Ajak Pacar ke Rumah

1079 Kata
Aku sudah bisa masuk dalam kehidupan Shela seutuhnya. Dekat dengan ibunya, dan kini aku pun sudah berteman baik dengan dua sahabatnya. Namun, di sisi lain, Shela justru sama sekali belum kuperkenalkan dengan orang tua serta dua sahabatku Farun dan Upik. Hari ini mumpung hari libur aku berencana mengajak Shela ke rumah. Dan mumpung papaku ada di rumah, dia tiba semalam dari luar negeri. Ini adalah pertama kalinya aku membawa pacar ke rumah. Padahal sejak masuk SMA mama dan papa sering kali menanyakan perihal pacar. "Mana pacar kamu?" "Kapan pacarnya dikenalin ke mama?" "Udah mau lulus SMA kok pacarnya belum pernah keliatan?" Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali menghiasi hari-hariku ketika berkumpul bersama mama dan papa di rumah. Sebelumnya aku tidak pernah berpacaran yang terlalu serius. Hal itu yang membuatku ragu untuk mengajak pacar ke rumah. Selain itu aku juga malu sama papa dan mamaku. Hehehe. Dengan Shela, aku merasakan ada yang berbeda. Aku yakin bisa terus bersamanya selamanya. Aku sudah merasa sangat cocok dengan Shela. Setelah turun dari motor, kaki Shela tak kunjung melangkah ketika sudah berada di depan rumahku. Aku yang sudah jalan duluan baru menyadarinya. "Ayolah sayang, kok malah diam di situ," Shela tampak tidak seperti biasanya, dia begitu gugup. Katanya ini pertama kalinya juga dia pergi ke rumah pacar. Bagaimana tidak, kan aku pacar pertamanya. Hehehe. "Lain kali aja yaa, antarin aku pulang," kata Shela. "Lah kenapa? Sudah di depan rumah kok malah lain kali. Ayo dong gak apa-apa, mama dan papaku baik kok," ujarku meyakinkan Shela. "Takut," Shela memasang wajah cemas. Aku pun menghampiri dan mengambil tangan Shela yang sudah sangat dingin, rupanya dia beneran takut. "Kok takut? Rumah aku gak angker. Ayolah sayang santai saja, jangan tegang gini," Baru saja kami naik ke teras rumah. Mamaku sudah membuka pintu dan. "Wah jadi ini calon anak mantu mama," Mama langsung menghampiri Shela dan menyodorkan tangan kanannya. Shela pun tak segan mencium tangan mama. Tak hanya itu, mereka bahkan melakukan cipika-cipiki di hadapanku. Sungguh pemandangan yang membuatku begitu bahagia. "Ini Shela kan?," "I...iya tante," jawab Shela sedikit canggung. "Pantes aja, akhir-akhir ini anak mama udah rajin bangun pagi. Ternyata putri cantik ini dalangnya yaa," kelakar mama menyinggung perubahanku akhir-akhir ini. Shela tersenyum malu mendengarnya. "Ihh mama jangan buka-buka aib dong," tapi memang benar sih, semenjak bersama Shela aku sudah tidak pernah bolos sekolah lagi. Tak lama berselang papaku keluar dari dalam rumah dengan setelan celana pendek, kaos, dan topi yang serba putih. Ditambah jam tangan sporty andalannya saat berolahraga. Dia menggandeng sebuah tas berisi raket tenis. "Ehh pa, udah mau pergi yaa?," tanya mama. "Iya ma, pak Jhony sama yang lain udah nunggu," Mama memegang kedua pundak Shela dari belakang dan dihadapkannya ke papa. "Kenalan dulu sama pacarnya Rian pa," kata mama. "Ohh jadi ini pacarnya Rian," Shela langsung bersalaman dan mencium tangan papa. "Shela om," "Baek-baek pacarannya yaa. Kalian harus saling suport satu sama lain dalam hal-hal positif. Dan pesan papa, jaga baik-baik nama baik keluarga kalian dimana pun kalian berada," nasehat papa yang biasa aku dengar akhirnya sampai juga ke telinga Shela. "Iya om," jawab Shela. "Om tinggal dulu yaa. Di sini santai saja, tidak usah tegang. Kalau butuh sesuatu bilang saja ke Rian," ujar papa yang dijawab Shela dengan senyuman manisnya. Mamaku sangat hobi memasak. Dengan sangat antusias, ia mengajak Shela ke dapur kesayangannya. Shela nampak senang diajak mama masak bareng. "Hari ini kita masak buat Rian dan papanya Rian yuk. Enaknya masak apa yaa," tanya mama ke Shela. "Mmmm terserah tante saja," jawab Shela. Bola mata mama menatap ke atas. "Apa yaa? Kita bahas di dapur aja yuk. Kalo di sini nanti di denger Rian lagi, kan jadi gak Surprise," mama mengambil tangan Shela dan membawanya masuk ke dalam rumah. "Shelanya mama pinjem dulu ya Rian," pertama kalinya aku ingin merasakan pacaran di rumah, ehh pacarnya malah diambil mama. Aku pun memilih main PS di kamar. Sembari menunggu mama dan Shela selesai memasak. Siang itu Shela langsung akrab dengan mama. Hal yang baru aku ketahui, ternyata pacarku juga hobi memasak. Hobi yang membuat mamaku senang karena akhirnya bisa bertemu dengan orang yang memiliki hobi yang sama. Hasil karya Shela dan mama di dapur hari ini juga menjadi menu santapan kami di siang itu. *** Aku dan Shela tak berhenti tertawa saat kami di perjalanan menuju ke sebuah Starbucks. "Kok bisa sih kamu sahabatan sama si Playboy sok keren itu?," tanya Shela. "Kita sudah cukup lama bersahabat. Dulu Upik orangnya setia. Sama pacar pertamanya. Mereka pacaran hampir setahun. Dan pacarnya selingkuh. Dia stres berat, dan sejak saat itu dia gak percaya lagi soal cinta," penjelasanku singkat soal Upik membuat Shela terdiam sejenak. "Trus kamu yakin gak bakal ikut-ikutan gitu? Apalagi kalian kan sahabatan," ujar Shela. "Ya gak lah. Meski kita sahabatan, tapi kita sering kali berdebat kalo masalah cinta. Aku dari dulu gak pernah setuju Upik jadi kayak gitu. Bahkan kita pernah berantem dan lama gak saling bicara gara-gara Upik diam-diam pacaran sama sepupuku. Sepupuku baru cerita ke aku setelah dia sakit hati karena berulang kali melihat Upik jalan sama cewek lain," lama bicara soal Upik, tak terasa sepeda motorku sudah di depan Starbucks. Di dalam sana Farun dan Upik sudah menunggu kami. Shela menyalami mereka satu-persatu. Saat Shela menyodorkan tangannya ke arah Upik. Nampak jelas wajah Upik masih trauma berhadapan dengan Shela. "Kok muka lu kayak copet yang abis ketangkep," ejek Farun sambil tertawa usil. "Em, maaf soal yang...," Baru saja Upik bicara langsung dipotong Shela. "Udah lupain aja. Aku juga minta maaf loh udah buat kamu malu waktu itu," kata Shela sambil menyalami tangan Upik. "Yah gak usah minta maaf Shel. Si k*****t s****n ini emang pantas digituin," Farun tertawa puas menyaksikan Upik yang biasanya angkuh dan sok ganteng kini mati kutu. "Udah kita lanjut ngobrol santai aja. Yang lalu biarlah berlalu. Kalian udah pesan?," tanyaku pada Farun dan Upik. "Belom. Gue sama Upik ragu lu nya gak datang. Ogah gue cuci piring lagi," Farun mengingatkan kejadian dulu waktu aku berjanji mentraktir mereka makan di sebuah restoran mewah setelah aku berhasil menjuarai turnamen karate. Namun saat itu aku tidak jadi datang karena Ombrophobiaku kambuh saat hujan deras tiba-tiba turun disertai angin kencang. Farun dan Upik sudah terlanjur memesan banyak makanan namun naasnya, mereka tak mampu membayar. Dan akhirnya mereka diomelin habis-habisan oleh pemilik restoran dan disuruh untuk mencuci semua piring kotor di restoran itu sampai tengah malam. Kejadian lucu itu menjadi bahan awal pembicaraan kita berempat sore itu di Starbucks. Shela pun tak mampu menahan tawanya mendengar cerita tragis Farun dan Upik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN