Kekuatan Motivasi Papa

1307 Kata
Aku terbangun di sebuah kursi sofa di Rooftop kantor papaku. Kepalaku terasa mau pecah. Kulihat botol-botol miras berserakan di lantai. Aku mabuk berat semalaman di tempat ini. Kulihat layar Handphone-ku ada ratusan panggilan tak terjawab serta pesan w******p dari Shela, Eby, Mama, Upik, dan Farun. Aku hapus seluruh pesan itu tanpa membacanya. Aku kembali memacu mobilku keluar dari kantor papa. Aku menuju ke sebuah pantai. Sesampainya di sana, tanpa pikir panjang aku lempar Handphone ku ke tengah laut. Aku bingung, tak tahu lagi mau kemana. Enggan pulang ke rumah, ingin sendiri saja. Aku pun memutuskan untuk menyewa sebuah Home Stay, dan tinggal di situ dalam beberapa hari. Hari-hariku terasa begitu hampa, tak ada lagi semangat hidup. Sampai akhirnya aku kembali ditugaskan kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di luar kota selama dua pekan. Sebuah kesibukan yang kuharap bisa membuatku lupa dengan semua yang terjadi. Namun tetap saja, ini terlalu sulit untuk dilupakan begitu saja. Balik dari tugas di luar kota, aku langsung pulang ke rumah. "Rian? Kemana kamu selama ini. Kita khawatir loh. Mana kamu susah dihubungi lagi," kata mama menyambut kedatanganku setelah hampir sebulan meninggalkan rumah. "Biasa ma, urusan kantor. Handphone aku rusak jadi gak sempat ngabarin," kilahku. "Ayo bersih-bersih dulu. Di dalam ada Shela. Setiap hari dia ke sini loh nungguin kamu pulang," aku kaget mendengar nama itu. "Suruh dia pulang saja ma. Aku tak mau lagi melihat wajahnya," "Loh kok kamu ngomong gitu? Kalian kenapa?," tanya mama. Tak lama kemudian, wanita yang selama 8 tahun menemani hari-hariku itu keluar dari dalam rumahku. "Rian?. Pliis maafin aku Rian," pinta Shela yang sudah berlinang air mata. "Masih berani juga lu datang ke sini. Gak punya malu apa?," emosiku kembali meluap melihat wajahnya. Membuatku kembali teringat malam tragis itu. "Rian.. Pliss Rian," "Kalau kalian ada masalah. Selesaikan dulu. Mama ke dalam yaa," kata mama. "Gak usah ma. Buat apa. Perempuan ini sudah mengkhianati Rian, mengkhianati kita semua," "Dan lu, jangan pernah lagi datang ke sini. Lantai rumah ini haram untuk diinjak pengkhianat kayak lu," aku terus menghardik Shela di depan mama. Amarahku kian menggelora. "Tolong segera angkat kakimu dari sini," Shela menatapku dalam dan kemudian dia pun pergi. *** Meskipun sudah aku permalukan di depan orang tua dan teman-temanku, Shela tak menyerah begitu saja. Dia terus berjuang mendapatkan maaf dariku. Namun tetap saja, hatiku sudah terlanjur hancur. Apa yang dilakukannya padaku sudah melewati batas kewajaran. Berulang kali Shela datang memohon maaf tapi aku mengabaikannya. "Rian, kumohon beri aku kesempatan sekali lagi. Aku tau aku salah," kata Shela saat menghadang ku di depan kantor. "Maaf saya lagi banyak urusan. Tolong jangan halangi jalan saya," aku naik ke mobil dan pergi meninggalkan Shela. Lebih dari sebulan lamanya Shela terus mengejar maaf dariku. Hingga akhirnya ia pun menyerah. Aku tak lagi melihat ia datang dengan seribu macam permohonan maaf. Mungkin dia baru sadar, apapun usahanya itu pasti sia-sia. *** Melupakan Shela ternyata tidak semudah itu. Delapan tahun bersama membuat luka ini menjadi begitu dalam terasa. Pekerjaanku banyak yang terbengkalai, hidupku berantakan. Aku yang bahkan sejak dulu jauh dari asap rokok, kini menjadi perokok dan pemabuk berat. Sudah hampir setahun tapi aku tak kunjung Move On. Sampai akhirnya hari itu tiba. Hari yang membuatku makin depresi. Eby datang ke rumahku membawa sebuah undangan pernikahan. "Shela dan Doni," dua nama yang terpampang jelas di sampul undangan membuatku lemas seketika. Eby memasang wajah marah padaku. "Kenapa lu mengingkari janji lu Rian?," tanya Eby. "Janji? Janji apaan?," tanyaku penasaran. "Oh jadi lu benar-benar lupa ya? Atau pura-pura lupa," "Seingat gue, gak pernah gue janji apa-apa ke lu. Emang janji apaan?," "Malam itu sebelum lu ke Bioskop lu udah janji kan? Kalau lu bakal bawa Shela kembali ke lu. Tapi mana? Lu justru...," "Lu gak liat apa yang terjadi malam itu di Bioskol Bi," aku memotong omongan Eby. "Tanpa lu jelasin gue udah tau semuanya kok dari Shela. Dan asal lu tau Rian. Shela seperti itu karena lu," "Sudahlah Bi, semua sudah berlalu. Shela juga akan menikah dengan laki-laki itu. Semoga ini terbaik buat dia," "Shela cuma cinta sama lu Rian," mata Eby mulai berkaca-kaca. "Kalau cinta kenapa dia...," "Itu karna lu gak bisa kasih dia kepastian," Eby memotong kalimatku. "Shela hanya butuh kepastian dari lu. 8 tahun pacaran tapi lu gak pernah sekalipun ngomongin tentang masa depan kalian, rencana kapan menikah pun gak ada sama sekali. Setiap kali dia nyinggung soal itu lu malah menghindar. Itu yang membuat Shela mulai ragu sama lu. Sementara dia, terus didesak ibunya yang sudah sakit-sakitan untuk segera menikah. Dia terpaksa harus menerima lamaran itu karena udah gak ada pilihan lain. Lu udah menutup semua pintu maaf buat Shela. Lu egois Rian. Lu lebih mentingin mengejar karir lu dan gak pernah memikirkan masa depan hubungan lu dengan Shela. Selalu sibuk lah, ini lah. Egois lu," air mata Eby tak terbendung. Sahabat Shela itu kemudian pergi sambil berlinang air mata. Aku hanya bisa terdiam sambil terus memandangi undangan pernikahan di atas meja. *** Hari-hariku terasa semakin gelap, suram. Tak ada lagi alasanku untuk hidup. Masa depan yang kudambakan selama ini sirna. Aku berdiri tepat di tepi Rooftop. Terus kupandangi aspal di bawah. Gedung kantor papa lumayan tinggi, cukup untuk menghabisi nyawa seseorang yang jatuh dari atas sini. "Kalau aku jatuh dari sini, semua luka yang kurasakan saat ini pasti hilang seketika," gumamku dalam hati. "Sejak kamu kecil, papa dan mama selalu menggambarkan hal yang indah tentang dunia, tentang kehidupan. Kami tidak pernah menceritakan sedikitpun tentang apa itu rasa sakit, kecewa, patah hati," suara papa tiba-tiba mengagetkanku. Entah sejak kapan dia sudah berada di belakangku. Papa duduk di kursi sofa dan melanjutkan kalimatnya. "Setiap orang pasti akan menemui rasa sakitnya. Ada yang tak mampu menahannya, ada yang bisa melewatinya dan menjadi dewasa," Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-kata papa. "Pilihan sekarang ada di tangan kamu. Mau mengakhiri sampai di sini, atau melanjutkan apa yang sudah ditakdirkan untuk kamu. Rooftop ini sengaja papa bangun untuk kita bisa berpikir jernih saat menghadapi kesulitan," "Tantangan di depan masih banyak yang lebih berat loh. Tapi kalau kamu menyerah sampai di sini saja, mama pasti kecewa karena telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan seorang pecundang ke dunia ini," Papa berdiri dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkanku. Ucapan papa barusan seakan menamparku dengan sangat keras. Aku malu terlihat begitu lemah di depan panutanku. Aku pun mengurungkan niatku untuk mengakhiri hidupku begitu saja. Masih banyak hal yang harus aku capai. Aku sudah mengorbankan semuanya, dan aku pun harus menyelesaikannya dengan sempurna. *** "Keputusan lu udah tepat bro. Cewek kalau udah selingkuh wajib ditinggalin. Itu sudah prinsip kita sebagai lelaki. Jangan kayak si Farun nih, mao aja dikadalin mulu sama si Neli," kelakar Upik. "Yah siapa lagi yang mau sama gue selain Neli," ucap Farun yang langsung membuat Upik tertawa puas. "Kasian amat hidup lo," ejek Upik lagi. "Udah-udah gak usah lagi bahas ginian, oke? Malam ini kita enjoy. Udah lama kita gak habisin waktu bareng-bareng gini," ujarku. *** Seiring dengan semangatku yang sudah kembali pulih pasca diterpa badai, kini performa kerjaku di kantor semakin maksimal. Aku benar-benar fokus menyelesaikan setiap tugas yang diberikan. Tidak butuh waktu lama aku pun dipromosi menjadi manajer. Gajiku naik berkali-kali lipat dari sebelumnya. Hatiku yang lama tertutup terbuka kembali saat bertemu dengan Icha. Wanita karir yang cantik, elegan dan juga dikenal cerdas itu menjadi mitra kerjaku pada sebuah project besar. Terlibat dalam project baru, membuat kami selalu bertemu setiap saat. Banyak kecocokan antara aku dan Icha. Salah satunya adalah kita sama-sama pernah dikhianati oleh pasangan. Icha ditinggal kawin oleh mantan pacar yang sudah 7 tahun bersamanya. Tidak sampai sebulan aku dan Icha berpacaran, aku langsung melamarnya, dan kami pun menikah. Pernikahan kami dilangsungkan secara megah, mewah, dan dihadiri para petinggi-petinggi di perusahaan kami. Aku membelikan Icha rumah sebagai hadiah pernikahan kami. Kehidupan rumah tangga kami begitu bahagia. Ditambah dengan hadirnya dua orang putri yang cantik dan lucu. Kami beri mereka nama Alifah dan Adibah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN