Bertemu Mantan

1196 Kata
Terus menghayal kenangan masa lalu selama perjalanan, tak terasa mobilku sudah berada di depan restoran. Kembali ku bercermin di dalam mobil. Kupastikan wajah maupun model rambutku masih sama saat turun dari rumah 15 menit yang lalu. Aku turun dari mobil. Jantungku berdebar kencang. Tanganku mulai dingin. Dahiku mulai mengeluarkan keringat. Akhhh, s****n, kenapa aku ini? "Itu kan Shela, mantan kekasihmu dulu Rian. Kenapa harus grogi sih," lirihku dalam hati. Ku masuk dalam restoran. Kulihat di sekitar namun tak juga kutemukan Shela. Kuambil Handphone, kucari kontak dengan nama Grace Staf. "Kamu sebelah mana sih?," tanyaku. "Oh kamu sudah sampai yaa. Aku di Rooftop, setelah naik tangga kamu ke arah kanan, aku di meja paling ujung," jawab Sela dari balik telpon. "Oh iya aku kesitu," Ku berjalan menuju tempat Shela menungguku. Tiba di meja yang dimaksud Shela tadi, kulihat seorang wanita duduk sendirian membelakangiku. Wanita dengan rambut sebahu itu sedang asik menyeruput jus. Tak salah lagi, itu adalah Shela. Sejak cerai dengan Doni ia merubah gaya rambutnya yang dulu panjang kini dipotong pendek. Kecantikannya malah bertambah dengan model rambut seperti itu. Yah, memang kalau pada dasarnya cantik mau diapakan pun tetap saja cantik. Shela belum menyadari kehadiranku yang sudah berada di belakangnya saat ini. Aku menarik napas dalam-dalam, dan... "Shel?," Shela menoleh kebelakang, matanya langsung mengarah ke wajahku. "Hey, Rian," Shela melemparkan senyuman manisnya. Senyuman itu yang dulu sering membuatku semangat dalam menjalani hari-hariku. Shela saat ini terlihat sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Shela yang dulu. Sekarang dia nampak lebih elegan, pintar, dan berkelas. "Ayo duduk," ajak Shela. Kami duduk berhadapan di meja yang hanya khusus dua orang itu. Mataku ke sana-kemari mencari pelayan. "Udah aku pesan kok. Makanan dan minuman favoritmu belum berubah kan?," Aku terdiam sesaat. "Masih. Semuanya masih sama kayak dulu. Tak ada yang berubah Shel," Seketika wajah Shela berubah setelah mendengar kalimatku barusan. Ia tak berkedip beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kembali. "Istri kamu tau kamu ke sini?," tanya Shela memulai obrolan. "Dia tau aku makan malam di restoran. Tapi aku gak bilang kalo di restoran ini," jawabku santai. Aku tak ingin kalah elegan dengan Shela malam ini. "Dia gak minta kamu ajak gitu?," pertanyaan Shela membuatku mulai tidak nyaman. "Mmm.. Gak kok. Aku bilang mau makan malam sama klien," "Ohh," Shela mengangguk-anggukan kepalanya sambil memainkan sedotan minumannya. "Ehh iya. Anak kamu di mana? Kok gak diajak?," giliranku bertanya. "Aku tinggal sama Baby Sitternya di apartemen. Semenjak aku pisah dengan Doni, Wildan gak pernah lagi mau aku ajak-ajak ke luar," ungkap Shela. Meski pernah menjalani hubungan pacaran sangat lama, aku dan Shela malam ini begitu canggung. Lama tak berjumpa membuat obrolan kami menjadi kaku, bahkan lebih banyak diam. Shela menatap ke arah langit. "Tak terasa yaa, waktu berlalu begitu cepat. Dan kini kita bertemu lagi dalam suasana yang sudah jauh berbeda," Aku terus menatap ke dalam mata Shela. Menerka-nerka apa yang sedang dipikirkannya. "Kita sudah sama-sama janji kan? Gak akan membahas masa lalu lagi," "Iya, itu kan permintaanku. Tapi aku gak yakin. Bagaimana bisa kita tidak membahas sedikitpun tentang masa lalu bersama orang yang pernah menjadi bagian dari masa lalu itu sendiri," kata Shela. "Iya juga sih. Tapi apa iya kita hanya menghabiskan waktu untuk membahas itu?," aku meraih tangan Shela yang dari tadi nganggur di atas meja. Tangannya masih halus seperti dulu. "Kita sama-sama sudah melalui masa itu. Jadi buat apa dibahas lagi. Sekarang aku di sini untuk menghiburmu Shel," Shela melepaskan tanganku yang menggenggam tangannya hanya beberapa detik. Sudah lama tangan ini tidak menyentuh tangan Shela yang dulu sering aku genggam kemana-mana. Aku benar-benar merindukannya. "Ehh, maaf. Pokoknya kamu gak perlu sedih lagi. Aku akan selalu ada kok. Kalau kamu butuh sesuatu telpon saja, gak apa-apa," "Makasih," jawab Shela singkat, kubalas dengan senyuman. "Kamu ke sini naik mobil yaa," tanyaku. "Naik taksi online. Mobil aku masih di bengkel, ada masalah sedikit," "Ohh...kalo gitu pulang nanti aku antar yaa," "Gak usah repot-repot. Nanti kamu kelamaan pulang rumahnya. Kasian istri dan anak kamu," kata Shela. "Gak apa-apa kok. Lagian aku udah biasa pulang larut malam kalau ada urusan penting di kantor. Mereka udah ngerti," "Tapi kan sekarang kamu gak lagi sibuk sama urusan kantor. Aku udah ngambil waktu kamu buat mereka," "Gak apa-apa Shel. Yang terpenting sekarang kita bisa bertemu lagi di sini," aku beri Shela senyuman hangat untuk menenangkannya dari pemikiran yang tidak-tidak. Ia pun tak lagi menyela perkataanku seperti biasa. Setelah berbincang cukup lama. Akhirnya makanan yang kami pesan tiba juga. Sambil menyantap makanan malam itu, kami melanjutkan obrolan. "Ehh iya. Si Eby? Sudah lama aku tidak lagi mendengar kabarnya," "Dia baik-baik saja kok. Masih seperti dulu," "Kalian masih sahabatan kan?," tanyaku. "Ya masih lah. Sampai kapan pun aku, Eby, dan Rendy akan terus bersahabat," Aku kembali mengingat Rendy, si kacamata tebal yang menyebalkan namun akhirnya bisa berteman baik denganku. Lucu rasanya mengingat kenangan saat itu. "Ohh iya, aku sampai lupa si Rendy. Dia sudah kembali ke Indonesia ya?," tanyaku lagi. "Dua tahun lalu dia sempat pulang, tapi gak lama. Cuma seminggu dia di sini dan balik lagi ke London melanjutkan study S3," kata Shela. "Wah.. Tuh orang memang gak ada capek-capeknya belajar," Aku tak habis pikir bagaimana bentuknya Rendy sekarang. Dibayanganku rambutnya sudah semakin tipis karena kebanyakan mikir, dan kacamatanya makin tebal. Hahaha, Shela pasti bakal marah kalo tau isi pikiranku. "Dia pengen bangat ketemu kamu, tapi udah diancam duluan sama si Eby," "Oh ya?," aku tidak menyangka Eby sampai semarah ini padaku. "Si Eby kayaknya udah benci bangat ya sama aku. Entah bagaimana reaksinya kalo tau kita ketemu di sini," "Dia tau kok. Aku ngabarin tadi, sempat ku ajak malah. Tapi dianya gak mau," tutur Shela. Aku kembali teringat kejadian malam itu. Saat Eby memintaku untuk membawa Shela kembali dari laki-laki itu. "Rian?," suara Shela mengagetkanku yang sedang melamun beberapa saat. Aaaaghhhh, kenapa aku harus mengingat kejadian itu lagi. Come on Rian !!! "Eby gak marah kamu ketemu sama aku di sini?," tanyaku penasaran. Dua bola mata Shela bergerak ke atas. "Mmm. Gak tahu, mungkin iya," Aku masih tidak mengerti dengan jawaban Shela. "Maksud kamu iya?," "Kayaknya kamu harus ketemu dulu sama si Eby," permintaan Shela membuatku berhenti mengunyah makanan. "Iya deh, nanti aku coba nyemperin dia," Melihat karakter Eby seperti itu mungkin aku bakal dihajarnya habis-habisan. "Gak usah takut, Eby emang keras orangnya. Tapi semarah-marahnya dia ke kamu pasti dia bakal maafin kamu kok. Gak baik juga kalian memutus tali silaturahmi hanya karena masa lalu kita," Shela kali ini benar-benar berbeda. Tidak hanya penampilannya saja, tapi pemikirannya juga sudah lebih dewasa. *** Mobilku berhenti di basement apartemennya Shela. Shela yang duduk di samping kiriku bersiap-siap turun. "Makasih yaa," kata Shela. "Aku yang harus bilang makasih karena kamu udah mau aku ajak ketemuan malam ini," Shela hanya terdiam. Nampak dia masih menyimpan kesedihan setelah ditinggal pergi oleh mantan suaminya. "Shel," Shela langsung menatapku setelah ia membuka Seat Belt. "Kamu semangat lagi ya kayak dulu," Shela seakan memaksakan senyumnya. "Saat ini aku merasa lebih baik. Makasih ya kamu udah...," Seketika Shela terhenti berbicara saat bibirku mendarat mulus di ujung keningnya. Entah apa yang sudah aku lakukan. Aku tau ini tidak seharusnya terjadi, tapi aku tak bisa menghindarinya. Aku benar-benar masih sangat menyayangi wanita ini. "Sampai ketemu lagi yaa," ucapku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN