat. Ia seorang diri, berjalan mengitari ruang perpustakaan keraton Cidewa Hideung. Mandat dari Ki Ageng Jagat yang membuatnya berkeliling di sana.
Hingga samar, ia mendengar lirih suara seseorang yang saling bercakap. Pemuda mancung dengan tubuh kurus itu, merapatkan badan ke samping rak kayu penuh buku. Ia, mengintip dari celah tumpukan buku. Ki Ageng bilang semua perpustakaan kan, kosong? Tapi, kenapa ada suara? Bukan dedemit, kan?
“Baik, Tuan. Saya segera mencoba, untuk mencarinya. Keadaan aman. Tidak ada siapapun di sini.”
Seorang pria paruh baya dengan busana adat jawa, tengah duduk menelepon seseorang.
Pria dengan bekas luka di wajah sebelah kanan, berbicara dengan mata mengawasi sekitar. Sosok itu, mulai berjalan ke arah rak buku kayu paling ujung.
Teguh, mengintip lewat celah buku di rak. Baju itu... Dia staff Keraton, kan? Tapi bukankah, siapapun tak di perbolehkan kemari?
Teguh, tak sengaja menjatuhkan buku ketika mencoba mengikuti pria yang di intai.
Sontak, suara tersebut membuat orang berblangkon itu memutus sambungan telepon. “Siapa di sana!” serunya.
Mantap, Teguh menampakan diri. “Apa yang Anda lakukan di sini? Bukankah Ki Ageng Jagat, justru meminta semua staff memantau dan mendata para peserta?”
Pria bercodet, gugup. “La-lalu, apa yang kau lakukan di sini?”
Lagi, Teguh menjawab mantap, “Ki Ageng Jagat sendiri yang memintaku berpatroli.”
“Bukankah sudah cukup banyak SM di gedung untuk berpatroli?” sergahnya.
“Kalau Anda tidak percaya, mari ikut saya bertemu Ki Ageng Jagat sekarang!”
Membuang napas sebal, pria itu berjalan, melewati Teguh. Dua detik, ia menatap Teguh saat tepat di sampingnya.
“Ada yang salah?” Teguh nyolot.
Tak menjawab, pria itu berjalan keluar perpustakaan.
Menaikan alis sebelum lanjut berjalan, Teguh geleng-geleng. “Dasar staff aneh.”
Teguh, melanjutkan langkah menuju rak kayu yang tadi sempat di tuju oleh staff. Belum jauh ia melangkah, ia diam terpaku menatap dinding. “I-itu ....”
***
Hujan gerimis mengguyur bumi. Ni'mal, erat bergelantung pada kaki burung Blue Robin sunda raksasa. Di atas sang burung, Puspa, Rahaf, dan gadis berjubah merah hitam, duduk menunggang. Mereka melayang cepat, mendekati atap gedung pemerintahan Kadipaten Cidewa Hideung.
Di atap gedung, Ki Ageng Jagat, Raden Armi, Raden Irawan, dan Anis, telah berdiri menanti. Gelegar petir sesekali bergemuruh di langit gelap.
Ketiga gadis itu, melompat turun dari sang burung, di susul Ni'mal. Sang makhluk raksasa, lanjut terbang meninggalkan mereka.
“Akhirnya kalian sampai juga,” ucap Raden Armi menyambut.
Puspa, memberi hormat dengan menekuk punggung sedikit, lalu mencium tangan sosok tersebut. Anis dan Raden Irawan, menatap tajam Agni dan Rahaf.
“Kami pamit beristirahat terlebih dulu. Ayo, Rahaf!” Agni, menarik tangan gadis berkacamata berambut pendek. Mereka melompat turun dari atas gedung.
“Puspa, jadi kau satu regu dengan para Sakerat itu?” Raden Irawan bertanya dingin.
(Note; Sakerat: dalam bahasa jawa halus berarti pembunuh. Dalam KNM, Sakerat adalah para pendekar yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran.)
“Apa maksudmu?” Puspa bertanya balik. Rautnya sinis.
“Mereka ikut bersama Cepot menghadang regu Raden Irawan,” jelas Ki Ageng Jagat.
Puspa, terbelalak. “A-apa? Mana mungkin!” Gadis berbalut selendang hijau batik, menoleh menatap Ni'mal.
“Hai m***m! Kenapa kau tadi diam saja? Kenapa kau tak bilang bila–”
Gus Armi, menenangkan, “Wis... Uwis... ora opo-opo. Di sini sudah wilayah sakral Keraton. Mereka tak mungkin cari gara-gara. Lupakan saja. Toh mereka hanya di kontrak dalam satu kali percobaan.”
Ni'mal, mendengung, “Mmmm... Maksudnya?”
Ki Ageng Jagat menoleh. “Mereka hanya di minta untuk menyerang kalian dalam satu kali percobaan. Mereka sudah gagal. Saya pribadi, kemarin sudah memperingatkan mereka. Jika mereka mengincar Ni'mal, maka saya sendiri di luar jabatan sebagai Tumenggung Kadipaten Cidewa Hideung, akan memburu mereka.”
Puspa, melirik kecil ke arah Ni'mal. Aki sakituna ngabela Ni’mal? Kumargi anjeuna putu Mbah Pur? (Kakek sebegitunya membela Ni'mal? Apa karena dia cucu Mbah Pur?)
“Te-terima kasih, Ki Ageng,” ucap Ni'mal.
Raden Irawan, bertanya menatap Ni'mal, “Apakah, kalian tidak melihat peserta dari regu lain?”
“Aku, melihat rombongan lain yang berlari tadi. Jika tak salah hitung... Ada sekitar lima puluh orang lebih.”
Gus Armi, menarik napas dalam. “Tampaknya, Raja akan segera memberikan titah mengenai ini,” ujarnya lirih.
Sang pria berkumis, menaikkan alis berubannya. “Maksudnya?”
“Peserta yang lolos Sayembara, terbilang sedikit di babak kedua ini. Tampaknya, Sayembara yang sebenarnya akan di mulai pada sesi selanjutnya.”
Ni'mal berpikir, Sayembara yang sebenarnya, adalah babak terakhir, menentukan siapa yang berdiri di akhir. Beberapa tahun lalu, Sayembara tahap akhir adalah bertarung melawan Yaksa. Beberapa tahun sebelum, bahkan mereka harus mencari empat Sura di penjuru Manunggal. Lalu, untuk Sayembara akhir ini... apa kiranya yang harus kami lakukan?
(Note; Yaksa, dalam mitologi hindu adalah ras Buto. Dalam cerita; adalah individu Makhluk Hitam yang berumur lebih dari seribu tahun. Semakin panjang dan tua Makhluk Hitam, maka semakin besar kekuatan magis yang dimiliki.)
(Note; Sura, adalah 4 makhluk yang banyak di anggap sebagai dewa penjaga Negeri Manunggal. Mereka hidup hidup masing-masing di Timur, Barat, Selatan, dan Utara. Mereka, adalah sosok makhluk yang turut menghentikan peperangan.)
“Ya sudah, kalian semua beristirahatlah. Siapkan tenaga kalian. Dan jangan bertengkar lagi, ya?” Gus Armi tersenyum meledek, memandang Puspa.
Menggembungkan pipi, wajah Puspa memerah. Ia mengucap salam, sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka.
***
Menjelang petang, Ni'mal berjalan di lorong gedung megah. Lorong gedung pemerintahan paling belakang. Ni'mal, berjalan bersama Teguh. Kaos putih lengan pendek dan celana panjang, membungkus tubuh mereka berdua.
“Sebenarnya, apa yang ingin kau perlihatkan padaku, Guh?”
“Sudah, lihat saja sendiri... Kau pasti tertarik,” jawabnya melangkah lebih cepat. Ia, menarik tangan Ni'mal.
Sepuluh menit, mereka terus berjalan lurus. Hingga langkah Teguh, melambat saat pintu kayu perpustakaan sudah terlihat.
“Perpustakaan?” Ni'mal menaikan alis kanan.
Teguh, membuka pintu. Dan di saat yang sama, dijumpainya Puspa. Gadis berambut panjang berbalut selendang panjang batik membungkus badan.
“Ni’mal?”
“I-iya?”
“Apa luka di perutmu sudah sembuh?” tanyanya menatap wajah pemuda beralis tebal.
Enggan menatap balik, sembari masuk menarik Teguh, Ni'mal menyahut, “Aku baik-baik saja.”
Puspa menggembungkan pipi, melangkah keluar dari perpustakaan. “Adigung pisan! Dasar pamegeut diperhatoskeun sakedik kalah sok malik tiiseun!"(Sombong amat! Dasar cowok di perhatiin sedikit malah sok dingin!)
***
Setelah berjalan masuk lebih jauh di dalam perpustakaan, Ni'mal menepuk pundak kanan Teguh. “Jadi, apa yang ingin kau tunjukan padaku?”
“Sudah, jalan dulu saja...”
“Ya... Aku memang suka membaca, tapi aku sedang ingin beristira–”
Ni'mal, ikut diam saat Teguh pun berhenti melangkah. Mereka berdua, berdiri menatap sebuah foto besar tua di dinding. Sebuah foto di mana Kakek Ni'mal, berlutut simbolis memberikan sebuah kujang besar, pada sesosok harimau besar bersayap. Salah satu Sura yang pernah Ni’mal dengar ceritanya.
“Ka-kakek?”
Teguh, menepuk pundak Ni'mal. “Lihat itu,” ucapnya menunjuk ke arah rak buku.
Pada rak buku kayu, terukir di atas rak, Nasab Sang Legenda.
(Note: Nasab; jalur keturunan)