Semakin lama, hubungan percintaanku dengan Shela semakin kuat. Kami saling melengkapi satu sama lain. Kemana pun aku pergi di situ pasti ada Shela mendampingiku, dan begitupun sebaliknya. Aku selalu menemani Shela kemana pun dia pergi. Seolah tak bisa lepas, kami sudah sangat terbiasa melakukan segala hal berdua.
Aku sangat menyayanginya, dan dia pun begitu perhatian dan sangat pengertian. Cowok manapun aku yakin pasti bakal betah pacaran dengan tipe cewek seperti Shela ini. Aku sangat beruntung bisa memilikinya.
2 tahun sudah kami berpacaran, Shela sudah lulus SMA, dan aku juga demikian, sudah setahun lebih dulu darinya. Statusku sekarang adalah Mahasiswa jurusan Manajemen di salah satu kampus besar di Jakarta. Sementara Shela yang baru saja lulus SMA belum juga memutuskan untuk melanjutkan studi kemana.
Hari ini aku menemani Shela ke Bandara, untuk mengantar Rendy yang akan kuliah ke luar negeri. Rendy adalah anak yang pintar, berkat kepintarannya dia mendapatkan beasiswa kuliah di London, Inggris.
Hari itu adalah hari paling sedih bagi Shela dan Eby. Mereka akan ditinggal pergi oleh seorang sahabat. Hubungan persahabatan Shela, Eby, Rendy sudah terjalin sangat lama. Mereka bertiga bersahabat sejak masih SD sampai dengan sekarang.
"Jahat lu Ren. Kenapa sih harus di luar negeri? Di sini kan banyak kampus juga. Apa lu udah bosan ya sama kita?," Eby meluapkan emosinya ke Rendy yang sedikit lagi masuk ke ruang tunggu penumpang. Mata Eby berkaca-kaca, sementara Shela terus menangis di sampingku, aku mengelus-ngelus bahunya. Rendy hanya bisa diam dan menunduk di depan dua sahabatnya itu, ia seakan merasa bersalah.
Suara operator Bandara terdengar memanggil para penumpang untuk penerbangan Jakarta-London. Aku sedikit mendorong tubuh Shela ke arah Rendy. Agar ia lebih mendekat ke Rendy yang mau pamitan.
"Si Rendy sudah mau berangkat tuh, ayo jangan pada nangis,"
Shela dan Eby pun berjalan ke arah Rendy, dan... Ketiga sabahat itu berpelukan erat dihadapanku. Tangisan mereka pecah seketika.
"Jaga diri kalian baik-baik yaa. Aku pasti akan terus memberi kabar ke kalian," tutur Rendy.
"Lu juga jaga diri di sana. Kita cuma bisa doain lu dari sini," jawab Shela dengan suara terbata-bata.
Rendy berjalan ke arahku, menyalamiku dan kami pun saling merangkul.
"Titip sahabat gue yaa. Gue doain kalian langgeng terus. Gue yakin lu adalah orang yang tepat buat Shela," ujar Rendy.
"Dan, terimakasih juga, karena lu sudah membantu gue selama ini," ucap Rendy lagi mengingatkan saat dua kali aku menolongnya ketika ia dihadang beberapa preman di jalan saat pulang belajar kelompok malam hari.
"Gue juga berterima kasih karena sudah diterima masuk ke kehidupan kalian," balasku.
Tak kusangka orang yang sebelumnya sempat aku benci dengan sebutan Si Kaca Mata Tebal kini membuatku sedih karena akan pergi jauh meninggalkan kami. Sukses studinya di London bro Rendy.
***
Shela memutuskan untuk melanjutkan studinya di kampus yang sama denganku. Namun, ia lebih memilih masuk ke Fakultas Kedokteran. Hal yang baru aku ketahui selama ini, ternyata dia punya cita-cita ingin menjadi dokter.
Shela berjalan ke arahku yang menungunya di depan gedung Fakultas Kedokteran. Ia memasang wajah murung.
"Gimana hasil tesnya sayang?,"
Shela tak menjawab, ia diam sambil menunduk di depanku. Aku ambil kepalanya, kusandarkan ke dadaku. Rupanya dia kecewa berat. "Ya udah, kita coba cari kampus lain saja,"
Dengan cepat Shela menyodorkan sebuah kertas tebal kepadaku. "Ini apa sayang?,"
Shela tak menjawab. Aku ambil kertas itu, k****a isi di dalamnya.
"Grasela Andira, selamat anda lulus seleksi di Fakultas Kedokteran," k****a ulang-ulang tulisan itu.
Shela mengerjaiku, ternyata dia lulus. Aku meraih kedua pipi Shela yang masih bersandar di dadaku. Kuhadapkan wajahnya ke depan wajahku.
"Kamu lulus?," tanyaku penuh bersemangat.
Shela tersenyum bahagia dengan air mata yang keluar dari dua bola matanya. "Iya dong," jawab Shela.
Aku peluk Shela dengan sangat erat. "Selamat ya sayang. Sudah kuduga pacarku pasti bisa lulus dengan mudah,"
***
Empat tahun menjalani masa-masa kuliah bersama Shela akhirnya aku wisuda juga. Disusul Shela setahun kemudian.
Aku kemudian memulai karir di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Sementara Shela terus melanjutkan studi kedokterannya dengan mengambil spesialisasi Kedokteran Jiwa. Sampai akhirnya ia pun menjadi seorang Psikiater.
Lambat laun aku pun mengetahui, bahwa selama ini Shela menyembunyikan sesuatu dariku. Dibalik keinginannya menjadi seorang Psikiater, ternyata dia memiliki misi untuk menyembuhkan penyakit Ombrophobia yang aku derita. Penyakit yang tentu hanya bisa ditangani oleh seorang Psikiater.
Shela membujukku untuk menjalani terapi penyembuhan Ombrophobia bersamanya.
"Kamu memilih menjadi Psikiater itu karena aku ya?," tanyaku ke Shela.
"Sejak SMA aku sering kali mempelajari tentang penyakit kamu ini dari berbagai referensi yang ada. Sampai suatu saat aku akhirnya tertarik untuk mendalaminya, dengan menjadi Psikiater. Aku senang kok dengan pekerjaan ini," kata Shela.
"Dan aku yakin penyakit kamu bisa disembuhkan. Aku sendiri yang akan menanganinya. Kamu yang kuat yaa. Ini butuh kesabaran. Tapi aku yakin kok kamu bisa melewatinya," Shela menggenggam kedua tanganku memberi keyakinan.
Selama berminggu-minggu aku menjalani terapi Ombrophobia, dengan didampingi Shela sebagai Psikiater. Bermacam-macam obat dari Shela harus aku konsumsi setiap hari.
Shela begitu gigih membantu penyembuhanku. Ia tak pernah sedikitpun menyerah meski berulang kali menerima amukanku saat proses terapi berlangsung.
"Tolong hentikan ini!!! Aku tidak tahan lagi plissss," aku mengamuk hebat saat dihadapkan langsung dengan hujan lebat di sebuah teras tempat terapi. Dengan kedua tangan dan kaki terkunci di sebuah kursi.
Shela langsung memakaikan Headphone di telingaku dan mendorong kursiku ke dalam ruangan.
"Terapi hari ini cukup. Nanti kita lanjut lagi yaa," ucap Shela.
"Shel," tubuhku masih bergemetar.
"Kenapa sayang?," tanya Shela menghampiriku.
"Hentikan saja terapinya yaa. Ini tidak akan berhasil," kataku pesimis.
Wajah Shela seketika murung. "Kamu tidak percaya denganku ya?,"
"Bukan begitu Shel. Aku percaya dengan kamu, tapi penyakitku ini berbeda, ini susah untuk...,"
Seketika jari telunjuk Shela sudah di bibirku. Mengisyaratkanku untuk berhenti bicara.
"Ssssttt. Yang dokter di sini itu aku. Jadi cuma aku yang bisa memvonis penyakit bisa sembuh atau tidak. Dan aku bilang, penyakit kamu itu belum ada apa-apanya dengan penyakit-penyakit Phobia yang sudah aku tangani sebelumnya. Kamu ikuti saja dengan sabar yaa. Dan yang aku tahu, pacarku itu orangnya kuat dan tidak mudah menyerah begitu saja," ucap Shela diakhiri dengan sebuah kecupan manis di dahiku.
Shela terus memotivasiku sampai aku pun yakin dia bisa menyembuhkan Ombrophobiaku yang sangat menyiksa ini. Berkat keyakinan itu, proses penyembuhanku terus mengalami peningkatan yang baik.
"Tarik nafas dalam-dalam. Buang lagi perlahan," Shela terus memanduku yang saat ini kembali duduk berhadapan langsung dengan hujan lebat. Kali ini kaki dan tanganku sudah tidak dikunci lagi. Aku sudah mulai bisa mengontrol diriku.
"Nikmati setiap tetes demi tetes air yang jatuh. Semakin deras, semakin menenangkan hati," tutur Shela.
Pertama kali dalam hidupku, aku benar-benar bisa menikmati suara hujan. Tak ada lagi ketakutan, tak ada lagi rasa cemas, gemetar, hingga histeris. Rasanya begitu tenang, begitu damai.
Shela kembali memberiku beberapa obat. Kali ini jumlah obatnya tidak sebanyak kemarin. "Resep obat kamu mulai hari ini aku kurangi. Obat-obat ini tidak lagi kamu minum 3 kali sehari. Cukup diminum di saat hujan turun saja. Dan untuk terapinya kamu bisa melakukannya sendiri di mana saja ketika turun hujan. Nanti kalau ada apa-apa...," sluupp!! belum selesai Shela memberi penjelasan aku langsung memeluknya.
"Terimakasih sayang. Terimakasih atas semuanya,"
"Sayang, ini tempat kerja. Nanti kalau pasien lain liat gimana?," Shela berusaha melepaskan pelukanku, namun aku terus saja memeluknya lebih erat.
Penyakit Ombrophobiaku akhirnya bisa dikatakan sembuh. Meskipun aku masih harus bergantung pada obat-obatan. Yang terpenting adalah, akhirnya aku bisa menikmati satu anugerah tuhan yang sangat aku impikan sejak kecil. Ini semua berkat Shela, kekasih tercintaku.
***