Terbalasnya Dendam Masa Kecil!

1004 Kata
Kadipaten Tarang, di bawah teduh rindang pohon. "Agni, kalau menurutmu... Apa mungkin aku bisa mengalahkan Raden Irawan?" Puspa bertanya, melihat nama Raden Irawan pada kertas yang gadis berjubah hitam bawa. "Mmmm..." Agni melirik ke kanan. "Kalian memiliki kesamaan dalam menggunakan unsur alam, angin. Meski aku belum lihat kekuatan penuh Raden Irawan, aku yakin daya ledak tenaga sukmanya besar. Hanya saja, untuk kecepatan aku rasa Teh Puspa lebih unggul." "Begitu, ya... Lalu mengenai Ni'mal? Kenapa... Kau tak tuliskan di daftar ini?" Puspa mendongak menatap Agni. "Dia gugur." "Ha?" Puspa dan Rahaf memandang Agni heran. "Dia gugur kalau dia tak kembali. Aku barusan dengar bahwa, SM bernama Bongbong, memcarinya ke Desa Sironggeng... Tapi, dia tak ada di sana," jawab Agni. Puspa, menggulirkan mata indahnya ke kanan dan kiri. 'Kemana?' "Kemana dia pergi?" Rahaf bertanya. "Gadis bernama Lastri bilang, dia pergi ke Pulau di mana pertapa itu berada." "Tunggu..." Rahaf sedikit menunduk. "Bukankah pertapa itu, ada di Desa Suryagni?" Agni menggeleng. "Bongbong juga sudah menggali info dari Kepala Desa sekitar. Mereka bilang, pertapa itu sudah berpindah tempat dan memang selalu berada di Karang Dewa setiap jelang Purnama Merah." "Pertapa? Apa yang kalian bicarakan?" Puspa mendatarkan alis. "Kenapa kalian tak ceritakan?" Agni dan Rahaf, saling memandang. Tersenyum bodoh. *** Tap! Manusia cheetah bercodet di mata kanan, menangkap tombak yang dilempar oleh penonton di tribun kayu. Sosok itu, menatap Srikandi. "halgnuratreb iapmas itam!" perintahnya melempar tombak pelan, ke arah gadis berambut biru. Tep! Gadis itu, menaikan garis bibirnya ke atas. Kaki kanan, ia taruh di belakang. Sedang kaki kiri, ia tekuk di depan. Ia, memegang tombak dengan kedua tangan. Giginya tampak, mana kala memandang Ni'mal. Ni'mal yang sempat bingung, kini memasang wajah pakem. Ia, menyampingkan tangan kiri di pinggul, dengan tangan kanan membentuk tapak cakar harimau, di depan wajah. "Grrrrrhheherrr..." Sang Manusia cheetah, melompat mundur mengatur jarak. "Kau bilang, kau dari Sunyoto, ya? Sejujurnya aku penasaran pada Silat Macan Bumi itu." Ni'mal, berdengus. "Aku sebenarnya sudah bertekad agar tak bertarung melawan perempuan lagi." Mata cokelatnya, tajam memandang. "Tapi..." Lelaki berjaket hitam, memijak tanah keras-keras. "Ini pengecualian!" Wuuuuss! Melihat Ni'mal yang maju lebih dulu, Srikandi melebarkan senyum. "Ngges! (Hayok!)" Swuiiing! Ni'mal meliukan badan di udara, mana kala Srikandi mengayunkan tombak mengarah pada lehernya. 'Orang ini, cepat!' Paham bila serangannya gagal, Srikandi lantas memutar badan, menyodokkan ujung tumpul tombak ke arah Ni'mal di belakangnya. Ni'mal, dengan mudah melompat dan menapak pada tombak lawan. Ia, lanjut menabok kepala belakang si gadis keras-keras. Blaak! Srikandi tersungkur dengan wajah mendarat ke tanah lebih dulu. "He-eh! Maaf..." Ni'mal yang maju mendekat, segera diserang oleh Srikandi, lagi. Wuusss! Gadis itu memgarahkan ujung tajam tombak ke leher Ni'mal. Ni'mal, spontan memiringkan badan, lanjut menangkap batang tombak yang dipegang Srikandi. Tap! Wuung! Tak ragu, Ni'mal melemparkan s*****a beserta si pemegang ke arah tribun penonton. Sorak sorai para manusia cheetah, berderu. Mereka gembira melihat para manusia yang bertarung. Sedang si harimau bercodet, nyingir bersedekap. sesekali manggut kecil. "Tabeh!" Tap! Salah satu Makhluk Hitam itu, melompat lanjut menangkap kaki Srikandi. Ia, melemparkan Srikandi kembali ke arah Ni'mal. "Hapunten, abdi kedah leres-leres!" Deg! Ni'mal yang bersiaga dalam kuda-kuda, merasakan tekanan aura berbeda dari sosok berambut biru yang mana tengah melesat cepat ke arahnya. 