*** Sempat larut dalam kesedihan, Mahira perlahan membaik dan tidak menangis lagi seperti tadi. Berniat pulang usai perasaannya tidak terlalu buruk, Darka justru menahan Mahira dengan alasan; khawatir terjadi sesuatu. Sebelum down karena kabar kehamilan Luna, Mahira pasti menolak perintah Darka menetap lebih lama. Namun, karena tenaganya mendadak hilang usai tahu Danan berselingkuh, dia memilih manut—bahkan ketika Darka memintanya untuk menunggu di ruang tengah, Mahira patuh. “Jangan ngelamun, Mahira. Makanannya sudah jadi,” ucap Darka dari ambang pintu dapur. Mahira yang memang larut dalam lamunan, beralih atensi kemudian memandang Darka dengan raut wajah sendu. Selain diminta menunggu, dia juga diminta untuk mengisi perut di rumah pria itu, karena katanya makanan adalah bagian dari o

