Ni'mal, berjalan mendekati foto lebar yang terpampang di dinding perpustakaan. Terpana, menyaksikan foto sang Kakek saat masih muda, berada dekat dengan sosok harimau besar putih bersayap tanpa belang.
Pada kepala binatang bertaring sepanjang setengah meter itu, terdapat tanduk lurus bak tanduk unicorn.
Teguh, menghampiri rak buku di bawah foto. Ia mengambil buku cover cokelat usang, memberikannya pada Ni'mal. “Baca ini, Kang...”
Menerima benda tersebut, Ni'mal fokus pada judul. -Para penjinak Sura. Ia, membuka, mulai membaca cepat lembaran pertama.
Rombongan prajurit pertama, adalah suku Jawa dari kerajaan berlambang matahari. Pemimpin pelayaran yang menemukan Negeri Manunggal, adalah Patih muda dari kerajaannya. Tempat pertama yang jadi berlabuh rombongannya, adalah bagian negeri yang di tumbuhi hijau pepohonan dan macam rupa bunga beraneka seperti pelangi. Mereka berdiam di sana, dan mendirikan perkampungan sampai bulan sili berganti.
Tak lama setelahnya, tibalah rombongan dari kerajaan antah berantah. Ras mereka adalah Sunda. Setelah menentukan aturan hukum dan rencana pada suku Jawa yang tiba terlebih dahulu, rombongan suku Sunda itu turut mendirikan perkampungan tak jauh dari mereka. Rajanya, disebut Prabu Galuh Desta.
Saat Ni'mal sedang asyik membaca, Teguh yang juga sedang berdiri membaca di belakangnya, tak sadar bila sesuatu muncul dari bayangan diri di lantai.
Lambat laun, sosok yang perlahan muncul dari bayangan kelamnya, nampak mengenakan topeng merah. Cepot.
Sang Cepot, bergerak begitu cepat, menutup mulut Teguh, merangkul sembari melompat mundur jauh. Ia mencekik, memojokkan Teguh ke rak buku.
Teguh, meronta mencoba melepaskan tangan kuat si Cepot. Namun, rontaan kaki dan tangannya, tak cukup kuat melepas cengkeraman sosok pembunuh. Napasnya, kian lama, kian habis. Kedua matanya, melirik sedikit ke arah Ni'mal yang jauh darinya, berharap segera di tolong.
Sayang, Ni'mal khidmat membaca.
Setelah beberapa tahun kedua suku manusia saling hidup damai berdampingan. Ketika mereka melakukan perjalanan besar untuk mencari tumbuh-tumbuhan dari wilayah pesisir laut selatan. Prabu Galuh Desta, menolong sebuah kapal pesiar besar berisikan orang-orang berkulit putih dan ras mongol yang masih berseteru. Mereka diserang oleh Ugel merah raksasa.
Karena mereka tetap bersitegang meskipun sudah sampai di daratan, setelah melakukan tapa-brata mencari petunjuk dari Sang Maha Pencipta, Raja suku Jawa akhirnya mencarikan sebuah wilayah lain. Ia dan raja Galuh Desta, menempatkan kedua rombongan itu di suatu wilayah Timur.
Dengan bijak dan adil, sang pemimpin suku Jawa, terus mengamati kegiatan sehari-hari hingga keduanya tak lagi berseteru.
Glepak!
Sebuah suara dari buku besar terjatuh, memancing Ni'mal menoleh ke belakang. Dilihatnya Teguh sudah pucat pasi dicekik dan dibekap oleh sosok bertopeng cepot. Pria berbaju hitam dengan kerah tajam.
“Kau!” Ia berteriak, menjatuhkan buku di tangan.
Tap! Tap! Tap!
Hanya dengan tiga langkah panjang nan cepat, Ni'mal melewati jarak sembilan meter, kini sampai di hadapan lawan. Ia mengepalkan tinju kanan, mengarahkannya pada wajah Cepot.
Wuz!
Si Cepot melempar tubuh Teguh ke arah Ni'mal. Pemuda itu, mengelak, menghindari Teguh. Ia lanjut mengarahkan tinjunya.
Sosok bertopeng merah, melompat santai membelakangi Ni'mal, lalu melayangkan tendangan dorong, membuat Ni'mal terlempar keluar lewat pintu perpustakaan.
Brak!!
“Katakan padaku di mana Kakek!” Ni'mal kembali melesat cepat mengarahkan tinjunya bertubi-tubi.
Sang Cepot, menghindar santai.
Kedua tangan, ia taruh di belakang. Ni'mal beberapa kali memutar badan mengarahkan tendangan beliung, namun si Cepot, menghindar merunduk.
Cepot, menendang kaki Ni’mal yang jadi tumpuan. Berhasil menjatuhkan pemuda berkaos putih, ia melompat jauh melewati Teguh, kini berada di bawah foto tua Mbah Pur dan Sura.
Bayangan tubuhnya, melebar membesar. “Wah, wah, wah... Padahal baru tadi pagi, aku melihat gaya bertarung sederhanamu. Tapi kini, kau sudah lihai menggunakan jurus silat angin. Jenius sekali.”
“Katakan kemana kau bawa kakekku!”
“Baiklah. Mari buat kesepakatan," sang Cepot bersuara.
Ni'mal mengatur napas, melangkah pelan mendekati Teguh yang ada di depannya. Matanya tajam menatap lawan. Tangannya, terulur pada Teguh membantu sahabatnya berdiri.
“Jika kau berhasil bertahan sampai di babak akhir Sayembara. Maka, aku akan memberitahumu... Atau bahkan mengantarkanmu pada kakek tercintamu. Dengan syarat, kau memberikan hadiah khusus dari Prabu Paku Utomo padaku. Bagaimana?”
“Kriminal sepertimu, tak layak dipercaya!” Ni'mal meluncur cepat mengarahkan bogem mentah.
Tap!
Si Cepot dengan mudah menepis dengan telapak tangan kanan. “Jika kau tak mau... Aku khawatir, keadaan kakekmu makin buruk. Terakhir kali aku lihat, wajahnya pucat. Kepalanya, penuh darah,” jelasnya dingin.
“Sialaaan kau!” Ni'mal, melompat memutar tubuh, mengayunkan kaki menendang.
Namun, belum ia sempat mendaratkan serangan, sang Cepot lebih dulu meluncurkan kaki, menjejak perut Ni'mal keras.
“Hugh!” Ni'mal terpental jauh, menabrak belasan rak buku sebelum akhirnya menabrak tembok hingga retak.
“Selamat berjuang sampai ke babak akhir, ya?” ucapnya perlahan tenggelam ke dalam bayangan. “Oh, dan aku juga pinjam ini,” imbuhnya sembari mengambil buku yang tadi Ni'mal baca sedikit.
Bral!
Pintu masuk perpustakaan berbunyi. Puspa, masuk bersama Ki Ageng Jagat dan Gus Armi.
Melihat kedatangan tiga pendekar, Cepot menatap mereka. “Wah, aku pamit dulu ya!” Si Cepot, cepat-cepat menyelam masuk ke dalam bayangan hitamnya. Ia sirna bersama bayangan tubuh di lantai.
***
“Seperti yang kau minta, sekarang aku mau, yang kau janjikan,” ucap si Cepot sembari melempar buku cokelat ke meja di hadapan pria berkulit putih dengan mata sipit.
Di ruang penuh pencahayaan, Yo, Sang Kaliwon Kadipaten Senlin menarik napas dalam. Memandang buku, lalu memandang pria bertopeng Cepot.
“Andai saja pesuruhku mampu melakukan tugas enteng ini, aku tak perlu menyuruhmu,” ujarnya merogoh saku. Ia, mengambil, menaruh sebuah liontin besar berbentuk kepala monyet. Di tengah liontin itu, terdapat batu zamrud merah darah.
Si Cepot, mengambilnya cepat. Belum sampai pria di depannya berkedip.
“Hai, Cepot... Apa kau tahu, siapa yang menemukan chip di kepala Makhluk Hitam yang kulepaskan?”
“Kau tahu bila aku adalah Sakerat, kan? Maka dari itu... Tak ada yang gratis.”
Tuan Yo, terdiam. Menatap benci si pria bertopeng merah.
“Yang jelas... Orang yang menemukannya adalah abdi setia Keraton utama. Aku, tahu persis siapa orangnya. Bahkan, aku juga telah menemukan kepastian, satu dari beberapa bocah yang diramalkan akan menghentikan angkara murka Kutukan Negeri Manunggal.”
Kedua mata orang sipit, terbuka lebar. “Si-siapa! Katakan padaku!”
“Ingat, tiada yang cuma-cuma, Tuan Kaliwon.”
“Dasar rakus!”
“Jika tak mau tahu, maka aku undur diri,” ucapnya melangkah mundur.
“Berapa kantung emas yang kau minta!”
“Emas? Aku tak butuh emas.”
“Lalu apa!”
“Berikan padaku, Batu bertuah Cidewa Hideung.”
“A-apa! Kau gila?” Gertaknya memukul meja kaca di depan.
“Oh, kau tak berkenan? Maka aku pamit undur diri, Tuan Kaliwon.” Cepot, tenggelam ke dalam bayangan hitam.
Brak!
Tuan Yo kembali menggebrak meja. “s**l!” ia menggerutu. Batu itu ... batu itu pun dicuri oleh seseorang yang tak dikenal!
***
Ni'mal, duduk tenang bersandar pada ujung dipan. Tubuhnya yang lebam berwarna biru tua, nampak terbalut sebagian oleh perban yang melingkari d**a hingga punggung. Di depannya, Gus Armi dengan busana serba hitam dan ikat kepala, duduk santai memegang secangkir kopi kecokelatan.
“Mbah Pur adalah seorang jawara di dunia persilatan. Dia, Ki Ageng Jagat, Ki Geni Abangan, dan Ki Kumba, adalah ketua pewaris empat Perguruan besar negeri Manunggal.”
Ni'mal menyimak meski sebagian sudah ia tahu.
“Dan, pada masing-masing perguruan silat, mereka memiliki ciri khas masing-masing. Silat perguruan Mbah Pur, cenderung menggunakan jurus dan kuda-kuda tegas. Unsur gunung. Tapi di sisi lain, ada unsur air yang diajarkan pada perguruannya. Itu sebabnya perguruan Silat Macan Bumi lebih rumit. Sedangkan yang ada pada Perguruan Gajah Putih, menggunakan unsur angin. Cenderung lincah dan gesit.
"Perguruan Trah Agna, yaitu Padepokan Enggang Api, milik Ki Geni Abangan, mengandung unsur api. Dan terakhir, perguruan Ki Kumba di Senlin, menggunakan unsur air murni.”
Ni'mal, mengangguk paham. Ia baru mendengar penjelasan detail ini. Raden Irawan, kalau tidak salah... Dia memanggil angin kencang saat marah. Dan Puspa, waktu kemarin juga berbicara tentang jurus angin. Sedangkan, Teguh dan kawan-kawan lain, Kakek mengajarkan mereka untuk memperkuat raga dengan pernapasan.
“Ni'mal... apa kau pernah dengar tentang Ilmu Silat Wayang Pancer?”
Menaikan alis, Ni'mal menggeleng. “Tidak, Den, apa itu?”
“Ilmu Silat wayang, adalah ilmu yang pertama kali lahir di Kadipaten Pancer dahulu. Khusus hanya bagi mereka yang...”
Sepuluh detik tak mendengar lanjutan ucapan Gus Armi, Ni'mal bertanya, “Yang apa, Den?”
“Yang bersungguh-sungguh untuk mencari tahu siapa jati dirinya. Maka dari itu, langkahmu masih terlalu dini jika kau minder seperti itu.”
Ni'mal mneghela napas lemas.
“Mengenai Cepot, apa dia menawarkan perjanjian padamu?”
Ni'mal mengangguk, mendengung.
“Dia bilang, saya harus menyerahkan hadiah khusus dari Sang Raja, agar dia berkenan mengantar saya pada Kakek.”
“Apa kau mengiyakannya?”
Ni'mal menggeleng. “Tidak, Den.”
“Baguslah. Aku takut jika kau mengiyakan, dia menggunakan aji-mantra tertentu untuk merasuki pikiranmu.”
Mantra? Ja-jadi... Dia bisa... memanfaatkan situasi seperti itu juga?
“Ada benarnya, jika kau harus berdiri sampai akhir Sayembara. Sebab dengan begitu, kau bisa berbicara langsung pada Sang Raja. Nanti malam, Sang Raja akan mengumumkan kapan seleksi Sayembara selanjutnya. Sembari menanti pelaksanaan, ikutlah bersama Teguh berlatih di Padepokan Gajah Putih.”
“Ba-baik, Den.”
“Kau ini kuat. Hanya saja, kadang kurang percaya diri. Cerna dan amati sendiri bagaimana kau bisa mengaktifkan Kundalinimu seperti saat mengalahkan Ugel. Dan mulailah, pekakan rasamu pada Sapta Indra. Insyaalloh, kau akan mengerti sendiri.”
Tok tok tok....
Pintu kamar, di ketuk dari luar. Ni'mal dan Gus Armi, menoleh serempak. “Masuklah... ndak di kunci,” sahut Raden Armi sedikit tersenyum.
Puspa, memasuki kamar. Gadis dengan celana hitam dan kaos lengan panjang itu, membawa bingkisan putih. Tubuh semampainya, di balut kain batik hijau tosca. Menutupi lekuk badannya. “Emm, abi ngawageul?
(apa saya mengganggu?)"
“Tangtos heunteu. Kadie rencangan ni'mal sakedap. Abdi oge aya peryogi sareng Aki anjeun. (Tentu tidak. Kemarilah, temani Ni'mal sebentar. Saya juga ada urusan dengan kakekmu),” balasnya bangkit dari ranjang membawa secangkir kopi yang tinggal setengah.
“Ee... I-iya.”
Ni'mal menelan ludah, menatap Puspa dari jauh. Ya-yang benar saja! Ma-masa... Raden Armi biarkan aku bersama seorang gadis di kamar berduaan? Pikirnya memandang punggung Gus Armi yang menjauh.
Puspa membawa bingkisan putih berisi makanan. Ia berjalan, makin dekat ke arah ranjang Ni'mal. Gadis itu, duduk di bawah ranjang. “Kau sudah baikan?” tanyanya sambil membuka bingkisan. Dodol khas Kadipaten Cidewa Hideung.
“I-iya... A-apa itu dari kakekmu?”
Wajah Puspa sejenak memerah.
“Bukan. Aku sengaja membelinya tadi pagi.”
“Mmmm... Maaf, merepotkanmu.”
“Jangan meminta maaf, anggap saja ini permintaan maafku karena menyerangmu waktu itu,” ujarnya tersenyum.
Enggan menatap wajah Puspa, Ni'mal memilih menatap langit-langit kamar. Ia takut mimisan.
“Kau... Bisa makan sendiri, kan? A-atau perlu dibantu?”
Menelan ludah, Ni'mal canggung. Gadis tomboi ini... sejak kapan jadi manis begini?
“Kalau masih sulit, biar aku suapi," tawar Puspa cepat.
Modyar nyong! (Mati aku!) Ni'mal menggeleng menelan ludah lagi. Jantungnya berdebar-debar. “Ndak, ndak usah repot-repot, taruh saja. Aku makan nanti. Insyaalloh bisa sendiri.”
Tersenyum, Puspa terdiam. Begitu juga Ni'mal. Mereka berdua mendadak canggung. Gelagat wajah mereka, seperti orang kebingungan.
Setelah lima menit mencoba mencari topik, keduanya berbicara bersamaan, “Apa–”
“Ee... Eh... Kenapa?” tanggap Ni'mal cepat.
“Tidak. Kau dulu... Apa?”
“Mmmmm... Ada berapa peserta yang tersisa? Setelah kejadian di perpustakaan, aku tertidur. Aku belum sempat bertanya pada Raden Armi barusan.”
“Sekitar seratus tujuh puluh peserta yang tersisih. Dan itu artinya, yang menanti di depan adalah Sayembara terakhir,” ucapnya membenarkan poni rambut.
Drastis sekali? Pikirnya. “Bagaimana bisa berkurang begitu banyak? Apa banyak yang terluka?”
“Seratus orang gugur dalam seleksi kemarin. Dan karenanya, banyak tim yang tidak lolos karena anggotanya tak lengkap. Bahkan, ada satu kelompok yang keseluruhannya gugur.”
Ni'mal, teringat pada Makhluk Hitam jenis serangga yang ia jumpai. Apakah kebanyakan lengah dan di bantai oleh mereka?
“Ras Kanin tak seharusnya ada di hutan itu. Kakek dan Gus Armi sedang menyelidiki hal ini. Kami yakin, kemunculan Kanin ini berkaitan dengan Cepot yang menyerangmu kemarin.”
“Oh, iya! Apakah di kepala Kanin itu juga, terpasang chip?”
Puspa mengangguk tenang, memandang dodol yang ia bawa. “Benar. Aku sudah mengambilnya setelah kau membunuhnya, lalu menyerahkan pada Kakek.”
Apa maksud si Cepot? Jika ini perbuatannya, dia justru sengaja membuat kami menemukan bukti! Dia musuh, tapi terkadang bertindak sok misterius! Apa maksudnya? Pikir Ni'mal memandang selimut di kasur.
Mereka berdua kembali hening. Hingga pemuda dengan mata cokelat terang, kembali ingat bila ia membuat Puspa batal bicara. “Tadi... Kau mau bilang apa?”
“Ni'mal... Bo-boleh aku meminta tolong padamu?”
“Mi-minta tolong? Apa?”
***
(Dua hari kemudian)
Ni'mal mengenakan celana pendek hitam. Ia bergegas mandi, usai melaksanakan Sholat subuh tadi. Menghampiri Anis, Teguh, dan Raden Irawan yang sudah kembali merebahkan badan, Ni'mal menarik sebuah jaket dan celana hitam yang terlipat rapi di ujung kasur.
“Kau mandi wajib, Kang? Habis mimpi ya?” Teguh melirik meledek memperhatikan Ni'mal yang memakai jaket berlengan hitam dengan corak merah di bagian depan. Ada motif padi emas di dadanya, menyeberangi retsleting.
“Dari mana kau dapatkan jaket itu, Ni'mal?” Raden Irawan bertanya, terpancing oleh rasa penasaran sebab tekanan daya magis dari busana yang kini telah membalut Ni'mal.
“I-ini... Beli waktu itu... Di pasar Sunyoto,” jawabnya menyembunyikan sesuatu.
“Jangan berbohong. Mustahil ada jaket dengan tekanan kuat energi yang di jual bebas di pasar Kadipaten Sunyoto.”
Ni'mal hening. Ia teringat pada Ki Ageng Jagat yang memberikan benda itu malam kemarin. “Ni'mal, pakailah ini. Anggap ini pemberian khususku, karena kau mau menemani Puspa pergi. Dan ingat, jangan katakan pada siapapun bila ini dariku, ya?”
“Apakah Gus Armi yang memberikannya?” Raden Irawan penasaran.
“Eee... Ini sebenarnya, pemberian Kakek,” jawabnya singkat.
Anis, kini bertanya, “Kau mau ke mana pagi-pagi begini?”
“Anu... Itu...”
“Puspa mengajakmu kondangan ke Kadipaten Senlin, kan?”
Deg....
Ni'mal kaget. Tak sangka, Raden Irawan tahu. Anis, seketika murung.
“A-apakah Puspa yang bilang?” tanya Ni'mal gugup.
Teguh menyahut, “Chieee chiee chieee... Kang Ni'mal, akhirnya kencan setelah jomblo bertahun-tahun! Hahahaha!”
“Temannya yang menikah, adalah temanku juga. Aku dapat undangan untuk hadir,” jawab Raden Irawan.
“Lalu, kenapa kau tak siap-siap berangkat?” jawab Ni'mal lagi yang kini telah selesai berpakaian.
“Kau pergilah temani dia. Aku dan yang lain akan menunggumu di Padepokan Gajah Putih. Sayembara yang sebenarnya, sudah akan di mulai dalam hitungan hari.”
“Be-begitukah? Jadi... sepulang dari Senlin, aku langsung menyusul, ya?”
“Sudah, pergilah. Puspa sudah menunggu di balik pintu.” Raden Irawan memejamkan kedua mata, merasakan keberadaan sang wanita yang jadi topik obrolan. Menutup mulut ketika menguap, Raden Irawan bersiap melanjutkan tidur.
“Ha?” Ni'mal menoleh membalik badan ke arah pintu yang tertutup. “Baiklah, aku pamit ya!” ujarnya melangkah, lalu membuka pintu.
Ni'mal, langsung terpana usai melangkah keluar kamar. Puspa, berdiri dengan gaun panjang hijau nan indah. Dandanannya yang natural, lekuk lentik bulu mata, semua tampak sempurna di mata Ni'mal.
“Ni’mal? Ayo... Aku sudah memesan tiket kereta. Sekitar satu jam lagi, berangkat.”
“Puspa?”
“Ya? Apa ada yang tertinggal?” tanyanya lembut.
“Kau...”
“Ke-kenapa?” Puspa menggembungkan kedua pipi. “Jangan bilang, aku gadis tomboi yang tak cocok mengenakan baju feminim.”
“Kau cantik,” ucapnya lirih sembari menutup pintu kamar. Tanpa berpaling dari wajah gadis di hadapannya.
Wajah Puspa, memerah seketika.
***
Di dalam kereta menuju Kadipaten Senlin, Puspa dan Ni'mal, duduk bersebelahan. Begitu dekat.
Ni'mal. Pemuda berambut lebat itu memandang ke arah jendela kereta. Menikmati panorama alam hijau. Tak menyadari bila Puspa sesekali curi-curi pandang.
Kereta yang mereka naiki, berada seratus meter dari tanah. Ni'mal, mata cokelatnya fokus pada sebuah pohon besar yang tinggi menjulang. Pohon itu, berjarak begitu jauh dari rel kereta. Rasa penasarannya, membuat ingin bertanya pada gadis di sebelah kiri.
“Puspa, apa–”
Ni'mal batal bicara lanjut saat gadis di sebelahnya sedang memandang dirinya.
“E-eh, kunaon? Mmm... Kenapa?”
Kembali menatap jendela, Ni'mal menempelkan jari telunjuk pada jendela, menunjuk sebuah pohon besar. “Apa kau tahu banyak tentang itu?”
“Maksudnya, Pohon pasak, kan?” Puspa sedikit mendekatkan diri, melongok ke jendela.
Tahu bila jaraknya begitu dekat, Ni'mal tak menoleh. “I-iya... Kau tahu?”
Kembali bersandar di kursi biru kereta, Puspa menjawab, “Pohon sakral yang tersebar di penjuru Negeri Manunggal. Konon... sang Harimau Putih bersayap kerap mendatangi pohon itu.”
Menyempitkan mata, Ni'mal bertanya lagi, “Maksudmu... Sosok harimau yang ada di foto pojok perpustakaan?”
Puspa tersenyum. “Iya. Apa kau benar-benar belum pernah melihat pohon pasak sebelumnya?”
“Di balik gunung Paning tempatku dulu, Kakek bilang, ada pohon Pasak. Tapi, dia tak mengizinkanku untuk melintas ke sebrang gunung hanya untuk melihatnya.”
Puspa mendengung paham. Akina nyalira anu ngawuruk masihan sumanget, tapi, akina anu ngalarangna kengeng pangalaman.
Kumaha oge, pasti anjeuna kacida hanjeulu waktos akina te aya...
Sami sepertos abi kapungkur
(Kakeknya sendiri yang mendidik memberi semangat, tapi kakeknya juga yang menahan melarangnya mendapatkan pengalaman. Bagaimanapun, pasti dia begitu terpukul ketika kakeknya menghilang... Sama sepertiku waktu dulu.)
Mereka, serempak diam. Ni'mal, memejamkan mata bersandar di kursi kereta.
“Ni'mal, boleh aku bertanya?”
Ni'mal membuka mata, menoleh dan mendengung lirih, mengiyakan.
“Di mana keluargamu sekarang?”
Ni'mal tersenyum kecut. “Aku sebatang kara. Sejak kecil, kakek yang membesarkanku. Ayah dan Ibuku... meninggal karena kecelakaan. Sebenarnya, sempat aku diangkat oleh sebuah keluarga di Kota Garam Kadipaten Sunyoto. Tapi, saat orang tua angkatku meninggal... Aku terpaksa meninggalkan keluarga angkatku, karena sesuatu...”
Puspa terkejut, tak menyangka. “Pu-punten, Ni'mal.”
“Tak apa.” Ni'mal menghela napas. Kembali memejamkan mata.
“Kau... Kuat ya.”
“Maksudmu?”
“Tidak hanya bela dirimu. Tapi, batinmu juga...”
Ni'mal, kembali tersenyum kecut, tanpa menatap Puspa.
“Semangat ya, Ni'mal.” Puspa, menepuk lembut tangan kiri Ni'mal. Hal itu, membuat jantung Ni'mal berdekup kencang hanya dalam hitungan detik.