*** “Mahira?” Setelah pertanyaannya tidak dijawab, Darka kembali buka suara dengan memanggil perempuan itu. Namun, alih-alih merespon, baik dengan gesture atau jawaban, Mahira justru masih membisu dengan raut wajah yang terlihat kaget. Di detik berikutnya—tanpa mengalihkan atensi, kedua kaki Mahira melangkah masuk ke dalam kamar. Dia mengedarkan pandangan, menilik satu persatu kanvas lukisan juga foto yang tertempel di dinding. Entah manis atau justru menyeramkan, Mahira sendiri bingung. Namun, yang jelas dia shock sekaligus tidak menyangka dengan apa yang Darka lakukan. Mengoleksi banyak foto Mahira kemudian dicetak dalam ukuran besar, lalu menduplikatnya ke dalam sebuah lukisan yang dipajang di sebuah kamar. Hal tersebut cukup gila. “Darimana Mas dapatin foto-foto aku?” tanya Mahir

