Rahasia Unsur Angin Dan Sang Pertapa Hitam

1236 Kata
Wahyu, sibuk memutar-mutar obeng pada sebuah kotak besi mengkilap. Keringat sedikit-banyak membasahi dahi lebarnya. Lelaki berkaca mata itu, membalik badan, melangkah menuju tombol merah di dekat lemari berisi buku-buku. Sebuah tombol yang terhubung pada pemancar suhu ruangan. Tuuiit tuuit tuiit... Alat kotak bak persegi itu, berbunyi beberapa kali, bergerak-gerak, lalu meletup. Dlupp! "Huuuuuuh!" Wahyu kesal, menabok lemari di dekatnya. Blak! "Aih aih!" Ia menggelepar-grleparkan tangan sebab kesakitan. Melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan, Raden Irawan berjalan dengan bersedekap. "Sepertinya, projek yang satu ini masih sulit ya, Yu?" Menoleh ke belakang, Wahyu nyingir. "Eh, haha... Mohon maaf, Raden... Sepertinya, aku masih butuh waktu." Raden Irawan, menarik napas dalam. "Yahh... Mau bagaimana lagi... Hanya kau satu-satunya ahli mesin lulusan universitas Senlin yang bisa aku percaya." Mendekati benda yang masih berasap, Wahyu mengamatinya. "Ada ketidak stabilan suhu pada logam yang jadi pusat penggerak di dalam. Sepertinya sensor suhunya sudah berjalan baik." Ia, merogoh sarung tangan tebal dan memakainya, lanjut membuka tutup logam kotak tersebut. Dari sana, ia meihat beberapa kabel yang terbakar. "Nahh kan! Benar!" Raden Irawan mengangkat kedua bahu. "Yah, mana aku paham..." Ia turut mendekati meja. "Tapi, Wahyu... Aku ingin menanyakan sesuatu padamu..." "Apa itu?" Wahyu, sibuk merekatkan kembali kuningan dari kabel agar menyambung satu sama lain. "Aku masih penasaran... setelah beberapa kali berpikir... Sebenarnya, bagaimana bisa amunisi PM berwarna biru itu... Bisa meredam bahkan mematikan tenaga sukma manusia?" Wahyu, berhenti bergerak. "Maksud Raden Irawan..." Ia menolehkan kepala. "s*****a-s*****a dari logam mulia pertambangan Senlin?" Raden Irawan, mendekati Wahyu. Tak lagi bersedekap. "Kau tahu?" "Setahuku, bahannya berasal dari pertambangan angker yang kita datangi beberapa waktu lalu..." "Ahhh, maksudmu tempat di mana kita mengambil prasasti tua itu?" "Iya. Tetapi, batunya sendiri kini sudah teramat langka. Adapun, batuan jenis itu hanya ada di dasar gua yang dalam. Hampir mustahil jika kita mencarinya jika harus waspada dengan makhluk gaib yang bergentayangan di sana." Raden Irawan, mengernyitkan dahi. Ia mengelus kumis tipis. "Lantas dari mana para PM mendapat persediaan peluru sebanyak itu? Apa mereka hanya mengambil lalu menimbunnya?" Wahyu, menghela napas dalam. "Menurut rumor kampus dulu... Yang aku dengar... Ada sebuah terowongan dari gua lain, yang juga menyambung pada pertambangan itu. Dan katanya lagi, makhluk gaib tidak banyak bertebaran di sana." Raden Irawan mendengung. "Apa kau tahu koordinatnya?" Wahyu menggeleng. "Tidak, Raden... Hanya beberapa orang yang tahu mengenai hal itu. Dan siapapun yang bertanya atau membahas hal itu, pasti ada pihak Senlin yang mendatangi mereka." Raden Irawan terbelalak. "Mereka hilang?" "Benar. Sepertinya pihak PM dan Senlin, rapi menutupinya." Sepintas, Raden Irawan teringat pada Agni dan Rahaf. 'Apa dua bocah itu berani memeriksanya?' pikirnya ragu. *** Ni'mal, kaki kanan yang baru ia pakai, guna menghantam jatuh Kepala Suku Gogor Tutul, gemetar hebat. Ia coba menyembunyikannya saat semua makhluk bertaring dan berbusana ala dayak, tunduk padanya. 'Duh Gusti! Jika... Mereka tahu aku sudah begini... Apa... Mereka akan lanjut menyerang?' Wajahnya menahan nyeri dan sakit. 'Ealah Gusti! Tulangku serasa terbakar!' Srikandi dengan busana kotor, berjalan mendekati Ni'mal yang dikerumuni Gogor Tutul yang bertekuk lutut. "Hey! Kau keterlaluan juga memperlakukan perempuan!" 'Alhamdulillah... Syukurlah dia tak apa-apa.' Ni'mal nyingir. Ia menampakkan deretan gigi. "Hehe, Ya maap..." Srikandi, berdiri di samping Ni'mal. Ia, menatap para Gogor Tutul yang tertunduk berlutut. "Kepala Suku kalian sudah jatuh. Apa masih ada yang mau coba melawan?" teriaknya lantang. 'Cah gemblung! Aku wis tepar woy!' Mendengar itu, Ni'mal hanya menelan ludah. 'Bener-bener perempuan Cidewa Hideung... Kalau marah serem semua.' "Grrrrrrekh!" Sesosok Manusia cheetah dengan anting emas di telinga kiri, berdiri pelan. Ni'mal dengan kaki kanan yang gemetar, sigap mengambil kuda-kuda. 'Jiaancook!' "Uak hadus gnanem. Imak kat asib nahanem nailak." Ni'mal, bertanya pada gadis berambut biru. "Apa maksudnya?" Srikandi, menyampingkan tangan ke arah Ni'mal. Matanya tertuju pada si harimau beranting emas. "Kau pewaris kepala suku, ya?" "Grrreekh..." Makhluk itu mengangguk. "Baiklah... Kalau begitu, kami akan pergi," Srikandi tersenyum lega. "Uggnut!" cegat sang Manusia cheetah. "Apa?" Srikandi memandang sang manusia harimau. Ni'mal, garuk-garuk rambut. Pemuda itu sama sekali tak paham dengan bahasa yang mereka pakai. 'Haih...' Perbincangan antara Srikandi dan Manusia cheetah itu, berlangsung agak lama. Hal itu membuat Ni'mal sedikit jenuh. Ia, membalik badan. Mengamati rumah-rumah beratap daun rumbia dengan dinding bambu dan kayu. 'Benar kata Kakek... Mereka benar-benar saling berbaur... Dan tidak seperti manusia kebanyakan di era sekarang.' Ni'mal, menghela napas. 'Tetapi... Apa Kanin juga punya tempat tinggal begini? Jika tak salah dengar... Mereka hanya tinggal du gua sekitar wilayah arsir saja, kan? Kalau begitu... Makhluk Hitam bernam Gogor Tutul ini, benar-benar bisa membuat peradaban, ya?' Tep! Srikandi menepuk bahu Ni'mal. "Mereka bertanya padamu." Kembali menghadapkan badan pada sosok Manusia cheetah, Ni'mal melirik Srikandi. "Apa?" "Mereka, ingin tahu mantra apa yang kau ucap sampai-sampai bisa menumbangkan sang Kepala Suku hanya dalam satu serangan." Deg! Batin sang pemuda keturunan pendiri Padepokan Macan Bumi, tertegun. "Apa mereka sungguh-sungguh?" Srikandi, berkata pada para Makhluk Hitam, "Hey, apa kalian bersungguh-sungguh?" Serempak, semua Makhluk Hitam di sana, mengangguk. Mengiyakan. "Suruh mereka mengikuti apa yang aku ucapkan. Tirukan sebisanya, dengan keyakinan yang mantap!" ucap Ni'mal yakin. Srikandi, menaikan alis kanan. "Apa?" "Sudah... Sampaikan saja!" Berdengus, Srikandi mengangkat kedua bahu. "Ikuti apa yang pemuda ini ucapkan. Tirukan sebisanya, dengan keyakinan yang mantap." Mereka semua, merespon dengan mendongak menatap Ni'mal. Lelaki dari Kadipaten Sunyoto itu pun, memejamkan mata. أَشْهَدُأَنْ لَاإلهَ إلَّاَ اللهَ وَ اَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدرَّ سُوْ لُ الله" *** "Pfft..." Melangkah di antara kicauan burung hutan, Srikandi tak henti-hentinya menahan tawa, lanjut terbahak terkekeh lepas. "Ehehehehh!" Ni'mal yang terus berjalan, melirik pada gadis berambut biru. "Heey... Sudahh... Dari tadi kau seperti nenek lampir..." "Ahahahah... Maaf... Pffftt... Hahahah...." Ni'mal, buang napas. "Apa ada yang lucu?" "Kau... Kau yang lucu! Ahahahah!" Menaikan alis kanan, Ni'mal memandangi jaket hitamnya. Ia mencari-cari sesuatu yang mungkin jadi sebab gadis itu tak berhenti tertawa. "Apa?" "Ahahahaah! B-baru kali ini aku melihat anak manusia membimbing spesies Makhluk Hitam membaca syahadat! Bahahahahah!" Ni'mal, buang napas kesal. Tapi setelah berpikir, ia ikut terkekeh. "Heheheh... Iya juga ya..." Mendengar sahutan Ni'mal, Srikandi makin menjadi. "Wahahahah!" "Yahhh... Lagi pula... Mereka sendiri yang benar mau tahu apa yang aku baca..." Tawanya redup, melirik Ni'mal serius. "Doa saat rukuk... Apa benar kau membacanya untuk meningkatkan daya ledak tendanganmu?" Ni'mal manggut-manggut. "Kenapa bisa?" Srikandi makin serius. "Aku... Belajar dari seseorang... Bahwa makna dan hakikat sholat, serupa dengan gerakan alam." "Mmmmm... Maksudnya?" "Hijaiyah-nya, kha. Unsur alamnya, angin. Aku tadi hanya yakin bila, dengan unsur angin aku bisa mengenainya tepat pada titik lemah. Dan, bacaan yang menirukan gerak unsur angin, ya bacaan rukuk itu sendiri." Srikandi melirik ke kanan dan kiri berhenti melangkah, tak seperti Ni'mal yang terus saja berjalan. 'Ha? Be-benar!' Ia lanjut mengayuh kaki guna menyusul Ni'mal. "Hey... Siapa gurumu?" Kini, Ni'mal yang berhenti. 'A-apa tak apa-apa kalau aku memberitahunya?' "Hey, siapa yang mengajarimu? Pertapa dari daerah mana?" "Itu... Aku, tak berani bilang..." "Ni'mal... Ayolah... Katakan... Siapa?" Srikandi, terus merengek meminta pemuda berjaket hitam merah menyebut nama. Tetapi, ia hanya melangkah tak acuh sembari tersenyum bodoh. *** Debur ombak, menerpa sebuah batu karang besar nan kokoh. Seseorang dengan kepala mirip Buto Cakil, dengan busana bak resi namun berwarna hitam, duduk bersila. "Jadi, kau satu dari empat sosok yang diramalkan, ya?" Dari posisi semedinya sedari pagi, ia telah banyak melihat, mengintai Ni'mal lewat penglihatan gaib. Cakra Ajna. "Dan kau... Justru datang tuk mencariku?" Ia tersenyum dengan mata terpejam. "Sang Maha Tunggal benar-benar menyayangiku..." Saat matanya terbuka, pancar gelap tersorot dari dua netranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN