Setelah sepekan lebih menjalani latihan ketat, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Turnamen Bela Diri Karate se-Asia Tenggara yang digelar di Istora Senayan pun dimulai. Aku bersama 9 orang lainnya diutus mewakili Dojo kami di turnamen bergengsi itu.
Pengalamanku mengikuti turnamen beladiri sejak kecil membuatku lebih mudah menghadapi lawan demi lawan pada turnamen kali ini. Hingga akhirnya aku pun menjadi satu-satunya perwakilan Dojo yang lolos hingga ke babak final melawan perwakilan dari Negara Vietnam.
Babak final digelar Sabtu malam. Istora Senayan dipenuhi banyak penonton. Satu persatu partai final dari tingkatan sabuk putih hingga sabuk cokelat pun selesai. Dan tinggal menyisahkan satu partai final untuk tingkatan sabuk hitam yang mempertemukan aku dan lawan dari Vietnam.
Suara gemuruh penonton tak mempengaruhiku yang fokus mendengarkan arahan Sensei. Di seberang arena, kulihat lawanku juga sedang fokus mendengar arahan Sensei-nya. Adrenalinku meningkat seketika saat kedua matanya akhirnya menatapku juga, kami saling tatap-tatapan.
Di bangku pentonton aku lihat Mama, Papa, Farun, Upik, Shela, Eby, dan Rendy semangat memberi dukungan kepadaku, bersama para pendukung lainnya yang tentunya menginginkan aku menang. Bukan hanya sebagai perwakilan Dojo, namun kali ini aku juga memikul beban sebagai perwakilan dari Indonesia.
Pada partai final ini aturannya siapa yang berhasil menjatuhkan lawan sebanyak 3 kali adalah pemenangnya. Baik itu lewat pukulan, tendangan, ataupun bantingan.
Pertandingan final pun dimulai. Lawan yang memiliki tipe menyerang langsung melancarkan serangan demi serangan berbahaya. Aku yang sudah diberi tahu lebih dulu oleh Sensei tentang tipe bertarung lawan pun berhasil menangkis rangkaian serangannya.
Pergerakannya sangat cepat, aku dibuat terpojok di awal-awal pertarungan. Seperti tak ada celah sedikitpun bagiku untuk melakukan serangan balasan.
Beberapa menit fokus bertahan, aku pun berhasil menemukan sedikit celah. Lawanku terlalu asik menyerang dari tadi namun tak berhasil menjatuhkanku. Ia tampak frustasi dengan pertahanaan diriku yang begitu rapat, membuatnya lengah dan tak menyadari bahwa pertahanannya selalu terbuka lebar. Melihat kesempatan itu aku pun langsung melancarkan tendangan berputar yang tepat mengenai bagian pipi kanannya. Ia pun jatuh tersungkur akibat tendangan telak dariku, aku berhasil mencuri satu poin.
Sorak-sorak teriakan para pendukung menyambut satu poin yang berhasil aku raih. Semangat dan kepercayaan diriku meningkat drastis.
Sang wasit memastikan lawan apakah masih mampu melanjutkan pertarungan atau tidak. Dan rupanya lawan masih kuat berdiri, namun dari kedua matanya ia tak bisa menyembunyikan rasa pusing setelah menerima tendanganku yang cukup keras tadi.
Melihat lawan yang mulai kehilangan konsentrasinya itu, aku tak ingin menyia-nyiakannya. Begitu pertarungan dilanjutkan oleh wasit, giliran aku yang langsung melancarkan serangan bertubi-tubi. Lawan yang sedari awal bermain menyerang pun kini berbalik fokus bertahan. Sangat nampak ia begitu buruk dalam bertahan. Buktinya, hampir semua pukulan maupun tendanganku masuk mengenai bagian perut hingga wajahnya. Sampai akhirnya ia jatuh untuk kedua kalinya setelah kaki kananku kembali mendarat diwajahnya. Dua poin berhasil ku raih, tinggal satu poin lagi menuju kemenangan.
Aku semakin yakin bisa memenangi turnamen ini dengan mudah.
"Indonesia, puk.. puk.. puk.. puk.. puk!!!,"
"Indonesia, puk.. puk.. puk.. puk.. puk!!!,"
Suara dukungan penonton membuatku bangga dan tak ingin menyia-nyiakan kemenangan yang sudah di depan mata.
Aku melihat ke bangku penonton di arah belakangku. Kulihat disana Mama, Papa, Farun, Upik, Shela, Eby, dan Rendy sudah tidak duduk di bangku lagi. Mereka sudah berdiri bersiap menyambut kemenanganku. Aku lihat wajah Papa, ia berteriak kencang. "Selesaikan Rian!!!,"
Pertandingan dilanjutkan kembali setelah tim lawan meminta Time Out. Ku lihat lawanku sudah agak sempoyongan dan tak berdaya lagi namun ia tetap memaksakan diri untuk bertarung hingga selesai.
Begitu wasit memberi aba-aba mulai aku pun langsung berlari ke arah lawan. Kulayangkan tendangan ke arah wajahnya, namun ia berhasil menghindarinya. Aku serang lagi dengan kombinasi pukulan dan serangan cepat. Namun lagi-lagi ia bisa menghindar. Entah apa yang dibisikkan oleh Senseinya tadi saat Time Out sehingga lawanku kini tak mudah lagi untuk diserang. Tak ada satu pun pukulan dan tendanganku yang masuk.
Aku pun merubah sedikit pola serangan dan akhirnya berbuah hasil baik. Beberapa pukulanku berhasil mengenai wajahnya dan membuatnya hampir terjatuh. Aku pun melancarkan tendangan andalanku untuk segera mengakhiri pertarungan final ini.
Namun tiba-tiba...
"Duaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrr!!!!!!!!!!!!!!!,"
Suara gemuruh petir sangat kencang yang langsung disusul hujan deras disertai angin kencang sontak membuat konsentrasiku buyar seketika. Tendanganku meleset dari target. Perasaanku berkecamuk hebat, ingin rasanya menyelesaikan ini dengan cepat namun apa daya, Ombrophobiaku kambuh.
Tanpa kusadari kedua tanganku secara refleks menutup kedua telinga. Akan tetapi suara hujan yang terlalu deras tetap saja terdengar. Ingin rasanya aku menutup mata, namun ini arena pertarungan.
Sialnya, lawanku menyadari ada sesuatu yang aneh dariku. Ia pun berbalik menyerang dan....
"Puukkk!!!,"
Telapak kakinya mendarat sempurna di dadaku. Aku jatuh terlempar jauh kebelakang. Lawanku mendapatkan 1 poin. Suara pendukung lawan kini berganti memenuhi gedung Istora Senayan.
"Kenapa hujannya turun di saat-saat seperti ini?," lirihku dalam hati.
"Masih bisa?," tanya wasit kepada ku setelah aku bangun. Aku balas dengan anggukan kepala.
"Rian!!! Rian!!!," teriak Sensei.
Aku menatap wajah Sensei sambil kugerakkan telapak tanganki ke bawah memberi isyarat bahwa tidak ada masalah apa-apa.
Aku berusaha konsentrasi ke pertarungan namun suara hujan tetap saja sangat mengganggu telingaku. Aku berusaha melawannya.
Wasit memberi aba-aba mulai dan seketika suara petir kembali bergemuruh hebat. Aku pun sontak langsung menunduk karena kaget. Melihat kesempatan itu, lawan pun melayangkan lagi tendangan yang sama persis dengan sebelumnya. Aku tersungkur, aku sama sekali tak merasa sakit setelah dua kali menerima tendangan di d**a. Yang kurasakan saat ini adalah siksaan hebat mendengar suara hujan dan petir. Aku masih berbaring di lantai arena sambil menutup telinga. Sensei mendekatiku dan meminta wasit memberikan Time Out, wasit pun menyetujuinya. Aku dipapah Sensei dan rekan-rekan timku ke pinggir arena.
Dari bangku penonton, Shela berlari ke arah arena, ia menghampiriku yang tak berdaya. Mata Shela berkaca-kaca.
"Sepertinya hujan masih akan berlangsung lama. Kita akhiri saja yaa. Apa yang kamu lakukan sampai saat ini sudah cukup membuat kami semua bangga kok," kata Sensei padaku.
"Ti..tidak Sensei. Aku tidak ingin menyerah begitu saja. Aku masih bisa kok," kataku dengan kedua tangan yang masih menutupi telinga.
"Iya kami semua yakin kamu bisa menang mudah di pertandingan ini. Tapi situasinya saat ini tidak memungkinkan. Keselamatanmu lebih berharga dari apapun Rian," Sensei tetap saja memintaku untuk menyerah.
"Tapi Sensei...,"
Tiba-tiba. "Coba pakai ini dulu Rian," Shela menyodorkan MP3 Player Mini beserta Headphone Bluetooth yang diambil dari dalam tasku
"Ini buat apa?," tanya Sensei ke Shela.
"Di situ ada musik relaksasi untuk meredakan gejala Phobia. Semoga saja bisa membantu Rian," jelas Shela.
Sensei mempersilahkan Shela untuk memasangkan Headphone itu ke telingaku. Sebuah musik relaksasi yang biasa aku dengar saat hujan pun diputarkan. Perasaanku yang tadinya tak karuan kini mulai tenang. Aku menarik napas dalam-dalam dan kubuang dengan perlahan, kuulang sampai beberapa kali.
Selang beberapa saat Shela kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sepasang Earphone kecil tanpa kabel disodorkannya.
"Apakah bisa memakai ini saat bertanding?,"
Sensei menatap Earphone itu dan mengambilnya dari tangan Shela. "Tunggu sebentar,"
Sensei berjalan menuju ke arah wasit. Nampak ia menjelaskan sesuatu. Tak lama wasit pun mengundang beberapa orang dari tim lawan. Mereka berdiskusi cukup panjang.
Tak lama kemudian Sensei balik lagi dengan wajah gembira.
"Mereka mengizinkan kamu memakai ini. Apa kamu bersedia bertarung dengan Earphone yang terpasang di telinga?," tanya Sensei padaku.
Tanpa ragu aku mengambil Earphone itu dan langsung memasangnya di telinga. Shela menyetel ulang agar MP3 Player Mini bisa tersambung dengan Earphone itu.
"MP3 Playernya biar aku yang pegang dari sini. Jangkauan Bluetooth-nya lumayan jauh kok, jadi kamu tetap bisa mendengarkan musiknya," tutur Shela.
Wasit memberi isyarat bahwa Time Out sudah berakhir. Aku pun berjalan menuju arena dengan Earphone yang terpasang di telinga.
"Rian!," panggil Shela yang membuatku sontak menoleh ke arahnya.
"Tolong menang untuk kita semua yaa," pinta Shela.
Aku mengangguk dengan semangat. Permintaan Shela itu membuat tenagaku seakan terisi penuh lagi.
Wasit memberi aba-aba mulai. Lawan yang sejak tadi sudah kembali percaya diri tak ragu melancarkan serangan lebih dulu. Pukulan dan tendangan bertubi-tubi dilepaskannya, seakan ia ingin segera mengakhiri pertarungan ini. Akan tetapi semua arah serangannya sangat mudah terbaca. Kedua tangan dan kakiku berhasil menangkis semua serangannya. Alunan musik relaksasi yang terdengar dari Earphone membuatku seakan menikmati serangan demi serangan yang dilancarkan lawan.
Kulihat stamina lawan terkuras habis namun tak satu pun pukulannya masuk. Pukulan dan tendangannya yang awalnya cepat dan keras kini mulai melambat dan tak bertenaga. Aku yang sedari tadi menyimpan tenaga pun bersiap membalikan keadaan.
Sebuah tendangan yang sering kali dilakukan lawan berhasil aku baca dengan baik. Aku menangkap kakinya dengan satu tangan, kemudian tanganku satunya lagi menangkap baju lawan. Kulanjutkan dengan gerakan membanting dan berhasil. Tubuh lawan mendarat di lantai arena dan aku tepat berada di atasnya. Kulayangkan bogem ke arah wajah lawan. Namun melihatnya sudah tidak berdaya, pukulanku terhenti seketika. Kepalan tangan kananku hanya berjarak beberapa Centimeter dari wajah lawan.
Wasit mengangkat tangan memberikan satu poin buatku, serta menandakan pertandingan telah selesai dengan skor 3-2 untuk kemenanganku. Teriakan penonton bergemuruh hebat menyambut kemenanganku. Aku mengulurkan tangan ke arah lawan yang masih terbaring di lantai arena. Kubantu dia bangun, dan kemudian kita saling memberi salam hormat khas Bela Diri Karate.
Seluruh tim Dojo berlari ke arahku merayakan kemenangan dramatis ini. Sensei memelukku erat. Di pinggir lapangan kulihat Shela menangis bahagia, seakan tak percaya aku bisa menang. Dan semuanya berkat dia.
Aku menghampiri Shela aku memeluknya. "Terima kasih sudah menang untuk kami," kata Shela terbata-bata.
"Semuanya berkat kamu sayang. Terima kasih yaa," ucapku.
Teriakan suara cempreng yang sepertinya aku kenal menusuk ke telinga. Membuat pelukanku pada Shela terlepas. Sudah kuduga itu suara Eby yang histeris. Eby menghampiri kami bersama Mama, Papa, Farun, dan Upik.
"Aku sudah bilang, Rian pasti menang. Rian pasti menang!!! Yeeeeeeeeee," teriak Eby.
"Rian mah gak perlu diragukan. Sahabat gue emang paling jago," kata Farun.
Aku memeluk Mama dan Papa, tak kusadari air mataku pun jatuh setelah berada dalam pelukan mereka.
"Selamat yaa. Kamu memang selalu membuat kami semua bangga," ucap Papa.
Turnamen diakhiri dengan penyerahan Trophy. Aku berhasil mengangkat Trophy juara satu untuk tingkatan sabuk hitam, tingkatan tertinggi pada bela diri karate.
Sungguh hari yang sangat membahagiakan. Karena aku berhasil mempersembahkan juara di depan orang-orang tercinta.
***