Sebuah ruangan kayu dari rumah joglo, di suatu Kadipaten.
Cepot memasuki ruangan usai membuka pintu kayu perlahan. Netranya dari balik topeng merah, menyorot pada delapan lelaki berbusana adat jawa, yang keseluruhan mengenakan topeng berwarna hitam. Temaram lampu jingga, jadi satu-satunya penerang.
"Kalian selalu datang tepat waktu, ya... Tidak seperti para Pandawa Merah yang Adigang Adigung Adiguna." (Adigang Adigung Adiguna: dalam bahasa jawa, semena-mena.)
"Selamat datang Ra-" seseorang berbusana jawa dengan d**a bidang nan kekar, menyapa. "Maksud hamba, Tuan Cepot."
Cepot melangkah pelan, menuju kursi kosong yang menghadap pada meja. "Tua bangka Yo, memintaku melakukan sesuatu di Pagelaran terakhir Sayembara."
Sosok lain yang juga bertopeng, menyahut, "apa kami perlu membantu Anda?"
Dreekk...
Cepot menarik kursi. Ia duduk di sana, perlahan. "Tidak. Aku masih bisa menangani ini."
"Lantas, kapan kami bisa mulai bergerak, Tuan? Kami sudah tak tahan melihat ini semua," ucap lelaki yang berada jauh dari Cepot.
Ctik...
Cepot menjentikkan jari. Lampu jingga yang menerangi ruangan, seketika padam. "Tenang saja. Tahan. Sabar dulu."
Trrep..
Cepot, dalam gelap melepaskan topeng. "Alon-alon asal kelakon (pelan-pelan asal terlaksana)," ucapnya. "Bersabarlah sampai Purnama Merah tiba. Jika gagal, aku masih punya banyak rencana cadangan."
Suara lelaki yang awal menyapa, terdengar, "satu-satunya yang paling merepotkan, adalah putra Kyai Yahya. Jika kita tak bertindak cepat, Hamba khawatir bila ia akan memperbanyak pengikut."
Suara cepot, menyahut, "jangan bertindak bodoh. Jangankan kita bersembilan... Puluhan SM Elite bergabung dengan para bidak Senlin pun, belum cukup untuk menghentikan manusia itu."
"Lalu apa rencana Anda untuk menhentikannya, Tuan Cepot?"
"Aku... Mencurigai seseorang yang berkaitan dengannya. Bukan dari keluarga maupun darahnya... Tetapi orang itu, sepertinya begitu istimewa baginya..."
"Siapa yang Anda maksud, Tuan?"
"Kita akan lihat nanti di Pagelaran akhir Sayembara. Sebagaimana yang sudah diramalkan para tetua yang berasal dari... Nusantara..."
***
'Nak, ingat ya... Seperti yang mereka bertiga sampaikan beberapa kali... Ikuti saja hatimu, tak peduli bagaimana situasi. Meski bagi nalar itu tak meyakinkan, tapi hatimu bergetar mantap, maka lakukan. Mengerti?'
'Lee... Cah Bagus... Tolong bantu pertajam bekal yang sudah ia kuasai.'
'Sendiko dawuh, Kyai...'
Setelah mimpi panjang yang tak begitu Ni'mal ingat, hanya kalimat itu yang terngiang di kepala, sebelum ia membuka mata. Suara dari sosok lelaki berbusana serba putih dengan sorban di kepala, dan suara lelaki berbusana serba hitam dengan blangkon menutup rambut.
***
"Huuugh!"
Ni'mal sayup membuka netra hazzelnut-nya. Ia, berada di kurungan kayu persegi. Lebarnya, tiga dua kali tiga meter. Agak sempit.
"Huugh!"
Ni'mal menoleh sebab suara perempuan di sebelahnya. Gadis berambut biru itu, mati-matian berusaha melepas belenggu rantai yang mengekang. 'Kami tertangkap?' Ni'mal menatap sekujur badan, di mana rantai juga membelenggu sekujur badan.
Srikandi, tersengal. "Syukur kau sudah bangun... Sekarang, coba tunjukan padaku kekuatanmu yang sampai-sampai meyakinkanmu kalau para makhluk itu buk-"
Praalll!
Ni'mal yang hanya menggerakan kedua lengan, mampu menghancurkan rantai-rantai itu. Srikandi pun melongo dibuatnya. 'Naha bisa! Saha b***k boloho ieu? Rupa boloho na teu sarua jeung kanyataan! (Kok bisa! Siapa bocah bodoh ini? Tampang bloonnya tak sesuai kenyataan!)' Ia masih termangu pada Ni'mal yang menatapnya lugu.
Cet!
Lelaki berjaket hitam, menggenggam rantai yang mengikat Srikandi.
Pralll!
Ia memutusnya tanpa bersusah payah.
"H-hey! Bagaimana bisa kau menghancurkan benda ini? Kau tahu kalau benda ini dilapisi rajah gaib, kah?"
Ni'mal mengernyitkan kening. "Rajah gaib? Apa itu? Aku..." Ni'mal menggulirkan mata ke kiri. 'Seperti pernah dengar...'
Ngiiiing...
Sadar bila dengungan dari telinga muncul saat ia mengigat, Ni'mal urung. 'Jangan... Sebaiknya jangan ingat-ingat sekarang!'
Srikandi tepuk jidat. "Ah sudahlah..." Ia menatap celah lubang di dinding lempeng. "Lamun manehna bisa ngarusak rantena, berarti awi siga kieu teu masalah, 'kan? (Kalau dia bisa merusak rantainya, itu berarti kayu begini bukan masalah, kan?)"
"Apa kita di bawa ke persembunyian mereka?" Ni'mal meraba dinding kayu kurungan.
"Sepertnya begitu. Kau bisa hancurkan kayu ini, kan?"
Ni'mal manggut. "Sekarang?"
"Tahun depan."
"He?"
"Ya iya atuh Akang Kasep!"
Ni'mal menampakkan deret giginya. "Hehe..." diam-diam, ia coba merasakan getaran energi yang ada di luar kurungan kayu itu. Hingga...
Brak!
Kurungan yang memuat mereka berdua, dilempar kasar. Kedua orang itu mengaduh, memejamkan mata.
Gludak gludak gludak!
Kurungan kayu tersebut, tak berhenti menggelinding, sampai tiga menit.
Dlak!
Mereka terhenti oleh sesuatu. Dan seketika itu pula, mata Ni'mal terbuka lebar. Tanpa aba-aba dari gadis di sampingnya, pemuda berjaket hitam merah, melakukan tinju uppercut.
Braall!
Kurungan dari kayu, hancur seketika. Berserakan jadi serpihan kecil.
Grrrrrrrraarrr!
Geraman dari para manusia cheetah, menggema.
Ni'mal, kini berdiri di sebuah tanah lapang tanpa rumput. Matanya melirik-mengarah sekitar, seraya memutar badan.
Puluhan manusia setengah cheetah, dengan busana suku dayak dan tombak serta busur panah, mengepung Ni'mal dan Srikandi. Para manusia Cheetah itu, duduk di bangku yang terbuat dari batang pohon kayu. Melingkari tanah lapang yang Ni'mal pijaki.
Cucu Mbah Pur, bak berda di tengah lapangan colosseum dari kayu. 'Apa ini!'
"Grrrrrreekkh!" Sosok manusia Cheetah dengan codet di mata kanan, menggeram dalam posisi siaga. Ia sempat melompat mundur sebelum tinju Ni'mal menjangkaunya.
***
Puspa yang sedang duduk bersandar di bawah pohon, terpejam menikmati angin segar. Pada bahu kanannya, gadis berkaca mata dengan busana putih dan rok sepanjang lutut, terlelap.
Gadis berambut panjang dengan busana serba hitam, mendongak ke langit biru. Tiada awan di sana.
"Teh..." Rahaf lirih memanggil.
"Eeh... Kamu bangun?" Ia melirikkan mata ke arah gadis berkaca mata.
"Sebenarnya, Vajra itu... Siapa?" tanyanya lirih.
Mendengar pertanyaan, Puspa hening sejenak. Tangannya lembut membelai kepala Rahaf. "Kukira... Kalian berdua justru lebih tahu tentang makhluk itu..."
"Makhluk?" Rahaf, membuka mata. "Jadi... Dia bukan manusia?"
"Yang aku dengar dari Kakek, dan Gus Armi... Dia dulunya, seorang pertapa dari Kadipaten Pancer."
"Bisa tolong ceritakan, Teh?" Rahaf, mengangkat kepala. Ia duduk menyimak.
Puspa, menghela napas panjang, lanjut bercerita.
"Pada masa kerajaan dahulu, ada seorang anak manusia yang sering membuat ulah. Dia mengaku-ngaku sebagai keturunan Bathara Indra."
Rahaf mengerutkan kening. "S-siapa Bathara Indra?"
"Sebagian leluhur, menyebutnya sebagai dewa cuaca. Dewa perang, dan raja para dewa di kahyangan."
"Lalu, apa yang terjadi?" Rahaf makin antusias.
"Karena kecongkakan dan keangkuhan anak itu... Dia dikurung di sebuah gunung berapi yang sekarang kita sebut Kadipaten Senlin."
Rahaf melirik ke kiri. "T-tapi bukankah di Senlin... Tidak ada gunung, ya? Atau aku salah?"
Puspa tersenyum, berhenti membelai Rahaf. "Gunung itu, begitu besar dan hampir menyaingi tinggi pohon pasak di sana. Tetapi setelah Vajra dikurung di kawah gunung, justru gunung itu meledak. Hancur jadi serpihan, setelah petir dari langit berbentuk naga, menyambar bumi hingga hangus." Puspa, menghela napas, hendak melanjutkan.
"Dan karena kebanyakan warga yang jadi saksi di sana adalah masyarakat suku mongol, seperti bahasa mereka, mereka menyebut daerah itu dengan sebutan Senlin, atau naga."
"Hooohh... Begitu... Ta-tapi kenapa dia masih hidup sampai sekarang? Kan, katanya Ayah Raden Armi yang mengurungnya di suatu tempat?"
"Iya... Aku juga tak terlalu tahu secara detil kenapa dia masih hidup setelah ledakan besar itu. Tapi, dia lalu menghilang entah kemana. Dan dia, kembali muncul saat perang Basar terjadi."
"Ha? J-jadi dia berumur ratusan tahun lebih? Tapi masih bertubuh muda?"
Puspa mengangguk. "Iya. Awet muda yang ia dapat, konon karena ia sempat berendam lama di sebuah danau yang dulunya bernama Telaga Cikahuripan. Telaga yang memang dibuat langsung oleh Raja Galuh, yang mempunyai khasiat membuat manusia awet muda."
"Itu di mana, Teh?" Rahaf penasaran.
"Ada di Cidewa Hideung. Sekarang, airnya menghitam. Namanya berganti jadi, Rawa Cihideung."
"Hooo... Begitu..." Rahaf memandang tanah berlapis rumput di bawahnya. "Lalu, lalu... Sosok nenek peot yang mengaku dirinya sebagai Malkika Hitam itu... Siapa?"
Puspa, merapatkan bibir tipisnya. "Mmmm... Aku belum tahu banyak. Gus Armi hanya pernah menyampaikan bila... Makhluk yang berdiam di Manunggal sebelum suku-suku kita datang kemari, mereka menyembah sesuatu yang disebut Malkika."
"Ja-jadi... Apakah itu artinya... Mungkinkah Vajra itu ada kaitannya dengan Malkika Hitam itu!" terka Rahaf yakin.
"Bathara Indra, adalah dewa yang diyakini oleh masyarakat hindu dari suku Sunda dan Jawa. Sedangkan Malkika, adalah sesuatu yang diyakini oleh para makhluk penghuni Manunggal. Bathara, dan Malkika... Mereka berbeda... Jadi aku rasa, Vajra sama sekali tak berkaitan dengan Malkika dalam sejarah Manungal."
"Hmm... Begitu ya..." Rahaf, mencoba berpikir. Hendak menanyakan sesuatu lain. "Ahh, iya Teh! Teteh... Apa sebelumnya Teh Puspa... Kenal dengan pendiri Padepokan Macan Bumi?"
"Maksudnya... Mbah Pur, Kakeknya Kak Ni'mal?" Mata gadis sedikit melebar.
"Iya! Kan... Kakeknya Teteh juga pendiri Padepokan besar!"
Wajah Puspa, sekilas memerah. "Itu..."
Tap!
Belum Puspa menjawab, Agni melompat turun dari atas pohon yang jadi naungan mereka. Gadis berjubah hitam, menyodorkan selembar kertas, sembari menyingkap tudung kepala dari jubah. "Aku sudah menemukan beberapa peserta yang mungkin akan jadi penghalang menuju Pagelaran Sayembara di tahap esok."
Pada kertas yang Agni bawa, tertera nama-nama peserta lain. Peserta yang memang hampir tak pernah berkomunikasi dengan mereka bertiga.
***
Melihat Ni'mal yang bersiaga dalam kuda-kuda, membuat Srikandi berteriak mencegat, "tunggu!" Ia bangkit dari sisa kurungan kayu.
"Aku tak akan sabar menunggu agar diserang lagi lebih dulu!"
Wusss!
Ni'mal, melejit cepat ke arah sang manusia cheetah. Ia mengarahkan bogem kanannya pada badan lawan.
Swuing!
Sang Cheetah, bergerak elok menghindar, lanjut mengutus cakar kirinya ke perut Ni'mal.
Blakkk!
"Hugh!" Pipi Ni'mal menggembung sejenak, memuntahkan air yang bercampur sedikit darah, lalu terlempar ke belakang di mana Srikandi berada.
Taapp!
Gadis berambut biru itu, menahan menangkap punggung Ni'mal. Wajahnya seperti kesakitan. "Hey! Bodoh! Tunggu sebentar!"
Ni'mal berdengus. 'Dia lebih kuat dari Kanin, ya?'
"iahaw nanawat! nagnaj urubret nigni itam! hadus amal imak kat itapadnem asgnam ngay isab iradnihgnem nagnajret hanap amatrep imak!" Ia berbicara dengan bahasa yang tak Ni'mal pahami.
Alhasil, Ni'mal kembali mengeratkan tinju hendak lanjut maju.
Tap!
Srikandi memegang erat pundak pemuda berjaket hitam merah. "Lalu apa yang kalian mau?"
Ni'mal, menoleh cepat ke belakang. 'Dia bisa bicara bahasa mereka?'
"Ggrrreeekh... Iram huratreb!"
"Apa yang dia katakan? Kau bisa bahasa mereka?" Ni'mal bertanya.
"Apa yang ingin kalian pertaruhkan?" Srikandi berbicara pada sosok itu, tangannya masih erat mencengkeram pundak Ni'mal.