"Ni'mal! Hey! Tunggu!"
Dlaap!
Pemuda berjaket hitam tersebut, memijakkan kaki pada dahan-dahan pohon hutan. Mentari yang kian terik, membuatnya terburu tuk sampai di tempat tujuan.
Saat dari jauh, di sela pepohonan lebat di depan terlihat garis horison pemisah langit dan laut, Ni'mal melambatkan laju.
Tlap!
Ia berhenti di dekat sebuah pohon kecil. Netranya menyapu pandang pada indah lautan dari atas tebing ia berdiri. 'Sampai?' Lelaki itu menoleh ke kanan, pada sebuah batu karang besar yang ditumbuhi lumut hijau.
Seketika, saat ia menangkap sesosok lelaki berbusana hitam bak resi, langit menggelap. Awan-awan hitam dari empat penjuru, terarak angin menutup menghalangi terik mentari. Debur ombak, seketika jadi sunyi. Lautan yang sedari tadi bergejolak, seketika diam.
Ni'mal mengamati fenomena sekitar, yang dibarengi dengan tekanan energi gelap yang pekat menyeruak. 'Apa yang terjadi?' Ia menaikan alis kanan, menoleh pada sosok manusia berbusana resi, berwarna hitam. 'Mungkinkah ini perbuatannya?'
Lumut-lumut hijau yang tumbuh subur pada batu karang yang sang pertapa duduki, bersinar kekuningan baka kunang-kunang dalam mendungnya cuaca. Sosok lelaki berwajah mirip Buto Cakil, membuka kedua mata, menatap balik Ni'mal.
Ni'mal, sedikit mundur dibuatnya. 'Dia... Makhluk Hitam? Manusia? Atau... Apa?'
Tep!
Srikandi, menggapai pundak kanan Ni'mal dari belakang. "Jangan berlama-lama. Dia bisa saja berubah pikiran tuk membunuhmu kapan saja!"
Ni'mal, menolehkan kepala sedikit, ke belakang. "Apa? Ta-tapi, aku tak melakukan hal yang salah, kan?"
Srikandi, menaikan kedua bahu. "Teuing atuh... (Manaku tahu...)" Saat ia membalik badan hendak meninggalkan Ni'mal sendirian, sosok berbusana resi hitam berwajah Buto itu, telah berdiri mencegat arah kembali.
"Selamat datang, pendekar muda." Tinggi sosok bertaring dan berambut putih itu, hanya seratus lima puluh lima sentimeter.
Ni'mal celingukan, melongok ke arah batu karang besar dengan kilauan lumut. 'Dia... Menghilang?' Ni'mal kembali menoleh ke arah sang pertapa di jalan setapak hutan.
Srikandi, siaga dalam kuda-kuda. Netranya tajam, batinnya waspada.
"Dua bocah takdir, datang mencariku... Yang satu, membawa hajat ingin mencari keberadaan sang Kakek tercinta, dan yang satunya... Mencoba menggali kabar burung tentang apa yang lama aku cari, ya?"
"A-Anda tahu maksud kedatangan saya?" Ni'mal terkejut. 'Aku tak tahu, tapi hatiku yakin kalau pertapa ini adalah orang yang dimaksudkan oleh Mbah Alil sebagai pertapa dari Desa Suryagni!'
Sosok itu, berjalan menuju pohon pule terdekat. "Tetapi, pastinya kau sudah tahu jika tiada yang cuma-cuma, kan?" Lelaki berambut putih dengan busana bak resi hitam, bertanya tanpa menoleh ke arah Ni'mal.
Mata Srikandi, tetap waspada. Ia, lirih mundur memasang kuda-kuda, mana kala merasakan aura pekat yang menyeruak dari tubuh sosok tua bertaring bak Buto Cakil. Telinganya yang berbentuk setengah sayap kupu-kupu, sejenak jadi perhatian gadis berambut biru.
Menoleh ke belakang, ia mengamati ujung kaki hingga ujung rambut pemuda berjaket hitam. "Kau sepertinya, tidak membawa kunci itu, ya?"
Srikandi, melirik ke kiri. 'Kunci?'
"Kunci apa yang Anda maksud, Tuan Pertapa?"
"Manusia, akan bersungguh-sungguh demi hajat dan keinginan yang benar-benar ia damba. Sebelum aku menjawab, biarkan aku bertanya balik." Ia membalik badan. "Apa, kau sungguh ingin tahu di mana keberadaan Mbah Pur?"
"Tentu!" Ni'mal menjawab mantap.
"Nahh, kalau begitu... Seusai Sayembara nanti, aku mau kau berjanji agar datang lagi kemari."
'Jangan-jangan!' Srikandi terbelalak, memahami sesuatu. "Ni'mal, ja-"
Wuung!
Belum Srikandi selesai bicara, sebuah bola energi tak kasat mata, menghantam membuatnya terpental, melayang jauh ke arah lautan.
"S-Srikandi!"
Baru Ni'mal hendak menyusul, sang makhluk berkulit hitam legam, mencegah. "Cah Bagus..."
Ni'mal, menoleh cepat.
Melihat Ni'mal memandangnya balik, sosok itu lanjut berjalan menghampiri pohon pule. "Dia akan baik-baik saja... Mengherankan jika kau tak tahu kalau gadis itu, adalah manusia setengah ubur-ubur yang menunggangi Naga Wirog di laut tadi."
Deg!
Ni'mal, teringat pada perubahan aura Srikandi ketika tengah melawan Kepala Suku Gogor Tutul. 'Be-benarkah?'
Tep!
"Kau bilang, kau berniat mengetahui di mana Mbah Pur, kan?" Sosok bertaring, menempelkan tangannya pada pohon pule. Tangan kirinya, mengusap wajah. Secara ajaib, taring atas dan bawahnya, sirna. "Maka kau pasti tak akan keberatan jika aku meminta satu lagi syarat..."
"Sebutkan!" tukas Ni'mal.
"Selesai hajatmu ini... Pergilah dari pulau ini hidup-hidup... Apapun yang terjadi... Sanggup?"
Ni'mal, mengangguk mantap. "Mudah saja."
"Bagus!" Sang pertapa kembali menatap pohon pule yang ia pegang.
Srraappp
Ia mengusap-robek kulit pohon ulin tersebut. Bibirnya mengucap mantra, lanjut melemparkan kulit pohon tersebut ke tanah.
Plekkk...
Tak berapa lama, muncul sebuah gambar bak video yang terputar pada balik kulit pohon pule tersebut.
Melihatnya, Ni'mal terbelalak. Bukan karena keanehan tersebut, tetapi karena tampak gambar Mbah Pur yang tengah berdzikir di sebuah penjara gelap nan kumuh.
"Mbah Purwadi... Ia berada di Kadipaten Senlin sekarang."
"Senlin sebelah mana?" Nadanya dingin. Ni'mal menunduk. Pandangannya setengah kosong.
"Kalau kau benar ingin menjemputnya... Carilah di dekat sebuah pertambangan kosong Senlin... Pertambangan yang banyal dijaga oleh ribuan roh gentayangan dan Makhluk Hitam."
Mendengarnya, Ni'mal membalas, "terima kasih... Tuan Pertapa..." Ni'mal membalik badan.
Sosok itu, tersenyum sungging. "Kau keturunan pendiri Padepokan Macan Bumi, kan?"
Ni'mal berhenti. "Ya."
"Sampai berjumpa setelah Sayembara usai, Bocah Takdir..."
Ni'mal, menolehkan kepala ke belakang. Sosok yang barusan berucap, raib bak ditelan bumi. 'Menghilang?'
Dari bekas kulit pohon yang tercabut, batangnya seketika menghitam. Makin pekat, bagai dilapisi bayangan pekat. Hingga...
Lhaaabb!
Sebuah tangan berbulu lebat, dengan ukuran besar serta kuku-kuku hitam tajam panjang, keluar dari portal hitam gaib pada pohon pule.
Deg!
"Huugh!" Ni'mal, mual tiba-tiba. Jantungnya melemah, bersamaan dengan keringat dingin yang mengucur. 'M-makhluk apa, ini? A-aku... Tak bisa bergerak!"
Dlap!
Setelah satu tangan itu menggapai tanah, kini kepalanya yang perlahan keluar dari portal hitam tersebut. Kepala genderuwo raksasa, dengan mata merah menyala, bertaring. Pada kepala, terdapat sebuah mahkota. "Kuraaang aaajaaar! Ssiiiaapaaa yaaang memindahkaanku kemari!"
Dlap!
Makhluk tersebut, keluar dari pohon seutuhnya. "Siapa yang berani mengganggu pertapaanku!"
Sesosok makhluk dengan wujud Genderuwo bersayap kelelawar, dengan mata yang merah menyala, keluar berdiri memandang rendah Ni'mal. Sekilas, Makhluk itu, menyapukan pandangan ke sekitar, lalu memejamkan mata. "Ini... Bukan Nusantara?" Garis bibirnya, naik berkala. "Tapi banyak manusia berkanuragan tinggi sejauh yang aku rasa! Hahahahaha!"
Menelan ludah, keberanian Ni'mal surut seketik usai menatap mata makhluk bermata merah. "S-siapa kau!"
Melirik ke bawah, ia berwajah geram. "Aku... Buto Angkoro!"
Bentakan suara makhluk tersebut, menimbulkan ledakan energi sukma tak kasat mata. Pohon dan rumput yang berada lima meter darinya, seketika layu. Yang tadinya hijau, menjadi hitam.
'Iblis dari mana dia!' Ni'mal, mencoba mengambil kuda-kuda, meski tenaga yang ia punya, terasa dihisap.