'Heh! Ini mirip?' pikirnya teringat pada nuansa yang ia rasa saat berhadapan dengan makhluk laut berkepala babi hutan. Ni'mal, mengubah kedua tangannya yang mengepal, jadi terbuka lebar. Dalam kuda-kuda, badan atasnya miring, menyamping. 'Dia sengaja memberiku kesempatan, ya? Haruskah...' *** Beberapa waktu lalu, dalam kurungan kayu, sebelum Ni'mal memutuskan tuk melakukan uppercut demi menghantam sosok yang menghadang box kayu. "Tapi, ada yang perlu kau ingat sebelum kau menghancurkan kurungan ini..." Ni'mal melirik. "Apa?" "Gogor Tutul, mereka seperti Kanin. Memangsa di tempat tanpa membawa pulang hasil buruan. Sebab biasanya, Gogor Tutul bayi hanya berburu ikan di sungai terdekat dari sarang mereka." Ni'mal, teringat pada kawan masa kecilnya yang tewas oleh gigitan makhluk tersebut. "Ya... Kau benar." "Dengar..." Srikandi menarik napas dalam-dalam. "Jika mereka sampai membawa manusia ke sarang mereka, artinya mereka ingin bermain-main dengan buruannya. Bagi mereka, itu berarti kita spesial." "Lalu?" Ni'mal menaikkan alis kanan. "Rumor yang aku dengar, mereka biasa mengadu domba buruan hingga tersisa seorang saja. Mereka, menjanjikan kita dengan harapan akan membebaskan yang bertahan." Mendengar penjelasan, Ni'mal terbelalak. "Ja-jadi maksudnya, kita harus bertarung sampai mati?" "Dengar dulu!" Srikandi, mencubit punggung telapak tangan Ni'mal. "Ehhh, iya iya iya..." "Jika itu yang terjadi, pilihannya hanya satu. Yaitu mengalahkan sang kepala suku ras tersebut saat kita memiliki kesempatan. Tapi diawal nanti kita harus terlihat meyakinkan agar mereka terbawa suasana." Ni'mal manggut-manggut paham. "Baiklah..." "Segera bunuh Kepala Sukunya. Dengan begitu, mereka akan diam dan mendengar permintaan kita." "Ta-tapi, yang mana kepala suku mereka?" "Hmmmmm..." Keduanya mendengung. Berpikir. Hingga Srikandi si gadis berambut biru, melirik ke kiri. "Apa kau ingat bagaimana wujud salah satu yang paling depan saat kau hendak menghampiri mereka?" Deg! Ni'mal, mengeratkan tinju kanan dan kiri. "Jelas! Aku masih bisa ingat samar. Makhluk dengan bekas luka di mata kanan itu... Luka itu... Adalah luka dari Kakekku karena telah membunuh teman kecilku!" Srikandi, sejenak termangu. Matanya tak kuasa melihat dendam yang terpancar dari sorot netra Ni'mal. 'Mengerikan...' *** Sebelum Ni'mal bergerak, terpintas samar gambaran sosok yang kerap mendatangi mimpinya. Lelaki berblangkon, dan sosok bersorban dengan wajah bercahaya. "Subhana rabbiyal adzimi wabihamdih!" Tep! Ni'mal, menangkap tangkai tombak yang Srikandi pegang dengan tangan kanan. Ia, memutar badannya cepat, dan melempar Srikandi beserta tombaknya ke arah manusia setengah cheetah. Wuuung! "Ggrrreekh!" Sang Makhluk Hitam melompat cepat, membelakangi lawan. Dlapp! Ni'mal tak menyia-nyiakan kesempatan. Pemuda berjaket hitam tersebut melambung cepat ke udara, dan berputar-putar bak tornado. "Ini karena telah membunuh Mas Gunawan!" Kakinya telak mendarat keras dan tepat di leher sang monster. Blaaaagg! Kratak! Tulang rahang sang monster, geser. Makhluk yang kini kepalanya menghadap ke punggung, mangap dengan lidah terjulur. Tubuhnya terempas kuat menabrak tanah. Blaaammmm! Srikandi masih terus meluncur cepat. Kuat. menabrak tiga pohon hingga tumbang. Sedangkan para manusia cheetah di sana, terdiam membisu. Saat sadar bila sang kepala desa tewas, mereka semua berlutut. Sebagian Manusia cheetah berjenis perempuan, menangis histeris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN