*** “Kita sampai.” Mahira spontan mengernyit setelah mobil yang dikendarai Darka akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang dengan tulisan ‘Kolam Pemancingan’ di bagian tembok. Manut ketika diminta menyantap spaghetti oleh pria itu, Mahira sempat berpikir Darka akan membawanya ke taman atau tempat sepi lainnya. Namun, ternyata dugaan dia salah, karena yang dia ketahui, kolam pemancingan bukan tempat yang sepi. “Kolam pemancingan, Mas?” tanya Mahira, sambil menoleh kemudian memandang Darka dengan raut wajah heran. “Iya, gimana? Suka enggak?” tanya Darka. “Menurut saya kalau lagi sedih tuh enaknya mancing. Jadi siang ini saya bawa kamu ke sini. Kamu tenang aja karena selain kita berdua, enggak akan ada pengunjung lain. Jadi di dalam enggak akan rame.” “Kenapa enggak ada pengunjung?” tany

