Sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing, aku dan Shela kini mulai jarang bertemu. Biasanya setiap hari bersama, sekarang hanya bisa ketemuan seminggu dua kali, kadang seminggu sekali, bahkan ada sampai sebulan hanya sekali terutama ketika aku ada urusan di luar kota.
Meski sudah jarang bertemu, namun komunikasi kita tetap lancar. Kita saling memberi kabar setiap saat baik melalui Chat WA, telpon, hingga Video Call. Selalu terbiasa bersama sejak SMA, membuat kita saling merindukan satu sama lain.
Awalnya rasa rindu ini sangat kuat. Tapi lama kelamaan perasaan itu mulai memudar. Seiring dengan kesibukanku yang semakin bertambah. Aku benar-benar sangat berambisi untuk mengejar karir, meraih jabatan tinggi pada perusahaan tempatku bekerja saat ini.
Alasannya, aku ingin membuktikan kepada kedua orang tuaku terutama Papa, bahwa aku dengan jerih payahku sendiri bisa melampaui kesuksesan Papa. Berulang kali Papa memintaku untuk bekerja di perusahaannya sembari mempersiapkan diri untuk menggantikan posisinya memimpin perusahaan.
Namun aku selalu menolaknya mentah-mentah. Aku tidak ingin mendapatkan sesuatu hanya dengan semudah itu tanpa usaha dan kerja keras. Aku ingin meraih kesuksesan dengan usahaku sendiri, sebagaimana yang dilakukan Papa dulu.
Terlalu fokus mengejar karir, aku sudah mulai lupa memberi kabar ke Shela. Pesan w******p Shela pun sering lama aku balas, telponnya kadang tidak kuangkat saking sibuknya.
Awalnya Shela tidak terlalu mempermasalahkannya, dia mencoba mengerti dengan kesibukanku. Namun makin ke sini, dia pun mulai merasa kesal.
"Sesibuk itukah sampai-sampai ke luar kota saja tidak memberi tahu," ucap Shela dengan nada kesal saat aku mengangkat telponnya setelah 8 panggilan telponnya tak sempat aku angkat.
Kali ini aku tidak sempat memberi kabar ke Shela pergi ke Surabaya. Dan ini sudah kesekian kalinya aku lakukan. Aku benar-benar lupa.
"Eh, maaf sayang aku lupa. Ini baru aku mau kasih kabar ehh kamunya udah nelpon," kilahku.
"Coba kamu liat lagi berapa banyak panggilan aku yang tidak kamu angkat," tanya Shela.
"HP aku tadi ke-Silent sayang, soalnya lagi meeting sama klien," lagi-lagi aku harus berbohong. Aku sengaja tidak mengangkat telponnya karena tadi karena aku butuh istirahat sejenak dan belum siap menerima omelan-omelan dari Shela.
"Ohh," jawab Shela singkat, datar, penuh misteri.
"Kamu lagi ngapain? Ngomong-ngomong kamu tahu dari siapa aku ke Surabaya?," tanyaku penasaran.
Tuut..tuut..tuut..tuut...
Shela mematikan telpon. Aku coba menelponnya lagi tapi tak diangkat. Kutelpon berulang kali tak juga jawab. Nomornya pun kini tidak aktif. Sepertinya Shela sengaja menonaktifkan Handphone-nya. Kali ini dia benar-benar marah padaku.
***
Pulang dari Surabaya aku membeli sebuah boneka dan coklat kesukaan Shela. Ku singgah ke tempat kerja Shela masih sangat pagi, tempat prakteknya masih tutup. Hanya ada seorang Cleaning Service sedang menyapu di teras depan.
Aku meminta Cleaning Service itu untuk menaruh boneka dan coklat serta secarcik kertas berisi permintaan maafku di meja kerjanya Shela. Kuberikan uang Rp 100 Ribu kepada Cleaning Service itu sebagai imbalannya.
"Dasar alay," akhirnya Shela membalas w******p ku. Rupanya dia sudah menerima boneka dan coklat dariku.
Aku balas pesan w******p-nya. "Tapi kamu suka kan?,"
"Gak!!," balas Shela singkat.
Aku kembali ke tempat kerja Shela di jam istirahat siangnya. Aku mengajaknya makan siang di restoran andalan kami.
"Kamu kok gak sibuk lagi?," tanya Shela menyindir.
"Hari ini aku akan sibuk menemani kamu," ucapku membujuk Shela yang masih kesal denganku.
"Paling-paling besok sudah di luar kota lagi, tanpa kabar lagi, susah dihubungi lagi," Shela kembali memulai omelannya.
"Iya, aku minta maaf, aku salah tidak memberi kabar. Aku janji besok-besok gak bakalan kayak gitu lagi,"
Seharian penuh aku terus menemani Shela. Melihat Shela melayani pasiennya mengingatkanku saat-saat dimana aku berjuang melawan penyakit Ombrophobia, ketika menjalani masa terapi di tempat prakteknya Shela.
Hari sudah sore, waktunya Shela untuk pulang kerja. Kita pun pergi meninggalkan tempat praktek dengan mobilku.
Shela pun menyuruh sopirnya untuk pulang lebih dulu dengan mobilnya.
Sore itu aku tidak langsung mengantar Shela ke rumahnya. Aku kembali mengajaknya ke Rooftop kantor papaku, kebetulan papaku sedang ke luar kota.
Di Rooftop itu kita kembali mengenang masa-masa saat jadian dulu. Tak banyak yang berubah. Kita pun duduk berdua di bangku yang sama saat aku menembak Shela.
"Rian," wajah Shela yang tadinya penuh tawa karena mengingat-ngingat kelucuan saat pertama jadian kini berubah serius.
"Ya sayang?,"
"Aku mau ngomong sesuatu. Bolehkan?"
"Ngomong apa? Jangan bilang kamu mau nembak aku," kelakarku.
"Aku serius," tawaku berhenti seketika.
"Ngomong saja sayang,"
"Sudah 8 tahun lamanya kita menjalani hubungan ini. Dan kita juga sama-sama sudah memiliki pekerjaan yang layak. Yah bisa dibilang kita sudah begitu matang sekarang," Shela menatapku sangat dalam kemudian melanjutkan lagi omongannya.
"Tapi sampai saat ini aku tak pernah sedikitpun mendengar kamu membahas tentang masa depan kita secara serius,"
Aku terdiam sejenak, meraba-raba arah pembicaraan Shela saat ini. "Aku serius kok sama kamu, sampai detik ini dan untuk selamanya aku cuma ingin bersama kamu,"
"Terus kapan kamu mau melamarku?," pertanyaan Shela sontak membuat detak jantungku berhenti beberapa detik. Sungguh aku sama sekali belum kepikiran untuk menikah secepat ini.
Lagian menurutku usia kita masih begitu muda untuk ke jenjang pernikahan. Aku 26 tahun, dan Shela 25 tahun. Yah meski bagi sebagian orang umur segitu sudah sangat pantas untuk menikah, tapi bagiku umurku dan Shela masih sangat muda.
"Kenapa kamu sudah bahas hal yang seperti ini?," tanyaku.
"Memangnya kamu tidak punya niatan untuk ke sana? Terus apa artinya hubungan kita selama ini?," nada bicara Shela mulai naik.
"Aku punya niat kok. Tapi belum untuk sekarang,"
"Mau sampai kapan? Apalagi yang mau kamu kejar?,"
"Shel... Umur kita masih begitu muda untuk membicarakan ini. Kita nikmati dulu masa-masa sekarang. Sambil kita fokus untuk meningkatkan karir kita, dengan saling suport. Dan ini semua untuk masa depan kita Shel," ucapku.
"Apa salahnya kita mengejar semua itu setelah menikah? Kita kan tetap bisa saling suport," timpal Shela lagi.
"Tapi Shel,"
"Tapi apa?," aku benar-benar tak tau lagi harus bicara apa. Shela terus menyanggah penjelasanku.
"Aku pikir kamu benar-benar serius denganku," Shela memalingkan wajahnya.
"Aku serius Shel," aku memegang bahunya namun Shela dengan cepat menyingkirkan tanganku.
"Sudah ahh. Capek ngomong sama kamu. Aku mau pulang,"
Sepanjang perjalanan mengantar Shela pulang ke rumahnya, kami tak bicara sedikitpun di dalam mobil.
***
Menikahi Shela tentu adalah keinginanku sejak dulu. Hanya dia perempuan yang akan aku persunting nanti, perempuan yang akan mendampingiku sampai hari tua.
Namun, aku belum siap untuk menikah sekarang. Masih banyak pencapaian yang harus aku kejar. Di pikiranku, aku akan menikah 4 atau 5 tahun lagi. Tapi tanpa aku duga, Shela sudah punya keinginan itu lebih cepat.
Hampir setiap kali bertemu, aku dan Shela selalu saja memperdebatkan hal ini. Terlebih lagi ketika ada temanku atau temannya yang menikah, topik ini pasti kembali menjadi pembahasan serius yang selalu berujung pada pertengkaran.
Aku pun mulai menghindari Shela untuk sementara waktu. Karena aku bosan harus berdebat terus soal pernikahan. Aku semakin menyibukkan diri dengan urusan kantor. Beberapa w******p dan telpon Shela selalu aku abaikan.
Hingga suatu waktu aku baru menyadari, bahwa Handphone-ku tak pernah lagi menerima pesan w******p atau pun telpon dari Shela. Sudah hampir seminggu lamanya dia tidak menghubungiku lagi.
Aku pun menghubungi Shela lewat telpon. Aku ajak dia makan malam di restoran.
Malam itu Shela terlihat sangat berbeda. Omelan yang biasanya kudengar kini tak ada lagi. Ribuan pertanyaan seputar pernikahan tak lagi keluar dari mulutnya. Sikap Shela padaku normal-normal saja, seolah tak terjadi apa-apa. Ia bahkan terlihat lebih ramah dari sebelumnya.
Dalam benakku berpikir mungkin dia tidak ingin lagi kita berdebat. Mungkin dia sudah memahami penjelasanku kemarin, dan memilih untuk tidak membahas lagi soal pernikahan.
"Nggak mampir dulu?," kata Shela usai melepas Seatbelt.
"Nggak yaa. Lain kali aja. Udah malam, gak enak sama mama kamu," ujarku.
"Ya udah aku turun yaa," Shela tak lupa memberi kecupan manis di bibirku sebelum ia turun dari mobil.
Aku bingung dengan perasaanku saat ini. Aku senang Shela akhirnya tak lagi membahas soal pernikahan, dan sikap dia padaku juga begitu baik. Padahal beberapa hari belakangan aku sering menghindarinya.
Ada apa dengannya? Seperti ada yang janggal. Entah kenapa aku malah merindukan omelan-omelan Shela ketika aku berbuat salah.
Ahhh... Ada apa dengan pikiranku. Harusnya aku senang melihat Shela yang sudah berusaha menjadi seperti apa yang aku inginkan.
***
Seminggu setelah makan malam itu, kami belum bertemu lagi. Shela tak pernah lagi menghubungiku duluan. Sekarang malah aku yang sering memberi kabar atau pun menanyakan kabarnya. Shela pun selalu meresponnya dengan baik. Hanya saja dia tak lagi bawel, sesuatu yang malah membuat aku merasa rindu dengan Shela yang dulu.
"Shel?,"
"Ya?,"
"Kamu baik-baik saja kan?," tanyaku ke Shela yang mau turun dari mobilku.
"Kok kamu nanya gitu? Apa aku keliatan sakit?," jawab Shela santai.
"Gak kok. Mungkin perasaanku saja," aku melempar senyum kecil pada Shela.
****