*** “Mahira, saya bawa air putih. Kamu minum dulu ya. Saya yakin kamu pasti haus.” Sambil berjongkok agar sejajar dengan Mahira, ucapan tersebut Darka lontarkan dengan sangat hati-hati. Memberanikan diri mengungkap apa yang dia lihat dan dengar semalam, Darka berhasil membuat Mahira kaget sekaligus sedih dan menangis. Tidak diam saja, Darka sempat menghibur perempuan itu. Namun, alih-alih mereda, Mahira justru semakin terisak di balik kedua tangannya yang menutupi wajah. Darka merasa bersalah, tapi menyembunyikan semuanya dari Mahira juga bukan keputusan yang tepat. “Mahira?” “Aku salah apa sih, Mas, sama Mas Danan?” tanya Mahira, akhirnya buka suara, disertai isakkkan. Tanpa menyingkirkan kedua tangannya dari wajah, dia berkata lagi. “Aku tahu aku mandul dan enggak bisa kasih dia ana

