Persiapan Sayembara

1183 Kata
Mentari baru saja mulai bersinar. Pada udara pagi yang sejuk, aktifitas dari warga sekitar mulai tampak. Buruh tani, berbekal cangkul dan rantan berisikan nasi serta lauk, mulai menuju sawah terdekat. Tak sedikit pula bapak-bapak yang keluar dari rumah membawa jala dan anak-anak mereka. 'Tak jauh berbeda dari desaku...' Puspa, seorang diri berjalan mengitari desa yang ia singgahi. Sejauh mata memandang, hanya rumah joglo dari kayu dan taman bersih. Sesekali ia tersenyum pada orang-orang yang menyapa. Langkahnya mulai pelan, netranya tertuju pada rumah yang semalam ia singgahi. Tak ada siapa-siapa di dekat sana. Krieet... Ia, membuka pintu kayu, segera menuju kamar di mana Ni'mal berada. "Ni'mal... Bangun... Sudah subuh..." ucapnya lirih usai mengetuk pintu tiga kali. Tujuh detik terdiam, tangan gadis berkaos hitam lengan panjang, tergerak membuka pelan. Namun, lelaki yang sedari kemarin tak sadarkan diri, tak ada di sana. *** Mata hazzelnut pemuda berkaos putih, terpana oleh aliran sungai dari tebing, yang mana langsung mengarah pada tepian laut. Aliran jernih itu, cukup deras, membuat sebuah kubangan layaknya air terjun lain. "Jadi, ini aliran air dari curug Dirga?" Ia bertanya pada gadis bersweater putih di samping kanannya. Lastri. Gadis dengan rambut yang diikat bak sanggul, manggut-manggut. Ia menoleh ke arah deburan ombak. Meski sesekali curi-curi pandang pada Ni'mal. "Dua gadis kemarin, sudah pulang bersama Raden Armi, ya?" Ni'mal bertanya, memandang wajah Lastri yang murung menunduk. Lagi, gadis itu hanya mengangguk tanpa bicara sepatah kata. Sudah semenjak mereka keluar rumah, gadis itu terus membisu. Menarik napas dalam, Ni'mal melangkah ke tepian, ke arah batu karang kecil. Kakinya yang beralas sandal jepit kayu, menapak di atas muka pasir putih. 'Dia pasti trauma karena melihat orang-orang itu meninggal di depan mata...' Ni'mal berdengus, duduk di atas batu karang. Lelaki bercelana hitam dengan kaos putih, merasakan angin fajar beriring bunyi debur ombak. Berdiri di samping Ni'mal, Lastri lirih berkata, "matur nuwun... (Terima kasih)" Menoleh kecil, Ni'mal berdengung. "Matur nuwun, sampun nolong kulo, Mas... (Terima kasih telah menolongku, Mas...)" 'Salahku yang datang ke sana dan membuat makhluk itu murka.' Ia, ganti menunduk. 'Aku yang minta maaf karena tak bisa menolong rombonganmu.' Ia kembali mendongak menatap horizon laut. "Tak apa..." "Sebenarnya... Kemana tujuan Mas Ni'mal? Kenapa... Kemarin Mas Ni'mal ada di gunung itu?" Gadis bercelana panjang itu, menyandarkan badan bagian bawah pada batu karang yang Ni'mal duduki. "Ceritanya panjang... Tapi aku sebenarnya tak berniat singgah di gunung itu..." "Lalu?" Tep! Ni'mal menepuk jidatnya sendiri. 'Aku kemari untuk mencari tempat itu!' Ia menoleh kecil pada kepala Lastri. "Apa kau pernah dengar tentang petapa di Desa Suryagni?" "Mas Ni'mal, mau ke sana?" Lastri mengernyitkan dahi. Sett! Ia turun dari batu karang. "Di mana desa itu? Apakah jauh dari sini?" "Setelah melewati puncak Gunung Katresnan, Mas Ni'mal harusnya terus berjalan ke arah wetan, melewati Kota Karangadem, lalu terus berjalan. Desa itu, ada di balik Gunung Tunggal." "Gunung Tunggal? Tapi, bukankah di sana tidak ada desa lagi, ya?" "Banyak desa yang belum tercatat di peta Manunggal. Dan Desa itu, salah satunya." "Ha? B-bagaimana mungkin?" "Sebagian Kepala Desa, tak berkenan. Mereka enggan bila tradisi dan budaya dari leluhur, tergantikan oleh adat istiadat zaman baru. Awalnya juga desa ini tak masuk ke dalam peta Manunggal puluhan tahun silam. Sampai akhirnya, para ahli agama berdiskusi untuk menerima tawaran Sang Raja." Pemuda berkaos putih, menyangga dagu. 'Begitu, ya? Jadi... Beliau Prabu Paku Utomo pun tak memaksakan kehendak, kah?' "Dan mengenai pertapa yang Mas Ni'mal maksud... Dia mungkin sudah tak ada di sana." Lastri masih menunduk memandang pasir. Menoleh cepat, Ni'mal bertanya, "lalu di mana?" Gadis berhidung mancung dengan bulu mata lentik, menatap lautan. "Di sebrang sana... Di Pulau dengan pohon Pasak berada... Konon beberapa nelayan sering melihat pertapa legendaris dari Desa Suryagna bersemedi di atas batu karang, yang biasa di pakai Dewi Nilam Sari istirahat..." Ni'mal, tak asing dengan nama tersebut. "Dewi Nilam Sari?" "Masyarakat Manunggalan, mungkin lebih sering menyebutnya, Sura." 'Sura... Apa mungkin Sura itu bisa tahu keberadaan Kakek?' Ni'mal menggulirkan kedua mata ke kanan dan kiri. "Tapi menjelang purnama merah seperti ini, para nelayan tak ada yang berani menyeberang ke sana." Ni'mal melirik, menaikan alis. "Kenapa?" "Ugel Merah banyak mencari makanan jika menjelang purnama merah." Lastri, melanjutkan, "belum lagi, air laut sering bergejolak." 'Mmmm... Begitu ya...' Ia menarik napas dalam. Mereka berdua, terdiam sejenak. Hingga, Lastri memberanikan diri tuk bertanya, "anu... Kalau boleh tahu, sebenarnya... Apa tujuan Mas Ni'mal ingin berjumpa dengan pertapa itu?" "Aku hanya ingin mencari tahu di mana keberadaan satu-satunya keluargaku yang tersisa." Wajah Mbah Pur yang tersenyum, terpintas di kepala. Ia kembali buang napas. "Tapi mungkin... Keadaannya sulit. Besok, aku dengar babak Sayembara akan dilanjutkan..." Lastri, mengernyitkan dahi jenongnya. Memikirkan sesuatu yang mungkin bisa membantu. "Anu... Sebenarnya..." Ni'mal menoleh cepat, memasang kedua telinga tuk menyimak. "Aku, kenal seseorang yang mungkin bisa membantu Mas Ni'mal menyeberang ke sana..." *** Prabu Paku Utomo, duduk di singgasana emas. Ruangan penuh buku pada rak lemari, serta lukisan para wayang di dinding, menjadi tempat ia memeriksa catatan kerajaan. Dok dok dok... "Assalamualaikum..." "Waalaikumsalam..." Sang Raja, menolehkan kepala ke arah pintu masuk ruangan dari emas. "Silahkan, masuklah..." Lelaki kekar yang hanya mengenakan celana hitam panjang dengan rompi putih motif sulur emas itu, menutup buku yang ada di hadapannya. Ia turut menaruh pena dari bulu yang tadi ia pakai tuk bertanda tangan. Gus Armi, membuka pintu dan melangkah masuk ke ruangan. Sosok dengan mata bercelak hitam, tersenyum seraya berjalan. Sang Raja, bangkit. Ia membalas senyuman. "Mampir kok ndak kabar-kabar, Gus.." "Saya hanya singgah sebentar saja." "Duduklah..." Sosok bermahkota emas, duduk dengan kedua tangan di atas meja. "Bagaimana, kabar putra mahkota?" Gus Armi, membuka topik usai duduk tenang. Prabu Paku Utomo, hening sejenak. "Lukanya tak terlalu fatal. Pagi tadi, dia sudah bisa bergerak kembali." "Bocah itu... Kadang-kadang nekat bertindak sendiri." "Mohon maaf, Gus. Aku sempat berpikir bila engkau yang memintanya pergi ke pertambangan kosong itu..." Ia menunduk. "Sudah, ndak apa. Terpenting, mereka semua selamat." Gus Armi, merogoh saku celana, mengambil sebungkus rokok. "Lalu, mengenai pelaksanaan Sayembara... Apa sudah disiapkan?" "Sudah. Tapi, ada baiknya njenengan periksa lebih dulu." *** Deg! Ni'mal merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya. Gelisah, kalut, dan rasa gundah, bercampur jadi satu. 'Aa.. I-ini... Kenapa?' pikirnya seraya melirik ke kanan dan kiri. 'Firasat apa ini?' Ni'mal yang masih duduk di atas batu karang, mencoba memandang seksama lautan. 'Bukan... Ini bukan keberadaan Makhluk Hitam... Lalu apa?' Tuk tuk... Lastri, menyenggol lengan kiri Ni'mal dari samping. Gadis bersweater putih, dalam posisi memunggungi Ni'mal. Kepalanya menoleh pada seseorang yang memandang mereka. Ni'mal, lirih menengok. "Kenapa?" "Itu... Teman Mas Ni'mal?" Lastri membalas pandangan Ni'mal. Tangan kanannya menunjuk pada Puspa. Gadis berbusana hitam panjang dengan selendang hijau tosca. "Hmmm?" Ni'mal turun dari batu karang, menatap Puspa yang diam dengan raut datar. "Puspa!" Ni'mal tersenyum, sedikit melambaikan tangan. Bukannya menyahut, gadis berambut panjang itu justru melangkah pergi meninggalkan tepian pantai. "Hey! Puspa!" Ni'mal melangkah tuk menyusul. Ia sesekali menatap Lastri, dan memintanya tuk kembali ke desa. Dari atas sebuah pohon mangga, yang mana terletak di dekat air terjun jernih pantai itu, seseorang berbusana putih panjang, dengan celana hitam, duduk menekuk satu lutut di dahan pohon. Sosok berambut lebat itu, mengenakan topeng putih. "Sepertinya... Masih lama..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN