Tragedi Tak Berdarah

1643 Kata
Siang ini aku mendadak harus berangkat ke luar kota lagi sesuai perintah atasanku. Aku akan meninggalkan Jakarta selama dua minggu lebih. "Hati-hati yaa sayang, kabari kalau sudah sampai," kata Shela dibalik telpon menjawabku yang pamitan secara mendadak. Di luar kota aku benar-benar disibukkan dengan pekerjaan. Aku bahkan lupa memberi kabar ke Shela. Dan Shela pun tak ada menanyakan kabarku. Sudah dua minggu lebih dan aku akan balik lagi ke Jakarta. Dan sudah dua minggu pula aku tidak pernah berkomunikasi dengan Shela. Berulang kali aku cek pesan w******p, tak ada satu pun pesan darinya. Mungkin dia tak ingin mengganggu pekerjaanku. Tapi apa iya, Shela sama sekali tidak ingin tahu kabarku. Dua minggu lebih bukanlah waktu yang singkat bagi sepasang kekasih untuk tidak saling bertukar kabar. Aku benar-benar galau dengan keadaan ini. Aku mengemasi seluruh barang-barang dan bertolak ke Jakarta. Waktu masih menunjukkan pukul 16.15. Aku menuju ke tempat praktek Shela, dia mungkin masih di sana. Aku sengaja tak memberi kabar sudah di Jakarta, maksud hati ingin memberi kejutan. Sesampainya di tempat kerja Shela, ternyata dia sudah pulang lebih awal. Aku pun langsung menuju ke rumahnya. "Shela belum pulang rumah sejak berangkat kerja tadi. Katanya bakal pulang agak kemalaman. Mungkin pergi sama teman-temannya. Sudah di telpon?" jawab ibu Shela padaku. "Ohh iya bu. Nanti Rian telpon. Makasih ya bu," Aku coba menelpon Shela tapi tak kunjung diangkat. Pesan w******p ku juga tak dibaca. Dimana dia? Perasaanku mulai tak karuan. Aku khawatir dengan Shela. Aku cari kontak dengan nama Eby teman Shela dan aku menelponnya. "Halo Bi," "Ya, kenapa Rian?," "Lu lagi sama Shela yaa?," "Gak. Aku lagi lembur di kantor," "Ohh maaf kalo gue ganggu. Lu tahu dia dimana sekarang?," "Gak apa-apa kok. Hmmm di tempat prakteknya kali atau mungkin udah pulang rumah," "Aku udah dari tempat prakteknya dan sekarang aku di rumahnya tapi dia gak ada Bi," "Ohh.. Coba di telpon dulu," "Udah ulang-ulang gue telpon tapi gak diangkat. w******p gue juga gak pernah dibaca dari tadi. Gue boleh minta tolong gak? Kalo lu udah gak sibuk tolong tanyain dia dimana yaa? Siapa tahu kalo lu yang telpon bakal diangkat. Tolong ya Bi, pliss," pintaku. "Akhir-akhir ini Shela sangat berbeda dari biasanya. Gue khawatir sama dia," "Mmm,, lu boleh ke kantor gue sekarang? Ada yang mau gue omongin. Penting," "Ohh iya Bi. Gue kesana sekarang," Apa yang mau disampaikan Eby? Perasaanku semakin tidak tenang. Apakah benar Shela menyembunyikan sesuatu dariku? Kupacu mobilku menuju ke kantornya Eby. "Sebenarnya sudah lama gue mau bilang ini ke lu. Tapi lu nya sibuk mulu, gue takut ganggu," kata-kata Eby malah membuatku semakin tidak tenang. "Memangnya ada apa? Tolong jelaskan ke gue Bi," "Iya gue jelasin sekarang. Tapi lo harus tenang," Aku menghela nafas panjang, kuhembuskan pelan. "Oke Bi," "Jadi cowok itu namanya Doni," mataku terbelalak mendengar nama laki-laki keluar dari mulut Eby. "Maksud lu si Shela...," "Gue bilang lo harus tenang. Dengerin gue sampai selesai. Oke?," Eby mengadahkan jari telunjuknya di depan wajahku. Aku kembali menarik nafas panjang dan kuhembuskan pelan, kulakukan berulang kali namun dadaku sudah terlanjur panas. Bibirku bergetar. "Lanjut Bi," aku menutup kedua mataku, bersiap mendengarkan penjelasan Eby yang terputus. "Okey," Eby diam sejenak dan kembali melanjutkan penjelasannya. "Dia seorang kontraktor. Sempat menjadi pasiennya Shela. Berulang kali dia mendekati Shela, mengajaknya ketemuan tapi Shela selalu menolaknya. Bahkan dia nekat datang ke rumah Shela dan melamar Shela. Tapi lagi-lagi Shela menolaknya. Itu karena Shela udah punya lu," "Tapi, akhir-akhir ini Shela terlihat berbeda. Dan entah kenapa dia malah mulai dekat dengan Doni, mereka sering jalan. Gue udah ulang kali memperingatkan Shela tapi tetap gak berhasil," "Gue gak tahu apa yang terjadi sama kalian. Cuman yang gue yakini, Doni itu bukan cowok baik-baik. Sebagai sahabatnya Shela, gue cuma bisa memohon ke lu. Tolong bawa Shela kembali Rian," Aku membuka mata dan menatap Eby. "Apa sekarang Shela sedang bersama cowok itu?," Eby memperlihatkan status w******p-nya Shela yang diunggahnya beberapa jam lalu. Status itu sengaja disembunyikan Shela dariku. Nampak sebuah foto yang menunjukkan dua buah tiket Bioskop di tangan yang kuyakini adalah tangan cowok. Pada unggahan statusnya itu Shela hanya memberi caption dengan sebuah emoticon senyum. "Gue yakin banget ini tiketnya sama si Doni. Lu buruan ke sana Rian. Jangan bilang gue yang kasih tau ke lu. Jangan sampai membuat keributan di sana. Selesaikan semuanya baik-baik, dan pliss. Bawa Shela kembali ke lu," Eby menatapku dengan wajah cemas penuh harapan. Aku hanya mengangguk. Malam ini aku benar-benar shok berat mendengar semua itu. Tak ku sangka Shela tega melakukan semua ini. Hatiku hancur. Ku pacu mobilku menuju tempat Bioskop di sebuah Mall besar. Aku ke loket pembelian tiket. Satu jam lagi filmnya akan dimulai. Semoga masih ada tiket tersisa. Aku ingin membeli tiket yang tempat duduknya tepat disamping tempat duduk Shela. Kalau dilihat dari nomor tiket yang diunggah Shela, sepertinya itu di barisan paling belakang. Biasanya barisan itu yang paling banyak diincar orang. Sesuai dugaanku tiket yang tersisa hanya untuk kursi di barisan paling depan. "Gimana pak? Jadi beli tiketnya?," tanya petugas loket. "I..iya mbak jadi," Di dalam Bioskop aku mencari dua kursi yang tiketnya diunggah Shela tadi. Dua kursi di barisan paling belakang itu rupanya masih kosong. Disebelahnya sudah ada orang duduk, cowok dan cewek. Aku mendekati mereka. "Permisi. Maaf mengganggu ya mas," sepasang kekasih itu menatapku curiga. "Ada apa ya mas?," tanya cowoknya. "Mmm.. Boleh kita tukaran tempat duduk?," "Emang kursinya dimana?," tanyanya lagi. "Di barisan paling depan," aku menunjuk tempat dudukku. "Wah maaf mas, gak bisa," "Aku bayar 2 juta untuk kursi kalian. Gimana?," Mata cowok dan cewek itu terbelalak. Mereka kemudian saling bertatapan dan kembali menatapku tajam. "Ini serius mas?," tanya cowoknya lagi memastikan. Aku mengeluarkan Handphone ku buka aplikasi Mobile Banking. "Iya serius. Kalau mas dan mba nya mau aku langsung transfer sekarang," Tanpa berpikir panjang mereka merelakan tempat duduk itu buatku. Aku meminta nomor rekening cowoknya dan aku transfer. "Sudah berhasil yaa," aku menunjukkan bukti transfer di layar Handphone ku. Cowok tadi pun seketika mengambil Handphone nya. "Ohh iya mas ini sudah masuk notifikasinya juga. Makasih ya mas," Aku duduk di kursi seharga dua juta itu. Aku menatap dua kursi di sebelahku. Tak terbayang bagaimana rasanya melihat Shela duduk di kursi itu bersama cowok lain. Malam itu aku memakai jaket hitam dengan penutup kepala yang menutupi sebagian wajahku. Saat-saat yang ditunggu akhirnya tiba juga. Shela datang bersama seorang cowok yang nampak lebih tinggi darinya, dengan cemilan dan minuman di tangannya. Mereka bak sepasang kekasih pada umumnya yang mau nonton bioskop. Mereka duduk di tempat yang sudah dari tadi aku pastikan adalah kursi mereka. Shela duduk tepat di sebelah kananku, bersama seorang pria di sebelah kanannya. Pria yang ku yakin itu adalah Doni, sebagaimana diceritakan Eby tadi. Shela duduk diantara aku dan pria itu, hanya saja dia tidak menyadari keberadaanku. Aku mulai tidak tenang dengan situasi ini, rasanya aku langsung ingin menegurnya. Film sudah berjalan hampir setengah jam. Dari tadi aku belum juga menangkap dengan jelas pembicaraan Shela dan lelaki itu. Suara mereka terlalu kecil sehingga tertutup dengan suara film yang memenuhi ruangan Bioskop. Hanya saja aku masih tidak habis pikir dengan nada suara Shela yang begitu manja pada lelaki itu, nada suara yang sama persis ketika dia sedang memadu kasih denganku. Sudah sedekat itukah Shela dengan lelaki itu? Tak lama berselang tangan Shela kini digenggam oleh tangan kekar di sebelahnya. Tangan yang selama ini hanya aku yang bisa menyentuhnya kini sudah digenggaman laki-laki lain yang sama sekali belum pernah aku kenal sebelumnya. Ingin kuberontak saat itu juga, namun aku tahan. Aku menjaga jangan sampai lepas kontrol di ruangan bioskop ini. Hatiku kini benar-benar remuk Shel. Kenapa kamu melakukan ini padaku. Aku semakin hancur lagi ketika tangan kiri pria itu kini meraih kepala Shela dan menyandarkannya di bahu kekarnya. Dan sejurus kemudian hal yang tak bisa aku percaya, tak masuk akal, dan sangat mustahil terjadi. Suara bibir yang saling beradu terdengar jelas di telingaku. Shela berciuman dengan pria itu tepat di sampingku. Jantungku seakan berhenti berdetak. Dadaku terasa sakit. Aku berusaha menguatkan diri untuk bisa menoleh ke arah kanan, arah dimana sumber suara tadi. Kusaksikan dengan jelas dua insan berlawanan jenis itu terus berciuman. Jadi ini alasannya kenapa mereka memilih tempat duduk paling belakang. Shela nampak menikmati setiap kali bibir pria itu melumat bibirnya dengan penuh gairah. Tangan pria itu mulai mengelus-elus punggung Shela, membuat ciuman mereka jadi makin dalam. Aku tak sanggup lagi melihatnya. Mereka terus melakukan itu seolah-olah di ruangan bioskop ini hanya mereka berdua saja. Sudah lewat lima menit namun Shela dan pria itu belum juga melepaskan bibir mereka yang terus menempel. Aku kini benar-benar tak mampu lagi menahan emosiku, ingin rasanya aku teriak di dalam ruang bioskop ini. Wanita yang sangat aku cintai tak kusangka melakukan ini tepat di depan kedua mataku. Aku berdiri, berjalan melewati mereka yang masih saja berciuman. Aku berdeham agak keras, membuat bibir mereka yang sedari tadi saling menempel itu akhirnya terlepas karena kaget. "Rian?," terdengar suara Shela memanggilku. Sepertinya dia mengenali suaraku saat berdeham tadi. Aku langsung berjalan cepat menuju pintu keluar ruangan Bioskop. "Rian," Shela mengencangkan suaranya memanggilku yang sudah dekat dengan pintu keluar. Aku terus berjalan menuju tempat parkir. Samar-samar ku dengar suara Shela terus memanggilku dari balik keramaian orang di dalam Mall. Rupanya Shela mengejarku. Tapi aku tidak memperdulikannya. Aku masuk ke dalam mobil dan langsung bergegas keluar dari halaman Mall. Kupacu mobilku dengan kencang di jalanan. Aku teriak sekencang-kencangnya di dalam mobil. Tak kusadari butiran air mata mengalir deras di pipiku. Inikah yang namanya patah hati? Kok rasanya sakit sekali yaa. Aku terus memacu mobilku tanpa arah dengan kecepatan tinggi. Kecewa, hancur lebur, remuk, berantakan, runtuh, luluh lantak. Itulah gambaran hatiku malam itu, tak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Adegan ciuman Shela bersama pria itu terus terngiang dikepalaku. Aku masih tak percaya Shela melakukan itu. Rasanya ini seperti mimpi. Entah sudah berapa lama Shela menjalin hubungan dengan lelaki itu di belakangku. "Kamu jahat Shel. Sangat jahat. Kenapa Shel? Kenapaaaaaaaaa?," teriakku lagi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN