(Stasiun Kadipaten Senlin)
Kedua mata Ni'mal, lirih sayup terpejam. Aroma, hiruk pikuk, hawa, dan udara di sana, begitu familiar. Nyeri yang hinggap menjalar naik dari telinga dan hidung, menuju ubun-ubun. Ini...
Puspa yang berwajah ceria, tanpa menoleh ke belakang, menarik tangan kiri Ni'mal. Mengajaknya berjalan menuju eskalator naik.
Puspa merasakan kasarnya telapak tangan Ni'mal. Aku yakin tak ada yang mampu mengenali wajahku. Pikirnya yakin. Ki Ageng Jagat sendiri yang memasang do'a agar wajahnya tak mampu dikenali para PM. Tapi ... tak terlihat ada kerusakan sama sekali di sini. Semua sudah selesai diperbaiki dalam beberapa hari saja. Batinnya lagi saat ingat kekacauan yang ia timbulkan.
"Ni'mal, ini adalah kota Raya Kadipaten Senlin. Kadipaten yang termaju dalam bidang teknologi. Andai saja, Pancer tak berpikiran kolot, pasti juga semegah kota ini..."
"Ni'mal, kau siap bertugas bersamaku, kan? Aku yakin kita akan jadi duo SM yang paling cepat naik pangkat, dan kelak akan di angkat sebagai orang penting di Negeri Manunggal!"
"Ni'mal, kau tak apa?"
"Ni'mal, kau tak apa?"
Sebuah gambaran ketika ia berbicara pada pria berwajah samar, terpintas kabur. Dan, dilihat Puspa yang tengah bertanya menghadapnya. Mereka berdua telah berada di depan lift menuju lantai bawah.
"Ni'mal? Kau kenapa? Wajahmu pucat sekali. I-itu... Apa kau, mimisan lagi?"
Tes...
Darah menetes dari hidung. Ni'mal, menarik tangannya dari genggaman Puspa. Ia menutup hidung dengan kedua tangan. Rasa pusingnya, sejenak lenyap. "A-aku tak apa."
Panginten... alesan anjeuna mimisan teh, kumargi aya hal nu sanes? (Mungkinkah... Alasan dia mimisan, karena suatu hal lain?) Pikirnya.
Mengusap hidung, ia membuat telapak tangan kirinya ternoda darah. Pria itu tersenyum memandang Puspa. "Sudah, aku tak apa. Ayo, kita turun, kan?" Ni'mal, memandang pintu lift yang terbuka.
Puspa, masih melamun menatap wajah pucat Ni'mal.
"Ayo." Pria berjaket hitam, kini menarik tangan gadis tersebut. Mereka berdua, masuk bersama tiga orang berbusana hitam. Tuxedo.
¤*¤*¤
Gus Armi, berbincang dengan Ki Ageng Jagat di dekat kolam renang pria. Berbeda dengan kolam perempuan, kolam di sana banyak ditumbuhi pepohonan hijau dengan mushola di dekat kolam. Kedua orang itu, duduk bersila saling menghadap. Ditemani dua bungkus rokok merah dan dua cangkir kopi hitam.
Mereka berdua, mengenakan busana yang sama. Hitam, dengan ikat kepala yang juga hitam. "Ni'mal sudah berangkat?" tanya Gus Armi.
"Subuh tadi, Puspa langsung minta izin pergi. Padahal, belum juga sarapan. Begitulah pemuda kalau kasmaran," ucap Ki Ageng Jagat menyalakan rokok, kemudian mengisap.
"Oknum dari Kadipaten Senlin sudah mulai bergerak. Tujuan utama mereka membuat keributan, masih jadi pertanyaan saya. Apa tidak berbahaya, membiarkan Ni'mal dan Puspa masuk ke sana tanpa pengawasan kita?"
"Tidak, Gus. Insyaalloh. Kaliwon Senlin sudah memberikan rambu-rambu. Dia juga menyelidiki kasus ini dengan serius. Saya meminta tiga orang untuk menemui William siang ini. Jadi, kalau ada apa-apa pada mereka bertiga, Insyaalloh... Kedua anak itu akan membantu."
"Apakah Prabu Paku Utomo, telah berkomentar tentang ini?" tanya Gus Armi lagi. Ia menyeruput kopi dengan tangan kanan.
"Beliau, perlu banyak bukti. William sudah melapor pada beliau. Dan, untuk Sayembara akhir... Sepertinya benar akan dimajukan lagi, mengingat situasi juga mendadak seperti ini," ucapnya usai menyeruput kopi. "Ngomong-omong, Gus. Kalau menurut panjenengan, siapa yang bakal jadi juara tunggal Sayembara?"
"Untuk kali ini, saya belum bisa memastikan. Tapi yang jelas, Puspa ada di antara kandidat juara."
"Bagaimana dengan... Ni'mal?"
"Dia pemula. Tapi jika dia beruntung, semoga dia lolos ke babak final."
"Oh, benar. Final. Sayembara tahun ini... Mirip seperti tahun pertama Sayembara digelar. Sebuah pertarungan akbar antar pendekar di sebuah tempat latihan. Tak ada lagi kawan. Semua jadi lawan."
Gus Armi mengangguk. "Itulah... Ni'mal bagus dalam bekerja sama. Tapi untuk melawan musuh dalam duel, dia masih kaku dalam olah rasa untuk bertarung."
"Itu kenapa panjenengan meminta saya, saat sampai di Padepokan nanti, semua murid saya harus menghajarnya, begitu?"
Gus Armi, menarik napas dalam. "Baik hati, itu wajib. Tapi dalam pertempuran, yang ada hanya lawan. Rasa tidak tega itu bagus. Tapi, apa di kata bila seorang pendekar iba pada lawan yang licik?"
Ki Ageng Jagat, nyengir. "Wahhh... Gus Armi ini, nyinggung saya."
Raden Armi terkekeh. "Ndak. Cuma ya... Itu kelemahan orang baik."
"Benar katamu, Gus. Terkadang, suatu k*******n yang tercipta karena rasa belas kasih, justru lebih baik dari kelembutan itu sendiri."
"Ah, itu sih kata-kata dari sahabat Baginda Nabi yang saya otak-atik sendiri. Hahaha..."
¤*¤*¤
Astaghfirulloh hal adzim...
Astaghfirulloh hal adzim... Astaghfirulloh hal adzim...
Ni'mal terus berdzikir dalam hati. Dan semakin lama, pusing yang ia rasakan, memudar lenyap.
Masih menggandeng Ni'mal, kini Puspa berada di depan stasiun usai membayar tiket keluar. Kartu biru, menjadi metode pembayaran. Mereka berdua, menatap gedung-gedung megah yang berjajar di kota Raya.
Mobil-mobil hitam mengkilap, motor-motor besar dengan dua roda ukuran besar, menghias ramai jalanan. "Puspa, jadi di mana tempat pernikahan temanmu itu?" tanya Ni'mal.
Gadis yang sedikit lebih pendek dari Ni'mal, menunjuk sebuah gedung di sebrang jalan raya kota. "Itu," jawabnya menunjuk lurus.
Tiga orang pria rapi bertuxedo tadi, melangkah menyeberangi jalan raya menuju gedung yang Puspa tunjuk.
Gedung yang ditunjuk, dari bawah hingga atas, bertembok kaca tebal hitam. Ujung gedung, berbentuk salib. Jajaran PM sudah berbaris di depan gedung guna mengamankan acara pernikahan.
"Puspa, apakah... Itu gedung pernikahannya?" Ni'mal mendongak ke atas gedung.
"Iya, kenapa?"
"Emmm..." Menarik napas dalam, Ni'mal mengangguk. "Tak sembarang orang mampu menyewa gedung sebesar ini... " Ni'mal kembali mendengung. "Temanmu itu, siapa? Maksudku... Dia menikah dengan pengamanan ketat seperti itu?"
"Dia Putra pengusaha tambang besi Kadipaten Senlin," jelasnya tersenyum. Ia, kembali menarik tangan Ni'mal untuk menyeberangi jalan saat rambu lalu lintas berwarna merah.
"Oh, pantas saja." Ni'mal, membalas pelan genggaman Puspa. Tangannya... lembut. Batin Ni'mal sembari berjalan.
Mereka berdua berjalan bersama, dengan Puspa yang berada di depan. Wajah Ni'mal, sedikit datar. Sedangkan Puspa, berhias senyum semringah.
Di depan pintu masuk gedung, salah seorang PM, memandang mereka berdua. Bajunya hijau tua, berbeda dari PM lain. "Undangan?" bordir nama pada d**a kiri, bertuliskan Sebastian.
Tanpa gugup sedikit pun, Puspa mengambil kartu undangan berupa memory card kecil dari kalung liontin yang ia kenakan. Ia, memberikannya pada PM berkulit cokelat gelap.
Menaruh memory card pada gadget gelang, PM mengkonfirmasi. Ia mengangguk, mengarahkan. "Silakan," ucapnya mengembalikan liontin.
¤*¤*¤
Langit-langit ruangan, telah berhias sulur-sulur kertas putih. Ruangan di sana semerbak harum. Resepsi pernikahan tengah di gelar meriah. Pria-pria di sana, mengenakan tuxedo hitam rapi. Gadis-gadis di sana, sebagian rapi mengenakan kerudung. Sebagian lain, mengurai rambut.
Ni'mal, menyapu pandangan. Makanan beraneka ragam tersaji di meja berkain putih. Manisan khas jawa, cemilan khas sunda, sampai berbagai macam olahan daging, siap di santap. Minuman beraneka warna, turut memeriahkan suasana.
Gadis berambut panjang dengan gaun indah, melongok ke kanan kiri. Ia mencari-cari teman-teman. Tangannya, masih memegang Ni'mal.
Dari jarak lima belas meter, tiga orang gadis berkerudung melambai-lambaikan tangan ke arah Ni'mal dan Puspa. "Rumm!" Mereka berteriak memanggil.
"Puspa, apa mereka memanggilmu?" tanya Ni'mal mencolek bahu gadis yang menggandengnya.
"Ah, iya." Tetap memegang tangan Ni'mal, ia berjalan cepat menghampiri.
Saat Puspa berdekatan dengan para gadis, ia memeluk satu per satu sahabatnya. "Yuni! Keke! Dini! Kumaha daramang? Atos dua taun teu papendak! Iraha darongkap?" (Yuni! Keke! Dini! Bagaimana kabar kalian? Sudah dua tahunan kita tak bertemu! Kapan kalian datang?)
"Abdi dongkap ti kamari. Abdi oge ngabantos kanggo nyiapkeun hajatan di bumi christy," jelas gadis berkerudung pink. (Kami datang dari kemarin. Kami juga membantu persiapan hajatan di rumah Christy, ada)
"Hapunteun, abi teu tiasa ngiring ngabantos." (Maaf, aku tak bisa ikut membantu bersama kalian.)
"Anjeun nyarios naon! Anjeeun kan nuju ngiring dina raraga naon teh ... raraga penting saurna ... moal tiasa ngiring. Abdi atos bungah pisan ninggal anjeun sehat oge!" (Kau ini bicara apa! Kau kan sedang ikut acara apa itu ... acara penting ceunah ... mana bisa ikut. Kami sudah sangat bahagia melihatmu sehat!) ucap gadis pesek berkerudung kuning sembari memeluk Puspa lagi.
"Rum... Eta saha? Picarogeeun? kasep!" (Rum... i-itu siapa? Calonmu? Ganteng!) bisik gadis berkerudung sembari memandang Ni'mal.
Ni'mal hanya membalas senyuman. Ia tak paham bahasa yang mereka gunakan.
"Oh, em... anjeuna ... Ni'mal ... anjeuna putu nu gaduh paguron silat Kadipaten Sunyoto." (Dia... Ni'mal... Dia, cucu pemilik perguruan silat di Kadipaten Sunyoto.)
Sontak, ketiga gadis itu tersenyum kaget.
"Pantes we, Puspa picarogeeun na jawara!" (Pantaslah, Puspa calon suaminya pendekar!)
Gugup, Ni'mal pun bermaksud pergi sejenak. "Puspa, boleh aku izin sebentar? Aku, ingin cari minum dulu," ucapnya dengan pipi merona.
Menatap Ni'mal dengan wajah yang merona, Puspa mengangguk. "Silakan."
Kenapa aku canggung ya? Duh Gusti... Ni'mal, berjalan pelan meninggalkan mereka. Pada langkah yang ke tujuh, ia berhenti. Membalik badan kembali menatap para gadis.
Dilihatnya seorang pria berambut merah lebat, dengan busana tuxedo, tengah berbicara pada Puspa. Raut ketiga gadis itu, sebal memandangnya.
"Sebaiknya jangan dekati kami!"
Suara Puspa terdengar jelas oleh Ni'mal, membuatnya melangkah menghampiri mereka kembali.
"Puspa Arumi, apa kau lupa jika mendiang nenekmu begitu setuju, jika aku menikahimu?" Suara pria berambut merah, berat. Tubuhnya lebih tinggi dari Ni'mal. Perawakan wajahnya putih bersih.
"Jangan bawa-bawa keluargaku! Kau pria kurang ajar!" Puspa, berdiri membelakangi tiga teman perempuan. Ia, mengepalkan tinju.
"Ada apa ini?" tanya Ni'mal menatap si pria.
"Lalu, siapa kau?" Pria itu, menghadap penuh menatap Ni'mal.
Cet!
Puspa, cepat memegang tangan kiri Ni'mal. "Anjeuna kabogoh abdi? Anjeun hyong naon?" Puspa, menatap tajam pria itu. (Dia pacarku! Kau mau apa?)
"Oooh... Janten ieu? Sakedap..." (Ooh... jadi ini? Sebentar.) Reno memandang baik-baik wajah Ni'mal. "Anjeun b***k nu teu sopan lebet ka kolam renang istri, pan?" (Kau bocah yang sembrono masuk ke kolam renang wanita kan?) Ia menoleh ke wajah Puspa. "Jadi ... seleramu pria seperti dia? Hahaha!"
"Aku tak tahu siapa kau dan apa yang kalian bicarakan. Tapi, jika kau mengusik mereka, aku tak akan tinggal diam!" seru Ni'mal lantang, membuat puluhan orang disekitar menoleh memandang heran.
"Hahaha... Pemberani sekali kau, bocah m***m!"
Wuz!
Pria berambut merah, mengarahkan tinju kanan, dan seketika di tangkis Ni'mal tanpa bergeser.
Dua detik menatap sorot mata Ni'mal, pria itu melompat mundur tiga meter. "Ooh, rupanya tenaga dalammu besar juga, ya? Aku baru merasakannya. Salahku meremehkanmu." Ia mengambil kuda-kuda silat ala harimau.
"Santo! Apa kau gila! Jika kau ingin berkelahi, lakukanlah di Sayembara!" teriak Puspa.
Kerumunan di sana pun, saling berbisik. "Ada apa? Kenapa?"
Menarik napas sembari berdiri tegap, Santo tersenyum. "Baiklah, nona... Biarkan aku menghajarnya di akhir Sayembara besok!"
***
Di atap sebuah gedung yang menjulang tinggi, Raden Irawan mengenakan jaket hitam dengan hoodie yang menutup kepala. Di samping kiri, gadis berkacamata dan gadis berjubah hitam-merah, berdiri tegap memandangnya.
"Namamu, Rahaf, kan?" tanyanya pada gadis berkacamata dengan busana panjang berukirkan batik daun pepaya.
Ia mengangguk mengiyakan. "I-iya."
"Berapa lama, kau bisa membuatku tak terlihat?" tanyanya lagi.
"Selama Anda, tak menggunakan tenaga dalam berlebih, selama itu pula Anda tak terlihat."
Raden Irawan, menoleh menatap Agni. "Dan kau, diamlah di sini. Aku tak mungkin mengajakmu. Caramu membunuh akan meninggalkan jejak. Setelah aku menghancurkan atap ini, pasti akan banyak SM dan PM yang naik kemari untuk menyisir area. Jadi diamlah di tempat. Mereka tak akan bisa melacak keberadaan kalian."
Meniup poni yang jatuh menutup wajah, Agni mengiyakan. "Baiklah, tapi jangan salahkan aku untuk melawan balik jika mereka menyerang lebih dulu..."
"Ke-kenapa Anda, tak membiarkan kami mengawasi dari gedung lain?" Rahaf ragu bertanya. Ia, memandangi gedung-gedung yang lebih rendah.
"Karena di gedung lain, justru banyak dilengkapi kamera pengintai. Belum lagi, PM tak akan ragu meledakan gedung selain gedung ini. Percayalah... Kalian akan tetap aman di sini. Kecuali, jika aku membuat keributan dan semua PM bergerak menuju ruang rahasia, kalian bisa pergi."
Rahaf, mengangguk ragu. Namun, Agni yang bertanya tak percaya. "Bagaimana bisa gedung pusat keuangan pemerintah malah jarang terpantau kamera?"
"Karena mereka tak mau tertangkap basah jika Staff Keraton Utama memeriksa file kinerja mereka." Raden Irawan, menarik napas dalam. Ia bersiap memukul atap datar gedung. "Kau siap, kan? Rahaf?"
¤*¤*¤
(Beberapa waktu kemudian)
Ni'mal dan Puspa, duduk tenang dalam barisan bangku undangan pernikahan bersama ratusan tamu lain. Di depan panggung, tampak para penari adat Jawa, mempersembahkan gerakan indah nan lentik. Ni'mal, dari jarak yang cukup jauh, melihat jelas satu dari tujuh belas gadis berbusana adat.
I-itu... Dia Lastri, kan? Pikirnya menyempitkan kedua mata.
"Ni'mal... Maaf, aku membuatmu kesulitan tadi. Dia Santo, peserta seleksi Sayembara seperti kita yang lolos babak kemarin." Puspa memandang wajah pria berjaket di sebelahnya.
Benar, itu Lastri. Aku pun samar bisa mengingat aroma tubuhnya. Pikirnya sembari mendengar lantunan merdu gending jawa.
Menoleh ke arah depan, dan kembali menatap Ni'mal, Puspa menggembungkan kedua pipi. "Huh!" Ia mencubit sebal lengan Ni'mal. Lalu kembali menyenderkan punggung di kursi.
Nyengir, Ni'mal menoleh ke arah Puspa. "Eh, kenapa? Ada apa? Aku tak dengar."
"Teu! Teu sawios!" ucapnya sebal.
Lastri, ia terus mengayunkan selendang ungu yang membalut, secara lembut. Raut wajahnya datar, mendadak. Entah angin apa yang membuat rasa hatinya gundah. Alih-alih di tengah pertunjukan seni tari, batinnya menjerit memintanya berhenti.
Ni'mal, kembali melihat ke arah para penari. Sebagaimana yang dirasakan Lastri, ia melirik ke kanan dan kiri. Apa ya? Kok, perasaanku mendadak tak enak?
Buamm!
Sebuah suara ledakan dari jarak berkisar lima kilometer, membuyarkan perhatian penonton. Sebagian langsung beranjak dari tempat duduk, hendak keluar memeriksa keadaan. Sebagian lain, tampak panik namun tetap di tempat.
Para penari, berhenti. Begitu pun dengan pemain musik. Kasak-kusuk para hadirin, berdengung di telinga Ni'mal. Apa lagi ini? Pikirnya ketika nyeri menjalar di ubun-ubun.
Brall!!
Dinding ruangan, roboh. Sebagian menimpa para hadirin, termasuk para penari. Teriakan histeris massal memecah suasana yang sempat hening. Orang-orang mulai berhamburan, berlari keluar meski ada satu-dua orang yang mencoba menolong para korban tertimpa puing.
"Astaghfirulloh hal adzim!"
Ni'mal membuka mata. Semuanya masih tampak normal. Suara alunan gamelan masih berjalan. Namun, Lastri seorang diri nampak mulai ragu menari.
"Kenapa, Ni'mal?" Puspa bertanya memegang pundak Ni'mal.
"Aku melihat orang-orang tertimpa puing gedung setelah bunyi ledakan!" jawabnya cepat.
Mengerutkan dahi, Puspa bertanya, "Apa maksudmu?"
Buamm!!
Sebuah ledakan terdengar menggelegar. Membuat hening serempak orang-orang.
Mengerti dan langsung percaya pada apa yang Ni'mal ucap barusan, Puspa, berdiri cepat. Ia menatap tiga gadis kawannya yang mana duduk berjajar di sebelah kiri. "Kalian... Pergilah keluar gedung dulu, ajak semua orang untuk mengungsi!"
Ni'mal, berlari melompati kursi-kursi. Ia berteriak, meminta semua orang untuk menyingkir keluar dari gedung. Arah larinya, persis menuju panggung kecil di mana Lastri dan yang lain berdiri.
Brall!
Puing yang sempat ia lihat tadi dalam gambaran, benar berjatuhan. Ia, menarik napas cepat, lalu melayangkan tinju pada beton yang nyaris menimpa Lastri.
Bumm!
Beton itu terhempas oleh tinju Ni'mal. "Argh!" raungnya kesakitan saat melihat tangannya berdarah. A-apa? Tinjuku?
Lastri, terkejut. Ia terdiam memandang Ni'mal yang baru saja menyelamatkan. Spontan, gadis berbusana tari, memeluk Ni'mal erat, menangis.
Puspa yang juga berhasil menghancurkan puing yang runtuh demi menyelamatkan nyawa beberapa orang lain, menoleh ke arah Ni'mal. Ia, terkejut. Matanya tak bergeming melihat gadis berbusana tari, mendekap Ni'mal.
Sosok pria bertuxedo hitam berambut merah, sudah berlari keluar mengungsikan orang-orang di dalam gedung. PM, segera masuk ke dalam gedung, setelah orang-orang berbondong-bondong keluar.
"Kalian! Cepat keluar!" seru salah seorang PM yang tadi menjaga pintu masuk. Ia berseru pada Ni'mal, Lastri, dan Puspa.
Bukannya keluar, Lastri justru mengepalkan erat kedua tinju. "Dasar lelaki!" Ia melesat cepat ke arah Ni'mal.
Mendengar derap lari Puspa, Ni'mal menoleh ke belakang. Gadis berambut panjang, menghampirinya seolah siap menyerang. Hingga...
Brall!
Sesosok Makhluk Hitam berkulit abu-abu, dengan kepala elang dan sayap yang lebar terjun turun dari lantai teratas gedung. Saat ia baru akan menerkam Ni'mal dan Lastri, Puspa sudah lebih dulu melompat menerjang Makhluk Hitam dengan tendangan layang.
Blak!
Sontak sang monster terpental, menabrak hiasan kembang-kembang yang ada di ujung depan ruang. "Kyaaaak!" Ia bangkit, menjerit. Matanya menyala merah.
Sosok Makhluk Hitam yang pernah Puspa hadapi di stasiun beberapa hari lalu, memekik hendak melampiaskan amarah.