"Aku akan ke Tarang menyusul Agni dan Rahaf. Kau tinggalah di sini sesukamu." Puspa berjalan keluar dari rumah beratap joglo sederhana. Rautnya dingin, enggan memandang Ni'mal dan Lastri yang menatapnya balik.
"H-hey! Kau kenapa? Bukankah kau tahu bila sesama peserta Sayembara bisa menyerangmu kapan saja?" Ni'mal mengerutkan kening.
Lastri, gadis dengan sweater putih itu hanya menunduk. Bingung dengan apa yang mesti diucapkan. Sebagai perempuan, ia paham bila gadis berambut panjang dengan selendang hijau itu, cemburu.
Puspa, berjalan melalui Ni'mal dan Lastri. Ia tak menanggap ucapan Ni'mal. Gadis itu, mengelak mana kala Ni'mal mencoba menggapai lengannya pelan.
"Baiklah... Kabari aku jika kau sampai," ucapnya usai menghela napas.
"M-Mas..." Lastri melirik Ni'mal.
Melihat Puspa yang pergi, Ni'mal kembali buang napas. Menghadapkan badan pada Lastri. "Bisa tolong antarkan aku, di mana temanmu yang bisa membawaku ke pulau itu?"
"Ta-tapi... Bukannya besok Sayembara akan dimulai? Apa, waktunya cukup?"
Terpintas wajah Gus Armi dan ucapan sosok berhidung mancung. "Tujuanku mengikuti Sayembara, adalah untuk mencari keberadaan Kakek. Jika tanpa mengikuti Sayembara aku bisa menemuinya... Maka itu cukup." Ni'mal menoleh pada tinju tangan kanannya yang ia eratkan. 'Lagi pula, aku sudah lebih kuat dari waktu itu...'
***
Hamparan tanah menjadi alas dari berbagai kios kayu sederhana para pedagang. Di pasar beratap joglo itu, masyarakat ramai bertransaksi. Ibu-ibu mayoritas mengenakan kerudung putih polos, tak jarang yang memakai kemben batik tanpa sandal maupun sepatu.
Anak-anak berblangkon, riang tertawa ke sana-kemari. Tetapi tak sedikit pula yang erat digandeng oleh ibu mereka sembari berbelanja kebutuhan pokok.
Sedikit jauh dari pasar yang ramai oleh penjual sayur dan rempah, terdapat pasar hewan di mana banyak kambing dan sapi berjajar. Berbeda dari sapi dan kambing di Nusantara, sebagian sapi di sana bercula bak banteng. Beberapa spesies Makhluk Hitam langka langka yang disebut Kapri, turut diikatkan dengan rantai baja pada tiang besi.
Tetapi, hanya ada satu binatang eksotis terbesar di sana. Seekor penyu merah berkepala burung yang jadi tontonan anak-anak.
Remaja berambut putih lebat, berbusana dan celana hitam, berdiri dengan matanya yang sayup terbuka. Ia bersandar pada penyu raksasa di belakang. "Hemmm... Apa harga sewanya terlalu mahal, ya?" Ia menghela napas, menatap kepala burung si penyu merah. "Hey, Rekta... Kau sungguh tak terluka setelah mengantar orang-orang kemarin ke gunung, kan?"
"Ngaaaabbb..." Sang penyu merah raksasa berkepala burung, bersuara. Suaranya mirip paus.
"Lagi pula, kenapa bisa tak ada PM ataupun SM yang berjaga di sana? Sudah tahu jelang Purnama Merah..." Ia berbicara sendiri. Sesekali membenarkan poni rambut putih yang menutup mata kanan.
"Aaadnaaaan!" Seorang gadis berbaju adat Jawa hijau, berlari ke arahnya. Gadis bersanggul dan bersepatu high heels, sumringah menatapnya.
Remaja berambut putih, berhenti bersandar pada penyu merah. "Oiit... Ratih..." Raut remaja bernama Adnan, masih datar.
"A-anu..." Ratih, berhenti tepat di depan kepala penyu raksasa berkepala elang. "Ayok anterin ke seberang?" Ia tersenyum menampakkan deret gigi.
"Hilih..." Adnan kembali bersandar pada cangkak si penyu raksasa. "Yang kemarin saja kau belum bayar..." Ia buang muka.
"Eehh... Eheheheh... Kan lagi bokek, Nan... Aku bayar nanti setelah Sayembara selesai..." Ratih, menempelkan ujung jari telunjuk kanan pada ujung jari telunjuk kiri.
Adnan menoleh. "Memangnya kau mau kemana? Besok bukannya jadwal Sayembara? Atau kau mau digugurkan dari Sayembara?"
"Mmmm..." Ratih mendekat. "Aku mau cari apel mahkota... Ada seseorang yang membutuhkannya nanti malam," jelasnya ragu.
"Kau tahu kan, jelang purnama merah begini jadi banyak Ugel Merah berkeliaran di perairan?" Adnan mengerutkan kening.
"Ehehe... I-iya tahu sih..."
"Aku juga butuh dana untuk berangkat ke Sayembara besok."
"Hiiih... Adnan tega yakin..." Ratih memelas.
'Hmmm... Tabib kismin...' Remaja berambut putih, berdengkus. "Bayar nanti malam setelah kau mendapat upah dari orang yang meminta apel mahkota, ya?"
Belum Ratih menjawab, seseorang dari belakangnya bersuara, "bisa aku dan Mbak-Mbak ini berlayar bersama? Aku akan bantu bayar."
Ratih dan Adnan, serempak menoleh pada wajah pria berjaket hitam merah. Lima detik, mereka mengamati wajah Ni'mal.
"Hooo? Kau pemuda yang kemarin menolong rombongan..." Adnan, menoleh pada gadis bersweater putih di belakang Ni'mal. "Lastri?"
Ni'mal mengangguk, mengiyakan. Ia memandang kepala burung dari penyu merah raksasa yang kemarin dibawa oleh Gus Armi kembali ke desa.
"Tapi bukankah... Kau juga ikut Sayembara?" Adnan memastikan.
Tak seperti Adnan yang bersikap wajar, Ratih menutup senyum dengan telapak tangan kanan. Tak ingin ketahuan cengar-cengir. 'Dih si Akang ganteng!'
Ni'mal menatap Adnan. "Ya... Tapi ada hal penting yang harus aku lakukan di Pulau Iwak."
"Hal penting?" Adnan melirik ke kanan. "Tapi aku tak akan menunggumu sampai matahari tenggelam. Aku juga peserta Sayembara."
Ni'mal menghela napas. "Sesampainya di sana, jika menjelang matahari tenggelam aku tak kunjung datang, maka tinggalkan saja aku."
Ratih, tak bergeming memperhatikan mata hazzelnut pemuda berjaket hitam. 'Ganteng, kuat, pemberani... Unch uwu!'
'Orang ini tak berniat menyelesaikan Sayembara, kah?' Remaja berambut putih itu, berdengung. "Baiklah... Sesuai perjanjian."
Mendengar kesepakatan, Ratih menolehkan pandangan pada Adnan. "Eh? Bisa ya setengah harga? A-aku, berarti bareng sama... Si Akang Ganteng ini?"
***
(Beberapa jam kemudian, Padepokan Enggang Api, Kadipaten Tarang.)
Di sebuah kamar berdinding kayu, Rahaf dan Agni tengah berbaring di ranjang empuk. Dua gadis itu, mengenakan piyama lengan panjang bercorak batik.
Krrieet...
"Assalamualaikum..." Puspa melangkah masuk ke kamar. Membuat senyum mengembang di wajah dua gadis itu.
"Teteh!" Rahaf, tanpa basa basi melompat memeluk gadis berambut panjang.
"Eh?" Puspa menerima pelukan.
"Apa Kak Ni'mal sudah sembuh?" Agni melongok mencari-cari pemuda tampan yang biasa ia jahili.
Raut Puspa berubah seketika. Ia melepas dekapan Rahaf, dan melipat selendang hijaunya tanpa menjawab tanya Agni.
Gadis chubby berkaca mata, menatap Agni.
Agni, seketika terpintas pada wajah Lastri. Ia mendengung paham. 'Kak Ni'mal itu memang bloon atau buaya, ya?'
"A-anu... Teh... Gus Armi bilang, suruh antar Kak Ni'mal ke ruang Padepokan jika sudah kembali," ungkap Rahaf.
"Dia sedang tak bisa diganggu." Puspa merebahkan badan di ranjang, ia membalik badan, menelungkup.
***
(Beberapa jam yang lalu, perairan Kadipaten Sunyoto.)
Desir pasir dan debur ombak menyatu di bibir pantai. Angin bertiup menerpa rombongan Adnan yang menaiki sesosok penyu raksasa merah di ujung pantai.
"Kau tahu ini berbahaya, kan?" Ni'mal bertanya pada Lastri. Adnan dan Ratih, telah duduk di atas penyu raksasa.
"Mas... Aku yang memberitahumu tentang pulau seberang itu. Aku akan cemas jika sesuatu terjadi padamu..." Lastri, memandang pasir di bawah kakinya yang beralas sandal.
Ni'mal, memandang mata berbinar gadis di dekatnya. "Aku akan kembali. Tapi mungkin, aku akan langsung pergi arena Sayembara... Jadi jangan tunggu aku di sini," ucapnya melihat wajah sendu Lastri. "Mengerti?" Ia, memegang pelan pundak kanan gadis tersebut.
"Ta-tapi..."
"Aku tak selalu bisa memantaumu di sana." Ni'mal, pelan membalik badan. Memandang laut lepas. "Aku... Merasa bersalah karena tak bisa menolong orang-orang kemarin..." Jasad manusia yang tewas oleh wanita penunggu gunung, terpintas. "Aku tak mau melihat seseorang lain terluka lagi," imbuhnya menatap Lastri.
"Ahem... Ahem..." Adnan membatuk. "Jika sudah siap, mari berangkat. Kita diburu waktu." Kini, sebuah benda tajam panjang dalam sarung pedang, ia gantung di belakang punggung.
Di kejauhan, tepatnya sebuah pohon dekat air terjun yang menyiram langsung pasir, sosok lelaki bertopeng putih, terduduk di dahan. "Kau sungguh nekat, anak muda."